
Vian pun langsung membawa khanza ke rumah sakit, saat di pertengahan jalan, khanza pun tersadar dari pingsan nya.
“Gue mau dibawa kemana ?” Ucap khanza memegang kepalanya.
“Mau ke rumah sakit” ucap vian langsung menatap khanza yang sedang meringis kesakitan.
“Putar balik, gue gak suka rumah sakit” ucap khanza dengan tegas.
“Tapi za, luka lo harus di obatin” ucap vian dengan nada lembut, entah kenapa khanza merasakan kehangatan saat berada di samping vian.
“Gue gak mau ke rumah sakit” ucap khanza dengan menekankan kata-katanya.
“Baiklah” ucap vian dan langsung putar balik, vian membawanya ke mansion keluarga Axelino.
15 menit kemudian vian pun sampai di kediaman Axelino, gerbang yang menjulang tinggi menutup mansion yang indah itu.
“Ini mansion siapa ?” Ucap khanza melihat dari jendala mobil.
“Ini mansion gue” ucap vian dan memasukan mobilnya ke dalam. Khanza pun hanya pasrah karena khanza tidak mau pulang ke mansion Abraham.
Khanza dan vian pun masuk ke dalam mansion, di ruang keluarga terdapat ayah dan bunda nya, mereka sedang menonton tv.
“Malam yah bun” ucap vian sopan.
“Sayang, acaranya udah kelar ?” Tanya bunda Mirna pada vian, mirna pun kaget ketika melihat khanza yang berada di belakang vian.
“Dia siapa yan ?” Ucap ayah William ayah vian.
“Ah iyah vian sampai lupa, kenalin ini khanza” ucap vian mendudukan dirinya di kursi dekat ayahnya.
“Sini sayang duduk” ucap mirna pada khanza, William yang melihat kondisi khanza pun merasa penasaran.
“Kenapa muka kamu lebam begitu nak ? Bahkan keningmu ada bekas darah” ucap William memperhatikan khanza. Khanza yang di tanya seperti itu pun bingung mau menjawab apa.
“Saya habis jatuh pak” ucap khanza sopan.
“Ayo bunda antar ganti baju, bunda punya banyak baju seukuran sama kamu, mungkin muat pas di pakai” ucap mirna lembut pada khanza, khanza pun menurut mengikuti mirna di belakangnya.
Khanza dan mirna pun pergi ke kamar mirna untuk membersihkan tubuh khanza dan memberikan baju untuk di pakai khanza. Sementara itu di ruang keluarga, vian di introgasi oleh ayahnya.
“Ceritakan, apa yang terjadi pada gadis itu, lebam itu bukan akibat jatuh tetapi bekas tamparan” ucap William pada vian.
“Vian juga kurang tau yah, tadi sehabis dari acara ulang tahun, vian nganterin khanza ke mansion nya, dan vian langsung pulang, tetapi pas di pertengahan jalan, vian ngerasa tidak enak dan khawatir sama khanza, makanya vian putar balik lagi buat ke mansionnya” ucap vian pada William.
“Terus ?” Ucap William dengan wajah penasaran.
__ADS_1
“Terus pas vian sampai di gerbang, pas banget khanza keluar dari gerbang, dengan kondisi kening berdarah, dan baju basah tapi baju nya hangat yah, apa mungkin dia di siram dengan air hangat ?” Ucap vian masih memikirkan khanza.
“Menurut ayah, khanza memang di siksa oleh orang tuanya, tidak mungkin jika dia tidak di siksa, dia keluar dari mansion nya” ucap William memperkirakan kejadian yang menimpa khanza.
“Tapi yah, vian pernah denger sama siswi di sekolah ku, kalo khanza memang sering di pukul oleh Abraham” ucap vian tidak sengaja menyebutkan nama Abraham.
“Abraham ? Yang istri nya meninggal itu ?” Ucap William kaget.
“Iyah yah yang istri nya meninggal” ucap vian membenarkan.
“Untuk sekarang, khanza boleh tinggal disini, ayah tau jika Abraham itu punya sifat temperamental yang tinggi, urusan kantor pun dia tidak becus” ucap William dengan nada geram.
“Apa boleh yah khanza tinggal disini ?” Ucap vian kegirangan.
“Lah kamu ngapain girang begitu ? Jangan-jangan kamu suka sama gadis itu ?” Ucap William menggoda vian, vian pun salting.
Di kamar mirna, khanza duduk di sofa dengan tenang, melihat mirna yang sedang mengobrak-abrik lemari nya.
“Nah ini ketemu” ucap mirna membawa pakaian nya.
“Kamu ke kamar mandi dulu sayang, nanti di pakai yah bajunya.
