
Rendi benar-benar dibuat marah dengan kabar bahwa Nuri telah melarikan diri. Kenapa Rendi tak menghabisinya saja dulu? Jika Nuri tak di temukan, maka Nuri akan menjadi Boomerang dalam hidupnya.
Rendi pun segera pergi ke markasnya, ia pun menghampiri Oxy dan Rudi selaku orang yang telah di percaya oleh Rendi untuk menjaga Nuri.
Wajah Rendi yang memerah, bak kepiting rebus. Rendi menatap tajam Oxy, dan Gerry silih berganti. "Bodoh kalian Berdua! Kenapa wanita itu bisa kabur? " Ujar Rendi marah.
Oxy, maupum Rudi tak berani menatap wajah Rendi bahkan mereka berdua sama sekali tak menjawab ucapan Rendi, hal tersebut semakin membuat Rendi naik pitam.
Kemudian Rendi menampar pipi keduanya dengan sangat keras. " Apa begini cara kalian bekerja? Hah! Apa kalian berdua sudah bosan hidup?! " Ujarnya dengan intonasi tinggi.
Rudi, dan Oxy menggeleng namun mereka sama sekali tak bergeming. Mereka takut dengan kemarahan Rendi.
Rendi menatap Oxy dengan sorot mata tajam. " Oxy! " Panggilnya.
Dirasanya namanya di panggil, Oxy pun mengadahkan wajahnya dan menatap takut ke arah Rendi. " I... Iya, Pak! " Sahutnya dengan terbata.
"Kau masih ingat peringatan ku tempo lalu? " Tanya Rendi.
Oxy mengangguk. " Jika wanita itu kabur, maka kepala kami akan di penggal! " Ucapnya mengulangi ucapan Rendi tempo lalu.
Mendengar ucapan Oxy pun Rudi memandang Oxy sembari menggeleng dan mencari jawaban atas ucapannya, namun Oxy sama sekali tak memperdulikannya.
"Bagus! Kau masih ingat rupanya. Tapi kenapa kau bisa lalai, dan membiarkan wanita itu kabur? " Ujar Rendi masih tak habis fikir.
Oxy pun meminta maaf, dan menceritakan segalanya pada Rendi saat Nuri merayunya, dan saat Rugi mengaduh kesakitan.
"Saya suduh melarang Rudi untuk tidak melepaskannya, tapi saat itu saya menerima panggilan dari Ibu saya dan saya tidak tahu selanjutnya. " Sahutnya
Kini, Rendi menatap tajam ke arah Rudi. " Benar, apa yang dikatakan oleh Oxy? " Tanya Rendi penuh penekanan.
Rudi mengangguk, dan membenarkan ucapan Oxy. " Saya tidak tega melihatnya yang kesakitan! " Sahut Rudi.
Mendengar jawaban Rudi, akhirnya Rendi kembali menampar pipi Rudi dengan keras hingga Rudi pun tersungkur. "Bangun!! " Ujar Rendi.
Rudi pun bangun, namun masih menundukan wajahnya.
Rendi masih menatapnya berang. " Apa begini caramu bekerja, Rudi. Iya? Jika kau bekerja menggunakan hati, maka bekerjalah sebagai seperti wanita! Kau harus ingat, kita ini adalah Mafia dan dalam dunia Mafia tidak menggunakan hati, paham! " Bentak Rendi.
"Biar aku tunjukan bagaimana caranya bekerja dengan ku! " Lanjutnya.
Kini Rendi memukuli wajah Rudi dengan tangannya hingga babak belur, darah segar mulai mengalir dari bekas tinjuan yang Rendi lakukan.
Oxy tak mampu menyaksikannya Rudi yang di hajar habis-habisan oleh Rendi hingga ia pun memalingkan wajahnya agar tak melihat penganiyaan ini.
__ADS_1
"Kau harus tahu ini, Rudi. Beginilah cara Mafia bekerja dengan otot, dan otak bukan Hati!! " Imbuhnya.
Rudi yang tersungkur tak berdaya pun tak bergeming, dan tak melawan serangan Rendi.
Belum puas dengan ini semua Rendi pun menendang Rudi, hingga Rudi mengaduh kesakitan bahkan Rudi nyaris saja tewas di tangan Rendi jika saja Rendi tak menghentikan aksinya.
"Oxy. Bawa dia ke rumah sakit!! " Titahnya, kala melihat Rudi yang sudah tak sadarkan diri dan tubuh penuh luka.
Oxy pun mengangguk, dan menuruti perintah Rendi untuk segera membawa Rudi ke rumah sakit sebelum terlambat.
Dengan amarah yang masih memuncak Rendi pun melajukan mobilnya me suatu tempat. Rasanya Rendi ingin menenangkan diri, dan berkeluh kesah.
Rendi pun menghentikan mobilnya di TPU, sepertinya Rendi akan mengunjungi makam seseorang namun entah makan siapa?
Rendi melangkahkan kakinya menelusuri makam yang berada di sana satu persatu, hingga akhirnya ia menemukan makam yang dia cari.
Di batu nisan tertulis dengan jelas nama Renda beserta tanggal lahir, dan tanggal wafatnya.
