TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 11 #JEBAKAN NURI


__ADS_3

Rendi telah memikirkan matang-matang keputasannya, ia akan bertanggung jawab penuh atas Khumaira dan juga bayinya, ini semua ia lakukan semata-mata untuk mendiang Renda.


"Baiklah. Mungkin ini keputusan yang terbaik! " Ujarnya seraya melangkah masuk ke ruangan Khumaira.


Rendi masuk, dan melihat Khumaira yang menatap ke depan dengan tatapan Kosong. Rendi tahu bagaimana rasanya jadi Khumaira, ia hamil tanpa Renda di sisinya dan itu semua karna ulahnya.


"Ehemmm!! " Rendi berdehem, lantas Khumaira menoleh ke arah Rendi.


Khumaira berusaha menghapus jejak air matanya, namun Rendi telah lebih dulu melihatnya. Rendi menghampiri Khumaira dan menghapus air matanya.


" Jangan menangis. Tenanglah ada aku! " Ujar Rendi sembari tersenyum.


Khumaira tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apakah ini Rendi? Atau Khumaira sedang dalam ilusi? Mengapa tiba-tiba Rendi berubah 100° setalah apa yang selama ini terjadi.


"Kau... " Ucap Khumaira tak percaya.


Rendi Tersenyum, dan duduk di tepi ranjang. " Maaf, atas setiap perkataan dan perlakuanku padamu. " Ucapnya dengan nada serius.


Rendi telah berjanji akan merubah sikapnya. Ia akan menjaga, menyayangi Khumaira seperti apa yang Renda minta darinya dulu.


"Bersiaplah. Sebentar lagi kita akan pulang! " Titahnya.


Khumaira mengangguk, dan membereskan barang bawaannya selama di rumah sakit ini.


Rendi memapah Khumaira sampai ke mobil, dan memasukan barang bawaannya ke dalam bagasi.


Di dalam mobil, Khumaira terus memperhatikan Rendi. Apakah ini benar-benar adalah Rendi? Mengapa sikapnya menjadi berubah? Apa yang membuatnya berubah demikian rupa?


Rendi menyadari bahwa saat ini Khumaira tengah memperhatikannya, ia pun melirik Khumaira dan tersenyum. "Ada apa? " Tanyanya.


Seketika itu pula Khumaira jadi salah tingkah, saat Rendi menyadari bahwa dirinya tengah memperhatikan Rendi sejak tadi.


Khumaira menggeleng. " Tidak ada! " Sahutnya, kemudian Khumaira berpura-pura melihat ke arah luar, walau sebenarnya ia benar-benar malu atas kejadian ini. Bagaimana jika Rendi berfikiran bahwa Khumaira diam-diam mencintainya?


Sementara Rendi tengah fokus dengan setirnya, ia melajukan mobilnya dengan pelan dan dengan hati-hati agar kandungan Khumaira tak apa-apa.


"Mengapa jalannya pelan sekali? " Tanya Khumaira yang sudah bosan, padahal jarak rumah sakit ke rumah tidaklah jauh namun karna Rendi yang menjalankannya pelan akhirnya mereka lama di perjalanan.


Rendi meliriknya tajam. " Apa kau ingin membunuh janinmu itu? " Ujarnya.


Khumaira menggeleng. Kini, Khumaira mengerti alasan Rendi berubah pasti karna janin yang ada dalam perutnya, pasti Rendi merasa bertanggung jawab sebab bayi ini adalah bayi Renda.


"Jika kau lelah, dan bosan maka tidurlah! " Titah Rendi.


Khumaira pun memejamkan matanya, ia pun tertidur dengan sangat pulas. Rendi memperhatikan Khumaira yang sedang tidur sembari menyetir.

__ADS_1


"Tidurlah dengan nyenak, Khumaira! " Gumamnya.


Rendi menyibak rambut Khumaira yang menutupi wajahnya, namun tiba-tiba Khumaira terbangun oleh sentuhannya.


Khumaira menatapnya tajam. " Jangan macam-macam denganku! " Peringatnya.


Rendi tersentak kaget, dan kembali ke posisi awalnya. " Jangan overthingking. Berfikirlah positif. Tadi aku hanya ingin menyibak rambutmu yang menghalangi wajahmu! " Ucapnya.


Tanpa terasa mobil yang di kendarai oleh mereka berdua pun telah sampai di pelataran rumah.


Saat Khumaira akan membuka pintu mobil, tiba-tiba Rendi menghentikan aksinya.


"Tunggu, tunggu. Jangan keluar!! " Ucapnya menahan Khumaira, Rendi pun bergegas turun dan membuka pintu mobil untuk Khumaira.


Beberapa kali Khumaira menampar pipinya, apakah ini benar-benar Rendi atau orang lain?


Khumaira pun turun dari mobilnya, dan Rendi dengan setia memapahnya walau kondisi Khumaira sudah benar-benar baik.


"Aku bisa berjalan sendiri! " Ucapnya seraya berusaha melepaskan diri dari Rendi.


Namun Rendi mencegahnya, dan Rendi mengeratkan pelukan di pinggang Khumaira. " Diamlah! " Ujarnya dingin.


Khumaira manut, jika Rendi sudah berbicara dengan dingin itu berarti Khumaira tak mungkin bisa menentangnya lagi.


