
Setelah malam tiba, akhirnya Rendi kembali bangun dan ia kaget melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun.
"Apa-apaan ini? " Ujarnya marah.
Rendi pun melirik jam dinding dan segera sudah pukul 10 malam, pasti saat ini Khumaira tengah menunggunya seperti hari-hari lalu.
Rendi memunguti pakaiannya, dan memakainya asal kemudian Rendi pun keluar dari kamar. Nampak Nuri yang tengah menonton televisi, Rendi melewatinya.
"Kau sudah bangun, sayang? " Tanyanya.
Rendi begitu jijik dengan Khumaira, namun Rendi tak punya banyak waktu untuk meladeni Nuri hingga akhirnya ia pun pergi meninggalkan rumah Nuri.
"Mau kemana, Sayang? Kenapa terburu-buru? " Ujarnya seraya memegang lengan kekar Rendi.
Rendi melirik tajam Nuri. " Lepaskan tanganmu dari ku! " Ucapnya marah.
Nuri pun melepaskan tangannya dari lengan Rendi, kemudian Rendi bergegas pergi dari rumah Nuri tanpa menghiraukan teriakan Nuri.
Rendi segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Nuri tersenyum penuh arti saat memandang kepergian Rendi. " Tunggu saja kejutan dari ku, Rendi! " Ucapnya lirih.
Nuri pun kembali melanjutkan menonton televisi kesukaannya dan melupakan Rendi sejenak.
Beberapa saat kemudian Rendi pun telah sampai di depan rumahnya, ia pun segera turun dan masuk ke dalam rumahnya, namun aneh saat ini Khumaira tak menunggunya seperti hari lalu.
"Mungkin Khumaira sudah tidur! " Gumamnya.
Rendi melangkah menuju kamarnya, ia pun membuka pintu kamar secara perlahan. Ia melihat Khumaira yang tengah menangis di pojok ruangan gegas Rendi menghampirinya.
"Khumaira. Ada apa denganmu? " Tanyanya sembari merangkulnya.
Namun Khumaira melepaskan rangkulan Rendi, ia menatap tajam ke arah Rendi. " Habis dari mana kau, Mas? " Tanyanya.
"Aku habis... "
"Dari rumah Nuri, dan melakukan hal tak senonoh dengannya! " Potong Khumaira.
Rendi tersentak kaget mendengar ucapan Khumaira. Dari mana Khumaira tahu akan soal ini? Bahkan ia tahu bahwa dirinya telah berbuat dosa dengan Nuri?
"Apa maksudmu, Khumaira? Aku tak mengerti dengan apa yang... "
Belum sempat Rendi berucap, Khumaira telah lebih dulu menunjukan sebuah foto saat Rendi tengah tidur bersama dengan Nuri. Sontak saja mata Rendi terbelalak melihat foto dirinya.
"Apa ini? Kau masih ingin mengelak? " Ujar Khumaira marah.
__ADS_1
"Tidak, Khumaira. Ini semua tidak seperti yang kau lihat. Ini semua hanya bohong! " Bantahnya.
Khumaira begitu muak dengan Rendi, sudah tertangkap basah tapi masih saja mengelaknya.
Khumaira mendapatkan Foto tersebut dari Seseorang yang sengaja mengirimkannya pada Khumaira, namun Khumaira tak siapa orang yang telah mengirim gambar tersebut.
Hatinya begitu panas melihat foto-foto Rendi bersama Nuri, hingga ia tak bisa menahan air matanya.
Rendi berusaha menenangkan Khumaira, namun sepertinya Khumaira tengah marah besar, ia pun mendorong tubuh Rendi agar keluar dari kamar ini.
"Khumaira, dengarkan aku. Ini semua tidak benar! " Ucap Rendi.
Namun kemarahan Khumaira begitu besar, hingga akhirnya tubuh Rendi terdorong keluar dan Khumaira segera mengunci pintu kamarnya. Khumaira pun luruh ke lantai bersama air mata yang ikut jatuh dari sudut matanya.
Rendi menggedor-gedor pintu kamar, namun Khumaira tak kunjung membukanya ia pun menghela nafasnya dan memutuskan pergi ke kamar tamu.
"Mungkin aku harus membiarkannya sendiru, dan kau Nuri tunggu saja saatnya tiba! " Gumam Rendi mengepalkan tangannya dan melangkah menuju kamar tamu.
Sementara Khumaira, ia masih saja menangis. Entah mengapa air matanya tak mau berhenti, malah semakin deras. Kenyataan ini sungguh membuatnya begitu sakit.
"Kau sungguh tega, ternyata kebaikanmu adalah sebuah topeng! " Ucapnya lirih.
