TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 35 #RENCANA JAHAT


__ADS_3

Jhon benar-benar marah, nampak mengepalkan kedua tangannya sebab mendengar kabar Rendi yang telah pulih dan selamat dari jurang kematian.


"Rendi sialan. Mengapa kau selalu lolos dari maut? Aku heran, sebenarnya kau punya berapa nyawa? " Ujarnya tak habis fikir.


Jhon yang mengira bahwa Rendi akan tewas, sebab saat itu dirinya melihat Rendi yang benar-benar sudah sekarat bahkan Jhon mendapat info bahwa Rendi telah meninggal.


"Gio! Gerry! Kemarilah!! " Teriaknya.


Gio dan Gerry pun segera datang menghampiri Jhon. " Ada apa, Pak? " Tanya Gio heran.


"Kau bilang ada apa? " Ucapnya seraya mencengkeram kerah baju Gio.


Gio yang heran, dan tak tahu salahnya dimana hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kau tahu? Rendi telah kembali! Dia telah sembuh dan selamat dari kematian. Bukankah, kemarin kau bilang bahwa Rendi telah tiada!! " Teriaknya.


Sontak saja pernyataan Jhon membuat Gio dam Gerry membulatkan matanya dengan sempurna. "Apa! Mana mungkin ini terjadi? " Ujarnya.


Jhon pun tersenyum miring. " Kau memberikan aku kabar yang tidak benar! " Ucapnya sembari melepaskan cengkramannya.


Kini Gio dan Gerry hanya saling pandang satu sama lain. " Bukankah, kemarin kita lihat sendiri bahwa Rendi sudah di nyatakan meninggal? " Tanyanya pada Gerry.


Gerry mengangguk, sebab Gerry juga ikut bersama Gio kala mereka berdua diam-diam pergi ke rumah sakit hanya untuk memastikan bagaimana keadaan Rendi.


Jhon tidak lagi ingin berdebat, ia benar-benar marah dengan kedua anak buahnya tersebut. "Kalian berdua tidak ada yang becus! " Ujarnya.


Gio dan Gerry hanya menunduk tanpa menjawab ucapan Jhon, kemudian Jhon menyuruh mereka berdua untuk pergi.


Gio dan Gerry pun keluar dari ruangan Jhon. "Bagaimana ini bisa terjadi, Gerry? " Tanya Gio.


Gerry hanya bisa mengedikan bahunya. " Tidak tahu! " Sahutnya.


Sungguh kejadian ini di luar nalar manusia. Bagaimana orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali?


Jhon duduk di kursi kebesarannya, dan meriah ponselnya kemudian Jhon membuka geleri untuk melihat foto seseorang.


"Kau bisa menenangkan hati ini hanya dengan melihat wajahmu, Khumaira. " Gumamnya sembari tersenyum.


Ya, foto yang di pandang oleh Jhon saat ini adalah foto Khumaira. Jhon tak sengaja memotret Khumaira saat mereka bertemu dengan tidak sengaja.


"Apa kau sudah ada yang memiliki atau belum, Khumaira? Jika pun kau sudah berpunya, maka aku akan menghancurkan hubungan kalian! " Ujarnya.


Jhon begitu terobsesi untuk memiliki Khumaira bagaimana pun caranya, tanpa Jhon ketahui bahwa Khumaira adalah milik musuh terbesarnya, Rendi.


Jhon mematikan kembali ponselnya, dan amarahnya kembali memuncak kala mengingat Rendi.


"Kurang ajar, Bangsat! " Ujarnya sembari menggebrak meja.


Kemudian Jhon melempar seluruh barang-barangnya ke lantai hingga berhamburan.


Anak buah yang mendengar hal tersebut sudah tahu apa yang di lakukan oleh Jhon saat sedang marah.


"Celaka. Bisa-bisa kiamat ini! " Ujar salah satu anak buahnya.


Mereka benar-benar ketakutan ketika mendengar Jhon yang sedang marah, sebab saat Jhon marah benar-benar seperti tengah kerasukan setan.


