
Khanza dan vian pun sampai di rumah sakit, khanza bergegas masuk kedalam, dia langsung pergi ke nurse station, untuk menanyakan kamar roman.
“Sus, pasien yang tertembak sekarang ada dikamar nomor berapa yah ?” Tanya khanza pada suster.
“Sepertinya dia sedang menjalani operasi nona” ucap suster tersebut. Khanza pun langsung bergegas ke ruang operasi.
Di depan kamar operasi terdapat Abraham, gio, dan Farhan yang sedari tadi. Setelah mendapat kabar jika roman tertembak, Abraham langsung ke rumah sakit.
“Ngapain kamu disini ?” Ucap Abraham bangun dari duduknya, khanza hanya mengabaikan.
“Brengsekkkkkk” ucap Abraham ingin menghampiri khanza, tetapi di cegat oleh Farhan, Farhan langsung memelototkan matanya. Abraham pun mengerti, karena Abraham sudah berjanji untuk tidak mengganggu khanza.
“Kapan selesai ?” Ucap khanza pada Farhan.
“Sebentar lagi juga selesai” ucap Farhan pada khanza, khanza pun mendudukan dirinya di kursi panjang.
“Sebenarnya ini kenapa sih ? Bisa-bisanya anak saya tertembak ?” Ucap Abraham pada Farhan.
“Saya juga tidak tahu, dia langsung tertembak dan jatuh ke bawah” ucap Farhan dengan tenang.
“Saya kira dia mati, ternyata masih di beri hidup oleh Tuhan, Tuhan saja tidak menerimanya hahaha persetan macam apa ini” ucap khanza melipatkan kedua tangan nya.
“Diam kamu gadis sialan” ucap Abraham sudah tidak tahan melihat wajah khanza.
“Santai aja tuan” ucap khanza masih tenang.
“Mending kamu pergi dari sini, saya muak lihat muka sialanmu itu” ucap Abraham menyuruh khanza untuk pergi.
“Saya cuma mau liat, dia beneran selamat apa tidak, kalo operasinya gagal ya alhamdulillah dong, biar gak jadi beban keluarga” ucap khanza bangkit dari duduknya.
“Ayo kita pergi” ucap khanza pada vian yang sedari tadi masih melamun.
“Bang gue pergi dulu, kabarin gue kalo dia mati” ucap khanza langsung meninggalkan Abraham dan Farhan. Farhan hanya tersenyum mendengar ocehan khanza yang menurutnya lucu itu.
“Apa kamu masih mau angkat anak itu ? Sopan santun nya saja tidak ada” ucap Abraham pada Farhan.
“Dia tidak ada sopan santun karena didikan orang tuanya, anda gagal tuan Abraham” ucap Farhan tersenyum sinis, dan langsung meninggalkan Abraham sendirian.
“Brengsekkkk, sialannnn, lihat saja nanti apa yang saya lakukan pada kalian” ucap Abraham mengacak rambutnya frustasi.
Lampu kamar operasi tutup tanda operasi sudah selesai, pintunya pun terbuka dan datanglah dokter dan perawat yang sehabis mengoperasi roman.
__ADS_1
“Gimana keadaan anak saya dok ?” Ucap Abraham khawatir.
“Operasinya berjalan lancar, ada 3 tembakan yang mengenai tubuh pasien, sepertinya yang menembak sangatlah handal, dia sengaja menembakkan hanya di titik tertentu, memang sengaja di tembak seperti itu” ucap dokter menjelaskan pada Abraham.
“Penembak handal ?” Ucap Abraham bingung.
“Iyah tuan sepertinya memang begitu, di lihat dari cara luka tembakan hampir saja mengenai jantung tetapi dia menembakan 1cm samping kiri jantung pasien, itu yang bikin pasien kaget dan langsung jatuh, kepala pasien ada sedikit gumpalan darah akibat benturan keras” ucap dokter lagi, Abraham mendengarnya sudah sangat frustasi.
“30 menit kemudian, pasien akan dibawa keruang rawat, permisi tuan” ucap dokter pamit pada Abraham.
“Siapa yang sudah menembak roman ?” Ucap Abraham memikirkannya.
——————————————-
Khanza hanya berdiam tidak membuka suara apapun, dia masih memikirkan gimana caranya mengungkapkan pembunuhan istri Abraham tersebut.
“Za kenapa diam ?” Ucap vian melihat khanza yang masih bergulat dengan pikiran nya.
