TITIPAN CINTA

TITIPAN CINTA
CHAPTER 29 #TERTEMBAKNYA RENDI


__ADS_3

Awalnya, Jhon kalah telak lewat serangan Rendi yang menghajarnya habis-habisan hingga Jhon pun jatuh tersungkur. Jika masalah otot maka Jhon akan kalah dengan Rendi.


"Sialan. Aku bisa mati jika begini! " Gumamnya.


Jhon pun berangsur-angsur mundur kala Rendi mulai mendekat ke arahnya.


"Pembunuh. Kau pembunuh Anak yang tak berdosa! " Ujar Rendi marah.


Rendi mulai mendekati Jhon, dan hampir saja Rendi menginjak Perut Jhon.


Dor... dor...!!!


Tembakan pun langsung mengenai dada Rendi hingga Rendi pun mengerang dan jatuh tersungkur.


"Ahhh!! " Erangnya. seraya memegangi dadanya.


"Pak!! " Teriak Brian yang menyaksikan penembakan itu terjadi.


Jhon memang selalu membawa Senjatanya kemana pun dia pergi, dan kini senjata itu berguna bahkan kini Jhon berhasil menembak Rendi.


Jhon pun bangkit, dan menghampiri Rendi. "Membusuklah kau di neraka, Rendi! " Ujarnya.


Akhirnya, Jhon bisa membalaskan dendam lamanya terhadap Rendi. Ia tak menyangka begitu mudah mengalahkan Rendi.


Rendi yang datang dengan tangan kosong, tentu saja akan kalah dengan Jhon yang memiliki senjata. Memang saat itu Rendi tak berniat mendatangi Jhon, namun kemalangan tak bisa di hindari oleh Rendi.


"Pak, Bangun!! " Teriak Brain seraya mengguncang tubuh Rendi.


Brain benar-benar cemas dengan keadaan Rendi saat ini. " Keparat!! " Teriaknya lantang.


Akhirnya Brain pun mengeluarkan senjatanya, kemudian menembak Jhon namun tembakannya meleset. Sekali lagi, Brain melemparkan gas air mata tepat ke arah Jhon sehingga Jhon kesulitan bernafas dan tak melihat apapun sebab terhalang oleh kabut asap.


"Brengsek!! " Teriaknya.


Setelah adu tembak selesai, Brain segera membawa Rendi menuju rumah sakit. Ia pun tak lupa mengabari Khumaira selaku Istrinya.

__ADS_1


"Hallo, Nona. Saya Brain asisten Pak Rendi, ingin mengabarkan bahw Rendi sedang di larikan ke rumah sakit!! " Ujarnya.


"Apa. Rumah sakit? Bagaimana ceritanya? " Sahut Khumaira di seberang sana.


"Ceritanya panjang. Segeralah datang!! " Ujarnya.


Kemudian Brain mematikan teleponnya, dan segera menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Rendi segera di larikan ke ruang UGD untuk di lakukan penanganan pertama untuk kemudian melakukan operasi pengangkatan peluru.


Tak berapa lama kemudian Khumaira pun tiba di rumah sakit, ia pun segera menghampiri Brain. " Bagaimana ini bisa terjadi? " Ujarnya.


Brain pun menceritakan apa yang terjadi dengan Rendi, tapi tidak semuanya ceritakan hanya adu tembak saja yang ia sampaikan.


Khumaira membulatkan matanya dengan sempurna sembari menutup mulutnya. " Apa. Lalu, bagaimana keadaan Mas Rendi? " Tanyanya khawatir.


"Sedang di tangani untuk selanjutnya melakukan operasi! " Sahutnya.


Khumaira pun duduk dengan tubuh yang lungsai serasa tak memiliki tulang, air matanya pun ikut luluh.


Kini, tubuh Rendi telah di bawa menuju ruang operasi untuk di lakukan pengangkatan peluru. Khumaira tak hentinya berdoa demi keselamatan Rendi.


Brain setia menunggu Rendi sembari berusaha menenangkan Khumaira. " Tenanglah, Rendi pasti baik-baik saja! " Ujarnya.


Khumaira menangguk, namun tak bisa di pungkiri bahwa dirinya pun takut kehilangan Rendi sama halnya dengan Renda.


Sementara Rendi, kini dirinya harus berjuang antara hidup dan mati. Ia berada di ruang operasi dan tengah di tangani oleh beberapa dokter bedah.


