TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 23 #TANGISAN SEORANG IBU


__ADS_3

Kini jenazah Yoga telah dibawa pulang ke rumah duka dengan menggunakan ambulance. Khumaira yang ikut serta dalam ambulance pun larut dalam kesedihannya, ia pun tak hentinya menangis. Rendi menemani Khumaira di dalam mobil ambulance, ia pun merangkul tubuh Khumaira yang terlihat bergetar.


"Sudahlah, Khumaira. Ikhlaskan Yoga agar dia juga tenang! " Ujarnya berusaha menenangkan.


Mobil ambulance yang di tumpangi pun sudah sampai di kediaman Rendi, dan jenazah Yoga pun telah di bawa masuk oleh beberapa petugas yang ikut mengantarkan.


"Kami pergi dulu, Pak, Bu! " Pamit petugas rumah sakit.


Rendi mengengguk, dan memberikan tips lebih pada petugas tersebut.


Terlihat para pelayat sudah memenuhi kediaman Rendi mulai dari rekan bisnis, karyawan dan para tetanggga. Kini, kediaman Rendi pun di jaga ketat oleh para anak buah Rendi, sebab mereka berjaga-jaga jika ada serangan mendadak .


Alex, dan Brian yang ikut mengamankan pun terus siaga dan berjaga-jaga. Seluruh yang hadir tak lepas dari pandangannya.


"Hati-hati dan tetap waspada! " Peringat Brian.


Alex mengangguk, dan menelisik keadaan dengan ekor matanya. Bisa saja dalam keadaan seperti ini musuh akan menyerang tanpa kecuali.


"Sepertinya tidak ada yang mencurigakan! " Ujar Alex.


Walau keadaan baik, dan tidak ada yang mencurigakan tetap saja mereka semua harus tetap waspada dengan keadaan sekitar.


Alex menghampiri Rendi. " Saya turut berduka cita atas apa yang terjadi pada Anda dan keluarga, Pak! " Ucapnya turut berduka.


Rendi mengangguk. " Terimakasih! " Sahutnya.


Rendi pun menghampiri dan menyambut para rekan bisnisnya yang ikut berkabu dengan nasib yang menimpa Keluarganya.


"Oke. Terimakasih semuanya. Semoga saya dan Keluarga kuat! " Ujar Rendi.


Rendi melangkah ke dimana tubuh mungil Yoga di semayamkan. " Maafkan kami Yoga. Kami gagal menjagamu, tapi kami berjanji akan mencari pelakunya dan akan menghukumnya! " Janji Rendi.


Rendi pun mencium kening bocah 5 tahun tersebut sekilas, kemudian mentup kembali kain penutupnya.


Khumaira yang terus setia berada di samping Yoga tak beranjak sejak tadi. Kini keadaan Khumaira terlihat kacau dengan mata sebab, dan penampilan yang acak-acakan.


"Khumaira, sudahlah! " Ujar Rendi, namun Khumaira tak mau beranjak dirinya masih ingin bersama Yoga.


Rendi merasa gagal menjaga Yoga, ia telah kalah bahkan hingga saat ini Rendi belum menemukan siapa pelakunya.


"Kira-kira siapa pelakunya? " Gumam Rendi.

__ADS_1


Rendi memandang wajah Yoga yang terbujur kaku tak lagi bernyawa, kesedihan terpancar jelas di mata Rendi walau pun ia tak menangis namun hatinya begitu terluka.


Rendi memanggil Brian, dan memberikannya tugas agar Brian segera menemukan pelaku atas penabrakan Yoga.


"Saya tidak ingin tahu, kau harus menemukan pelakunya! " Ujar Rendi.


Brian pun mengangguk, dan segera bergerak untuk mencari informasi terkait hal tersebut.


Tanpa di duga seseorang tengah mengawasi kediaman Rendi, dan membuat kerusuhan di sana.


Dor.. dor... Dor..


Beberapa kali seorang Pria menembakan pistolnya ke arah kerumunan hingga menimbulkan kerusuhan di tengah-tengah kerumunan.


Para pelayat pun saling berhamburan keluar dari rumah Rendi, Rendi pun menyuruh Anak buahnya untuk mencari biang kerok atas kerusuhan yang terjadi.


"Cepat cari pelaku kerusuhan ini! " Perintahnya pada Alex.


Sementara Rendi, kini dirinya menenangkan para pelayat agar tidak cemas dan rusuh.


"Tenang, tenang semuanya ini tidak akan berlangsung lama! " Ujarnya.


Hingga akhirnya kondisi di rumah Rendi sudah mulai kondusif, dan Rendi bisa bernafas dengan lega.


"Woy. Jangan kabur!! " Teriak Alex yang terus mengejar pelaku.


