TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 36 #RENCANA BARU DI MULAI


__ADS_3

Ternyata kesembuhan Rendi menuai pro dan kontra. Ada yang turut senang atas kesembuhan Rendi, namun tak jarang jua ada yang tak suka melihat Rendi sembuh.


"Kenapa bedebah itu masih saja hidup? " Ucap salah seorang Pria.


Banyak yang memusuhi Rendi di kalangan Mafia contohnya saja Jhon, Antony dan masih banyak lagi. Mereka semua memusuhi Rendi hingga ada beberapa yang ingin menghancurkannya selebihnya hanya mencari aman saja.


Hari demi hari keadaan Rendi semakin membaik dari hari-hari sebelumnya, bahkan kini Rendi sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa namun Rendi masih di imbau jangan bekerja terlalu berat.


"Setelah saya cek keadaan Anda semakin membaik. Anda boleh bekerja, namun ingat jangan terlalu mempostir waktu anda! " Ujar Dokter.


Rendi pun mengangguk. " Terimakasih, Dokter! " Ucapnya.


Setelah kepergian Dokter, Rendi pun bersiap-siap dengan pakaian kerjanya. Sudah lama Rendi meninggalkan kantor.


Khumaira yang melihat Rendi telah rapi pun menghampirinya. " Mau kemana, Mas? Tumben sudah rapi! " Ujarnya.


Rendi yang sedang memakai jas pun menoleh. " Aku harus pergi ke kantor! " Sahutnya.


Mendengar jawaban Rendi sontak saja Khumaira menatapnya. " Tidak. Kau masih belum pulih betul! " Larangnya.


Rendi tersenyum dan membingkai wajah Khumaira dengan jemarinya. " Tenang saja, aku bisa jaga diri dan aku akan tetap sehat seperti ini! " Sahutnya mencoba meyakinkan.


Khumaira menggeleng, dan tetap melarang Rendi untuk pergi. Khumaira pergi ke balkon tanpa sepatah katapun, nampaknya Khumaira sedang merajuk.


Rendi menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan pada Khumaira. "Bagaimana, ya, caranya agar Khumaira mengizinkan? " Batinnya.


Rendi pun menghampiri Khumaira dan merayunya. " Ayolah, Khumaira. Biarkan aku pergi! Lagi pula hanya sebentar. Jika aku tidak pergi dan banyak pekerjaan yang menumpuk bagaimana? Lalu, jika Klien memutuskan kerja samanya denganku, maka perusahaan bisa gulung tikar dan akan banyak karyawan yang terkena PHK! " Ujar Rendi.


Mendengar hal tersebut Khumaira pun mencoba menimang-nimang, namun ia juga tak mau jika sampai Rendi kenapa-kenapa. " Baiklah. Aku izinkan, tapi ingat hanya sebentar!! " Sahutnya, setelah berfikir beberapa saat.


Rendi pun tersenyum, dan hormat pada Khumaira. " Siap 86, laksanakan! " Ujarnya.


Khumaira pun mengantar Rendi sampai di ambang pintu. "Aku pergi, ya. Jaga dirimu baik-baik! " Pesannya.


Khumaira mengangguk, kemudian Rendi bergegas masuk ke dalam mobilnya.


Rendi pun melajukan mobilnya. Tiba-tiba seseorang yang telah mengintai Rendi sejak tadi pun menghubungi seseorang. " Target sudah pergi! " Ujarnya.


Kemudian Pria tersebut segera pergi dan meninggalkan rumah Rendi.


Setelah kepergian Rendi, Khumaira pun ikut pergi. Hari ini Khumaira akan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan belanjaan.


"Bi. Aku pergi sekarang, ya! " Teriaknya.


Kemudian Khumaira menggunakan jasa taksi untuk sampai di tujuannya.


Di tengah perjalanan tiba-tiba Rendi melihat seseorang yang terkapar di depannya. " Siapa dia? " Gumamnya.


Kemudian Rendi pun bergegas turun dari mobilnya dan melihat keadaan pengendara motor yang terkapar tersebut.


"Kau tak apa... " Ucapnya tak lagi melanjutkan ucapannya.


Rendi kaget sekaligus menutup matanya, saat melihat seseorang yang berada di hadapannya. Ia menggunakan baju, motor dan badan yang sama persis seperti yang Renda kenakan waktu itu dan kini tubuh itu penuh dengan darah. Rendi pun mundur beberapa langkah sembari menutup wajahnya.


"Tidak. Ini tidak mungkin! Ini pasti bohong!! " Ujarnya tak percaya.