Rendi mengantarkan Khumaira ke kamarnya, dan menyuruhnya untuk beristirahat.


Khumaira mengangguk, dan merebahkan dirinya di atas kasur. Sementara itu Rendi berpamitan hendak pergi dari rumah ini.


Hari ini Rendi berjanji akan menemui Yoga di rumah Nuri, Walau sebenernya ia begitu malas namun ia terpaksa melakukannya agar Nuri tak curiga padanya.


Hingga detik ini Rendi masih saja tak percaya bahwa Yoga adalah Putranya, sebab Rendi tahu bahwa Nuri akan melakukan segala cara demi mendapatkan tujuannya.


"Tunggu saja sampai hasil yang akurat keluar, Nuri. Dengan begitu aku akan menghempaskanmu bagaikan abu! " Ucapnya.


30 menit kemudian, kini Rendi telah sampai di rumah Nuri, ia pun mengetuk pintu rumahnya.


Terlihat Nuri membuka pintu di sertai senyum namun Rendi tak suka melihat penampilan Nuri yang begitu sexy dengan menggunakan pakaian transparan hingga bentuk tubuhnya begitu jelas terlihat. Sungguh, Rendi begitu jijik sekaligus risih melihat penampilan Nuri.


"Ayo masuk, Rendi! " Ajaknya.


Rendi pun masuk ke dalam rumah Nuri, ia pun bertemu dengan Yoga dan bermain bersamanya.


Nuri duduk di samping Rendi, ia pun menggenggam tangan Rendi. " Ren. Bagaimana kalau kita menikah? " Ujar Nuri.


Sontak saja Rendi mengibaskan tangannya, dan menatap Nuri tajam. " Jangan gila, dan jangan bermimpi untuk hal itu! Aku tak mungkin menikah dengan wanita murahan seperti mu. " Ucapnya penuh penekanan.

__ADS_1


"Tapi, Ren. Ini semua demi Yoga! " Sahutnya.


Rendi bangkit dari posisinya. " Ingat ini baik-baik, Nuri. Sampai kapanpun aku takan pernah menikah denganmu apapun yang terjadi, bahkan jika di dunia ini hanya ada aku dan kau! " Ujarnya, setelah mengatakan hal itu Rendi pun hendak pergi namun langkahnya terhenti oleh teriakan Yoga yang memintanya untuk tetap berada di sana.


Akhirnya Rendi mengalah, dan mengurungkan niatnya untuk pergi. Rendi kembali duduk, dan meminum minuman yang telah di sediakan oleh Nuri sebelumnya.


Namun setelah minum, tiba-tiba kepalanya terasa berat, pandangannya mulai kabur dan Rendi curiga bahwa Nuri telah mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya.


"Sialan kau, Nuri. " Batinnya.


Rendi tak tahan dengan obat tidur yang di berikan oleh Nuri hingga akhirnya Rendi pun tak sadarkan diri.


Nuri tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia akan segera memiliki Rendi seutuhnya.


"Berhasil! " Gumamnya.


Nuri segera menyeret tubuh Rendi ke dalam kamarnya, dan menidurkannya di atas tempat tidur. Nuri pun menanggalkan pakaiannya dan juga Rendi.


Saat Khumaira sedang mencuci piring, tiba-tiba sebuah piring terjatuh dan Khumaira berusaha mengambil serpihan kaca tersebut namun beling tersebut mengenai tangannya hingga darah segar mengalir.


Khumaira merintih kesakitan, ia merasa ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi namun entah apa?


"Mengapa aku merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi? Semoga ini hanya firasatku saja! " Gumamnya.


Khumaira mengobati lukanya, dan tiba-tiba terdengar ketukan di pintu gegas Khumaira melihatnya dan membuka pintu.


"Siapa? " Tanya Khumaira sesaat membuka pintu.


Seorang Wanita paruh baya yang di perkirakan usianya berkisaran 50 tahunan, berdiri di depan pintu sambil menatap Khumaira lekat.


"Saya, Inah. Saya di tugaskan oleh Tuan Rendi untuk bekerja disini! " Sahutnya sembari tersenyum.


Setelah yakin bahwa Mbok Inah bukan orang jahat, kemudian Khumaira mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.


"Ayo, Bi. Masuk! " Ajaknya.


Mbok Inah mengangguk dan mengikuti Khumaira dari belakang. Khumaira segera menunjukan kamar Mbok Inah.


"Bi Inah istirahat saja dulu! " Titah Khumaira.


Mbok Inah pun beristirahat sebelum nanti sore melakukan pekerjaannya, sementara Khumaira kini dirinya melangkah menuju kamarnya. Ia merasa tak enak hati saat ini, tapi entah apa yang akan terjadi?


Kini Nuri telah melakukan apa yang tidak seharusnya ia lakukan kepada Rendi. Ia pun tak lupa merekam aktivitasnya bersama Rendi, Nuri pun mengambil beberapa foto dirinya bersama Rendi yang seolah-olah mereka berpelukan dan terlihat saling mencintai namun semua itu hanya rekayasa.


"Tunggu saja Rendi, kau harus menjadi milik-ku dan kau Khumaira akan aku singkirkan kau dari hidup Rendi! " Gumamnya.

__ADS_1


Nuri pun memeluk tubuh Rendi yang begitu menawan, dan penuh berkharisma tersebut.


__ADS_2