“Anterin gue pulang” ucap khanza mengabaikan pertanyaan vian.
“Kamu udah makan ?” Ucap vian lagi.
“Udah” jawab singkat khanza, tetapi tiba-tiba perut khanza berbunyi keras. Vian yang mendengar itu pun langsung tersenyum.
“Gak usah senyum” ucap khanza mengingatkan. Vian hanya mengabaikan.
“Yaudah kita makan dulu yah” ucap vian, khanza pun menurutinya, sebenarnya khanza bisa saja makan di rumah, tetapi karena perut sudah keroncongan gila, akhirnya khanza menyetujui ajakan vian.
“Apa yang lo suka dari gue ?” Ucap khanza tiba-tiba menanyakan seperti itu.
“Kenapa tanya begitu ?” Ucap vian dengan lembut.
“Gue tanya, apa yang lo suka dari gue ?” Ucap khanza lagi tanpa melihat vian.
“Sebenarnya emang aku suka dari kamu tuh awal waktu kamu tiba-tiba galak” ucap vian pada khanza, khanza langsung memberikan tatapan tajam nya pada vian.
“Yah memang begitu, aku suka kamu gak tau dari mana asal suka ini, mungkin karena kamu misterius, aku lebih suka cewek yang galak dan misterius seperti ada tantangan sendiri buat dapetin nya” ucap vian tersenyum menatap khanza.
“Ah baiklah” ucap khanza menghela nafas kasarnya.
Mobil pun langsung terparkir di depan Cafe, untuk mengisi perut khanza, vian pun langsung turun dari mobilnya.
__ADS_1
“Ayo” ucap vian membuka pintu mobilnya.
“Gue ngapa jadi begini sih anjir” batin khanza menetralkan degupan jantungnya.
“Ngapain bengong ? Ayo keluar” ucap vian lagi, khanza pun langsung keluar dari mobilnya.
Mereka masuk kedalam Cafe, dan mendapatkan tatapan-tatapan orang, mereka sangat mengagumi kecantikan khanza dan ketampanan vian.
“Katro, mereka baru tau orang cantik apa ?” Ucap khanza pada diri sendiri.
“Emang kamu cantik za ?” Ucap vian meledek khanza.
“Kalo gue cantik, lo gak bakalan suka sama gue” ucap khanza dengan tegas, vian pun langsung tersenyum manis pada khanza.
“Kita duduk di pojok sana ajah” ucap vian langsung menggandeng tangan khanza, khanza pun kaget melihat tindakan vian.
“Kamu mau pesen apa ?” Ucap vian melihat menu nya.
“Gue ingin pesen semua yang ada di menu” ucap khanza, vian pun kaget mendengarnya.
“What ? Yakin ?” Ucap vian kaget.
“Apa ? Gak boleh ? Tenang ajah gue yang traktir” ucap khanza tegas.
“Nanti gak abis sayang” ucap vian sudah tidak tahan ingin memanggil sayang pada khanza.
“Idih sayang-sayang, gue bunuh lo kalo bilang gitu lagi” ucap khanza sudah memerah wajahnya.
“Eh za kok pipimu merah ? Kamu sakit ?” Ucap vian mengejek khanza, khanza hanya mengabaikan.
“Pokoknya gue mau pesen semua yang ada di menu” ucap khanza dengan tegas.
“Iyah iyah kamu pesen semuanya” ucap vian tersenyum gemas melihat tingkah khanza. Khanza tidak sengaja mengembangkan senyum manisnya, vian dibuat terpana melihat senyuman khanza, karena vian tidak pernah melihat khanza tersenyum manis sepeti itu.
“Kamu cantik jika tersenyum begitu za” ucap vian masih melihat khanza.
“Sialannnn” ucap khanza langsung pasang wajah tegas nya lagi.
“Santai ajah, nanti kamu cepet tua loh kalo pasang wajah tegas mulu” ucap vian yang tidak henti-henti nya menggoda khanza.
“Jika lo masih ngomong, jangan harap lo masih bisa bernafas besok pagi” ucap khanza memperlihatkan pisau miliknya yang telah melukai tangan keisha.
__ADS_1
“Ya ampun khanzaaaaa, itu pisau masih ada darahnya” ucap vian pelan.
“Gue gak mau pisau bekas, gue maunya pisau baru” ucap vian lagi dengan wajah datarnya, khanza pun bingung apa yang di maksud vian.