
Khanza pun langsung masuk ke kamar nya untuk mempersiapkan sesuatu, dia memasukan beberapa model pisau lipat, obat bius, dan pistol hadiah dari alex.
“Semuanya sudah siap, gue tau pasti Laura telat juga karena sedang perjamuan sama bang Gibran” ucap khanza langsung bergegas keluar dari kamarnya.
“Kamu mau bareng Abang apa gimana ?” Ucap Farhan pada khanza yang sedang menuruni tangga.
“Lo berangkat duluan ajah bang, tunggu di bar, gue di jemput sama anak-anak” ucap khanza langsung mendudukan dirinya di sofa.
“Hati-hati yah, jangan gegabah” ucap Farhan memegang kedua pundak khanza, khanza pun mengiyakan.
“Abang juga harus hati-hati” ucap khanza masih stay duduk di sofa, Farhan pun langsung bergegas pergi dari rumah nya, dia langsung melajukan mobilnya, terlebih dahulu dia mampir ke mansion milik abraham.
Tidak ada waktu 20 menit, Farhan pun sudah sampai di mansion kediaman Abraham, tanpa fikir panjang, Farhan langsung masuk ke gerbang utama.
“Pak roman ada di rumah ?” Ucap Farhan pada satpam.
“Baru saja pulang, kalo boleh saya tau anda siapa ya ?” Tanya satpam pada Farhan.
“Saya Farhan Alexander, saya kesini untuk bertemu dengan roman” ucap Farhan dengan tegas, satpam tersebut pun langsung gelagapan.
“Ba-ik tuan, anda langsung masuk saja” ucap satpam tersebut dengan gagap.
Farhan pun langsung masuk, mobilnya terparkir rapi di depan pintu masuk mansion dengan sempurna.
Tok
Tok
Tok
Pembantu pun langsung membukakan pintunya, dan bertanya kepada Farhan.
“Maaf mau cari siapa ya tuan ?” Ucap pake bantu tersebut.
“Saya mencari roman” ucap Farhan berdiri tegap.
“Silahkan masuk tuan” ucap pembantu mempersilhakan masuk dan mempersilahkan duduk kepada Farhan.
“Saya panggil tuan roman dulu tuan” ucap pembantu dan Farhan hanya menganggukkan kepalanya.
Dikamar roman sedang gelisah, perusahaan milik Abraham sedang mendapat masalah, dia membutuhkan pasokan kerja sama antar perusahaan lain nya, dan yang bisa membantu hanya perusahaan Axelino dan Alexander.
“Brengsek bisa-bisanya perusahaan gue di tipu” ucap roman mengacak rambutnya.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
“Permisi tuan, ada yang mencari tuan di depan” ucap pembantu pada roman.
“Siapa dia ?” Ucap roman.
“Tidak tahu tuan” ucap pembantu tersebut dan roman pun langsung membuka pintu nya.
“Dimana dia ?” Ucap roman.
“Ada di ruang tamu tuan” ucap pembantu, dan roman pun langsung menuruni tangga untuk bertemu dengan roman.
“Far-han” ucap roman dengan dana kaget. Farhan pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Lo ganti baju, kita keluar” ucap Farhan tanpa basa basi.
“Maksudnya ?” Ucap roman bingung, Farhan menghela nafasnya.
“Kita keluar, gue tau lo lagi banyak masalah” ucap Farhan langsung tepat sasaran.
“Kenapa bisa tau ?” Ucap roman kaget.
“Cepat ganti baju, kita gak ada waktu” ucap Farhan, roman pun langsung naik ke atas lagi untuk mengganti bajunya.
Di saat Farhan sedang duduk santai, tiba-tiba Abraham masuk dari pintu utama, dia habis keluar karena penat mikirin perusahaan yang hampir bangkrut.
“Farhan ? Ada perlu apa kamu datang kemari” ucap Abraham shock melihat Farhan di mansion nya.
“Saya disini sedang menunggu roman berganti pakaian” ucap Farhan dengan tenang.
“Memangnya mau kemana kalo saya boleh tau ?” Ucap Abraham penasaran, Farhan pun tersenyum sinis.
“Mau saya ajak keluar, saya tahu jika roman sedang tidak baik-baik saja” ucap Farhan menatap Abraham.
