TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 44 #KETIKA NAMA RENDA TERSELIP


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, hubungan antara Rendi dan Khumaira semakin dekat, bahkan kehamilan Khumaira sudah menginjak usia 8 bulan tinggal beberapa minggu lagi untuk mereka bisa bertemu dengan sang jabang bayi.


Khumaira berdiri dekat jendela sembari memandang ke depan dengan tatapan kosong, entah apa yang sedang ia fikirkan.


Rendi menghela nafasnya, kemudian menghampiri Khumaira. Rendi memeluk tubuh Khumaira dari belakang dengan mesra sembari mengecuk pipinya sekilas.


Tangan Rendi mengelus perut Khumaira yang sudah membuncit. " Kandunganmu sudah besar, Khumaira. " Ucapnya.


Khumaira tersenyum, dan menoleh. " Tentu saja, sebentar lagi kita akan bertemu dengannya! " Sahutnya.


Rendi membalikan tubuh Khumaira agar menghadap dirinya. " Benarkah? " Tanyanya. Khumaira pun mengangguk sembari tersenyum.


Rendi pun tersenyum, kemudian bersimpuh di hadapan Khumaira, ia pun meletakan kepalanya di perut Khumaira. " Hallo, Baby! Apa kabar kamu di sana? Sehat-sehat dan jangan membuat Mommy kelelahan, ya! " Ucapnya, kemudian mencium lembut perut Khumaira.


Khumaira yang mendengar hal itu pun langsung tersenyum, dan mengelus rambut Rendi.


"Andai kau ada disini, Mas Renda. " Batinnya.


Rendi perhatikan Khumaira seperti sedang memikirkan sesuatu, ia pun berdiri dan menatap wajah Khumaira.


"Apa yang sedang kau fikirkan, Khumaira? " Ujarnya.


Khumaira kaget, dan replek saja salah mengucapkan kata. " Renda. Aku tidak... " Usai mengatakan hal itu Khumaira pun menutup mulutnya dan berbalik menghadap Rendi.


Rendi mengangkat wajahnya. "Its oke. " Ujarnya sembari tersenyum getir.


Walau Rendi sedikit kecewa dan marah, namun ia tahan amarahnya. Rendi hanya tak habis fikir setelah kepergian Renda cukup lama, namun di hati Khumaira nama Renda masih terukir indah.


Khumaira merasa bersalah, dan terus saja meminta maaf pada Rendi.


Rendi mendekati Khumaira dan memegang bahunya. " Khumaira. Besok aku harus pergi keluar kota untuk beberapa hari bersama Brain. " Ujarnya sembari berlalu pergi.


Tadinya malam ini Rendi ingin menghabiskan waktu bersama Khumaira sebelum dirinya pergi, namun moodnya hancur saat Khumaira mengingat nama Renda.


" Tunggu! Apa aku boleh ikut bersama mu? " Ucap Khumaira.


Seketika Rendi menghentikan langkahnya, dan berbalik. " Tidak. Kau sedang hamil besar! " Sahutnya.


"Tapi ... "


"Tapi apa? Kau ingin membahayakan kandunganmu? " Rendi memotong koucapan Khumaira, Khumaira pun menggeleng.


"Kau tunggu saja, dan akan ada orang yang akan menjaga mu selama aku pergi! " Ujarnya.


Khumaira mengangguk mengerti, kemudian Rendi pun meninggalkan kamar menuju ruangan kerjanya.


Rendi duduk di kursi kerjanya sembari menyugar rambutnya. "Apakah mencintai harus sesakit ini? " Ucapnya.

__ADS_1


Saat Rendi mulai mencintai dan menyayangi Khumaira, lalu mengapa harus ada nama Renda di tengah-tengah mereka bahkan bayi dalam kandungan Khumaira merupakan buah cinta mereka.


Saat Rendi tengah merenung, tiba-tiba seseorang melemparkan batu pada ruangan dimana Rendi berada.


"Apa itu? " Gumamnya.


Rendi beranjak dari duduknya, dan langsung melihat siapa pelakunya. " Siapa disana? " Teriaknya.


Rendi turun ke bawah untuk mencari pelakunya, namun hasilnya nihil. Sepertinya pelaku tersebut sudah melarikan diri.


"Sialan! Siapa yang berani melakukan ini padaku? " Batinnya.


Rendi kembali ke ruangan kerjanya, dan melihat batu tersebut disana ada sebuah surat untuknya.


' KAU HARUS MATI!! '


Usai membaca tulisan tersebut dada Rendi langsung kembang kempis menahan amarah. Rendi mengepalkan tangannya dan mengepal tulisan tersebut dengan erat, kemudian melemparnya dengan asal.


"Kurang ajar! " Umpatnya.


Jika terus di biarkan, maka masalah ini akan semakin meluas. Ancaman demi ancaman sudah mulai Rendi terima, namun hingga detik ini dirinya belum tahu siapa pelakunya?


