
Setelah melewati sesi romantis bersama Khumaira, Rendi pun mencoba memejamkan matanya di sebelah Khumaira yang telah terlelap dalam tidur.
"Aku mencintaimu, Khumaira! " Bisiknya, kemudian Rendi mencium kening Khumaira sekilas.
Saat hendak terlelap tiba-tiba Rendi mendengar suara bell berbunyi, gegas ia pun bangkit.
"Siapa yang bertamu di jam seperti ini? " Gumamnya.
Rendi pun segera turun dari tangga dan menuju pintu utama.
Terdengar bell semakin memekikan telinga, nampaknya seseorang tak sabar.
"Iya, tunggu sebentar!! " Teriaknya.
Rendi pun membuka pintu, namun ia begitu heran ketika tak mendapati siapapun di sana.
Rendi menggaruk kepalanya yang tak gatal. " Siapa yang iseng? Apa mungkin setan? " Ujarnya.
Rendi pun clingukan mencari kesana kemari namun tidak menemukan siapapun. "Mungkin hanya orang iseng? " Gumamnya.
Rendi pun memilih untuk masuk ke kembali, namun tiba-tiba kakinya tak sengaja menendang sesuatu. Rendi meraih benda yang berbentuk kotak itu. " Apa ini? " Gumamnya.
Rendi pun mencoba membukanya, dan melihat isi dalam kotak tersebut sontak saja Rendi pun langsung melempar kotak tersebut kala sudah melihat isinya.
"Ahhh!!! Apa-apaan ini? " Ujarnya seraya melempar kotak tersebut jauh darinya.
Rendi benar-benar tak habis fikir dengan pengirim tersebut. Ternyata isi dalam kotak tersebut adalah sebuah pisau kecil, gunting, obat tidur dan juga darah.
Rendi terlihat marah, ia pun mengepalkan kedua tangannya dan dadanya pun terlihat naik turun menahan amarah. " Kurang ajar. Siapa yang berani melakukan ini? Kalian fikir bisa lolos dari ku begitu saja? Tidak semudah itu! Akan aku cari kalian walau sampai ke liang lahat sekalipun. " Ujarnya.
Rendi pun segera membuang barang-barang tersebut ke tong sampah yang berada di luar rumahnya. "Ada baiknya aku memasang CCTV di sini! " Batinnya.
Rendi yakin peneror itu akan terus meneror dirinya, maka dari itu Rendi harus bermain secantik mungkin.
Rendi segera masuk ke dalam rumahnya, namun kini Rendi tak bisa tertidur sebab konsentrasinya sudah buyar.
Rendi segera masuk ke ruang kerjanya, kemudian membuka laptopnya untuka selanjutnya melanjutkan kerjanya yang sempat tertunda.
1 jam berlalu, namun Rendi tak kunjung selesai dengan pekerjaannya hingga seseorang membuka pintu ruangannya.
Rendi pun menoleh, dan melihat siapa yang datang. " Khumaira. Kenapa kau bangun? Tidurlah lagi! " Ujarnya.
Khumaira hanya tersenyum dan menghampiri Rendi. " Kenapa kau sendiri juga belum tidur? Ini sudah malam, bekerjanya besok lagi saja! " Ucapnya.
Rendi menghentikan aktivitasnya Kemdikbud menoleh ke arah Khumaira. " Tanggung sebentar lagi. Kau pergilah tidur dulu! " Titahnya.
Khumaira pun menghela nafasnya kemudian mengangguk dan beranjak keluar dari ruangan Rendi.
__ADS_1
Pukul 03:00 dini hari Rendi baru saja selesai dengan pekerjaannya akhirnya ia pun memutuskan untuk segera tidur.
"Mataku sudah ngantuk sekali! " Gumamnya.
Rendi pun menuju kamarnya dan lekas tidur.
Pagi hari menyapa, cahaya surya mulai menerangi celah-celah jendela dan Khumaira pun segera menyibak tirai.
"Silau, Khumaira! " Ucap Rendi seraya menutup wajahnya dengan selimut.
Khumaira hanya menoleh dan tersenyum. " Ini sudah siang. Apa kau tidak mau mandi dan bersiap-siap bekerja? " Ujarnya.
Rendi pun menyibak selimutnya seraya mengucek matanya kemudian bangkit dari tempat tidurnya.
Rendi segera bergegas menuju kamar mandi. " O, ya, Khumaira. Tolong buatkan aku kopi hitam tanpa gulu! " Titahnya.
Khumaira pun mengangguk, dan Rendi pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
Rendi telah bersiap-siap dengan pakaian kerjanya dan segera menuruni tangga menuju ruang makan. "Hallo, selamat pagi! " Ujarnya kemudian mencium kening Khumaira.
"Pagi! " Sahutnya.
Khumaira menyodorkan kopi pesanan Rendi dan Rendi pun segera menyesapnya.
"O, ya, Khumaira. Mungkin aku akan pulang malam sebab banyak pekerjaan di kantor! " Ucapnya.
