
Saat Brain sedang di lobi, tiba-tiba seorang kurir datang menghampirinya.
"Pak, maaf ini ada paket! " Ujarnya.
"Paket apa? Untuk siapa? " Tanyanya.
Kurir tersebut hanya menggeleng. " Saya tidak tahu apa isi dari paket ini, namun ini di tujukan untuk Pak Rendi! " Jawabnya.
Brain pun mengernyitkan dahinya. " Rendi? " Gumamnya.
Tanpa berfikir panjang akhirnya Brain mengambil alih paket tersebut dan membawanya pada Rendi.
Brain mengetuk pintu ruangan Rendi, namun ia terlihat ragu sekaligus penasaran dengan apa yang Rendi pesan.
"Masuk!! " Sahutnya dari dalam.
Setelah mendapatkan izin Brain pun masuk. Sementara Rendi yang masih sibuk dengan laptopnya hanya meliriknya sekilas.
"Ada apa? " Tanyanya.
"Ada paket untuk anda! " Sahutnya seraya menyodorkan paket tersebut.
Rendi menghentikan aktivitas dan menatap Brain dengan heran. " Paket? Paket apa? Perasaan aku tidak pesan apapun! " Ujarnya.
Brain mengernyitkan keningnya. " Lalu, paket ini? " Sahutnya.
Rendi dan Brain pun saling pandang. "Bukalah! " Titah Rendi.
Brain mengangguk, namun Brain terlihat ragu untuk membukanya.
"Kenapa? " Tanya Rendi kala menyadari ekspresi Brain.
"Bagaimana jika isinya bom? " Ujarnya.
Ya, Brain takut jika isi dalam paket tersebut merupakan bom yang akan menghancurkan seluruh kantor ini.
"Jika kau ragu, berikan padaku. Biar aku yang buka! " Ucapnya.
Brain pun memberikan paket tersebut pada Rendi, dan secara perlahan Rendi pun membuka paket tersebut.
Alangkah terkejutnya Rendi kala mendapati isi dari paket tersebut, sontak saja Rendi pun melemparkannya.
"Ada apa, Pak? " Tanyanya.
Melihat perubahan dari ekspresi Rendi yang awalnya biasa saja kini berubah drastis menjadi sebuah kemarahan.
Rendi tak menjawab ucapan Brain, ia pun terlihat marah dan mengepalkan tangannya kemudian langsung menggebrak meja dan bangkit. " Kurang ajar!! " Ujarnya.
Brain tersentak kaget sembari mengusap dadanya. "Astaga. Hampir saja jantung ku copot! " Batinnya.
Brain pun segera melihat isi dalam paket tersebut, ia pun membulatkan matanya dan melirik ke arah Rendi. "Pantas saja. " Gumamnya.
Ternyata isi dalam paket tersebut adalah sebuah boneka dengan tusukan, seperti sebuah santet.
Brain pun menemukan sebuah tulisan dari dalam boneka tersebut. "Apa ini? " Ucapnya.
__ADS_1
Rendi meliriknya, kemudian Brain memberikannya pada Rendi.
'Kau harus mati, Rendi. Kematian adalah tujuan mu!! ' Tulisnya.
"Apa-apaan ini. Berani-beraninya bermain-main denganku! " Ujarnya.
Rendi meremas kertas tersebut dan membuangnya, nampak kemarahan terpancar jelas di wajah Rendi.
Rendi tidak akan membiarkan siapun lolos, peneror ini harus segera di temukan sebelum meresahkan.
"Brain. Kau tahu orang ini siapa? " Tanyanya.
Brain menggeleng. " Tidak, Pak. Memangnya Anda tahu? " Jawabnya.
Rendi nampak berfikir sejenak. " Pasti pelakunya Jhon. Kalau bukan dia siapa lagi? " Ujarnya.
Brain mengangguk, memang benar apa yang di katakan oleh Rendi. Jhon memang sangat membenci Rendi, maka Rendi pun langsung berfikir ke sana.
"Bisa jadi. " Sahutnya.
"Awas kau Jhon. Akan ku buat perhitungan denganmu! " Ucapnya.
Rendi benar-benar tak habis fikir dengan Jhon, Mengapa ia sampai sejauh melakukan semuanya?
Brain mencoba menenangkan Rendi, dan ia pun segera membuang barang-barang tersebut ke tempat sampah.
Tanpa mereka sadari bahwa seseorang tengah mengintai keduanya dengan membawa senapan.
Ia pun membidik ke arah Rendi, dan saat ia ingin melepaskan tembakannya tiba-tiba Brain melihatnya.
