
Rendi, Brain dan Anak buahnya telah sampai di markas besar milik Jhon. Mereka semua terlihat turun dari mobil yang mereka tumpangi.
Terlihat para anak buah Jhon memasang kuda-kuda, dan terlihat berhati-hati.
Salah satu di antara mereka segera memberitahu Gio.
"Gawat, gawat, Pak! " Teriaknya.
Gio mengernyitkan keningnya. " Gawat. Gawat bagaimana? Bicaralah yang jelas! " Titahnya.
Kemudian Gerry menghela nafasnya. " Gawat. Diluar ada Rendi dan seluruh anak buahnya. Mereka mengepung kita! " Jelasnya.
Gio pun membulatkan matanya. " Apa. Rendi dan anak buahnya mengepung kita! " Ucapnya.
Gerry mengangguk. " Bagaimana ini? Sementara Pak Jhon tidak berada di sini? " Ujarnya.
Gio pun bingung apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi Rendi, namun ia pun memilih untuk menghadapinya secara gentleman.
"Oke, Gerry. Sekarang kita hadapi mereka! "
Gerry dan Gio pun segera menghadapi Rendi.
Di balik kerumunan anak buahnya Gio, dan Gerry keluar.
"Hey, Rendi! Tunjukan wajahmu!! " Teriak Gio.
Gio sudah memegang senjata dan tangannya mengepal sempurna.
Anak buah Rendi pun terlihat menyingkir kala Rendi melangkah ke depan untuk menghadapi Gio dan Gerry.
"Aku disini! Mana Jhon? " Sahutnya.
Sejak tadi Rendi tak melihat keberadaan Jhon.
"Persetan! " Teriak Gio.
Rendi tersenyum miring. " Oh, kau menantangku? Seraaaaang!!! " Teriaknya.
Seluruh anak buah Rendi pun menyerang begitu pula seluruh anak buah Jhon, kini keduanya saling berperang satu sama lain.
"Serang, habisi mereka bila perlu hancurkan markas ini!! " Perintahnya, kemudian Rendi hanya menjadi penonton.
Gio melawan Brain, sementara Gerry melawan Alex. Mereka saling bertarung dan tak jarang dari pihak Jhon yang berguguran sebab mereka menggunakan tangan kosong.
"Kurang ajar! " Umpat Gio.
Brain pun mengeluarkan senjatanya dan mulai menembaki anak buah Jhon.
__ADS_1
Beberapa anak buah Jhon jatuh tersungkur oleh tembakan Brain, saat Brain ingin menembak Gio tiba-tiba pelurunya habis dan Brain pun sempat khawatir, sebab kini Gio tengah memegang senjata dan mengarahkannya pada Brain.
Gio tersenyum miring. " Tamatlah riwayat mu, Brain! " Ujarnya.
Saat Gio membidik dan hendak melepaskan pelurunya, Rendi telah lebih dulu menembak lengannya kemudian pistol itu pun terjatuh.
"Tidak semudah itu! " Ucap Rendi.
Kini lengan Gio mengeluarkan darah, dan lengannya begitu ngilu hingga sulit bergerak dalam situasi seperti ini. Ini menjadi kesempatan bagi Brain, dengan cepat Brain menghajar, memukul dan menendangnya hingga tersungkur dan darah segar pun mulai mengalir dari beberapa luka.
"Sekarang riwayat mu yang harus tamat, Gio! " Ujarnya.
Gerry melihat Gio yang benar-benar tak berdaya, ia terlihat begitu lemah. Ingin membantu namun Gerry juga benar-benar dalam kesulitan.
Brain benar-benar membuat Gio tak berdaya, dan membuatnya tak sadarkan diri.
"Gio!!! " Teriak Gerry.
Gerry pun sama halnya dengan Gio, ia pun tumbang di tanah dan betapa sakitnya luka yang dia rasakan.
Melihat anak buah Jhon yang sudah tersungkur Rendi pun menghentikan anak buahnya. "Sudah hentikan!! " Ujarnya.
Sontak saja mereka pun menghentikan aksinya, dan mundur dari mereka semua.
Rendi pun berbalik dan di ikuti oleh anak buahnya, namun sebelum Rendi benar-benar pergi ia pun berbalik arah.
Brain mengangguk, dan melemparkan beberapa granat dan juga membakar markas milik Jhon.
Gerry dan yang lainnya menyaksikan bagaimana markas mereka terbakar, dan meledak dengan cukup hebat.
"Sialan kalian semua!! " Batinnya.
