TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 28 #FLASBACK


__ADS_3

Jhon memanglah pelaku penabrakan atas tewasnya Yoga kala itu. Jhon mengira bahwa Yoga adalah Putra kandung Rendi sehingga dirinya mengincar nyawa bocah tersebut tanpa mencari tahu lebih dulu.


"Pasti dia Anaknya Rendi? " Gumamnya, kala tak sengaja melihat Yoga di ujung jalan.


Setelah melancarkan aksinya, Jhon terlihat Tertawa bahagia mungkin Menurutnya Rendi akan benar-benar terpuruk setelah kejadian ini.


"Rasakan penderitaanmu, Rendi! " Ujarnya penuh kemenangan.


Kemudian Jhon segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sebelum ada seseorang yang melihatnya, namun nasib baik tak selalu menyertai Jhon bahwa Jhon sadari bahwa di kawasan tersebut telah terpasang CCTV hingga aksi Jhon dapat di ketahui.


Setelah kejadian itu, Jhon bergegas pergi ke rumah temannya yang bernama Dicki yang berada di kota bandung.


Dicki melihat kedatangan Jhon. " Tumben. Loe kesini? " Tanya Dicki, memang Jhon tak pernah kesini sejak Steven meninggal.


"Gue mau nitip mobil! " Ujarnya.


Dicki mengernyitkan dahinya heran. " Kenapa di titip? Emangnya Loe mau kemana? " Tanyanya heran.


Dicki benar-benar heran, mengapa Jhon bersikap aneh seolah-olah ada sesuatu yang tengah ia sembunyikan namun hal tersebut ia tepis jauh-jauh.


"Oke. Tapi, jangan lama-lama, ya. Gue takut mobil Loe ilang kalo lama-lama di mari! " Ujarnya.


Jhon pun mengangguk, dan bergegas meninggalkan rumah Dicki.


"Dengan cara ini setidaknya Jhon tidak akan mengatahuinya! " Gumam Jhon.


Jhon melihat dan menyaksikan langsung bagaimana jenazah Yoga di semayamkan dan di kebumikan, namun yang membuat dirinya heran mengapa Rendi tak terlihat begitu kacau? Bukankah, Yoga adalah Putranya?


"Ada yang aneh. Kenapa raut Rendi datar sekali? Kenapa keadaannya baik-baik saja? " Batinnya.


Hingga Anak buahnya memberitahu hubungan antara Rendi, dan Yoga sontak saja hal tersebut membuat Jhon membulatkan matanya sempurna. " Apa. Jadi mereka bukan Ayah dan Anak? Bagaimana bisa? " Ujarnya tak percaya.


Itu artinya Jhon telah salah sasaran, sontak saja Jhon pun menggebrak meja kemudian menendangnya. " Sialan! " Ujarnya marah.

__ADS_1


Jhon merasa benar-benar bodoh kali ini, ia telah salah tidak mencari terlebih dahulu soal ini.


Jhon benar-benar begitu dendam pada Rendi sejak peristiwa penembakan dimana Steven harus meregang nyawa akibat tembakan Rendi.


Kejadian itu terjadi kurang lebih 5 tahun yang lalu saat usia Jhon menginjak 22 tahun. Jhon menyaksikan bagaimana Rendi menembak Steven yang merupakan kakak dari Jhon.


"Steven!! " Teriaknya seraya berlari menuju Steven yang jatuh tak berdaya.


Steven yang benar-benar lemah, dan tak berdaya pun mencoba membelai Jhon dengan penuh kasih. " Jhon. Maafkan aku, aku tak bisa menjagamu lagi! Tolong. Balas seluruh dendamku pada Manusia itu! " Ucapnya sebelum pergi.


"Steven. Kau harus hidup!! " Ujarnya.


Tak berapa lama kemudian Steven pun menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Jhon. Jhon menangis di depan jasad Steven, ia pun mengguncang tubuh itu. " Steven. Bangun!! " Teriaknya, namun Steven takan pernah bisa bangun kembali.


Jhon menghentikan tangisnya, dan memandang dengan nyalang. " Kau!! Pembunuh!! "


Gejolak dalam dada Jhon benar-benar membuncah, amarah dan kebencian pun kian membara. Jhon berjanji di depan jasad Steven akan membalaskan dendamnya.


