TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 17 #SILUET JHON


__ADS_3

Oxy menjaga Nuri dengan Rudi, namun Rudi sedang ada keperluan sebentar untuk pulang sebab Anaknya tengah sakit.


"Xy. Gua balik dulu, bentar! " Pamitnya.


Oxy yang mengetahui bahwa Anak Rudi sakit segera menganguk dan membiarkannya pergi, toh cuma sebentar.


"Oke. " Sahutnya.


Rudi pun bergegas pergi meninggalkan markas, dan kini Oxy masih setia menunggui Nuri sendirian disana.


Merasa mendapat sebuah ide cemerlang, Nuri pun mulai menggunakan kesempatan ini untuk kabur.


"Hey, Kau! " Panggil Nuri.


Oxy hanya menoleh sekilas, kemudian kembali fokus.


"Hey, Kau yang ada disana. kemarilah!! " Teriaknya lagi.


Oxy kembali menoleh. "Ada apa? " Sahutnya dari kejauhan.


Nuri tersenyum manis ke arah Oxy, berharap Oxy akan luluh padanya. "Kemarilah, sebentar!! " Ujarnya.


Kemudian Oxy menghampiri Nuri, dan Nuri dapat melihat wajah tampan Oxy dari dekat, bukan hanya tampan Oxy juga bertubuh tinggi dan berbadan kekar sama halnya dengan Rendi.


"Ya, ada apa? " Ucapnya tegas.


"Kemarilah!! " Sahut Nuri, sembari membuka pahanya. Terlihat jelas bagaimana mulusnya paha Nuri, namun Oxy sama sekali tak tergoda dengannya ia lebih takut dengan Rendi hingga Oxy pun memalingkan wajahnya.


"Sial. Dia tidak tergoda! " Batin Nuri.


Rencana yang Nuri Buat gagal akhirnya Nuri memikirkan rencana yang lain agar bisa kabur dari kawanan Rendi.


"Jika kau menyuruhku hanya untuk melihat pahamu, maka lupakan saja. Bahkan Kekasihku lebih cantik dari mu!! " Ujar Oxy sembari berlalu pergi.


Nuri begitu marah dengan ucapan Oxy, ia pun tak hentinya mengumpat Oxy dalam hatinya.


"Dasar manusia sialan. Matilah Kau nanti!! " Umpatnya.


Setelah 1 jam berlalu, akhirnya Rendi, Alex dan Oxy telah kembali dari pelabuhan. Mereka segera masuk ke dalam ruangan milik Rendi yang berada di lantai atas.


"Kerja bagus Brian, Alex. Kalian berdua sungguh luar biasa!! " Puji Rendi, kala mengingat kejadian luar biasa tadi.


Jika bukan karena kesetiaannya pada Rendi, maka Alex dan Brian tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu lagi. Bahkan hampir saja mereka tertangkap oleh aparat berwajib, dan keadaan Alex yang begitu spot jantung akibat hal tadi namun mereka berdua memilih tetap diam, dan tak menceritakan kejadian tadi.


Rendi pun memberikan koper berisi uang tersebut pada Brian agar menyimpannya di tempat rahasia, ya, tanpa Rendi telah mengumpulkan uang hasil penjualan ilegal yang ia lakukan selama ini agar tidak terendus oleh pihak berwajib asal mula kekayaan Rendi selama ini.


Brian segera menyimpannya di tempat rahasia yang hanya di ketahui oleh Rendi, dan juga dirinya. Tak ada yang tahu selain mereka berdua termasuk Alex, dan Anak buah lainnya.


"Alex. Berikan surat ini pada Jhon Secara langsung! " Perintahnya.

__ADS_1


Alex mengangguk, dan meraih surat dari tangan Rendi lantas segera pergi menuju markas Jhon.


Untuk hal seperti ini, Rendi mempercayakannya pada Alex sebab Alex adalah orang yang pintar dan licin seperti belut sehingga sulit untuk menangkapnya, dan ini menjadi poin penting Alex untuk dekat dengan Rendi.


Alex menyamar menjadi seperti mata-mata, ia menggunakan baju serba hitam dan menggunakan masker beserta kacamata yang senada.


"Alex. Kau pasti bisa!! " Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Akhirnya Alex telah sampai di markas Jhon, ia pun mulai mengendap-endap layaknya seorang pencuri namun seorang anak buah Jhon berhasil menemukannya dan terlibat perkelahian yang cukup sengit antara Alex dan Anak buah Jhon.


"Bangsat. Kau penyusup! " Teriaknya marah.


Alex hanya menyeringai, dan menghadapi dengan tangan kosong. Alex yang sudah di latih oleh Rendi sedemikian rupa hingga menjadi tangkas akhirnya berhasil melumpuhkan anak buah Jhon.


"Sebenernya aku kemari bukan untuk mencari Ribut, tapi kau memulainya. Ya, sudahlah itung-itung olahraga! " Ucapnya seraya melempar surat di tangannya ke wajah Anak buah Jhon, kemudian Alex segera pergi.


Anak buah Jhon mengambil surat tersebut, dan bergegas menuju ruangan Jhon untuk memberikannya langsung.


Terlihat ia sedang mengetuk pintu ruangan Jhon.