Hingga baku tembak pun terjadi namun tembakan Alex meleset, hingga pelaku tersebut melempar gas air mata ke arah Alex sehingga mata Alex tertutup kabut dan menghalangi penglihatannya. Sementara pelaku tersebut berhasil kabur.


"Sialan!! " Ujar Alex.


Alex pun kembali ke rumah Rendi, dan tidak mendapatkan hasil apapun namun Alex menemukan sebuah cincin dan menyimpannya di saku jasnya.


Alex telah kembali, dan menghampiri Rendi. " Apa kau menemukan pelakunya, Lex? " Bisik Rendi.


Alex menggeleng. " Tidak, Pak. Sebab dia menggunakan gas air mata sehingga menghalangi penglihatan saya! Tapi, saya menemukan sesuatu. " Ujarnya seraya menunjukkan sebuah Cincin yang ia temukan.


Rendi meraihnya, dan mengamati cincin tersebut. Rasa-rasanya Rendi pernah melihat cincin tersebut namun ia lupa pernah melihatnya dimana.


"Aku seperti pernah melihat cincin ini? " Gumamnya.


" Apa kau tahu itu milik siapa, Pak? " Tanya Alex.

__ADS_1


Rendi menggeleng. " Tidak! " Sahutnya sembari memasukan cincin tersebut ke dalam sakunya sebab jenazah Yoga akan segera di bawa menuju pemakaman.


Rendi ikut turun dalam penguburan jenazah Yoga, ia pun berkali-kali meminta maaf atas kelalaiannya menjaga Yoga.


Hingga tubuh mungil Yoga telah terkubur bersama segala kenangam yang ada.


Rendi menatapnya dengan mata yanv berkaca-kaca. Sungguh, Rendi begitu menyayangi Yoga walaupun tak ada hubungan darah antara keduanya.


"Yoga. Aku berjanji di depan nisanmu bahwa aku Rendi Wiguna akan mencari pelukannya dan menghukumnya dengan seadil-adilnya! " Batinnya.


Rendi menatap nyalang ke arah makan Yoga, ia tak akan memaafkan pelaku yang tengah menewaskan Yoga.


Kini seluruh pelayat sudah mulai meninggal makam Yoga tinggallah Rendi, dan Khumaira. Sementara Alex, dan anak buah yang lain menjaga rumah Rendi.


"Ayo, Khumaira. Kita pulang! " Ajaknya.


Sebenarnya, Khumaira enggan beranjak namun hari sudah mulai mendung walau hari masih siang nampaknya akan turun hujan hingga Khumaira pun memilih pergi.


"Yoga. Kau yang tenang di sana, ya, Nak! " Ucapnya lirih.


Rendi, dan Khumaira pun pergi meninggalkan makam Yoga. Setelah kepergian mereka berdua tiba-tiba seorang wanita terlihat menghampiri makam tersebut dan menangis di pusara Yoga.


"Yoga. Kenapa kau tinggalkan Mama! " Teriaknya histeris.


Ya, dia adalah Nuri. Sejak tadi Nuri memperhatikan dan mengikuti Jenazah Putranya namun Nuri tak bisa menghampirinya sebab ada Rendi di sana.


Kini, Nuri begitu hancur dengan kenyataan pahit tentang Putranya. Ingin rasanya Nuri memeluk tubuh mungil Yoga untuk terakhir kalinya namun semua itu tak bisa lagi.


"Yoga. Maafkan Mama! " Ujarnya.


Seolah bumi ikut menangis bersamanya sehingga hujan pun turun dengan lebatnya, semesta turut larut dalam kesedihan seorang ibu yang kehilangan Putranya.


Nuri terus menangis dan mencium nisan Yoga tanpa henti. Seorang ibu mana yang tidak akan menangis jika melihat Putranya meninggal namun tak bisa melihat bahkan memeluknya untuk terakhir kalinya. Nuri mengutuk Rendi, dan Khumaira. Ia pun bersumpah akan membalas kematian Putranya.


"Nyawa harus di bayar nyawa, Rendi. Aku akan membalas kalian semua!! " Ujarnya penuh dendam.


Kebencian Nuri terhadap Khumaira dan Rendi semakin bertambah, ia tidak akan memaafkan Rendi atas semua yang dia lakukan padanya.


Setelah lama berada di makam, akhir Nuri memutuskan untuk segera kembali ke rumah Jhon walau dengan pakaian yang basah kuyup sebab hujan deras.


"Aku harus segera pulang sebelum si gembrot itu memarahi ku! " Ujarnya.

__ADS_1


Nuri pun telah sampai di rumah Jhon, dan bergegas berganti pakaian. Beruntung, Nuri tak bertemu dengan Jumi yang super duper menyebalkan.


__ADS_2