
Rendi mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Nuri di sekap, ia pun melihat keadaan Nuri yang begitu memprihatinkan sekaligus mengenaskan dengan banyaknya luka lebam di seluruh tubuhnya.
Rendi menghampiri Nuri seraya menampilkan senyum manisnya. " Hallo, Nuri. Apa kabar? Bagaimana permainmu dengan Anak buahku, menyenangkan? Maaf, aku baru bisa menjengukmu hari ini! " Ujarnya dengan nada cemoohan, kemudian Rendi tertawa.
Nuri menatap tajam wajah Rendi, terlihat dengan jelas kebencian di wajah Nuri begitu membara untuk Rendi.
"Lepaskan aku, Keparat!!! " Teriaknya.
Rendi menghentikan tawanya kala mendengar teriakan Nuri, kemudian menatapnya dengan tatapan iba. " Tenanglah, Sayang. Bukankah ini yang kau inginkan? Kau ingin belaian, kan? " Ucap Rendi sembari mengelus pipi Nuri.
Nuri berusaha memberontak, namun Rendi malah menekan pipi Nuri dengan tangannya sehingga Nuri meringis kesakitan. " Lepaskan aku, Rendi. Mengapa kau melakukan ini? " Teriaknya dengan tatapan yang mulai berkaca-kaca.
Terlihat nafas Rendi yang mulai memburu, Rendi pun mendekatkan wajahnya pada Nuri seraya menatapnya tajam, kemudian menjambak rambut Nuri hingga Nuri kesakitan. " Lepaskan, Rendi. Sakit!! " Rintihnya, namun Rendi tak memperdulikan ocehan Nuri.
"Kau tahu apa salahmu? Jika kau lupa maka aku akan memberitahu mu. Dengar baik-baik, Nuri. Pertama, kau telah memanipulasi hasil test DNA tempo lalu. Kedua, kau telah berani menjebak dan berusaha menghancurkan rumah tanggaku! Apa kau masih lupa? " Ucapnya penuh penekanan, dan nada amat marah.
Nuri membelalakan matanya kala mendengar penuturan dari Rendi. " Apa? Dari mana Rendi tahu? " Batinnya sembari menatap Rendi.
Rendi tersenyum miring. " Kau pasti bertanya-tanya dari mana aku tahu? Apa kau fikir aku percaya dengan hasil test itu? Tentu saja tidak, Nuri. Aku tidak sebodoh yang kau kira. Bahkan di hari yang sama pula aku telah melakukan test DNA ulang tanpa sepengetahuan mu! " Terangnya, Rendi menceritakan segala kejanggalan saat pertama kali test itu keluar dan ternyata dugaan Rendi benar, Nuri telah memanipulasi hasil test tersebut.
Nuri yang mendengar ucapan Rendi pun langsung mengiba meminta maaf. " Aku minta maaf, Ren. Kau sudah tahu kebenaran, sekarang lepaskan aku. Kasian Yoga, dia pasti sendiri dan mencari ku! " Ucapnya mengiba, dan beralasan agar Rendi mau melepaskannya.
"Kau fikir aku akan membiarkanmu bebas? Jangan mimpi, Nuri! Kau tak usah cemas soal Yoga, sebab saat ini Yoga aman bersamaku. Kau nikmatilah sisa hidupmu di sini dan kau boleh bersenang-senang dengan seluruh Anak buahku jika kau mau! " Ucapnya disertai seringai licik.
Rendi pun melangkah pergi meninggalkan Nuri, namun Nuri masih saja memanggilnya dan berteriak memaki dan sumpah serapah pun keluar dari mulutnya. " Rendi sialan! Lepaskan aku! Hey, manusia laknat kembali! " Teriaknya marah.
"Ahhhhkhhhh " Teriaknya lagi.
Rendi menoleh pada Nuri sebelum pergi, dan terlihat tersenyum penuh kemenangan.
Rendi bertemu dengan Oxy yang kebetulan tengah menjaga Nuri di ruangan ini. " Kau Oxy. Jaga wanita itu, jika wanita sampai kabur maka kepala mu akan aku penggal!! " Ujarnya.
Mendengar perkataan Rendi yang mengerikan membuat Oxy bergedik ngeri, ia pun mengangguk dan akan menjaga Nuri dengan baik. " Siap, Pak! " Sahutnya.
Setelah mewanti-wanti Oxy agar menjaga Nuri, kemudian Rendi pun pergi meninggalkan markas besarnya.
Saat hendak masuk ke dalam mobil tiba-tiba ponselnya berdering, Rendi segera mengangkatnya. " Hallo! " Sahutnya.
"Hallo, Rendi. Segera kirimkan barang yang aku inginkan! " Ujar Seseorang di seberang sana.
"Berapa kau berani membayar barang yang sudah berada dalam tanganku? " Sahutnya.
Rendi, dan Pria di seberang telepon sedang menentukan harga yang cocok untuk barang yang Rendi miliki hingga terjadilah sebuah kesepakatan antara Rendi dan Pria tersebut.
__ADS_1
"Oke, deal. Harga yang sesuai! " Sahut Rendi sembari tersenyum.
Rendi pun masuk ke dalam mobilnya, dan menuju ke rumahnya untuk mengambil paket yang ia simpan di dalam Brankas tempo lalu.
Sesampainya di rumah, Rendi pun segera berjalan menuju kamarnya.