Jhon segera membawa jasad Steven ke rumah peninggalan keluarga Steven. Ya, Jhon dan Steven bukanlah Saudara kandung. Steven adalah Anak kandung Alexander Graham hingga Jhon di angkat jadi Putranya kedua keluarga Alexander dan di sambut hangat oleh Steven.


Jhon memandang peti jenazah Steven dengan tatapan sedih, dan penuh duka. Hingga seseorang berjas hitam menghampirinya. " Kau ingin membalas Rendi, bukan? " Bisiknya tepat di telinga Jhon.


Jhon menoleh, dan mengernyitkan dahinya. " Kau siapa? " Tanyanya heran.


Kemudian Pria tersebut pun mengatakan jati dirinya bahwa ia adalah tangan kanan Steven. Awalnya Jhon terkejut mendengar penuturan dari Anak buah Steven bahwa selama ini Steven merupakan ketua Mafia. " Apa. Wait, wait. Jadi selama ini... tidak, ini mungkin! " Ujarnya kaget.


"Kau adalah saudara kandung Steven, jika kau ingin membalas Rendi maka bergabunglah bersama kami! " Tawarnya.


Jhon tak langsung menyetujui tawaran Pria tersebut, ia masih butuh waktu untuk menentukan hal ini.


"Baiklah. Mungkin kau butuh waktu. Fikirkan baik-baik tawaranku, dan ini nomor ku! " Ujarnya sembari menyodorkan sebuah kartu namanya, kemudian berlalu pergi.


Jhon langsung memasukan kartu nama tersebut ke dalam sakunya, ia pun tak bergegas menuju pemakaman dimana Steven akan di makamkan.

__ADS_1


Selesai dengan pemakaman Steven, Jhon pun segera pulang ke rumahnya. Jhon benar-benar berduka cukup hebat. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan di rumah besar ini sendirian.


Ia pun mengeluarkan kartu nama yang sempat ia simpan. "Gio. " Gumamnya.


Jhon memikirkan baik-baik tawaran dari Gio untuk ikut bergabung, namun ia juga masih gamang. Apakah ia mampu dengan ini semua?


"Baiklah. Mungkin jika aku bergabung, aku bisa membunuh dan membalaskan dendam Steven padanya! " Gumamnya.


Akhirnya Jhon pun menghubungi nomor yang tertera. " Hallo, Gio. Sepertinya sku setuju dengan tawaranmu! " Ujarnya.


"Oke. besok kita bertemu! " Sahut Gio di sebrang telepon sembari tersenyum.


Sesuai kesepakatan kini keduanya bertemu di tempat yang telah di tentukan. Gio pun menceritakan bagaimana komunis ini berdiri, dan apa saja yang telah Steven dapatkan selama memimpin ini.


"Ikut aku! " Ajak Gio seraya berdiri.


Tanpa bertanya banyak hal Jhon pun mengikuti langkah Gio. Gio mengajak Jhon ke markasnya dan memperlihatkan seluruh isi di dalamnya.


Gio pun mengumumkan pada Seluruh anggota bahwa kini Jhon telah menjadi pimpinan baru mereka semua. Tentunya mereka semua terlihat menyambutnya dengan suka cita.


"Selamat datang, dan aku harap kau sama seperti Steven! " Ujar Gio seraya menjabat tangan Jhon.


Jhon pun tersenyum, dan berjanji akan menjadi seperti Steven. Ia pun berjanji akan membalas Rendi bagaimana pun caranya.


"Kau harus membalas segalanya, Rendi! " Batinnya.


Hingga kini Jhon dan Gio menjadi partner dalam hal ini. Walau usia Gio di atas Jhon, namun Gio begitu menghormati Jhon sebagai pimpinan barunya dan juga adik mendiang Steven.


Akhirnya setelah bergabung dalam dunia hitam banyak hal baru yang Jhon dapatkan, bahkan untuk mendapatkan uang tidaklah sulit baginya, sebab bisnis yang ia jalani saat ini sungguh menguntungkan.


"Wah, hebat! pantas saja dulu Steven begitu kaya, ternyata kekayaanya berasal dari bisnis ini! " Gumamnya.


Kini, Jhon bisa menikmati segala hasil dari bisnis yang bertahun-tahun didirikan oleh Steven.

__ADS_1


Namun sayang, walau bagaimanapun Jhon tidak bisa mengalahkan kejayaan Rendi hingga saat ini bahkan saat Gengs ini di jalankan oleh Steven sekalipun. Entah, kenapa mereka segala gagal menjatuhkan Rendi.


__ADS_2