TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 30 #KEADAAN YANG SEMAKIN MEMBURUK


__ADS_3

Jhon yang mengetahui bahwa kondisi Rendi mulai memburuk, tentu saja dirinya sangat bahagia.


"Semoga kau segera membusuk. " Ucapnya.


Jhon benar-benar senang bukan kepalang, ia ingin segera mendengar kabar tentang kematian Rendi secepatnya.


Saat Jhon sedang bahagia dengan kabar ini, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Siapa? " Tanyanya.


"Saya! " Sahutnya seseorang, nampaknya itu suara Nuri.


"Buka saja! " Ujar Jhon.


Nuri pun membuka pintu kamar Jhon, dan masuk ke dalam sembari meletakkan secangkir kopi di atas meja. "Silakan! " Ucapnya.


"Okay, thanks. " Ujarnya.


Nuri pun menangguk, dan hendak beranjak namun Jhon segera memanggilnya. " Tunggu! " Panggilnya.


Nuri pun menghentikan langkahnya, kemudian menoleh. " Ada apa? " Tanyanya.


Jhon pun menceritakan kejadian tentang Rendi bahkan hingga keadaan terkini tentang Rendi.


Sontak saja Nuri pun membulatnya matanya tak percaya. Nuri benar-benar senang, namun tak bisa di pungkiri jika Nuri pun turut sedih dengan apa yang menimpa Rendi walau bagaimanapun Nuri masih memiliki rasa padanya.


"Kau kenapa? Apa kau sedih? " Tanya Jhon, kala melihat perubahan pada raut wajah Nuri.


Nuri menggelengkan wajahnya, ia pun mencoba mencari alasan. " Aku ingin keluar. Banyak perkerjaan yang harus aku kerjakan! " Ujarnya.


Nuri pun melangkah pergi dari kamar Jhon, dan segera menuju kamarnya.


"Tak bisa di pungkiri jika aku masih mencintaimu hingga detik ini! " Ucapnya seraya meneteskan air matanya.


Walau bagaimanapun Rendi adalah Cinta pertama bagi Nuri, namun karna Rendi seorang Pria miskin sehingga Nuri lebih memilih bersama Pria ber-uang kala itu.


Jhon bangkit, dan memakai kembali jasnya. Ia ingin melihat secara langsung bagaimana keadaan Rendi.


"Aku ingin melihat bagaimana kau sekarang, Rendi! " Gumamnya.


Jhon segera meraih kunci mobil di atas nakas, dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Rendi berada.


Saat Jhon sedang berada di lorong rumah sakit, tiba-tiba seorang wanita tak sengaja menabrak Jhon.


Hingga barang-barang wanita tersebut jatuh berserakan di lantai, gegas Jhon membantunya.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak sengaja! " Ujar wanita itu.


"no problem, no big deal! " Sahutnya.


Untuk beberapa saat Jhon terkesima dengan kharisma yang wanita itu tunjukan hingga tatapan matanya tak lepas dari pandangannya. " Very beautiful! " Gumamnya.


Entah mengapa, seperti ada getaran dalam dadanya kala memandang wajah itu. Wajah yang menyejukan matanya, dan membuat Jhon salah tingkah.


Wanita itu pun meminta maaf, dan berlalu pergi. Ingin Jhon menghentikannya namun wanita itu telah berlalu cukup jauh. " Sial. Siapa wanita itu? " Ucapnya.


Untuk beberapa saat Jhon lupa tujuan awalnya datang ke rumah sakit ini, saking terkesimanya dengan paras wanita yang mampu menggetarkan perasaannya.


"Ada apa dengan ku? Kenapa aku begitu penasaran dengan wanita itu? " Ucapnya.


Jhon pun menepis fikirannya tentang wanita itu, ia pun melangkah menuju ruangan dimana Rendi berada. Kebetulan saat itu Brain tidak ada di sana.


"Kau begitu menyedihkan, Rendi! " Ujarnya di sertai senyum miring.


Seseorang datang ke ruangan Rendi dengan cara menyamar jadi petugas medis. ia tengah merencanakan sesuatu hal yang jahat pada Rendi.


"Tunggu saja ajal mu, Rendi!! " Ucapnya.


Ia pun masuk ke dalam ruangan Dokter, kemudian menikam Dokter, agar bisa mengambil identitasnya.


Dokter pingsan setelah dipukul dibagian kepalanya. Setelah itu, ia pun menyeret Dokter ke pojok ruangan kemudian mengambil identitas miliknya.


"Ah, menyusahkan sekali!! " Ucapnya, kala menyeret tubuh tambun sang Dokter.