Gio yang mendengar anak buahnya tengah membicarakan Jhon, gegas menghampirinya dan menatap tajam ke arah mereka semua. " Diam. Kalian semua! Atau tidak, mak kalian akan merasakan akibatnya! " Ancamnya.


Sontak saja ucapan Gio membuat mereka langsung terdiam dan menjadi ketakutan.

__ADS_1


Suasana di ruangan Jhon semakin memburuk, nampaknya Jhon benar-benar marah besar.


"Bagaimana ini, Gio? Kau masuklah dan tenangkan singa itu! " Ujar Gerry.


Ya, memang Gerry menyebut Jhoj sebagai singa sebab Jhon sudah seperti singa yang hendak memakan siapapun ketika sedang marah.


"Aku! " Ucapnya sembari menunjuk diri sendiri.


"Jika bukan kau, siapa lagi? Aku? Atau mereka? " Sahutnya sembari menujuk beberapa anak buah.


Akhirnya Gio pun menghela nafasnya. " Baiklah. Aku akan masuk! " Ujarnya pasrah.


Gio melangkah ke arah ruangan Jhon, namun saat hendak membuka pintu Gio terlihat ragu-ragu untuk membukanya. "Buka tidak, ya? " Gumamnya, kemudian Gio pun melirik ke arah belakang.


"Masuk! " Ucap Gerry lirih.


Gio pun memberanikan diri untuk masuk, namun sebelum masuk Gio pun berdoa lebih dulu agar ia bisa selamat dari amukan singa tersebut. "Tuhan. Tolong jaga aku! " Batinnya.


Kemudian Gio pun membuka pintu ruangan Jhon secara perlahan. Gio pun membulatnya matanya kala melihat keadaan ruangan Jhon yang begitu berantakan.


"Pak! " Sapanya.


Jhon pun menoleh. " Untuk apa kau kemari? "Tanya Jhon berang.


Mendengar ucapan Jhon yang masih terlihat marah pun membuat nyali Gio sedikit menciut, namun sepertinya ia harus menyampaikan idenya agar Jhon bisa kembali normal. "Saya punya saran dan ide yang cemerlang untuk menghancurkan Rendi! " Ujarnya.


Jhon yang mendengar hal tersebut pun langsung bangkit, dan mendekati Gio sembari menatapnya dengan tatapan tajam.


Gio yang di tatap demikian oleh Jhon membuatnya harus menelan saliva dengan susah payah. " Celaka. Apakah ini akhir dari hidupku? " Batinnya.


Gio yang terlihat panik, dan keringat dingin mulai mengucur dari keningnya.


Mendengar ucapan Jhon membuat Gio menghela nafasnya lega seolah-olah nafasnya tidak lagis sesak, kemudian Gio pun mendekatkan mulutnya ke telinga Jhon dan membisikan sesuatu.


Jhon nampak tersenyum mendengar ide brilian dari Gio.


"Bagaimana dengan ide ku, Pak Bos? " Ujarnya.


Jhon pun tersenyum. " Amazing! Aku suka. Tapi, tungu, tunggu! " Ucapnya, Jhon seperti tidak asing dengan nama yang di sebutkan oleh Gio tadi.


"Ya, ada apa? " Tanya Gio heran.


" Tadi kau bilang Khumaira. Siapa dia? " Ujarnya.


Ya, Jhon seperti tidak asing dengan nama wanita yang di dengarnya dari mulut Gio. Apakah Khumaira yang Gio maksud adalah Khumaira yang dia cintai?


"Istri Rendi! " Sahut Gio.


"Istri Rendi? Mana fotonya! " Ucapnya.


Jhon ingin memastikan bahwa Khumaira istri Rendi bukanlah Khumaira yang dia cintai.


Gio mengernyitkan keningnya, kala melihat perubahan dari ekspresi Jhon. " Kau kenapa, Pak? Tidak biasanya kau ingin melihat wajah target! " Ujar Gio heran.


Jhon pun menggeleng. " Tidak. " Ucapnya.


Kemudian Jhon pun duduk kembali, ia harap bahwa Khumaira yang Gio maksud bukan Khumaira yang dia cintai?


