
Pagi menyapa, Rendi yang baru bangun pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
Kini, Rendi telah siap dengan pakaian kerjanya dan berjalan menuruni tangga. Ketika hendak sarapan Rendi, dan Khumaira terlibat cekcok.
"Mas semalam kau kemana? " Tanya Khumaira.
Rendi menatap Khumaira tajam. " Apa urusanmu? Jangan mencampuri Urusanku! " Sahutnya tak suka.
Khumaira seolah tak terima dengan ucapan Rendi yang semena-mena terhadapnya. "Tentu saja aku harus tahu, sebab kau adalah Suamiku dan aku adalah Istrimu! " Ucap Khumaira.
Mendengar ucapan Khumaira tiba-tiba nafsu makan Rendi hilang, ia pun marah dengan ucapan Khumaira sembari menggebrak meja, sontak saja hal tersebut membuat Khumaira kaget.
"Dengarkan aku baik-baik, Khumaira Putri. Kau hanya istri di atas kertas dan tidak lebih dan kau tak berhak mencampuri urusanku, kau mengerti? Dan satu lagi, aku menikahimu karna wasiat dari Renda, camkan itu!! " Ucapnya sembari berlalu pergi.
Khumaira yang mendengar ucapan pedas Rendi seketika membuatnya begitu sakit. Ucapan Rendi bak sebuah sembilu yang menusuk hatinya hingga terdalam.
Khumaira menusuk dalam, tanpa terasa air matanya jatuh menetes seiring hatinya yang ikut hancur. " Kau begitu tega. Lebih baik aku pergi dari rumah ini agar tak lagi ada pengganggu dalam hidumu, Mas! " Ucapnya.
Ya, lebih baik untuk Khumaira pergi dari rumah ini sebab Khumaira merasa semakin hari, rumah ini semakin memuakan dan membuatnya terluka. Sikap, dan ucapan Rendi yang menjadi makanannya tiap hari. Sungguh, Khumaira tak tahan lagi dengan semua ini.
Khumaira bangkit, dan berlalu menuju kamarnya. Khumaira segera memasukan pakaiannya ke dalam sebuah koper, setelah selesai kemudian Khumaira menyeretnya dan bergegas pergi meninggalkan rumah yang penuh luka ini.
"Maaf, Mas. Jika aku memilih untuk pergi! " Gumamnya.
Khumaira pun menelusuri tangga satu persatu dan ia pun menatap sekeliling rumah yang pernah ia tempati ini hingga akhirnya Khumaira benar-benar pergi.
Khumaira berjalan menelusuri trotoar, Khumaira tak tahu kemana kakinya akan melangkah sebab Khumaira berjalan tanpa tujuan yang jelas. Sebenarnya, Khumaira belum tahu betul seluk beluk tentang Kota ini namun tekadnya untuk keluar dari rumah tersebut begitu besar.
"Kemana kaki ini akan melangkah? " Gumamnya bingung.
Khumaira yang berjalan cukup jauh akhirnya memilih untuk beristirahat sebentar di tepi jalan, ia pun duduk dan melihat hilir mudik para pengendara.
"Ternyata Jakarta aslinya seperti ini. Tidak sama saat aku melihatnya di televisi! " Ujarnya.
Khumaira seiring melihat sinetron-sinetron di televisi yang menampilkan perumahan indah, jalan yang mulus dan jalanan tanpa kemacetan namun semua itu tidaklah benar! Bahkan Khumaira lebih nyaman tinggal di desa dengan udara yang masih segar tidak seperti jakarta yang udaranya sudah tercemar polusi.
1 jam berlalu setelah beristirahat Khumaira melanjutkan langkahnya, namun Khumaira bingung harus pergi kemana sebab ia tak memiliki saudara yang berada di sini.
"Kemana kaki ini akan melangkah? " Tuturnya.
Walaupun Khumaira melangkah tanpa arah, namun ia tetap saja melangkah demi menjauh dari Rendi agar ia tidak lagi menjadi beban bagi Rendi.
Jam 7 malam saat Rendi sampai di rumahnya, ia begitu heran dengan keadaan rumahnya yang masih gelap hingga Rendi bergegas masuk, dan menyalakan seluruh lampu.
__ADS_1
"Kemana wanita itu? " Gumamnya.
Rendi melangkahkan kakinya ke ruang makan, namun bekas makan tadi pagi masih utuh dan belum di bereskan sama sekali bahkan sejak tadi Rendi tak melihat kehadiran Khumaira.
"Khumaira!! " Panggilnya, namun tak ada sahutan dari pemilik nama.
"Aneh. Kemana Khumaira? " Gumamnya merasa heran.
Rendi pun bergegas mencari Khumaira di seluruh rumah, namun Khumaira tak nampak batang hidungnya. Kemudian Rendi masuk ke kamarnya, siapa tahu Khumaira berada di sana?
Namun hasilnya nihil, Khumaira juga tak ada di kamarnya. Rendi duduk di tepi ranjang, namun tiba-tiba matanya melihat sepucuk surat yang terletak di atas nakas. Rendi meraihnya, kemudian membacanya.
' Mas. Maaf jika aku memilih untuk pergi darimu, sebab aku sudah tak tahan dengan sikap dinginmu dan juga ucapan pedas yang selalu keluar dari mulutmu. Tolong, jangan cari aku lagi!