Marah, benci dan kecewa bercampur menjadi satu dan itu yang saat ini Khumaira rasakan. Walau Rendi memintanya untuk tidak mencampuri urusannya namun tetap saja jika menyangkut hati, Khumaira tak bisa diam begitu saja.
Rendi masuk ke dalam kamar tamu, ia pun terlihat begitu marah dengan Nuri.
Rendi segera meraih ponselnya, lantas menghubungi seseorang.
"Hallo, Brian. Aku punya tegas penting untukmu! " Ujarnya.
"Tugas apa? " Sahutnya di seberang sana.
Rendi pun memberitahu hal apa yang harus Brian lakukan untuknya.
"Oke. Akan saya lakukan! " Sahut Brian.
Rendi pun mematikan panggilannya, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, namun matanya tak bisa terpejam sama sekali barang sekejap.
Tepat pukul 02: 00 dini hari, barulah Rendi bisa memejamkan matanya dan tertidur.
Cahaya mentari mulai menyinari celah jendela, dan membuat mata Rendi silau akhirnya Rendi terbangun dan bergegas mandi.
Namun Rendi lupa bahwa pakaiannya berada di kamar utama, hingga Rendi memutuskan untuk mengambil bajunya ke kamar utama.
Rendi tak sengaja berpapasan dengan Khumaira, namun Khumaira memalingkan wajahnya dari Rendi.
__ADS_1
"Tunggu, Khumaira! Apa kau masih marah? " Tanyanya seraya mencekal pergelangan tangan Khumaira.
Khumaira tak menjawab ucapan Rendi, Khumaira melangkah menuruni tangga dan menuju ruang makan.
Khumaira duduk, dan mulai menikmati sarapam yang di buat oleh Mbok Inah. Namun saat Rendi datang dan mulai duduk tiba-tiba Khumaira menghentikan aktivitas makannya dan pergi dari hadapannya Rendi.
Rendi pun menghela nafasnya, niat hati ingin sarapan bersama, namun respon Khumaira seperti itu hingga Rendi memutuskan tidak jadi sarapan, dan Rendi pun meninggalkan ruang makan tanpa makan lebih dulu.
Rendi langsung masuk ke dalam mobilnya, dan melajukannya menuju kantor.
Kemudian Mbok Inah membersikan meja makan, dan Khumaira kembali.
"Apa Rendi makan, Bi? " Tanya Khumaira.
Mbok Inah menggeleng. " Sepertinya tidak. " Sahutnya.
Sebelum pergi ke kantor Rendi melajukan mobilnya ke suatu tempat yang telah di tentukan olehnya, dan Brain.
Rendi nampak keluar dari dalam mobil, dan menampilkan sebuah senyum seringai. "Bagaimana Brain. Apakah wanita sudah berhasil kau dapatkan? " Ujarnya.
Brain mengangguk, dan menunjukan keberadaan wanita itu. " Mari aku antar! " Ajaknya.
Brain, mulai membuka pintu dimana wanita itu di sekap. Rendi Tersenyum penuh arti ke arah wanita itu, dan wanita itu menatap Rendi tak percaya.
"Kau suka dengan kejutanku? " Tanya Rendi seraya melangkah menghampirinya.
"Lepaskan aku, Rendi. Lepaskan! " Ucapnya seraya memberontak.
"Tidak semudaj itu, sayang. Kau harus bermain-main dulu dengan anak buahku! " Sahutnya seraya memutari tubuh wanita itu di sertai senyum penuh arti.
Sontak saja ucapan Rendi membuat wanita itu membulatkan matanya. " Apa maksudmu, Rendi? " Tanyanya.
Rendi tak menjawab ucapan wanita itu, ia pun pergi meninggalkan wanita itu dan memberikan sebuah isyarat pada Anak buahnya.
"Jika kalian mau, nikmatilah tubuh wanita ini! Dan, kau Nuri selamat bersenang-senang! " Ucapnya sembari tersenyum dan pergi tanpa menghiraukan teriakan Nuri.
"Rendi. Jangan pergi! Lepaskan aku! " Teriaknya.
Rendi melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya, dan menggunakan kecamatanya.
Jangan tanya bagaimana nasib Nuri? Sebab ia sudah menjadi santapan liar para anak buah Rendi, dan saat ini Nuri tengah di gilir bersama.
Berbagai umpatan, dan makian keluar dari mulut Nuri yang saat ini tengah merasakan sakit di area vitalnya, sebab kekerasan yang ia alami.
"Awas Kau, Rendi!! " Gumamnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya Nuri terkulai lemah tak berdaya, seketika pandangannya memudar dan Nuri pun jatuh pingsan.
terdengar tawa dari para Anak buah Rendi. mereka begitu puas dengan tubuh sexy Nuri.