
Setelah pulang dari menemui Nuri, Rendi tak langsung pulang ia ingin menenangkan dirinya di sebuah apartemen miliknya. Jujur, Rendi begitu muak dengan wajah Nuri. Wajah yang dulu membuatnya candu namun kini wajah itu membuatnya sangat muak, dan jijik.
Rendi merebahkan dirinya di sebuah sofa, namun seketika sekelebat bayangan menghampirinya. Bayangan Renda selalu menghantuinya, ia masih ingat jelas bagaimana saat ia mencampurkan obat tidur ke meniman Renda kala itu, tiba-tiba rasa bersalah menghampirinya.
"Renda. Maafkan aku. Seandainya kau tak ikut campur dalam masalah ku mungkin saat ini kau masih hidup! " Ujarnya dengan nada sedih.
Di balik kematian Renda ada peran dari Rendi. Ya, sebelum berangkat Rendi memberikan sebuah minuman yang telah ia campur obat-obatan tertentu hingga akhirnya Renda tak dapat konsentrasi dan motornya oleng kemudian Renda menabrak pembatas jalan.
Hingga detik ini tak ada yang tahu apa yang telah Rendi lakukan pada Renda. Rahasia ini hanya di ketahui oleh Rendi sendiri.
Hari demi hari Rendi di hantui rasa bersalah yang sangat besar, ia tak kuasa menahan tangisnya kala mengingat kebersamaannya bersama Rendi namun detik kemudian ia pun menepis fikirannya, dan bangkit dari rebahannya.
"Sudahlah, Rendi. Semenyesal apapun dirimu, tetap saja kau tidak akan bisa mengembalikan Renda! " Ucapnya pada dirinya sendiri.
Beberapa jam berlalu, akhirnya Rendi memutuskan pulang ia teringat akan Khumaira pasti saat ini Khumaira tengah menunggunya, walau bagaimanapun kini Khumaira adalah tanggung jawabnya.
"Aku harus segera pulang! " Gumamnya.
Hari sudah mulai malam, Rendi meraih jaketnya dan meninggalkan apartemennya.
Rendi masuk ke dalam mobilnya, lantas melajukannya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di rumah.
Sesampainya Rendi di rumah, ia pun membuka pintu secara perlahan. Terlihat lampu masih menyala, dan benar saja Khumaira tengah menunggu Rendi sejak tadi sehingga ia tertidur di atas kursi.
Rendi mendekati Khumaira, ia menatap wajahnya dengan lamat, hingga sebuah senyum terbit dari bibirnya. "Kau pasti lelah! " Ucapnya pelan.
Tak ingin membangunkan Khumaira, dan mengusik tidurnya akhirnya Rendi pun memutuskan untuk menggendong tubuh Khumaira ke kamarnya.
Khumaira menaiki tangga seraya menggendong Khumaira, ia berjalan dengan cukup pelan sebab Rendi takut akan membangunkan Khumaira.
"Andai kau tahu akulah pelaku atas kematian Renda. Pasti kau akan menyesal telah mengenal, dan hidup bersamaku! " Ucapnya pelan.
Rendi menidurkan Khumaira di atas kasur, ia pun tak lupa menyelimutinya.
Setelah itu Rendi segera merebahkan dirinya di atas sofa yang terletak di kamar tersebut.
Rendi melirik Khumaira sekilas. "Maaf atas semua kesalahanku, Khumaira! " Gumamnya lirih.
Rendi berusaha memejamkan matanya, hingga akhirnya ia pun tertidur dengan sangat pulas.
Pagi hari pun tiba, Khumaira bangun dari tidurnya. Ia merasa heran mengapa tiba-tiba dirinya berada di kamar? Bukankah semalam Khumaira tengah menunggu Rendi di ruang tamu?
"Kenapa aku berada disini? Apakah Rendi yang membawaku kemari? " Batinnya.
Khumaira mendengar gemercik air di kamar mandi, sepertinya Rendi sedang mandi.
Khumaira segera beranjak dari ranjang kemudian mulai menyiapkan sarapan untuk Rendi.
Sebelum ke dapur, Khumaira lebih dulu menyiapkan pakaian kerja untuk Rendi gunakan hari ini.
Setelah itu ia terlihat menuruni tangga, dan bergegas ke dapur.
__ADS_1
Selesai membuat sarapan, Khumaira menghidangkannya di atas meja. Tak berapa lama kemudian Rendi terlihat menuruni tangga, dan menghampirinya.
"Mau aku ambilkan sarapan? " Tanyanya.
Rendi mengangguk, dan duduk di kursi. Khumaira mulai menyendokan nasi goreng ke atas piring dan menyodorkannya pada Rendi.
Rendi mulai menikmati sarapan pagi ini, namun tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera nama Nuri disana, Rendi memilih mengabaikan panggilan dari Nuri tersebut.
Namun Nuri terus saja menghubunginya beberapa kali, membuat Rendi semakin geram di buatnya.
"Angkat saja. Siapa tahu penting! " Ucap Khumaira, ia melirik ke arah ponsel Rendi yang terus berdering sejak tadi.
"Tidak penting! " Sahutnya dingin.
Akhirnya tidak terdengar deringan lagi, Rendi merasa lega namun sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Tring...
Rendi meraih benda pipihnya, dan pesan apa yang di kirim oleh Nuri.
Ternyata Nuri mengirim sebuah foto Anak kecil berusia sekitaran 5 tahun. Rendi menghentikan aktivitas makannya, dan memandangi foto bocah tersebut.