Rendi teringat akan kejadian dimana Renda tewas tepat di hadapannya. Rendi pun begitu ketakutan dengan semua ini sehingga Rendi segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Seseorang keluar dari tempat persembunyiannya, dan mengacungkan jempolnya. "Good job! " Ucapnya.


Ia pun tersenyum dan segera menyuruh orang suruhannya untuk membereskan segalanya. "Ini baru permulaan, Rendi! " Gumamnya.


Karna Rendi berkendara dengan kecepatan tinggi di tambah keadaan Rendi yang di landa ketakutan pun hampir saja membuatnya menabrak sebuah pohon, berung Rendi segera menghentikanny sebelum kejadian naas itu terjadi.


"Ahhhh!! Ada apa denganku! " Ucapnya sembari memukul setirnya.

__ADS_1


Rendi benar-benar tidak konsentrasi, sebab kejadian beberapa menit yang lalu jika terus begini maka Rendi akan benar-benar mengalami kecelakaan. Rendi pun memutuskan untuk menghubungi Brain.


"Brain. Bisa kau datang ke sini? " Ucap Rendi.


"Kemana? " Sahutnya.


"Aku akan mengirim lokasinya! " Ujar Rendi.


Kemudian Rendi mamatikan teleponnya dan mengirim tempatnya saat ini.


"Siapa orang tadi? Kenapa pakaian dan seluruh yang dia gunakan sama persis dengan yang di kenakan oleh Renda? " Batinnya.


Rendi bertanya-tanya dalam hatinya prihal siapa orang tersebut. Apakah orang tersebut tahu apa yang dia lakukan?


30 menit Rendi menunggu Brain hingga akhirnya Brain pun sampai dengan menggunakan taksi.


"Pak, Anda baik-baik saja? " Tanya Brain.


Rendi mengangguk. " Ya, hanya saja ada kejadian aneh! " Sahutnya.


Brain mengernyitkan keningnya. " Kejadian aneh? Kejadian apa? " Tanyanya penasaran.


Tak biasanya Rendi seperti ini. Brain mengira bahwa ada sesuatu yang benar-benar membuat Rendi begitu down.


Rendi pun menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. Brain pun membelalakan matanya, kala mendengar cerita dari Rendi.


"Apa! Itu artinya Seseorang telah mengetahuinya, Pak! " Ujar Brain.


"Maksudmu? " Tanyanya.


"Ya, kau adalah pelaku atas kematian Renda! " Sahutnya.


Rendi pun membulatkan matanya. " Apa! Siapa yang mengetahuinya? " Gumamnya.


Brain menggeleng. " Sebaiknya kau harus berhati-hati, Pak! " Peringatnya.


"Pasti Jhon pelakunya! " Ujarnya.


Brain pun berfikir sama dengan apa yang ada dalam otak Rendi. " Ya, pasti dia sebab hanya Jhon-lah yang begitu membenci Anda dan dia berusaha melenyapkan mu berulang kali! " Sahut Brain.


"Kurang ajar, Kau Jhon! " Ucapnya seraya mengepalkan tangannya.


"Brain. Cepat antarkan aku ke kantor! " Titahnya.


Brain pun mengangguk dan melajukan mobilnya menuju kantor, namun Brain melihat Rendi yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.


"Apa yang Anda fikirkan, Pak? " Tanyanya sembari melirik Rendi.


Rendi menghela nafasnya, dan menoleh ke arah Brain. " Aku hanya memikirkan bagaimana jika seseorang mengatakan kebenaran ini pada Khumaira! " Sahutnya.


Walau bagaimanapun Rendi belum siap kehilangan Khumaira, semakin hari semakin bertambah rasa cintanya terhadap Khumaira. Jika untuk kehilangannya sepertinya Rendi belum siap bahkan tidak akan pernah siap.


Brain mengerti ketakutan Rendi, namun ia tak bisa membantu apapun.


"Bagaimana jika sebaiknya anda mengatakan segalanya padanya? Mungkin dengan begitu ia akan bisa menerima mu! " Usulnya.


Rendi melototkan matanya. " Apa kau sudah gila, Brain? Jika aku mengatakannya bisa saja saat ini Khumaira akan membenciku! " Ucapnya tak terima dengan usul Brain.


"Lalu, apa bedanya jika orang lain yang mengatakannya? Ingat, Pak. Akan lebih sakit jika dia megetahuinya dari orang lain! Sekarang, Anda bisa menyembunyikan namun tidak untuk selamanya. Apa alasanmu melakukan kebohongan ini? " Ujarnya.


"Tentu saja untuk menjaga hatinya, dan agar Khumaira tetap bersama ku! " Sahutnya.