Rendi bersimpuh di makam Renda, ia pun tak lupa berdoa dan menyiram makamnya dengan air tak lupa Rendi pun menaburkan bunga mawar di atas makam Renda.
"Ren. Aku datang!! " Ucapnya.
Rendi pun menceritakan segala yang di rasakannya selama ini, segalanya tanpa terkecuali.
Selesai mengutarakan perasaannya, Rendi pun tersenyum sendiri. Rendi merasa seperti orang gila yang berbicara sendiri tanpa ada yang menyahut.
Rendi pun sempat meminta maaf atas kejadian yang menimpa Renda kala itu.
Setalah puas, Rendi pun bergegas pergi meninggalkan makam Renda tanpa Rendi ketahui bahwa seseorang secara diam-diam telah merekam seluruh percakapan Rendi selama di makam ini.
1 Jam berlalu, kini Rendi telah sampai di rumahnya. Khumaira yang melihat kepulangan Rendi pun menatapnya heran sebab melihat keadaan Rendi yang terlihat acak-acakan, dan baju yang Rendi kenakan juga Kotor.
"Kau habis dari mana, Mas? " Tanya Khumaira.
Rendi melirik Khumaira sekilas. " Aku habis dari makam Renda! " Sahutnya.
"Kenapa kau tak mengajak-ku? " Ujar Khumaira.
Rendi menghela nafasnya, dan menatap Khumaira. "Nanti, ya, lain kali. Aku lelah ingin mandi dan beristirahat! " Ucapnya sembari menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Khumaira melihat gelagat aneh dari Rendi, namun ia tak ingin mengganggu Rendi dengan pertanyaan-pertanyaan darinya.
Khumaira pun berinisiatif membuatkan Rendi secangkir kopi agar moodnya kembali baik.
__ADS_1
Khumaira datang ke kamarnya, dan Kebetulan Rendi sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
"Aku buatkan Kopi. Minumlah! " Titahnya seraya menyodorkan secangkir kopi yang masih mengepul.
Rendi pun menerimanya, dan menyesapnya secara perlahan. " Terimakasih! " Ucapnya.
Khumaira menganguk, dan duduk di samping Rendi. Sebenarnya banyak hal yang ingin Khumaira tanyakan mulai dari keseharian Rendi, dan kemana saja ia pergi selama ini namun Khumaira melihat raut wajah Rendi yang sedang tidak baik-baik saja sehingga Khumaira tak ingin merusak mood Rendi.
Rendi menyadari tatapan Khumaira, ia pun meletakan cangkir kopinya di atas nakas. " Ada apa? " Tanyanya.
Khumaira menggeleng. " Tidak ada! " Sahutnya berbohong.
Rendi tahu ada suatu hal yang ingin Khumaira katakan, namun Khumaira terus mengelaknya. " Kau sudah makan? Sudah minum susu dan vitaminnya? " Rendi memberondong Khumaira dengan pertanyaan.
Khumaira mengangguk, dan tersenyum.
"Sekarang kau tidurlah! " Titah Rendi.
"Tapi... "
Belum sempat Khumaira berucap tiba-tiba Rendi mencium bibirnya sekilas, kemudian tersenyum geli. "Mau tidur atau aku cium? " Ujarnya.
Bukannya patuh, Khumaira malah menggeleng dan tak beranjak dari posisinya sehingga Rendi beberapa kali menghela nafasnya. " Kau kenapa, Khumaira? Apa tempat tidur mu kurang nyaman? Biar besok aku ganti! " Tanyanya memastikan.
Khumaira menggeleng. " Bukan, bukan. Tapi... " Khumaira menggantung ucapannya.
"Tapi... Apa? " Tanya Rendi penasaran.
Sebenernya Khumaira ingin tidur bersama dengan Rendi, entah mengapa Khumaira begitu menginginkannya? Mungkin ini efek dari kehamilannya sehingga Khumaira ingin begitu di manja.
Rendi menatap Khumaira sembari menunggu jawaban atas pertanyaannya, tapi Khumaira malah melamun.
"Apa kau ingin tidur di temani? " Tanya Rendi.
Khumaira menganguk dan terlihat malu-malu, padahal Rendi hanya asal menebaknya saja.
Rendi mengulas senyum, sembari menggandeng tangan Khumaira. " Baiklah. Aku akan menemanimu tidur! " Ucapnya seraya bangkit dan menuju ranjang.
Khumaira merebahkan dirinya di tempat tidur, dan Rendi ikut tidur di samping Khumaira.
Setelah Khumaira tertidur Rendi pun bangkit, dan sempat mencium kening Khumaira sekilas. " Selamat tidur, dan bermimpi indah! " Bisiknya.
Setelah mengatakan itu Rendi pun turun dari ranjang, dan kembali merebahkan Dirinya di atas sofa kemudian ia tertidur dengan lelapnya.
__ADS_1
Sepertinya saat ini Rendi, dan Khumaira tengah mulai merasakan cinta di antara keduanya, bahkan benih cinta itu semakin hari semakin tumbuh dan Rendi yang sekarang bukan lagi Rendi yang dulu arogan, dingin dan kaku. Kini, Rendi telah menjelma layaknya malaikat di mata Khumaira.