
Semenjak Nuri menjadi tahanan Rendi, kini Rendi bertanggung jawab penuh atas Yoga, maka setiap hari Rendi selalu menjumpainya ketika hendak ke kantor. Rendi pula menyuruh seseorang untuk menjaga Yoga selama Nuri tak ada.
"Jaga Yoga, dan lindungi dia apapun yang terjadi! " Ujarnya.
Tentu saja Anak buahnya begitu patuh padanya, hingga ia akan melakukan apapun yang di perintahkan oleh Rendi.
Namun Saat Yoga sedang bermain, dan bodyguard sedang menungguinya tiba-tiba penjaga tersebut ingin buang air kecil.
"Aduh, kebelet! Bagaimana ini? Jika aku tinggalkan Yoga, bisa saja terjadi hal buruk. Tapi... Ah, sudahlah lagi pula hanya sebentar! " Ujarnya seraya berlalu ke kamar kecil dan meninggalkan Yoga sendirian.
Setelah kepergian Bodyguard tersebut, tiba-tiba seseorang datang menghampiri Yoga, dan bermain dengannya.
"Hallo, tampan. Mau permen tidak? " Ujarnya.
Yoga yang baru berusia 5 tahun pun dengan polosnya mengangguk, dan menginginkan permen tersebut namun dengan 1 syarat bahwa Yoga harus ikut dengannya.
"Iya, aku mau. Sekarang, mana permennya? " Ucap Yoga.
Pria tersebut memberikan banyak sekali Yoga permen, Pria tersebut terlihat sedang mengamati situasi, ketika di rasa aman tiba-tiba ia pun membius Yoga dan menyeretnya ke dalam Mobil.
Namun aksinya di ketahui oleh Bodyguard yang menjaga Yoga, tapi sayang seseorang telah membawa Yoga jauh hingga ia memutuskan untuk mengabari Rendi.
"Hallo, Pak. Yoga di culik! " Ujarnya.
Rendi yang mendengar bahwa Yoga telah di culik, ia pun merasa cemas sekaligus marah pada Bodyguard yang ia percayakan.
"Bodoh!! " Ucapnya marah.
Rendi pun segera menyusul ke tempat kejadian, sementara bodyguard tersebut tengah mengejar pelaku penculikan Yoga dengan sepeda motor.
"Hey, keluar!! " Teriaknya kencang.
Namun mobil semakin kencang melaju, hingga Bodyguard tersebut sempat kehilangan jejak namun ia berusaha agar tidak ketinggalan.
"Woy!! " Teriaknya, Bodyguard tersebut terus memberikan informasi pada Rendi tentang Yoga.
Rendi yang mengikuti dari belakang bersama Brian dan anak buah lainnya, berhasil mengepung penculik Tersebut.
"Hey, berikan anak itu atau kau mati! " Ancam Brian.
Bukannya takut dengan ancaman Brian, penculik tersebut malah menertawai Brian.
"Hahaha. Kau kira kami takut dengan kalian? " Ledeknya.
Hal tersebut seketika membuat Rendi terbakar api kemarahan, hingga ia pun maju dan terlibat perkelahian.
Saat Brian, dan Anak buahnya hendak membantu namun di hentikan oleh Rendi.
__ADS_1
"Jangan coba-coba kalian ikut campur. Biar aku yang menghempaskan manusia-manusia ini! " Ujarnya.
Brian, dan Anak buah yang lain tak berani menetang Rendi. Mereka semua mundur dan hanya menjadi penonton di tengah perkelahian Rendi dengan beberapa penculik, mereka sempat khawatir dengan keselamatan Rendi namun Rendi sebisa mungkin menguasai permainan ini.
"Hati-hati, Pak! " Teriak Brian.
Rendi menoleh, dan mengangguk. Ia pun terus menghadapi penculik tersebut hingga wajahnya tak jarang terkena pukulan pada penculik tersebut.
Darah segar mulai keluar dari sudut bibir Rendi, dan Rendi sempat oleng namun ia tidak menyerah begitu saja hingga akhirnya Rendi bisa mengalahkan penculik tersebut.
"Ampun. Jangan bunuh kami! " Ucapnya mengiba.
Rendi nampak berfikir, kemudian menatap mereka semua. "Baiklah. Kali ini aku maafkan, tapi jika kalian melakukan hal ini lagi maka aku tak segan-segan membantai kalian beserta jajaran kalian! " Ancamnya.
Mereka pun mengangguk, dan segera pergi dari hadapan Rendi dengan menggunakan mobil.
Rendi merasakan ngilu akibat di sekujur wajahnya akibat pukulan dari penculik tadi.
"Pasti sakit, kan? " Ucapnya seraya memegang bibir Rendi, sontak saja Rendi meringis dan menjitak kepala Brian. " Sudah tahu sakit. Kenapa kau pegang, bodoh? " Ujarnya sembari sesekali meringis.
Brian hanya menanggapinya dengan senyuman.
