
Saat Rendi hendak pulang, ia tak lupa membeli beberapa buah-buahan sebab biasanya wanita hamil ingin memakan yang manis dan segar.
Rendi memilih beberapa buah-buahan yang menurutnya cocok hingga akhirnya Rendi membayarnya.
"Berapa totalnya? " Tanya Rendi.
"Totalnya jadi 120 ribu! " Sahutnya.
Setelah membayar, Rendi pun pergi dari toko buah tersebut namun tanpa di duga sebuah serangan datang menghampirinya.
Dor..
Sebuah tembakan hampir saja mengenai kepala Rendi, seandainya Rendi tak membungkuk dan menghindar niscaya peluru tersebut akan menembus otaknya.
"Kurang ajar! " Ujarnya.
Rendi mencari-cari siapa pelaku atas penembakan dirinya. Rendi memperhatikan orang-orang di sekitarnya yang menurut Rendi mencurigakan.
Hingga Rendi melihat seorang Pria yang mencurigakan, dan Rendi yakin dialah orangnya.
"Kau ingin bermain-main deganku rupanya? " Ucapnya.
Menyadari bahwa Rendi tengah memperhatikan, dan mencurigainya akhirnya Pria itu kabur dari kerumunan orang-orang, tentu saja Rendi pun mengejarnya dan meninggalkan buah-buahannya di sembarang tempat.
"Hey, tunggu. Jangan lari!! " Teriak Rendi.
Rendi terus mengejar Pria misterius tersebut, Rendi tidak akan melepaskannya begitu saja.
Pria misterius itu semakin berlari cukup kencang, namun Rendi juga melakukan hal yang sama.
"Hey!! " Teriak Rendi.
Akhirnya aksi kejar-kejaran pun berakhir saat Pria misterius itu tak sengaja tersandung sebuah Krikil yang membuatnya jatuh tersungkur.
Kini Rendi telah berani di hadapan Pria tersebut, Rendi menatapnya dengan berang kemudian Rendi mencengkeram baju Pria tersebut. " Cepat bangun! " Titahnya.
Pria tersebut pun bangun, dan hanya bisa menunduk. " Gawat. Aku dalam bahaya! " Batinnya.
"Katakan. Siapa yang telah menyuruh mu? " Tanyanya.
Namun Pria misterius tersebut tak menyahuti ucapan Rendi, ia diam beribu bahasa. Tak mungkin ia mengatakan siapa dalang dari semua ini.
Kediaman Pria tersebut membuat Rendi marah, kemudian Rendi mengeluarkan senjatanya dan menodongkannya pada Pria misterius tersebut. " Katakan, atau kau aku tembak? " Gertak Rendi.
Pria misterius tersebut sebenarnya takut dengan ancaman Rendi, namun ia lebih takut jika keluarganya menjadi sasaran hingga Pria tersebut memilih tetap diam dan mengorbankan dirinya.
"Katakan!!! " Bentak Rendi.
Namun Pria tersebut hanya menunduk, dan tak bergeming. Sontak saja hal tersebut semakin memancing amarah Rendi.
Rendi menatapnya tajam, nampak kemarahan dan emosi yang semakin membuncah terpancar dengan dari wajah Rendi. " Baiklah, jika itu pilihanmu. Aku hitung mundur dari sekarang 1 .... 2 .... Tig... A " Hitungnya.
Pria misterius tersebut sudah pasrah, ia pun menutup matanya. Dirinya sudah siap dengan apa yang akan menimpa dirinya.
Dor.. dor..
Rendi pun melepaskan pelurunya, namun tidak pada Pria tersebut melainnya ke arah lain.
Pria di hadapannya Rendi pun membuka matanya, dan menatap Rendi yang masih di penuhi amarah. Mengapa Rendi tidak menembaknya?
"Apa ini? Dia tidak jadi menembak ku! " Batinnya.
__ADS_1
Rendi menurunkan senjatanya, memang Rendi saat ini sedang marah, namun ia memilih membiarkannya hidup sebelum ia tahu siapa yang telah menyuruhnya?
Rendi segera mengamankan Pria tersebut, dan segera menghubungi Brian.
"Hallo, Brian. Datanglah kemari! " Perintah Rendi.
Rendi menunggu sampai Brain datang, ia akan menyerahkan Pria tersebut pada Brian.
Tak berapa lama menunggu akhirnya Brain datang dengan mobilnya, dan Rendi pun menyerahkan Pria tersebut pada Brian.
"Ulik informasi dari manusia ini! Jangan Sampai biarkan dia mati sebelum kau tahu siapa yang telah menyuruhnya, kau paham?! " Ujar Rendi.
