TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 25 #MENUJU TITIK TERANG


__ADS_3

Rendi masih merasakan luka, dan pilu atas kepergian Yoga walau kepergian Yoga telah begitu lama berlalu namun kenangan Yoga selalu hidup dalam hati, dan fikirannya.


"Yoga. Maafkanlah aku! " Gumamnya yang terus mengulangi perkataan yang sama saat mengingat Yoga.


Rendi masih belum mendapatkan kabar dari Brian tentang seseorang yang menabrak Yoga.


"Siapa orang begitu tega menabrak seorang anak kecil? " Gumamnya.


Rendi tak habis fikir dengan oranga yang telah mencelakai Yoga. Apakah dia tidak berfikir bahwa Yoga hanya seorang anak yang tak berdosa? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan dirinya? Banyak pertanyaan yang berputar di fikiran Rendi.


"Jika aku berhasil menemukan pelakunya, maka akan aku hajar orangnya! " Ujarnya penuh dendam.


Tak berapa lama Khumaira pun masuk ke dalam kamar, dan melihat Rendi yang tengah sibuk dengan lamunannya sehingga Khumaira menghampirinya. " Kau kenapa, Mas? Apa ada yang menggangu fikiranmu? " Tanya Khumaira.


" Aku hanya tidak habis fikir saja dengan pelaku yang mencelakai Yoga! " Ujarnya.


Khumaira menghela nafasnya, ka pun satu pemikiran dengan Rendi namun hingga kini belum ada kejelasan tentang kasus ini.


"Bagaimana kita serahkan kasus ini pada pihak berwajib, Mas? " Ucap Khumaira yang kini duduk di samping Rendi.


Rendi melirik Khumaira. " Jangan. Hanya buang-buang waktu saja! " Sahutnya.


Selalu seperti itu jawaban yang Rendi berikan kala Khumaira mengusulkan untuk menyerahkan kasus ini pada Polisi.


Sebenarnya ini hanya alasan Rendi, sebab Jika Rendi melapor pada polisi tentang kasus ini, maka bisnis dan seluruh kumpulannya pun akan ikut terseret dan kariernya akan hancur maka dari itu Rendi tak setuju dengan usul Khumaira.


Khumaira hanya bisa menghela nafasnya. "Baiklah. Jika itu mau mu! " Ujarnya seraya melangkah pergi ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi untuk Rendi.


Rendi mengeluarkan cincin yang diberikan oleh Alex dan mengamatinya kemudian mencoba mengingat-ingat kembali. " Bukankah ini cincin yang sering di pakai oleh Steve! " Gumamnya, ya, dulu Rendi sering melihat Steven menggunakan cincin ini namun mana mungkin seorang yang telah meninggal bisa hidup kembali.


"Jika bukan Steven, lalu siapa? " Ujarnya. Sungguh kejadian ini sungguh menguras otak Rendi, banyak teka-teki yang harus ia pecahkan dalam kasus ini.


Rendi akan mencaritahu seluk beluk tentang mendiang Steven. Pasti dirinya bisa menguk tabir di balik ini semua, dan cincin ini akan membawanya pada kebenaran.


Tak lama kemudian Khumaira telah kembali sembari membawa nampan berisi segelas kopi yang masih mengepulkan asap, dengan cepat Rendi pun menyimpan kembali cincin tersebut. " Minumlah, Mas! " Titahnya.


Rendi pun menyesapnya, kemudian Khumaira mulai bermanja di bahu Rendi. Kini hubungan keduanya sudah semakin dekat namun Rendi masih enggan terlalu dekat dengan Khumaira.


"Kau sudah minum susu, dan vitamin? " Tanya Rendi.


Khumaira pun menepuk jidatnya sendiri. " Ya tuhan, aku sampai lupa! " Ujarnya.


Rendi menggelengkan kepalanya. " Selalu saja. " Sahutnya gemas.


Saat Khumaira hendak bangkit, tiba-tiba Rendi mencekal tangannya dan menyuruhnya tetap duduk. " Wait, wait. Biar aku yang buatkan susu dan vitamin untumu! " Ujarnya seraya bangkit dan pergi ke dapur.