Rendi bersyukur memiliki Istri seperti Khumaira yang penuh perhatian dan mengerti dirinya, namun berulangkali Rendi memandang Khumaira seraya menghela nafasnya. " Akankah kebahagiaan ini bertahan selamanya, Khumaira? " Batinnya.
Walau bagaimanapun Rendi takut kehilangan Khumaira yang kini bersamanya.
"Mas. Ko melamun? " Tanyanya heran.
Rendi menggeleng dan tersenyum. " Tidak. Kau cantik! " Pujinya, namun hanya sebuah pengalihan.
Ucapan Rendi sukses membuat Khumaira terlihat salah tingkah di buatnya, pipinya pun terlihat memerah sebab malu.
Rendi dan Khumaira pun sarapan bersama, namun Khumaira heran yang melihat Rendi nampak begitu murung dan sering melamun.
"Mas. Aku perhatikan akhir-akhir ini kau sering melamun! Ada apa? " Tanyanya.
Rendi menatap Khumaira. " Tak ada. Sudah, ya, Aku harus pergi! " Ujarnya setelah melirik jam tangannya.
"Tapi.... "
Belum sempat Khumaira berucap tapi Rendi sudah pergi lebih dulu.
Akhirnya Khumaira pun mengikuti langkah Rendi dan mengantarkannya sampai di ambang pintu.
__ADS_1
Rendi telah masuk ke dalam mobilnya, dan melambaika tangannya pada Khumaira. " Hati-hati di rumah! " Pesannya.
Khumaira hanya mengangguk di sertai senyuman.
Khumaira memandang kepergian Suaminya, setelah Rendi hilang dari pandangan Khumaira bergegas masuk kembali ke rumahnya, namun tanpa di sangka sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang sehingga Khumaira memilih berdiam diri dan melihat siapa yang datang. " Siapa yang ada dalam mobil itu? " Gumamnya.
Setelah beberapa saat turunlah seorang Pria yang menggunakan setelan jas dari mobil tersebut sembari tersenyum manis pada Khumaira. "Hallo, Khumaira! Apa kabarmu hari ini? " Sapanya.
Khumaira pun tersenyum. " Jhon. " Gumamnya.
Khumaira segera membuka gerbang tersebut dan menemui Jhon. " Jhon. Ada apa kau kemari? " Tanyanya.
"Aku hanya kebetulan lewat saja. Aku fikir aku akan mengunjungi dirimu! " Jawabnya berbohong.
Padahal Jhon memang sengaja datang kemari hanya untuk menemui Khumaira.
"Kau bisa mampir dulu! " Ajaknya.
Jhon melirik jam tangannya dan kemudian menatap Khumaira. " Maaf, sepertinya aku tidak bisa! Lain kali aku akan mampir. Sekarang, aku sedang ada meeting mendadak. Sorry, ya! " Ucapnya merasa bersalah.
Sebenarnya Jhon ingin sekali masuk ke dalam rumah Khumaira, namun apa ada sebuah meeting yang penting harus ia jalani.
Khumaira pun mengerti. " Baiklah. " Sahutnya.
Jhon nampak tersenyum, tidak salah jika dirinya mencintai gadis seperti Khumaira yang amat pengertian. " Ya sudah, Khumaira. Aku pergi sekarang! " Ucapnya seraya menaiki mobilnya, Jhon pun tak lupa meminta nomor Khumaira agar ia bisa menghubunginya.
Awalnya Khumaira menolak memberikan nomornya pada Jhon, namun Jhon terus memaksanya dengan dalih jika ada penting dengannya maka ia bisa menghubunginya kapanpun.
Setelah Jhon pergi Khumaira pun bergegas masuk kembali ke rumahnya untuk membantu Bi Inah menyelesaikan pekerjaan rumah, sebab Khumaira tidak betah hanya berdiam diri saja.
"Bi biar saya bantu! " Tawarnya.
"Jangan, Bu. biar Bibi Saja. Nanti kalo Tuan Tahu pasti saya yang kena marah! " Ujarnya menolak.
Ya, Bi Inah sering di peringatkan oleh Rendi bahwa Khumaira tak boleh mengerjakan apapun sebab Khumaira sedang dalam masa kehamilan yang cukup rawan sehingga Khumaira harus extra menjaga kehamilannya.
Khumaira hanya bisa menghela nafasnya, dan duduk di sofa. Khumaira hanya memainkan gawainya tanpa tahu harus melakukan apa hari ini.
"Apa yang harus aku lakukan? ini tidak boleh, itu tidak boleh. " Gumamnya.
Khumaira tak suka jika harus berdiam diri saja di rumah, sepertinya Khumaira harus melakukan sesuatu seperti membuat Kue atau apa.
"Bi! bisa tolong bantu saya membuat Kue? " Ujarnya.
"iya, Bu. nanti saya bantu! " Ujarnya.
Akhirnya Khumaira dan Bi Inah pun membuat Kue, sebab hanya membuat Kue tidak terlalu berat.
__ADS_1