“Iyah tante” ucap khanza dengan sopan, walaupun khanza seorang mafia berdarah dingin, dia masih bisa menghormati orang yang lebih tua darinya, dalam kutip, orang yang baik menurut khanza.
“No no no, jangan panggil tante, panggil bunda ajah, sekarang kamu jadi anak perempuan bunda satu-satunya.
“Bunda cuman punya anak satu, yaitu temen mu si vian yang bandel itu” ucap mirna dengan nada mengejek anak nya.
“Bandel gimana bun ?” Ucap khanza yang tertarik dengan kebandelan vian.
“Vian tuh udah Gede masih pengen tidur sama bunda” ucap mirna dengan girang, khanza pun tertawa dengan keras.
“Yan, mereka lagi ngapain ? Kenapa ketawanya keras begitu ?” Ucap William penasaran apa yang mirna dan khanza lakukan.
“Vian juga gak tau yah” ucap vian melihat ke arah kamar bunda nya.
“Teruslah tertawa sepeti itu za, gue gak mau lo tersiksa lagi” batin vian menutup matanya, William yang melihat itu merasa bingung.
“Yaudah bunda, khanza ke kamar mandi dulu” ucap khanza dan langsung masuk ke kamar mandi.
Khanza membuka bajunya perlahan, dia melihat ke kaca, tubuh yang di penuhi lepuhan akibat di siram air panas.
“Sialan Abraham, gue akan balas dendam” ucap khanza yang masih melihat dirinya di depan kaca.
20 menit kemudian khanza pun selesai mandi dan menggunakan pakaian yang di berikan oleh mirna.
__ADS_1
Khanza pun keluar dari kamar mandi, dan berjalan menuju mirna, mirna terkejut melihat khanza yang sangat cantik walaupun wajah khanza ada bekas lebam, tidak menutup kemungkinan untuk terlihat sangat cantik.
“Ya ampun sayang, kamu cantik banget” ucap mirna memutar tubuh khanza, saat melihat punggung khanza, mirna pun di buat terkejut.
“Ya ampun ini kamu kenapa ? Kenapa bisa melepuh gini ?” Ucap mirna dengan nada terkejutnya.
“Bunda, apa khanza boleh cerita ?” Ucap khanza dengan wajah tenang nya.
“Silahkan sayang, kamu sekarang itu anak bunda, jangan merasa sungkan untuk bercerita” ucap mirna membelai rambut khanza. Khanza pun merasa terenyuh mendengar perkataan mirna yang menurutnya seperti bunda nya sendiri.
“Ah gak jadi deh bunda, ini urusan khanza, khanza gak mau menyeret orang lain untuk berada di masalah khanza” ucap khanza dengan tenang dan membenarkan rambutnya.
“Yaudah gak apa-apa sayang, nanti jika kamu ingin bercerita, langsung ke bunda ajah, bunda siap jadi pendengar yang baik buat kamu
“Yaudah kita ke bawah yuk” ucap mirna mengajak khanza dan menggandeng tangan khanza.
“Aduhhh” ucap khanza mengaduh ketika tangan nya di genggam oleh mirna, mirna pun kaget mendengar khanza mengaduh.
“Ya ampun kenapa sayang ?” Ucap mirna melihat telapak tangan khanza dengan luka terbuka.
“Kena pisau bun” ucap khanza dengan wajah kembali normal.
“Kita kebawah” ucap mirna menggandeng lengan khanza dan keluar dari kamar.
“Nah tuh mereka yan, lama banget” ucap William yang menunggu istrinya dan khanza.
Vian pun melihat ke arah khanza tanpa berkedip sekali pun, dia terpesona melihat kecantikan khanza yang turun dari tangga dengan berjalan sangat anggun.
“Vian kedip nak kedip” ucap William meledek vian yang masih menatap khanza.
“Apasih ayah” ucap vian langsung mengalihkan pandangan nya.
“Vian ambilkan kotak obat” ucap mirna menyuruh vian.
“Buat apa bun ?” Ucap vian dengan bingung.
“Kamu gak lihat ini ? Ini ? Dan ini” ucap mirna menunjuk kening, telapak tangan, dan wajah khanza.
“Ya ampun vian sampe lupa bun” ucap vian langsung bergegas mengambil kotak obat.
“Lihat lah bun anakmu sekarang sudah mengerti gadis” ucap William menggelengkan kepalanya.
YUHUUUU SELAMAT PAGI GUYS, KARENA KALIAN NYURUH GUE CRAZY UP, SEBISA MUNGKIN GUE AKAN CRAZY UP
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE NYA YAH, BIAR GUE SEMANGAT UP NYA.