Brian mengangguk, dan segera pergi dengan mobilnya dengan membawa Pria tersebut sebagai tawanan.
Rendi segera pergi ke dalam mobilnya dan melajukannya. Ia harus segera pulang.
Sesampainya Rendi di rumah, ia pun masuk dan melihat Khumaira yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
Khumaira melirik Rendi sekilas, nampak pakaian Rendi yang kotor sebab perkelahian tadi, namun Khumaira urung bertanya apa saja yang telah di lakukan oleh Rendi sebab ia masih marah padanya.
Rendi meletakan buah-buahan yang ia bawa di atas meja, lantas segera pergi menaiki tangga.
Rendi sama sekali tak bertanya ataupun menyapa Khumaira, lebih baik baginya membiarkan Khumaira sendiri. Mungkin saat ini Khumaira sedang butuh sendiri?
"Baiklah, Khumaira. Kita lihat sejauh mana kau mampu bertahan dengan sikapmu itu! " Batinnya.
Rendi pun melangkah menuju kamarnya, ia melihat sekilas dari ekor matanya bahwa Khumaira tengah memperhatikannya.
"Jangan melihat nanti tertarik" Sindirnya sembari melirik ke arah Khumaira.
Khumaira pun beralih memandang ke arah lain, dan berpura-pura melihat koran.
Rendi pun berusaha menahan tawanya, dan memanggil Bi Inah.
Bi Inah pun datang menghampiri Rendi dengan tergopoh-gopoh. "Iya, ada apa Tuan? " Tanyanya.
Khumaira yang penasaran pun semakin menajamkan indra pendengarannya.
"Lihatlah, Bi. Ada orang hebat yang bisa membaca koran secara terbalik!! " Ujarnya sembari melirik Khumaira dengan ekor matanya.
Bi Inah pun melihat ke arah Khumaira, dan Khumaira pun melihat korannya, benar saja sejak tadi Khumaira memegang koran secara terbalik. Khumaira segera membetulkan korannya, ia terlihat salah tingkah.
Sontak saja Bi Inah, dan Rendi pun tertawa bersama namun Khumaira begitu malu dengan tingkah konyolnya.
"Aduh, kenapa aku bisa sekonyol ini? " Gumamnya sembari menonjor kepalanya.
Rendi pun segera pergi ke kamarnya untuk sekedar mandi, hari ini begitu melelahkan walaupun hari-hari lainnya juga melelahkan.
Selesai mandi, dan berpakaian Rendi pun segera menuruni tangga, ia harus segera pergi.
Rendi melewati Khumaira begitu saja, tanpa menyapanya. Rendi ingin tahu sejauh mana Khumaira menjauh darinya.
" Kau tidak makan? " Tanyanya tanpa menoleh.
Belum sempat Rendi keluar, tiba-tiba Khumaira memperlihatkan perhatiannya walau ia tidak menunjukkannya.
"Tidak. " Sahutnya dingin.
Rendi pun melangkah meninggalkan Rendi, namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Bi Inah.
"Bi, apakah Khumaira sudah makan? " Tanya Rendi.
__ADS_1
Bi Inah melirik Khumaira, ia pun mengeleng. " Belum, Tuan. Sepertinya ia menunggu Anda! " Sahutnya.
Ya, memang Khumaira belum makan sama sekali. Ia ingin makan bersama Rendi sebab Khumaira tahu bahwa sejak pagi Rendi belum makan, maka Khumaira melakukan hal yang sama.
Rendi pun melirik Khumaira, dan menghela nafasnya. Rendi pun menghampiri Khumaira dan menggandeng tangannya kemudian mengajaknya ke ruang makan.
"Duduk! " Titah Rendi dingin.
Khumaira berusaha berontak, namun Rendi menatapnya tajam. "Duduk atau aku akan mencium mu? " Ancamnya.
Khumaira memilih duduk, dan menuruti keinginan Rendi. Rendi pun mengambil piring beserta lauk pauk yang lengkap, kemudian menyodorkannya pada Khumaira. " Makan!! " Perintahnya.
Khumaira menggelengkan kepalanya. " Tidak. Aku tidak mau makan! " Sahutnya sembari menyingkirkan makannya.
Rendi duduk, dan kembali menatap Khumaira tajam. " Makan sekarang. Apa kau ingin menyiksa bayimu yang tidak berdosa? Jika begitu, ayo kita lakukan aborsi! " Ancaman Rendi sukses membuat Khumaira bergidik ngeri, ia pun memakannya.
Rendi duduk di hadapan Khumaira sembari memperhatikan Khumaira yang sedang makan, Rendi memilih menunda kepergiannya demi menunggui Khumaira makan.