Rendi membalas pesan dari Nuri. [Foto siapa ini? ] Tulisnya.
Tak berapa lama kemudian balasan dari Nuri muncul. [Anak kita, Yoga. ] Balasnya.
Sontak saja Rendi membelalakan matanya, bahkan Rendi hampir saja tersedak dengan makanannya.
Khumaira bergegas menyodorkan air putih ke hadapan Rendi. " Minum dulu, Mas! " Ucapnya.
"Kau kenapa, Mas? " Tanya Khumaira heran. Mengapa setelah membaca pesan tingkah Rendi menjadi aneh?
"Tidak ada! " Sahutnya.
Khumaira memilih melanjutkan makannya, sementara Rendi ia tak lagi melanjutkan sarapannya. Ia memilih untuk segera pergi ke kantor.
"Aku pergi! " Pamitnya.
Khumaira mengangguk, dan mencium tangan Rendi dengan takzim.
"Tunggu! " Panggilnya.
Seketika Rendi membalikan tubuhnya. " Ada apa lagi? " Tanyanya.
Khumaira tersenyum. " Hati-hati di jalan! " Sahutnya.
Rendi menghela nafasnya, kemudian melanjutkan langkahnya tanpa menjawab ucapan Khumaira.
"Hal yang tak penting! " Gumamnya.
Rendi menaiki mobilnya, namun di perjalanan fikirannya terganggu oleh foto yang di kirimkan oleh Nuri. " Apakah benar Anak itu adalah Anak ku? " Gumamnya.
__ADS_1
Rendi mulai merasa gamang, apa harus Rendi mendatangi rumah Nuri? Tapi tidak mungkin, Rendi tidak akan melakukannya.
Tak berapa lama kemudian kini Rendi telah sampai di kantornya, Rendi duduk dan menyelesaikan berkas yang sempat tertunda.
Tiba-tiba sebuah telepon kantor berbunyi, Rendi menjawab teleponnya. " Hallo, Gres! Ada apa? " Tanya Rendi.
"Hallo, Pak. Ini ada seorang wanita yang memaksa menemui Anda. Ia datang bersama seorang Anak laki-laki! " Sahut Gres.
"Suruh masuk ke ruangan saya! " Perintahnya.
Gres menutup teleponnya, dan meletakannya kembali. Ia menatap wanita itu dan menyuruh wanita itu untuk menemui Rendi di ruangannya.
"Oke. Terimakasih! " Sahut wanita itu.
Wanita itu segera mengajak Putranya untuk menemui Rendi di ruangannya, ia pun mengetuk pingu ruangan Rendi.
"Masuk! " Terdengar sahutan dari dalam.
Wanita itu masuk bersama Putranya, betapa marahnya Rendi melihat wanita di hadapannya.
"Kau. Mau apa kau kesini? Apa perlu aku pangggilkan Security? " Ucap Rendi marah.
Rendi benar-benar murka dengan kehadiran Nuri, ia benar-benar jijik melihat wanita di hadapannya ini. Sungguh, inggin rasanya Rendi menghilang dari dunia ini agar tak melihat wajah itu lagi.
"Papa! " Sebuah teriakan dari arah belakang Nuri membuat Rendi terperanjat.
Bocah laki-laki itu menghampiri Rendi, lantas memeluknya dengan erat. Rendi menerima pelukan itu. " Nak, dengar baik-baik. Aku bukan Papamu! " Ucap Rendi lembut.
"Mama bilang kau adalah Papaku! " Sahut bocah itu dengan polosnya.
Rendi beralih menatap Nuri dengan sorot tajam, seolah-olah mencari jawaban atas ucapan Bocah laki-laki tersebut.
"Oh, jagoan. Kau tunggu, dan duduk di kursi itu, sebentar! " Perintah Rendi.
Bocah laki-laki itu pun mengangguk, dan patuh akan perintah Rendi. Kemudian Rendi bangkit dan menghampiri Nuri.
"Apa yang kau katakan pada Anak itu, Nuri? " Tanya Rendi sembari menunjuk bocah tersebut.
"Memang kau adalah Ayahnya, Rendi! " Jawabanya.
Rendi memalingkan wajahnya, ia tak suka jika harus berdekatan dengan Nuri seperti ini. " Anak kau bilang? Bangunlah, Nona! Jangan tidur, dan mengkhayal terus. Ini realita bukan dunia ilusi yang bisa kau ciptakan sesuka hatimu! " Ucap Rendi.
Rendi benar-benar geram dengan tingkah Nuri yang terus saja menyudutkannya. Apalagi sampai Nuri datang ke kantornya sembari membawa seorang bocah yang di akuinya Anak Rendi.
"Tapi.. dia memang Anakmu, Rendi. " Ucap Nuri tak mau kalah.
"Baiklah. Jika kau terus memaksaku mengakui Anak itu sebagai Anakku, bagaimana jika kita lakukan test DNA dengan begitu semuanya akan terbukti, kau benar atau hanya menipu ku! " Tantangnya.
Sontak saja ucapan Rendi membuat Nuri terbelalak. Mengapa ia tak kefikiran akan hal itu? Nuri terlihat salah tingkah di buatnya, apa yang akan terjadi selanjutnya?
"Baiklah. Aku setuju! " Sahut Nuri dengan percaya diri.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, Rendi? " Batinnya.
Sepertinya Nuri tengah merencanakan sesuatu untu memanipulasi Rendi, namun entah apa yang sedang ia rencanakan kali ini?