Khumaira menunggu Rendi di kamarnya sembari memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Susunya sudah jadi. Silakan di minum! " Ujar Rendi.


Khumaira pun tersenyum, dan mulai meminumnya namun tiba-tiba Khumaira menyemburkan susu tersebut tepat ke wajah tampan Rendi.


Byuurrr... Byuuurrr...


Sontak saja Rendi mengelap wajahnya, dan menatap tajam ke arah Khumaira. Sementara Khumaira hanya bisa nyengir kuda.


"Kenapa? Apa susunya panas? " Tanya Rendi.


Khumaira menggeleng. " Tidak, bukan karna itu! " Ujarnya.


"Lalu? " Tanya Rendi.


Khumaira takut mengatakannya, takut jika pernyataannya membuat Rendi tersinggung.


"Kenapa diam? " Ujar Rendi.


"Mmmmm.. ini, Susunya asin! " Ucap Khumaira dengan perasaan bersalah.


Rendi pun membulatkan matanya. "Apa. Asin? " Ucapnya, kemudian Rendi pun menepuk jidatnya sendiri. " Ya tuhan, aku lupa memberikan Garam ke susu itu! " Ujarnya.


Ya, tadi saat Rendi sedang membuat susu tersebut tiba-tiba fikirannya melayang pada masalah yang saat ini sedang ia hadapi tanpa sengaja Rendi memberikan satu sendok muncung garam.


"Pantas saja! " Gumam Khumaira.


Namun Khumaira menolaknya, sebab bisa saja nanti Rendi malah menambahkan cabe bubuk ke dalamnya hingga Khumaira menyuruh Bi Inah untuk membuatkan susu untuknya.


Selesai meminum susu dan vitaminnya Khumaira tak sengaja tertidur di pangkuan Rendi, Rendi menatapnya dengan penuh cinta sekaligus menyesali perbuatannya atas Renda. "Maafkan aku, Khumaira! " Gumamnya.


Tiba-tiba rasa berdosa kembali menghampiri dan menyelimuti hatinya. Entah, mengapa bayangan Renda seakan-akan menari-nari dalam fikirannya.


Dulu, Renda sempat memperingatkan Rendi untuk keluar dari dunia hitam ini namun dengan keras Rendi pun menolaknya. " Jangan pernah berani ikut campur pada urusanku, dan menyuruhku untuk mundur!! " Ujar Rendi tak terima.


"Tapi, Ren. Ingat, dunia hitam itu tidak baik. Kau bisa masuk penjara dan kau akan memiliki banyak musuh nantinya! Aku mohon, keluarlah dari zona nyaman mu saat ini. Ini semua demi kebaikanmu juga, Rendi! " Ucap Renda tak hentinya memperingati kembarannya.


Namun Rendi yang begitu tak terima dengan ucapan Renda pun, menggebrak meja dan mencengkeram bahu Saudaranya. " Ingat, Renda. Aku tidak suka jika di tentang, kau paham, kan! " Ujar Rendi dengan nada penuh penekanan.


Renda hanya bisa menghela nafasnya, namun ia terus saja memberitahu dan memperingatkan Rendi berkali-kali bahkan Renda juga pernah mengacaukan transaksi yang merugikan Rendi kala itu, namun Rendi masih bisa menoleransi hal tersebut. Tapi puncaknya kemarahan Rendi Kala Renda mencoba mengancamnya akan memberitahukan bisnis ilegal ini kepada polisi, songaky saja hal tersebut memicu amarah Rendi hingga Rendi benar-benar khalaf dan ide gila pun muncul.


"Mas! " Panggilan Khumaira membuyarkan lamunan Rendi.


"Ya, kenapa kau terbangun? " Tanya Rendi.


Khumaira pun menatap bola mata Rendi, nampak mata Rendi yang memerah seperti orang yang habis menangis.


"Apa Kau menangis, Mas? " Ujarnya.

__ADS_1


Rendi memalingkan wajahnya, dan berpura-pura baik saja. " Tidak. Mana boleh laki-laki menangis! " Sahutnya.