"Syukurlah masih ada! " Gumamnya.
Rendi pun keluar dari kamarnya sembari membawa paket tersebut, Khumaira yang tak sengaja menabrak Rendi sebab tak
melihat tiba-tiba paket Rendi sempat terjatuh dan Khumaira berusaha mengambilnya, namun di halangi oleh Rendi.
"Tidak usah. Biar aku yang ambil! " Ucapnya.
"Sepertinya kau terburu-buru, Mas? Memangnya apa isi paket itu? " Ujar Khumaira
"Tidak penting. Sudah, ya, aku pergi! " Pamitnya.
Lagi-lagi Rendi begitu, Pergi dan datang sesuka hatinya. Apakah rumah ini tempat pulang pergi?
Rendi bergegas menaiki mobilnya, dan melajukannya menuju pelabuhan. Rendi menghubungi Alex dan juga Brian untuk menemaninya sekaligus mengawalnya dari belakang.
Rendi melajukan mobilnya menuju pelabuhan, dan di ikuti oleh mobil Alex dan juga Brian. Mereka berdua mengawal Rendi sampai ke pelabuhan.
Rendi pun menoleh ke arah belakang, dan benarnya sebuah mobil patroli milik polisi tengah mengejarnya hingga Rendi pun mencari cara agar bisa keluar dari masalah ini.
"Hallo, Alex! Kau masih disana? " Tanya Rendi.
"Ya, aku masih ada di belakang mu! " Sahutnya.
Rendi pun memberitahu Rencana yang akan ia buat untuk mengecoh para aparat tersebut dengan bantuan Alex, dan Brian.
"Oke. Akan kami lakukan! " Sahutnya Alex kala mendengar rencana Rendi, namun Rencana Rendi ini sedikit berisiko namun mereka harus melakukannya.
Brian melirik ke arah Alex. " Apa yang di katakan oleh Pak Rendi? " Tanyanya penasaran.
Alex pun menjelaskan rencana Rendi, dan apa yang harus mereka lakukan. Tentu saja Brian terkejut dengan perintah yang harus mereka melakukan. "Apa kau sudah gila? " Ucapnya.
Alex tahu rencana ini cukup berisiko dan terdengar gila, namun apalah daya jika Rendi sudah berkata maka mereka tak bisa menentang.
Akhirnya Brian pun menyetujuinya atas desakan Alex, walaupun ia begitu terpaksa.
Alex menatap Brian. " Kau siap? " Tanyanya.
__ADS_1
Brian pun mengangguk, dan Mereka mulai menjalankan aksinya.
Brian yang kebetulan mengambil alih kemudi melajukannya dengan kecepatan tinggi, hingga Alex benar-benar di buat spot jantung karnanya.
"Hati-hati woy! " Teriaknya, Brian hanya menanggapinya dengan senyuman kala melihat wajah Alex yang nampak tegang.
Jantung Alex benar-benar berdebar lebih cepat dari biasanya, tapi ini bukan karna cinta ataupun wanita tapi cara Brian menjalankan mobilnya yang memang gila.
Brian mulai menyalip mobil Polisi yang ada di hadapannya, ia pun demi melancarkan aksi Rendi agar tidak tertangkap.
Saking kencangnya Brian melajukan mobilnya, Alex sampai harus berpegang.
"Tahan, Lex! " Ujar Brian.
Brian terus menghalangi mobil Polisi tersebut, hingga Mobil Brian dan mobil Patroli saling kejar mengejar bahkan salah satu polisi sempat memberikan tembakan peringatan, namun tak di hiraukan oleh Brian.
"Salip terus. Jangan kasih kendor!! " Ujar Alex.
Brian memacunya, hingga mobil patroli sempat oleng namun mereka terus mengejar mobil Brian, dan Alex hingga mobil yang di kendarai oleh Rendi bisa berhasil lolos dari kejaran aparat.
"Berhasil!! " Ucap Brian.
Sementara Alex, ia berusaha menetralkan detak jantungnya dan berharap ini semua segera berakhir.
Salah seorang polisi sempat menembak mobil Brian agar Brian menghentikan mobilnya, namun bukannya berhenti Brian dan Alex malah memberikan serangan mendadak.
Alex mengeluarkan senjata apinya, lalu menembakannya ke arah mobil patroli dan berhasil mengenai Ban mobil tersebut hingga akhirnya mobil pun berhenti di tengah jalan.
"Bagus, Lex. Kau memang berbakat! " Puji Brian.
Kini Brian mulai melajukan mobilnya dengan normal, sebab polisi tersebut tak lagi mengejarnya.
Kini Rendi, Alex dan Brian. Mereka bertiga sudah sampai di pelabuhan dan tengah mencari Pria yang akan melakukan transaksi dengannya.
Sebelum benar-benar menemukannya, Rendi mengecek barangnya takut ada yang kurang atau salah.
Dirasa sudah aman, dan benar akhirnya Rendi pun menemui Pria tersebut di pelabuhan tersebut dan melakukan transaksi ilegal.
Pria tersebut memberikan 1 koper uang pada Rendi, dan Rendi memberikan barang tersebut ke tangan Pria tersebut.
"Senang bekerja sama denganmu, Rendi! " Ucapnya seraya tersenyum dan menjabat tangan Rendi.
Rendi pun tersenyum, dan setelah selesai Rendi pun segera pergi dari pelabuhan tersebut.
__ADS_1