"Awas, Pak!! " Teriaknya.
Sebuah tembakan meleset dan hanya mengenai sebuah kaca.
Rendi bangkit, dan mencari dalang di balik ini semua tiba-tiba dirinya melihat seseorang nan jauh di sana.
"Brain. Lihatlah, itu orangnya! " Ujarnya.
Brain menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Rendi. "Benar, Pak. Ayo kita kejar! " Sahutnya.
Rendi pun mengangguk, kemudian segera mengejar Pria misterius tersebut.
"Jangan lari! " Teriaknya.
Selain jarak yang cukup jauh antara Rendi dan Pria misterius tersebut, ia juga kalah cepat dengan Pria tersebut.
"Ah, gagal! " Ujar Brain.
"Sial! " Umpatnya.
Rendi benar-benar dalam bahaya saat ini, seseorang dengan terang-terangan tengah mengibarkan bendera perang padanya, bahkan sampai-sampai ingin menghabisinya.
Rendi tidak bisa menoleransi hal ini, Rendi akan mendatangi dalangnya.
"Brain. Ayo ikut aku! " Ujarnya.
__ADS_1
Brain mengangguk, tanpa banyak bertanya ia pun mengambil alih kemudi.
"Mau kemana kita, Pak? " Tanyanya.
"Ke markas. Ajak seluruh anak buah dan ambil senjata yang kita butuhkan! " Sahutnya.
"Siap! "
Brain segera melajukan mobilnya menuju markas besar milik mereka, 1 jam lamanya, akhirnya mereka berdua telah sampai di sana.
Rendi mengumpulkan seluruh anak buahnya yang berjumlah lebih dari 20 orang.
"Dengarkan baik-baik, kalian ikut dengan ku dan bawa senjata kalian masing-masing! " Perintahnya.
Mendengar ucapan Rendi, sontak saja mereka semua saling pandang antara satu dengan yang lainnya.
"Ada apa ini? " Bisiknya.
Temannya hanya bisa mengedikan bahunya.
Tanpa kata lagi mereka pun mengikuti langkah Rendi, dan masuk ke dalam mobil setiap mobil di isi oleh beberapa anak buahnya.
Kemarahan Rendi terhadap Jhon sudah benar-benar memuncak, hari demi hari Jhon semakin menjadi. Jika terus di biarkan maka Khumaira bisa juga menjadi korban.
"Akan aku porak porandakan markasmu, Jhon! " Ucapnya.
Kemarahan nampak jelas di wajahnya, giginya yang menggemertak dan tangan yang terus terkepal di tambah sorot mata yang nyalang.
Khumaira beberapa kali menelpon Rendi, namun tak ada jawaban darinya.
"Kemana Mas Rendi, ya? " Gumamnya.
Khumaira telah selesai membuat kue untuk Rendi, rencananya Khumaira akan mengantarkannya ke kantor Rendi langsung.
Khumaira pun mengirim sebuah pesan pada Rendi.
[Mas. Aku sudah membuatkan mu kue! Apa aku boleh datang ke kantor mu? ] Tulisnya.
Rendi membaca pesan dari Khumaira, segera ia pun membalasnya.
[Maaf, Khumaira. Aku sedang tidak ada di kantor. Simpan saja kuenya di ruang, jika aku pulang pasti akan aku makan. ] Balasnya, kemudian Rendi mematikan ponselnya agar Khumaira tak lagi menghubunginya.
Khumaira pun berhenti menghubungi Rendi, ia pun duduk sembari menghela nafasnya.
"Kemana Mas Rendi? " Gumamnya.
Khumaira masih saja heran dengan sikap Rendi yang terkadang berubah-ubah, kadang baik kadang juga misterius.
"Pak, apa kau sudah yakin dengan keputusan mu? " Tanyanya sembari menoleh.
Rendi melirik Brain sekilas. "ya, tentu saja aku yakin. Seseorang yang berani bermain-main dengan Rendi Wiguna, maka harus siap menghadapi resikonya! " Ujarnya.
Jika Rendi sudah begitu maka Brain tak punya alasan untuk menghentikan aksi Rendi. Lebih baik baginya untuk mengikuti Rendi dari pada dirinya yang kena batunya.
Brain tahu bahwa saat ini Rendi sedang di liputi rasa marah yang luar biasa, jika Brain sampai salah berkata maka dirinya bisa terkena omelan Rendi panjang kali lebar.
__ADS_1
"baiklah, Pak. jika memang itu keinginanmu! "
Brain fokus menyetir, dan fokus pada jalanan di depannya.