Salam, Khumaira. ' Tulisnya.
Rendi yang membaca surat itu pun langsung kaget, dan berdiri kemudian melihat lemari namun pakaian Lemari sudah tak ada di sana.
"Kemana dia pergi malam-malam seperti ini? " Ujarnya.
Rendi tak habis fikir dengan Khumaira mengapa ia memilih pergi?
"Wanita bodoh!! " Ucapnya.
Tanpa berganti pakaian, Rendi langsung saja menaiki mobilnya dan mancari keberadaan Khumaira walau bagaimanapun Khumaira adalah tanggung jawabnya.
Rendi menjalankan mobilnya dengan pelan-pelan sembari melirik sisi kiri, dan kanan berharap dapat menemukan Khumaira.
"Ayolah, Khumaira. Muncul!! " Gumamnya.
Sudah lebih dari 1 jam Rendi mencari keberadaan Rendi, namun hasilnya nihil Rendi sama sekali tak menemukan keberadaan Khumaira.
"Kemana sebenarnya dirimu, Khumaira? " Ucap Rendi yang mulai resah, bahkan hari sudah semakin larut namun Khumaira tak kunjung ketemu.
Khumaira yang lelah berjalan kaki pun kembali beristirahat, ia bingung harus pergi kemana? Bahkan hari sudah mulai larut. Jalanan pun mulai semakin sepi hanya beberapa pengendara yang lewat.
"Kemana aku harus tidur malam ini? " Ucapnya.
Saat Khumaira tengah kalut, tiba-tiba beberapa Preman menghampiri Khumaira lantas merayunya namun Khumaira berusaha menghindar.
"Jangan menghindar donk, Cantik! " Ujarnya sembari tersenyum penuh arti.
Khumaira berusaha menghindar, namun Preman tersebut mulai berani meraba-rabanya hingga Khumaira memilih kabur dan berlari tetapi para Preman tersebut mengejar Khumaira hingga di gang sempit dan sepi.
__ADS_1
"Tolong! Tolong! Tolong! " Teriaknya, namun sayang tak ada yang mendengar teriakan Khumaira.
"Teriaklah, sebab tak ada yang akan mendengarnya! " Ujar para Preman tersebut sembari tertawa satu sama lain.
Saat Rendi telah lelah mencari keberadaan Khumaira hingga akhirnya ia pun memilih menepikan mobilnya sejenak sekedar istirahat. Namun tiba-tiba Rendi mendengar suara teriakan seorang wanita yang tidak asing di telinganya.
"Khumaira. " Gumamnya.
Rendi pun turun dari mobilnya, dan mencari sumber suara hingga membawanya pada sebuah gang yang di sana sudah ada beberapa Preman, dan Rendi pun melihat Khumaira yang tengah ketakutan di sana. Sepertinya para Preman tersebut ingin melecehkan Khumaira.
"Tidak akan aku biarkan. " Gumamnya.
Rendi pun melangkah mendekati Preman tersebut dan menghajar mereka.
"Rendi. " Gumam Khumaira.
Rendi menyuruh Khumaira agar menjauh, dan Khumaira mengikuti perintah Rendi.
Namun kedatangan Rendi membuat para Preman tersebut begitu terusik, dan marah.
"Woy. Jangan jadi pahlawan kesiangan Loe!! " Teriaknya marah.
Rendi hanya tersenyum miring. "Wajar. Dia bini Gue! " Sahutnya.
Preman tersebut meludah ke arah Rendi. " Bacot. " Ujarnya seraya menyerang Rendi, 1 lawan 3.
Kini, Rendi dan para Preman tersebut terlibat perkelahian namun walaupun begitu Rendi tidak mudah di kalahkan.
Rendi menghajar para Preman tersebut dengan tangan kosong, hingga akhirnya Preman tersebut jatuh tersungkur dan mengakui kekalahannya.
"Ampun. Jangan bunuh kami!! " Ucapnya mengiba.
Namun Rendi tak mungkin memaafkan para Preman tersebut, namun saat Rendi hendak menghajar mereka kembali tiba-tiba Khumaira menghentikannya. "Jangan, Mas. Jangan jadi pembunuh! " Teriaknya sembari menghalangi Rendi.
Rendi pun mendengus kesal, dan menghela nafasnya kemudian membiarkan mereka pergi.
Rendi mencekal tangan Khumaira dan membawanya ke dalam mobil. " Masuk! " Titahnya.
Khumaira enggan masuk, namun Rendi terus mendesaknya bahkan sampai harus menaikan suaranya. " Masuk aku bilang! Apa kau tuli? " Bentaknya yang membuat Khumaira seketika begitu kaget.
Khumaira pun masuk ke dalam mobil, kemudian Rendi melajukannya.
"Kenapa kau begitu ceroboh, Khumaira? Kau tahu kota ini begitu keras, dan kejam! " Ujarnya.
__ADS_1
Khumaira tak bergeming, ia memilih tidak mendengarkan ucapan Rendi.
Hari ini Rendi benar-benar di buat kesal oleh Khumaira oleh kepergiannya, beruntung Rendi datang tepat waktu jika tidak, maka Khumaira akan menjadi santapan para preman tersebut.