Tubuh yang lemah, dan peralatan yang di gunakan ke tubuh Rendi sungguh membuat Rendi kesakitan jika ia sadar namun beruntung, Kini Rendi tak sadarkan diri.


Khumaira terus berdoa, ia tak henti-hentinya berdoa hingga Brain yang menyaksikan betapa Khumaira begitu menyayangi Rendi terbaru. "Sungguh beruntung, Kau Rendi. " Gumamnya sembari tersenyum.


1 jam berlalu akhirnya Dokter telah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh Rendi, dan operasi pun di nyatakan berhasil.


"Bagaimana keadaan Suami saya, Dok? " Tanya Khumaira, sesaat Dokter keluar dari ruang operasi.

__ADS_1


"Operasi berjalan dengan lancar. Kita tunggu 1 jam lagi untuk mengetahui perkembangan pasien! " Ujarnya.


Khumaira pun bersujud syukur walau semua ini belum pasti, namun Khumaira yakin Rendi akan kembali lagi.


"Syukurlah. Terimakasih, tuhan. " Ucapnya.


Kini Rendi telah di pindahkan ke ruang ICU yang lebih steril, namun hingga detik ini Rendi belum juga sadarkan diri.


Beberapa hari berlalu, namun kondisi Rendi masih sama belum ada perkembangan. Hal tersebut membuat tenaga medis terus waspada dengan kemungkinan yang akan terjadi.


"Bu. Kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya. Jika saja dalam 24 jam mendatang pasien masih belum sadarkan diri, maka kami harus mencabut seluruh alat medis. " Tutur sang Dokter.


Sontak saja hal tersebut membuat Khumaira begitu takut akan kehilangan Rendi. Membayangkannya membuat jantung Khumaira seolah berhenti berdetak. Haruskah, Khumaira merasakan hal yang sama saat di tinggal oleh Renda?


Khumaira pun mencoba masuk ke dalam ruang ICU setelah mendapatkan izin rasa rumah sakit. " Anda boleh menemui pasien, tapi hanya satu orang tidak lebih! " Ujar Dokter.


Khumaira mengangguk, dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia pun menghampiri Rendi yang tengah terbaring lemah tak berdaya. "Mas. Apakah kau akan meninggalkan ku sendiri? Apakah kau tidak ingin bersamaku lagi? " Ucapnya.


Khumaira menceritakan segalanya pada Rendi, semuanya termasuk perasaan. Khumaira yang mulai mencintai Rendi. Bahkan kini usia kehamilan Khumaira sudah menginjak bulan ke 4 tinggal menunggu beberapa bulan lagi agar mereka bisa bertemu dengan jabang bayinya.


"Aku mencintaimu. Kau harus kuat dan lekaslah sadar, Mas. " Bisik Khumaira.


Khumaira tersenyum, kala menyadari bahwa dirinya seperti orang bodoh yang seakan-akan berbicara seorang diri tanpa ada yang menyahut, namun setidaknya Rendi bisa mendengar hal itu.


Jika di tanya bagaimana perasaan Khumaira, tentunya saat ini Khumaira benar-benar hancur seperti raga tanpa nyawa.


"Aku mencintaimu tanpa sebuah syarat. Awalnya aku heran dengan perasaan ku sendiri, namun seiring berjalannya waktu akhirnya aku sadar bahwa ini adalah sebuah cinta yang sama yang dulu pernah aku memiliki pada Renda namun cinta ku padamu lebih besar dari cintaku pada Renda dulu! " Ucapnya.


Rendi bisa mendengar apapun yang di katakan oleh Khumaira, namun ia tak mampu membuka matanya sama sekali. Indra pendengarannya berjalan dan menangkap suara Khumaira. Ingin rasanya Rendi terbangun dan memeluk Khumaira, namun apalah daya.


Seorang Suster nampak masuk ke ruang ICU. " Maaf, Bu. Waktu kunjungan sudah habis. Biarkan pasien istirahat! " Ujarnya.


Khumaira pun mengangguk mengerti, ia pun segera keluar dari ruang ICU. Namun, saat hendak pergi tiba-tiba jemarinya di pegang oleh Rendi seakan-akan Rendi memintanya untuk tidak pergi.


Namun ia pun segera pergi dan melepaskan jemarinya.

__ADS_1


Suster pun kembali memeriksa keadaan Rendi, namun perkembangannya masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Namun tenaga medis tak hentinya memberikan yang terbaik demi Rendi.


Suster pun lekas pergi dari ruang ICU, dan membiarkan Rendi beristirahat.


__ADS_2