"Masuk! " Sahutnya.


Ia pun masuk, dan terlihatlah Jhon yang tengah duduk sembari menghitung pundi-pundi kekayaannya. Jhon pun menatap anak buahnya. " Ada apa? " Tanyanya.


Anak buah tersebut pun menyodorkan sebuah surat yang tadi ia dapatkan dari Alex.


"Surat, dari Rendi! " Sahutnya.


Tanpa menunggu lama Jhon segera membukanya dan melihat isinya.


Alangkah marahnya Jhon kala melihat isi dari surat yang di tulis oleh Rendi, seketika darahnya mendidih dan Jhon terlihat naik pitam.


"Brengsek!! " Ucapnya marah.


Isi surat dari Rendi sungguh membuat harga diri Jhon terasa di injak-injak.


' Jhon. Kau tahu apa yang membuatmu bodoh? Ya, kau telah mengirim seseorang untuk membunuh Ku, namun caramu itu gagal total dan kau tahu kini pembunuh bayaran mu sudah dalam tawananku! Berhentilah mengusik-ku sebelum kau bernasib sama dengan Steven!! ' Tulis Rendi.


Jhon mengepal-mengepal surat tersebut, dan membuangnya ke tong sampah yang berada di dekatnya.


"Awas, Kau Rendi!! " Ujarnya marah.


Jhon adalah musuh bubuyutan Rendi sejak lama, sejak Steven mati terbunuh di tangan Rendi hingga Kini Jhon membenci, dan memusuhi Rendi. Jhon berjanji akan membalasnya dengan tangannya sendiri.


Jhon selalu membuat kerusuhan dalam hidup Rendi hingga kini, semua itu tidak akan membuatnya puas hingga Rendi benar-benar menderita dan mati di tangannya.


"Brengsek!!! " Umpatnya.


Jhon benar-benar marah, ia pun Sampai menggebrak meja hingga anak buahnya merasa kaget sekaligus takut dengan amarah Jhon.

__ADS_1


Gio yang melihat Bosnya amat marah segera menghampirinya.


"Ada apa, Bos? " Tanya Gio yang merupakan tangan kanan Jhon.


Jhon menatap Gio, tergambar jelas kemarahan terpancar dari wajahnya. " Kau tahu apa yang di katakan oleh Rendi padaku? " Tanya Jhon.


Gio, tentunya menggeleng sebab ia tak tahu apa yang di tulis oleh Rendi.


"Memangnya apa yang Rendi tulis? " Tanya Gio.


Jhon menunjukan lipatan kertas yang berada di tong sampah, gegas saja Gio mengambilnya dan membacanya.


Gio membelalakan matanya kala melihat isi surat tersebut. Pantas saja Jhon begitu marah, sebab Rendi dengan terangan-terangan telah menginjak harga dirinya dan menyangkut pautkannya dengan Steven yang merupakan orang yang paling di sayang oleh Jhon.


"Pantas saja dia marah! " Batin Gio.


Gio pun beralih menatap Jhon yang masih di kuasai amarah. " Lalu, apa yang harus kita lakukan, Bos? " Cicitnya.


"Bunuh saja Rendi, Bos! " Timpal anak buah yang lain.


"Setuju!! " Sahut yang lainnya.


Jhon menatap seluruh anak buahnya, ia ingin membunuh Rendi namun tak mudah sebab ia telah menyuruh seseorang untuk membunuh Rendi tapi gagal.


"Apa kalian fikir membunuh Rendi itu mudah? Hah! " Ujarnya.


Ya, sudah beberapa kali Jhon mencoba membunuh Rendi namun Rendi seperti memiliki banyak nyawa sehingga sulit untuk membunuhnya.


Beberapa pembunuh bayaran yang Jhon sewa untuk membunuh Rendi selalu berakhir dengan keadaan tak bernyawa.


Sontak saja seluruh Anak buah Jhon menunduk kala mendengar ucapannya, pasalnya apa yang di katakan oleh Jhon memang benar. Tidak mudah membunuh Rendi.


"Langkah apa yang harus kita lakukan, Bos? " Tanya Gio.


Jhon nampak berfikir sejenak, sepertinya Jhon tengah memikirkan sesuatu. " Aku punya ide!! " Sahutnya dengan wajah yang berseri-seri.


Gio mengernyitkan keningnya, apa yang ada dalam kepala Bosnya? Rencana apa yang akan dia lakukan pada Rendi?


"Apa? " Ucap Gio.


Dengan gerakan tangan Jhon menyuruh Gio agar mendekatkan kepalanya, Jhon akan membisikan rencanaya.


Terlihat anak buah Jhon saling pandang satu sama lain saat Jhon membisikan sesuatu pada Gio. Mereka penasaran dengan rencana yang akan mereka lakukan?


Gio nampak tersenyum kala mendengar ide brian yang keluar dari Jhon.


"Ide bagus, Bos! " Sahutnya.


Kini, Jhon dan Gio. Mereka berdua nampak tertawa dengan rencana yang akan mereka lakukan. Sementara Anak buah yang lain hanya bisa memandang keduanya tanpa tahu rencana apa yang akan Gio lakukan?

__ADS_1


__ADS_2