Rendi harus segera menemukan pelaku tersebut, ia pun menyuruh Alex dan Oxy untuk mencari informasi tersebut.


Rendi tidak pergi ke kamarnya, ia memutuskan untuk tidur di ruang kerjanya hingga pagi pun menyapa Rendi bergegas bangkit, kemudian segera pergi ke kamarnya untuk mandi.


"Ruang kerja! " Sahutnya tanpa menoleh, Rendi pun bergegas meraih handuk dan menuju kamar mandi.


Khumaira tahu pasti Rendi masih marah padanya, ia pun segera menyiapkan pakaian Rendi dan menyiapkan sarapan untuknya walau kondisi perutnya sudah sangat membesar.


Tak berapa lama kemudian, Khumaira sudah selesai membuat sarapan dan Rendi pun terlihat menuruni tangga sembari menyeret kopernya.


Rendi tak bertanya ataupun menyapa Khumaira, ia pun langsung duduk dan menikmati sarapannya.


Khumaira memandang wajah Rendi, ia masih setia di posisi berdirinya.


Khumaira menunggu Rendi bertanya sesuatu padanya, namun hingga Rendi selesai makan pun ia sama sekali tak bertanya apapun.


Rendi segera bangkit, dan menyeret kopernya. " Aku pergi! " Ucapnya.


Khumaira menatap Rendi dengan tatapan pilu. Semarah itukah, Rendi?


Khumaira menunduk dalam, matanya mulai berkaca-kaca dan matanya mulai menangis.


Saat Air matanya hendak menetes, tiba-tiba Rendi meletakan telapak tangannya tepat pada air mata Khumaira yang menetes.


"Kau menangis? " Tanyanya sembari melihat air mata Khumaira di tangannya.

__ADS_1


Mendengar hal itu sontak saja Khumaira mengangkat wajahnya dan memandang Rendi yang berdiri di depannya.


Khumaira menggeleng. " Tidak. Aku tidak menangis! " Sahutnya sembari mengusap air matanya.


"Lalu ini apa? " Tanyanya sembari menunjukkan air mata Khumaira.


Khumaira terdiam, ia tak bisa membantah atau pun mencari alasan lagi sudah jelas bahwa tadi dirinya menangis dan Rendi tahu itu.


Rendi yang melihat Khumaira hanya terdiam pun langsung saja memeluknya, dan mencium keningnya. " Maafkan aku, Khumaira! " Ucapnya.


"Minta maaf untuk apa? Kau tidak salah apa-apa! " Sahutnya.


"Jika aku tidak salah, lalu mengapa kau menangis? Kau menangis karna aku, kan? " Tanyanya.


Khumaira menggeleng. " Bukan, bukan karna kau! " Sahutnya berbohong, sudah jelas Khumaira menangis karna sikap Rendi.


Rendi semakin mengeratkan pelukannya, dan meminta maaf atas sikapnya yang cumburu pada Renda berlebihan.


"Maafkan aku. Aku akan kembali beberapa hari lagi, dan kau jaga dirimu baik-baik sampai aku kembali! " Pesannya.


Khumaira mengangguk, dan mengantarkan Rendi sampai ambang pintu. Kebetulan Brain sudah datang untuk menjemput Rendi.


"Aku pergi! " Pamitnya.


Khumaira mengangguk, sembari melepas kepergian Rendi dengan senyuman walau dalam hatinya ia tak rela dengan kepergian sang Suami.


Selepas kepergian Rendi, Khumaira pun kembali ke dalam rumah namun belum sempat Khumaira menutup pintu tiba-tiba seorang Pria sudah berdiri di depannya.


"Jhon! untuk apa kau kemari? " Tanyanya.


"Aku hanya ingin berkunjung! " Sahutnya.


"Tapi, ini masih pagi. " Ujarnya.


Khumaira berusaha menyuruh Jhon untuk segera pergi, namun Jhon masih tetap kekeh dengan pendiriannya ia tak beranjak dari tempatnya.


Khumaira memilih abai, kemudian bergegas mandi. Hari ini Khumaira sudah membuat janji dengan Dokter untuk memeriksa kandungannya.


Selesai mandi dan bersiap, Khumaira pun hendak pergi namun saat membuka Pintu ia kaget dengan Jhon yang masih menunggu di depannya sejak tadi.


"Jhon. Kau masih disini? " Tanyanya tak percaya.


Jhon tersenyum melihat Khumaira yang sudah terlihat cantik. " Ya, aku masih disini. Kau mau kemana? biar aku antar! " Tawarnya.


"Tidak usah. Aku bisa pergi sendiri! " Tolaknya.


Bukan Jhon namanya jika membiarkan Khumaira pergi sendiri, akhirnya Jhon berhasil meyakinkan Khumaira untuk pergi bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2