"Habiskan! " Titahnya lagi dengan tatapan tajamnya.
Khumaira merasa risih sebab Rendi menatapnya yang sedang makan, akhirnya Khumaira cepat-cepat menghabiskan makanannya. " Sudah Selasai. Apa kau puas? " Ucap Khumaira ketus.
Rendi tersenyum, dan menyugar rambut Khumaira. " Anak Pintar. Yaudah, aku pergi. Jangan lupa minum obat, dan vitaminnya! " Ucapnya sebelum pergi.
Rendi pun kembali pergi meninggalkan Khumaira.
Khumaira menatap kepergian Rendi selalu saja begitu, Rendi pergi dan datang sesuka hatinya namun sebisa mungkin Khumaira memakluminya.
Rendi telah sampai di markas miliknya, dan masuk ke dalamnya. Terlihat anak buah yang memberinya hormat, mereka semua begitu segan dengan Rendi.
"Bagaimana, apakah kau sudah mengetahui siapa di balik ini semua? " Tanya Rendi pada Brian, namun Brian menggeleng.
Rendi terlihat marah, dan mengepalkan tangannya. " Kurang ajar! Baiklah, akan aku tunjukan agar manusia itu mengakuinya. " Ucapnya seraya melangkah menuju ruang bawah tanah, dimana para tawanan di tahan.
Terlihat Pria tersebut yang sedang duduk sembari teringat sebuah tambang, tubuh yang penuh luka dan bibir yang mengeluarkan tanah akibat kebrutalan anak buah Rendi.
Terdengar derap langkah seseorang memasuki ruang bawah tanah, dan Pria tersebut meyakini bahwa orang tersebut adalah Rendi, dan benar saja yang di takutkan pun terjadi.
Rendi menghampirinya, dan mengitarinya sembari membawa sebuah senjata. "Apa kabarmu? Semoga harimu baik, dan menyenangkan! " Ucap Rendi dengan senyum penuh arti.
Pria tersebut tahu apa yang akan di lakukan oleh Rendi padanya, namun ia sudah siap dengan semua ini.
Rendi pun menodongkan senjatanya ke arah Pria tersebut, namun Rendi tahu Pria itu tidak akan takut mati maka dari Itu Rendi menggunakan cara lain untuk mengulik informasi dari Pria di hadapannya.
"Aku tahu kau tidak akan memberitahu ku, tapi apakah kau akan tetap bungkam jika Anak buah ku menghabisi seluruh keluarga mu? Ingat baik-baik, tidak sulit bagiku untuk mencari informasi tentang keluarga mu! " Ancamnya.
Sontak saja ancaman Rendi membuat Pria tersebut gemetar, ia tahu siapa Rendi. Memang tidak akan sulit bagi Rendi mencari informasi tentangnya.
Ia pun menatap Rendi, namun tak kunjung bergeming hingga Rendi pun memanggil Brain dan beberapa Anak buahnya. " Hey, dengar kalian semua. Cari informasi tentang keluarga Pria itu dan jika perlu bunuh saja mereka! " Perintah Rendi pada Anak buahnya.
Anak buahnya tersebut tersenyum. " Wah, kebetulan sudah lama kita tidak membantai orang! " Sahut Anak buah Rendi.
Pria tersebut terlihat menelan salivanya dengan susah payah, tubuhnya mulai gemetar. Bagaimana jika perkataan Rendi benar-benar ia lakukan? Dan bagaimana nasib keluarganya?
"Ayo kita beraksi! " Ujar Brian.
Saat Brian, dan kawannya hendak pergi, tiba-tiba Pria misterius itu bersuara. " Tunggu, jangan sakiti keluarga ku. Aku mohon! Aku akan memberitahu siapa orang yang telah menyuruhku. " Ucapnya.
Rendi pun tersenyum, padahal Rendi hanya menggertak Pria itu saja namun tidak di sangka bahwa Pria tersebut tajut dengan ancamannya. " Kenapa tidak dari tadi saja? Sekarang, katakan siapa? " Ujar Rendi penuh penekanan.
"Jhon. Ya, dialah orang yang telah menyuruhku untuk membunuhmu! Aku di bayar mahal jika berhasil membunuhmu, namun aku juga di ancam jika aku tertangkap dan menyebut namanya maka Keluargaku akan menjadi taruhannya, jadi aku mohon lindungi keluarga ku! " Tuturnya, terlihat kejujuran dari mata Pria tersebut.
__ADS_1
Rendi mengepalkan tangannya. " Kurang ajar kau, Jhon. Kau masih menyimpan dendam padaku hingga saat ini! " Ujarnya marah.
Rendi segera keluar meninggalkan ruang bawah tanah tersebut.