Setelah kejadian yang baru saja terjadi, membuat Rendi was-was. Ia takut jika hal serupa akan terjadi. Rendi tak ingin mengambil resiko, hingga akhirnya memutuskan untuk membawa Yoga ke rumahnya, namun Rendi juga bimbang, bagaimana mengatakan soal ini pada Khumaira.
"Bagaimana caranya agar Khumaira mengerti? " Tanyanya.
Rendi melirik Brian. " Tidak semudah itu, bodoh! " Ucapnya.
Saat ini Rendi di landa kecemasan antara membawa Yoga pulang atau tidak?
"Baiklah. Aku akan membawanya pulang. Aku sudah siap dengan segala resikonya, toh belum tentu juga dia anak ku, bukan? " Ujarnya lagi.
Brian setuju dengan keputusan Rendi, sebab tak baik jika anak kecil tumbuh tanpa orang dewasa, bahkan kini Ibunya tengah menjadi tawanan Rendi.
Rendi berjongkok, dan menyamai tinggi Yoga. " Yoga, kamu maukan ikut degan om ke rumah? Di sana ada Tante cantik yang akan menemuimu! Mau, kan? " Ucap Rendi.
Tentu saja Yoga setuju dengan ajakan Rendi, ia sendiri begitu bosan hidup sendiri. Apalagi Yoga tidak tahu dimana ibunya saat ini?
Rendi, dan Yoga pun masuk ke dalam mobil. Beberapa saat mengendarai mobil akhirnya mereka telah sampai di pelataran rumah Rendi.
Yoga yang baru pertama kali melihat Rumah besar, dan mewah seperti milik Rendi begitu senang.
"Wah, rumahnya bagus. Keren, keren Yoga bakalan betah! " Ucapnya girang.
Rendi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tersenyum melihat tingkah Yoga. "Dasar bocah! " Ujarnya.
Rendi mengajak Yoga masuk ke dalam rumahnya, dan Kebetulan Khumaira menunggu Rendi di ruang tamu namun Khumaira heran anak siapa yang Rendi bawa.
__ADS_1
"Anak siapa? " Tanya Khumaira.
Rendi memberikan isyarat pada Khumaira dengan gerakan tangannya bahwa Rendi akan menceritakannya nanti.
"Khumaira. Ajak Yoga makan, sementara aku akan mandi lebih dulu! " Titah Rendi.
Khumaira mengangguk, dan bergegas mengajak Yoga menuju ruang makan.
Khumaira mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk Yoga, terlihat Yoga makan dengan lahap membuat Khumaira begitu senang.
"Makan yang banyak, agar cepat besar! " Ucap Khumaira.
Setelah selesai makan, Khumaira segera mengantarkan Yoga ke kamarnya. " Ayo, tidur. Sudah malam! " Ucap Khumaira.
Yoga pun sudah menguap, sepertinya Yoga sudah sangat mengantuk.
"Tidur yang nyenyak, ya! " Ucap sembari mencium pucuk kepala Yoga.
Khumaira membacakan sebuah dongeng untuk Yoga, hingga tak terasa mata Yoga begitu berat dan ia pun tertidur dengan cepat. Khumaira segera beranjak dari ranjang dan bergegas pergi, ia tak lupa mematikan lampu kamar agar Yoga lebih tenang. Tanpa Khumaira sadari bahwa sejak tadi Seseorang tengah memperhatikan dirinya, ya, dia adalah Rendi.
"Kau pantas menjadi Ibu, Khumaira! " Gumamnya.
Rendi pun berlalu pergi dari pintu sebelum Khumaira melihatnya.
Kini, Rendi berada di dalam kamar dan Khumaira pun baru masuk lantas Khumaira mulai mendekati Khumaira.
"Aku ingin... "
"Duduklah. Akan aku ceritakan padamu! "Potongnya, Rendi tahu apa yang ada dalam fikiran Khumaira.
Khumaira duduk di samping Rendi, dan menatap wajah tampan Rendi.
Rendi menceritakan seluruh kisahnya bersama Nuri, hingga akhirnya ia memiliki Anak dari Nuri yang kini ia bawa ke rumah Ini.
Khumaira begitu terkejut mendengar penuturan Rendi, ia pun menutup mulutnya sebab tak percaya. " Jadi, Yoga adalah Anakmu? " Ucapnya.
Rendi menggeleng. " Belum tentu, Khumaira. Aku masih menunggu hasilnya. Walau hasil sebelumnya sudah keluar, tapi aku tidak yakin dengan hasil yang pertama! " Sahutnya.
Khumaira mengangguk, benar atau tidaknya nanti hasil test tersebut Khumaira harus tetap berlapang dada, dan menerima Yoga sebagai Putranya jika memang terbukti Yoga adalah Putra Rendi.
"Eh, tunggu. Apa kau sudah memaafkanku tentang foto itu? " Tanya Rendi soal fotonya bersama Nuri.
Khumaira menganguk, dan tersenyum spontan Rendi langsung memeluk Khumaira.
"Sorry, sorry! " Ucapnya terlihat salah tingkah.
Khumaira hanya menggeleng, dan tersenyum melihat tingkah Rendi.
__ADS_1