Transmigrasi Mafia

Transmigrasi Mafia
Makan Malam


__ADS_3

Mirna pun hanya tersenyum mendengar pernyataan suaminya.


“Bunda gak mau yah jika vian deket-deket sama khanza” ucap mirna sengaja mengeraskan suaranya, vian yang mendengar itu pun langsung berlari menghampiri bunda nya.


“Lah kenapa bisa gitu bunda ?” Ucap vian memberikan kotak obat nya.


“Khanza udah jadi anak bunda, harusnya kalian saudara dong” ucap mirna dengan tersenyum sinis.


“Apaan sih bunda” ucap vian mengerucutkan bibirnya.


“Lihat kan khanza, vian kaya anak kecil” ucap mirna pada khanza yang sedari tadi melihat vian yang sedang di isengin oleh keluarganya.


“Udah bun, liat dia kaya bebek gitu” ucap khanza ikutan meledek vian.


“Khanza” panggil vian dengan tegas, khanza hanya memutar bola matanya malas.


“Udah sini sayang, bunda obatin dulu” ucap mirna mengolesi obat salep pada kening, wajah, dan telapak tangan khanza.


“Oh iyah sayang, kamu hadap depan, bunda mau obatin punggung kamu” ucap mirna membalikkan tubuh khanza dengan hati-hati.


“Sebentar bun, yan lo hadap sana, gue gak mau ya punggung gue diliat sama elo” ucap khanza dengan ketus. Vian pun menuruti perkataan khanza.


“Dasar curut, giliran disuruh sama khanza ajah langsung nurut” ucap William dengan sinis.


“Ayah hadap sana tidak nak ?” Ucap William pada khanza.


“Harus dong” ucap khanza dengan tegas.


“Hahaha rasain kan ayah juga suruh ngadep sini hahaha” ucap vian dengan tertawa keras.


Mirna pun mengolesi punggung khanza dengan hati-hati, khanza menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


“Sayang apa ini sakit ? Kalo sakit, bicaralah biar bunda lebih hati-hati lagi” ucap mirna yang masih mengolesinya.


“Tidak sakit bunda, lanjutin ajah” ucap khanza mengambil nafas dalam-dalam.


“Oh iyah bun, kok khanza make dress sih ? Bukanya ini udah malam ?” Ucap vian yang masih menghadap ke pintu.

__ADS_1


“Bunda gak punya kaos yan, kalo gitu kasih bajumu buat dia tidur” ucap mirna dengan enteng, vian pun mengiyakan.


“Nah sayang udah selesai” ucap mirna membereskan obat-obatan nya.


“Ini sudah boleh balik badan tidak ?” Ucap William, mirna hanya tersenyum dengan perkataan suaminya.


“Boleh dong ayah” ucap mirna.


Saat semuanya terdiam, perut khanza pun berbunyi tandanya khanza sangat lapar, karena dia hanya makan steak saja saat belanja baju di butik.


“Bun khanza lapar” ucap vian dengan tersenyum sinis.


“Ya ampun, bentar sayang, bibiiiiii tolong siapkan makanan di meja makan, untuk makan malam” ucap mirna teriak pada pembantunya.


“Ya ampun bunda, kuping vian bentar lagi copot ini” ucap vian mengusap-usap telinganya.


“Biarin, yaudah ayo kita ke meja makan, sepertinya sudah di siapkan” ucap mirna pada semuanya.


Khanza pun duduk di samping mirna, semuanya makan malam dengan khidmat, hanya ada suara dentingan sendok, garpu dan piring.


“Tapi bun, khanza gak mau repotin kalian, khanza bisa sewa apartemen kok” ucap khanza dengan tenang.


“Udah gak apa-apa nak, kamu tinggal disini juga gak apa-apa, kami malah senang mendapat anggota baru” ucap William menatap khanza.


“Tapi-iii” ucap khanza yang hendak menolak tetapi sudah di putus oleh vian.


“Udah disini ajah” ucap vian, dan khanza pun hanya menurut.


“Giliran vian yang ngajak, malah mau” ucap William, dan mendapatkan tatapan sinis dari vian.


“Namanya juga anak muda yah” ucap mirna tersenyum pada vian.


“Ohh iyah besok libur kan Hari Sabtu ?” Ucap William.


“Iyah ayah, emang kenapa ?” Ucap vian.


“Besok ayah ada pertemuan sama klien, kalian harus ikut” ucap William.

__ADS_1


“Khanza kamu juga ikut besok” ucap William pada khanza.


“Iyah ayah” ucap khanza mengiyakan, vian dan khanza saling beradu pandang.


Mereka pun selesai makan dan langsung membersihkan dirinya.


“Khanza kamu tidur di kamar tamu yah, apa mau di kamar vian ? Biar vian yang tidur sama bunda” ucap mirna menggoda vian.


“Apasih bunda, bisa-bisanya tidur sama bunda, ya enggak lah” ucap vian ngeyel.


“Halah kemarin ajah siapa yang udah tidur sama bunda ? Hmm” ucap mirna mencolek dagu vian, vian pun hanya acuh.


“Khanza tidur di kamar tamu ajah bun, biar gak naik turun tangga” ucap khanza.


“Oh iyah za, bentar gue ambil baju buat lo dulu” ucap vian, vian pun langsung bergegas menuju kamarnya.


Vian bingung saat membuka lemarinya, dia mengobrak-abrik seluruh isi lemarinya, dia mencari baju yang pas untuk khanza.


“Nah sepertinya ini cocok buat dia” ucap vian, dan bergegas turun ke bawah.


“Nih” ucap vian memberikan bajunya, khanza menerimanya.


“Kalo gitu khanza ke kamar dulu bunda, ayah” ucap khanza pada kedua orang tua vian.


“Kok ke gue gak pamit za ?” Ucap vian tidak terima.


“Najis Dih” ucap khanza ketus, dan pergi meninggalkan mereka.


“Sabar yah nak” ucap William menepuk bahu vian dengan wajah mengiba.


“Hahaha kasian anak bunda di cueki, semangat dapetin khanza nya” ucap mirna memberi semangat pada vian,dan pergi meninggalkan vian yang masih kesal.


Khanza pun memasuki kamarnya, dia mangganti bajunya yang di berika oleh vian, setelah mengganti baju, khanza pun merebahkan dirinya di ranjang queen size.


“Besok gue harus ke markas” ucap khanza sebelum dia terlelap tidur.


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE NYA GUYS🔥🔥

__ADS_1


__ADS_2