Ya, seseorang itu tak lain adalah Jhon. Ia berusaha menyamar dan menyelinap ke ruangan Rendi.


Beruntung, tak ada yang mengenalinya termasuk Brain sendiri. Bahkan Brain mengira Jhon adalah petugas medis tanpa sedikitpun curiga.


Sebisa mungkin Jhon bersikap layaknya seorang Dokter yang hendak memeriksa pasiennya, ia pun menggunakan masker untuk melengkapi penyamarannya.


Pintu ruangan pun terbuka menampilkan tubuh Rendi yang terbaring lemah tak berdaya dengan banyaknya alat yang terpasang di tubuh Rendi.


"Lihat, Rendi. Mana tubuh yang selalu kau banggakan itu? " Cemoohnya.


Jhon berjalan menghampiri Rendi seraya menampilkan senyum mengerikan.


"Akhirnya aku memiliki kesempatan untuk membunuhmu secara langsung, Rendi. Hari yang selalu aku tunggu-tunggu pun akhirnya tiba! " Ujarnya.


Kini Jhon sudah berada di samping Rendi, ia pun hendak mencabut oksigen yang terpasang namun sebelum itu ia pun mengatakan segalanya.


"Kau tahu, Rendi. betapa aku membencimu? aku membencimu lebih dari segala hal yang aku benci! kau telah menanamkan perasaan benci dalam hatiku. Aku tak bisa melupakan kejadian dulu, kejadian dimana kau jadi tersangka utama atas kematian itu. Sekarang, rasakan kematianmu!! " Ucapnya penuh kebencian.

__ADS_1


Dendam dan amarah yang di miliki oleh Jhon terhadap Rendi sangatlah besar sehingga Jhon sangat menginginkan kematian Rendi.


"Rendi. Sayangnya, waktumu tidak lagi lama. Matilah, matilah!! " Bisiknya penuh kebencian.


Dengan cepat Jhon pun membuka alat bantu pernafasan yang terpasang pada Rendi, sehingga Rendi kejang-kejang.


"Membusuklah! " Gumamnya, kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan ICU.


Tut, tut, tut........


Mesin ventilator pun kian nyaring di ruangan ICU. Tubuh Rendi yang kejang dan kesulitan bernafas seolah-olah menjadi tontonan menyenangkan bagi Jhon.


"Aku suka melihat mu menderita, Rendi. ". Ujarnya di sertai senyum miring.


Sungguh sejak lama Jhon menginginkan hal ini terjadi, dan ketika ada kesempatan maka Jhon tidak akan menyia-nyiakannya.


Akhirnya, apa yang Jhon inginkan terkabul. hari ini seolah-olah semesta mengikuti dan mendukung langkahnya.


"Aku harus segera pergi dari sini! " Gumamnya.


Jhon segera berlalu pergi sebelum ada seseorang yang melihatnya di sana.


"Membusuklah kau!! " Ujarnya sebelum pergi.


Saat suster masuk untuk memeriksa keadaan Rendi, tiba-tiba saja Rendi terlihat kejang-kejang, dan oksigen yang sudah terbuka sehingga Rendi kesulitan bernafas. dengan cepat Suster tersebut segera memasang kembali oksigen tersulit dan segera memanggil para Dokter.


"Dok, Dok!! Pasien kejang-kejang!! " Teriaknya.


"Apa. Bagaimana bisa? " Tanya Dokter seraya berlalu menuju ICU.


Seorang Dokter terlihat terburu-buru masuk ke dalam ruangan ICU, dan Khumaira tak tahu apa yang terjadi.


Khumaira yang mendengar hal tersebut, Sontak saja membelalakan matanya. "Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Mas? " Gumamnya.


Kemudian Khumaira bangkit, dan menghampiri tenaga media tersebut. "Ada apa ini, Sus? Bagaimana keadaan Suami saya? " Tanya Khumaira cemas.


Suster menjelaskan prihal keadaan Rendi, sehingga Khumaira ingin ikut masuk namun Suster tak mengizinkannya. " Ibu tunggu di luar. Biar kami yang menanggani pasien! " Ujarnya seraya menutup pintu.


Khumaira hanya bisa melihat keadaan Rendi dari luar jendela. " Mas. Kau kenapa? " Gumamnya.


Baru saja Khumaira melihat keadaan Rendi dalam keadaan Baik, tapi kini... Ah, sungguh Khumaira ingin menangis sejadi-jadinya.


"Mas. Jangan tinggalkan Aku! aku tak mampu hidup tanpamu. " Ucapnya lirih di sertai derai air mata.


Khumaira tak hentinya berdoa demi keselamatan Rendi.

__ADS_1


__ADS_2