Brain mengegelengkan kepalanya, dan tersenyum seolah-olah mengejek ucapan Rendi. " Alasan mu hanya itu? Bagaimana pun anda menyembunyikan kebohongan itu tetap saja suatu saat akan terbongkar jua, maka aku sarankan Anda mengatakan sejujurnya agar kau tak menyesal kemudian. Jika Anda mengatakannya secara langsung, mungkin Khumaira akan marah, benci namun itu hanya sementara berbeda ketika dia tahu dari orang lain bisa saja dia marah, membenci Anda bahkan hal yang terburuk adalah Anda akan kehilangnya untuk selama-lamanya! " Sarannya.


Rendi menghela nafasnya, dan memikirkan ucapan Brain. Memang apa yang Brain katakan ada benarnya, namun Rendi belum mampu mengatakan hal yang sebenarnya kepada Khumaira.

__ADS_1


Rendi hanya terdiam seribu bahasa, ia akan memikirkan saran dari Brain.


"Terimakasih untuk sarannya, Brain! " Ucap Rendi.


Khumaira telah sampai di supermarket dan sedang memilih-milih barang yang hendak ia beli.


"Kemana lagi, ya? " Gumamnya.


Terlihat Troli yang di bawa Khumaira sudah hampir penuh, namun ada beberapa barang yang harus ia beli.


Kemudian Khumaira melangkah menuju gerai buah-buahan.


"Wah, sepertinya enak jika makan buah Apel! " Gumamnya.


Kemudian Khumaira meraih apel tersebut, namun Seseorang juga mengambil buah yang sama dengan yang Khumaira sentuh.


"Hey, ini buah aku yang pegang dahulu! " Ujar Khumaira.


Khumaira pun menoleh ke arah orang tersebut, dan Khumaira terkejut melihat orang tersebut begitu pula dengan orang tersebut.


"Khumaira! " Ujarnya.


"Kau! " Gumamnya.


Ternyata Khumaira bertemu kembali dengan sosok Jhon. Betapa beruntungnya Jhon bisa kembali melihat wajah cantik Khumaira.


"Ambil-lah apel itu! " Titah Jhon.


Khumaira menggeleng. " Tidak. Untukmu saja! "Sahutnya.


Kemudian Jhon megambil apel tersebut dan menyimpannya di troli milik Khumaira. " Sudah ambil saja! " Ujarnya.


Jhon terlihat clingukan seperti mencari seseorang. " Apa kau datang sendirian? " Tanyanya.


Khumaira menganguk. " Ya, memangnya kenapa? " Sahutnya.


Khumaira terlihat begitu cuek berbeda dengan Jhon yang terlihat care.


"Tidak. Aku hanya takut ada yang menculik wanita cantik seperti mu! " Ucapnya.


Sontak saja Khumaira tertawa. " Jangan bercanda. Mana ada orang yang mau menculik wanita seperti diriku yang dekil, dan juga kampungan! " Ujarnya.


"Kata siapa? Menurut ku kamu cantik, perfeck, dan power full. " Pujinya.


Khumaira hanya tertawa menanggapi ucapan Jhon, ia pun segera meyudari obrolannya dengan Jhon kemudian segera pergi ke kasir untuk membayar barang belanjaannya.


"Sudah, ya, aku tinggal! " Pamitnya.


Jhon mengangguk, dan seulas senyum terbit dari bibirnya. Hal yang tak pernah Jhon lakukan selama ini.


Setelah membayar barangnya, kemudian Khumaira pun segera keluar dari supermarket dan tengah menunggu taksi namun nampaknya tak ada 1 taksi pun yang lewat.


"Kemana tukang taksi? Kenapa tidak ada satu pun yang lewat? " Gumamnya.


Jhon segera memasukan barang belanjaannya ke bagasi mobilnya, kemudian mulai melajukannya namun tiba-tiba matanya melihat Khumaira yang seperti tengah menunggu taksi.


Jhon pun menghentikan mobilnya tepat di samping Khumaira, dan membuka kaca mobilnya. " Khumaira. Ayo ikut bersamaku! " Ajaknya.


Khumaira menggeleng. " Tidak. Biar aku menunggu taksi saja! " Tolaknya.


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Khumaira pun ikut dengan Jhon. Mereka berdua pun berada dalam mobil yang sama.


Khumaira menunjukan rumahnya, dan Jhon pun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah tersebut.


Khumaira segera turun dari mobil. " Terimakasih, ya! " Ujarnya.

__ADS_1


Jhon mengangguk dan tersenyum. " Oke. Sama-sama. Yaudah, aku pamit, ya! " Sahutnya.


Kemudian Jhon pun memutar arah mobilnya dan melajukannya. Hati Jhon benar-benar bahagia hari ini.


__ADS_2