Jhon menepis fikirannya terhadap Khumaira. " Semoga itu bukan kau, Khumaira! " Batinnya.

__ADS_1


Jhon tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Khumaira yang selalu ada dalam hati, fikiran dan jiwanya adalah Khumaira yang menjadi Istri Rendi.


"Matilah Kau, Rendi!! " Ujarnya.


Semoga ide Gio membuahkan sebuah hasil yang pasti.


Jhon masih tak habis fikir dengan rencana tuhan. Mengapa tuhan masih melindunginya, bahkan membiarkan Rendi selamat dari kematian? Bukankah, Rendi seorang pendosa, penjahat dan psikopat? Tapi kenapa?


"Khumaira. Kau akan menjadi jalan ku pada kehancuran Rendi! " Batinnya.


Kemudian Jhon mendapati sebuah panggilan masuk ke ponselnya, namun Jhon tidak mengenali nomor tersebut sehingga ia mengabaikan.


Beberapa kali orang tersebut mencoba menghubungi Jhon, namun Jhon selalu mengabaikannya hingga akhirnya si penelepon lelah sendiri dan tak lagi menghubunginya lagi.


"Dasar orang tak ada kerjaan! " Ujarnya.


Tiba-tiba Gio mendapatkan sebuah kiriman video dari seseorang yang tidak ia kenal, dan alangkah terkejutnya Gio kala melihat rekaman tersebut.


"Pak, pak. Kau harus lihat ini! " Ujarnya seraya menunjukan remakaman tersebut.


Jhon meraih dan melihatnya dengan seksama, ia pun sama terkejutnya dengan Gio. " Apa-apaan ini? Dari mana kau mendapatkannya, Gio? " Tanya Jhon sembari melirik Gio.


Gio menggelengkan kepalanya. " Tidak tahu. Ada seseorang yang mengirimkannya pada ku! " Sahutnya.


Sungguh, Jhon tak menyangka bahwa Rendi adalah pembunuh atas kematian Renda yang merupakan kembarannya.


"Aku tak menyangka jika kau adalah pelakunya, Rendi. Tapi, caramu sungguh luar biasa sehingga kau bisa membuat semua orang percaya bahwa kematian Renda adalah atas dasar kecelakaan! Hebat!! " Gumamnya.


Jhon telah memikirkan sebuah rencana untuk menghancurkan Rendi hingga akar-akarnya.


"Tunggu saja kehancuran mu, Rendi! " Ucapnya di sertai senyuman licik.


Jhon pun segera memberitahu Gio rencana apa yang akan mereka lakukan, Gio pun nampak senang dengan rencana yang Jhon buat. "Rencana yang luar biasa, Pak! " Pujinya.


Setelah berdiskusi dengan Jhon, akhirnya Gio pun keluar dengan wajah datar. Sementara Gerry dan anak buah yang lain tengah cemas dengan keadaan Gio.


"Kau baik-baik saja, kan Gio? " Tanya Gerry sembari menghampirinya.


"Seperti yang kau lihat! " Sahutnya santai.


"Bagaimana dengan singa itu? Maksudku, Pak Jhon? " Ucapnya.


"Baik. " Sahutnya lagi.


"Apa kau merencanakan sesuatu dengannya? " Tanyany lagi.


"Sepertinya! " Sahutnya.


Gerry terlihat ingin tahu apa yang hendak di rencanakan oleh Gio dan Jhon?


"Rencana apa? " Tanyanya penasaran.


Gio pun mengedikan bahunya. " Tak tahu! " Ujarnya sembari tertawa, kemudian berlalu pergi.


Gerry menatap tajam ke arah Gio, Ingin rasanya Gerry menelan Gio hidup-hidup atau membuangnya ke lautan lepas agar menjadi santapan para Hiu buas.


"Gio. Tunggu!! Kau belum menjawab pertanyaan ku!! " Teriaknya sembari mengejar Gio.


Namun Gio tak menghiraukan panggilan Gerry, ia pun segera melangkah menjauh dari Gerry.

__ADS_1


Ingin rasany Gerry melempar tubuh Gio dari ketinggian 1000 kaki atau paling tidak dari lantai 18.


__ADS_2