"Tapi... " Ucapnya, namun Rendi lebih dulu menutup mulut Khumaira dengan jarinya. " Sudahlah. Ini sudah malam! Lebih baik kau segera beristirahat! " Ujar Rendi.


Khumaira pun berjalan menuju ranjangnya, dan merebahkan dirinya namun Rendi masih saja tidur di atas sofa. Entah, pernikahan macam apa ini?


Keesokan paginya, Rendi pun mendapatkan kabar tentang perkembangan kasus Yoga.


"Bagaimana, Brian. Kau menemukan sesuatu? " Ujarnya.


Brian mengangukan kepalanya dan memberikan rekaman video pada Rendi, Rendi melirik Brian sekilas. " Apa ini? " Tanyanya.


"Lihatlah rekaman! " Titahnya.


Rendi pun melihat isi rekaman tersebut dari sebelum kejadian itu terjadi hingga akhirnya Yoga tertabrak. Rendi melihat bagaimana sebuah mobil yang melaju dengan sangat cepat ke arah Yoga, dan Rendi pastikan bahwa ini semua adalah di sengaja dan seseorang tersebut melakukannya dengan keadaan sadar namun Rendi tidak tahu apa motif di balik ini semua.


"Tega sekali! " Ujarnya, sesaat selesai melihat rekaman tersebut.


Rendi mengembalikan ponselnya pada Brian, dan menatapnya. " Kau tahu siapa dia? " Tanyanya.


Brian menggeleng. " Tidak. Tapi kita bisa melacaknya lewat plat mobil itu! " Sahutnya.


Benar apa yang di katakan oleh Brian. Mengapa Rendi tidak terfikirkan hal itu? Mungkin saja jika ia melacak nomor tersebut maka pelakunya akan mudah di temukan dan Rendi akan menanggapnya.


"okay do it soon! " Titahnya.


Tanpa menunggu lagi Brian pun segera bergerak untuk melaksanakan perintah Rendi. Dengan cepat Brian segera menuju ruangan Khusus dan mulai duduk di hadapan Komputer untuk mencari si pemilik mobil tersebut, sementara Rendi berdiri di samping Brian yang sedang sibuk dengan komputernya.


Setelah 1 jam berlalu akhirnya usaha Brian tidak sia-sia, ia bisa menemukan si pemilik mobil tersebut.


"Kau menemukannya! " Tanya Rendi.


Brian mengangguk. " Yups. Tapi.... " Brian tak melanjutkan ucapannya, seketika membuat Rendi mengernyitkan dahinya. " Ada apa? Siapa pemilik mobil itu? " Tanyanya yang masih saja heran melihat ekspresi Brian.


"Steven! " Sahutnya.


Sontak saja Rendi pun membelalakan matanya mendengar ucapan Brian. " Apa. Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa mengendarai mobil? Tidak, tidak. Ini tidak benar? " Ujarnya tak percaya.


Brian sama halnya dengan Rendi, ia tak percaya bahwa Steven yang mengendarai mobil tersebut. Tapi, ini masih belum jelas siapa pengendara tersebut. Mungkin mobilnya milik Steven, tapi siapa pengendara itu?


"Apa mungkin ada orang lain? " Tanya Brian.


Rendi menatap Brian. " Bisa saja. Kau cari dimana keberadaan mobil itu! " Perintahnya.


Rendi tak menyangka jika kejadian yang menewaskan Yoga ada sangkut pautnya dengan urusan pribadinya. Ini tidak bisa di biarkan! Jika saja Yoga kena, maka tidak akan mungkin jika orang yang sama akan mulai mencelakai keluarganya.


Brian mulai mencari info tentang keberadaan mobil tersebut hingga akhirnya ia pun menemukannya. Tidak sulit bagi seorang Brian untuk melacak semuanya, ia adalah orang yang memiliki IQ yang tinggi sehingga Rendi beruntung memiliki anak buah seperti dirinya.

__ADS_1


Brian, dan Rendi pun segera menuju lokasi dimana mobil tersebut berada. Rendi tak sabar ingin melihat siapa pemilik mobil yang dulunya milik Steven?


__ADS_2