Setelah melakukan ini semua Rendi pun pergi meninggalkan tempat ini, dan hatinya bisa puas bisa membalas Jhon.
"Itulah akibatnya jika bermain-main dengan ku! " Ucapnya.
Rendi tersenyum penuh kemenangan, ia pun benar-benar puas telah melakukan ini semua tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Sementara Anak buah Jhon banyak yang menjadi korban, bahkan mereka tak lagi bernyawa sebab tembakan dari Brain.
Gerry merangkak untuk mengecek kondisi Gio.
"Syukurlah. Kau masih hidup! " Gumamnya, kala memeriksa keadaan Gio.
Namun Gerry bingung apa yang harus ia lakukan saat ini? Saat Gerry benar-benar menyerah dengan ini semua tiba-tiba Jhon datang. Alangkah terkejutnyanya Jhon kala melihat markasnya telah porak poranda.
"Siapa pelakunya? " Ujarnya seraya menyugar rambutnya.
__ADS_1
Jhon benar-benar marah bukan hanya markasnya yang hancur, Anak buah dan juga asetnya juga ikut hancur.
Jhon memeriksa satu persatu anak buahnya, namun kondisi mereka begitu mengenaskan ada yang terkena luka bakar, ada yang tertembak dan masih banyak lagi
Kemudian Jhon mencari-cari seseorang hingga akhirnya ia pun menemukan orang yang dia cari.
"Gio!! " Teriaknya.
Jhon segera menghampiri Gio dan bersimpuh di hadapannya, kemudian memeriksa detak jantung dan nadinya.
"Dia masih hidup! " Gegas Jhon menelpon seseorang untuk membawa Gio ke rumah sakit.
Kemudian Jhon melihat Gerry yang masih sadar namun lukanya juga cukup parah.
"Gerry. Siapa pelakunya? " Tanyanya.
Sembari menahan rasa perih, dan sakit Gerry mencoba berkomunikasi dengan Jhon. "Re-rendi... " Ucapnya terbata.
Mendengar hal tersebut Jhon pun membulatkan matanya. " Apa. Rendi? Awas kau!! " Ujarnya.
Jhon pun bangkit, dan mengepalkan kedua tangannya. Nafas Jhon yang kian memburu seiring gigi yang terus gemertak menahan amarah yang luar biasa. Rendi bukan hanya merugikannya, namun ia juga telah menghancurkan hidupnya, belum hilang rasa bencinya kini Rendi telah menorehkan luka yang luar biasa.
"Rendiiii!!!! " Pekiknya.
Dendam di hati Jhon kian membara dan kemarahannya terhadap Rendi telah bertambah, Jhoj berjanji akan menghancurkan Rendi. Ia akan bergerak dengan cepat.
"Akan aku hancurkan hidupmu, Rendi! " Ujarnya penuh amarah.
Jhon, hanya mampu menyaksikan bagaimana Markas yang telah di bangun oleh Steven hancur tak tersisa. Hanya puing-puing yang tersisa, Jhon pun luruh dan menggenggam bekas puing-puing tersebut. Ada rasa marah, kecewa dan benci. Kenangannya bersama Steven telah lenyap gara-gara perbuatan Rendi.
"Aahhhhkkkkk!!!! " Pekiknya lagi.
Bangunan yang selalu menjadi tempatnya mengeluarkan beban fikirannya, kini dengan sekejap porak poranda menjadi abu tak tersisa, tatapan Jhon pun terlihat nanar.
Sorot matanya yang tajam menandakan ada sebuah kemarahan yang bergitu besar pada Rendi.
Jhon tak tahu kenapa Rendi melakukan ini semua padanya? Padahal Jhon sama sekali tidak melakukan apapun padanya. Sungguh, perbuatan Rendi membuat Jhon rugi besar dan anak buahnya harus tewas.
"Akan aku bunuh kau dengan tanganku, Rendi Wiguna! " Ucapnya.
Jhon segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Gio, Gerry, dan beberapa anak buahnya yang masih hidup.
"Semoga kalian baik-baik saja! " Gumamnya.
Saat kejadian itu Jhon tidak berada di tempatnya, ia sedang mendapatkan sebuah Proyek diluar.
Namun setelah Jhon kembali, seluruh markas yang ia jaga dengan suka cita akhirnya harus luruh lantak oleh Rendi dan anak Buahnya. sungguh, Jhon benar-benar marah pada Rendi.
__ADS_1
"Akan aku curi apa yang sekarang menjadi milikmu, Rendi. " Janjinya.