“Yah dia sedang tidak baik-baik saja, dia memikirkan gimana dapat kerja sama” ucap Abraham mendudukan dirinya di sofa.
“Memang nya perusahaan anda butuh biaya berapa untuk menstabilkan nya ?” Ucap Farhan langsung to the point. Abraham pun langsung segar kembali saat mendengar pertanyaan Farhan.
“Hanya perlu kerja sama Farhan, apa perusahaan Alexander bisa ?” Ucap Abraham tidak tahu malu.
“Mungkin bisa, asalkan ada syaratnya” ucap Farhan tersenyum.
“Apa syaratnya ?” Ucap Abraham antusias.
__ADS_1
“Hak asuh anak anda yang perempuan, saya tahu dia masih hidup kan ?” Ucap roman, Abraham pun kaget.
“Kenapa kamu tau ?” Ucap Abraham bingung.
“Yah karena dia siswi saya, saya menjadi kepala sekolah di Alexander” ucap Farhan, dan lagi-lagi Abraham terkejut.
“Baiklah saya akan menyerahkan hak asuh khanza pada kamu, saya juga sudah tidak membutuhkan anak itu, dia sudah membunuh istri saya, saya sudah tidak peduli dengan anak itu, silahkan anda bawa saja” ucap Abraham dengan lantang, tapi di dalam hati kecilnya dia merasa sakit ketika dia membicarakan khanza sepeti itu.
Farhan yang mendengar itu pun langsung terkejut, tapi sebisa mungkin, Farhan menetralisir wajah terkejutnya itu.
“Baik lah, besok saya bawa surat hak asuh, ketika anak anda sudah berada di tangan keluarga Alexander, jangan sekali-kali anda mengusik kehidupan nya lagi, apalagi mengganggu khanza” ucap Farhan dengan nada penekanan.
“Baiklah saya berjanji” ucap abraham santai.
“Jika anda tidak menepati janji, saya bisa saja membunuh anda” ucap Farhan tanpa basa basi, abraham pun langsung menelan ludahnya dengan susah.
Sedari tadi roman mendengar percakapan Farhan dan Abraham yang sedang membicarakan hak asuh khanza.
“Apakah benar ? Khanza akan di tukar dengan kerja sama ? Biarlah gue gak peduli yang terpenting perusahaan tidak bangkrut” ucap roman dengan tenang.
“Ayok Farhan kita pergi” ucap roman menghampiri Farhan.
“Hati-hati di jalan yah kalian” ucap Abraham dengan tersenyum senang.
Disisi lain di restoran bintang lima, dua keluarga sedang bercengkerama, Gibran sedang di toilet dan Laura pun di toilet, mereka belum bertemu sama sekali.
Saat Laura sedang mencari sesuatu di dalam tas nya dia bertabrakan dengan seseorang di lorong kamar mandi.
“Woy kalo jalan liat-liat dong” ucap Laura langsung mengambil bedak nya, dan saat di buka bedaknya hancur.
“Gara-gara lo bedak gue pecah, lo tau gak hah bedak ini mahal, beli nya di luar negeri” bentak Laura dia tidak melihat Gibran sama sekali, tetapi dia masih fokus bedak di tangan nya.
“BERISIKKKK” bentak Gibran, Laura pun langsung terperanjat kaget mendengar bentakan Gibran.
“Harusnya gue yang bilang begitu ke lo, lo jalan tapi mata sibuk mencari sesuatu di dalam tas, apa gue benar ?” Ucap Gibran menatap Laura, Laura seketika diam melihat tatapan Gibran, dia terpesona melihat ketampanan Gibran.
“I-iyah, eh maksud gue, lo juga salah udah nabrak gue” ucap Laura gagap. Gibran hanya mendelik an matanya dengan malas.
“Berapa harga bedak lo ?” Ucap Gibran mengambil dompet.
“8 juta” ucap Laura masih menatap Gibran.
“Gue gak ada tunai, kirim nomor rekening lo” ucap gibran memasukan kembali dompetnya.
“Ehhh gak usah deh, gak apa-apa, sepertinya memang gue yang salah, gue minta maaf” ucap Laura tersenyum kikuk.
__ADS_1
“Baiklah” ucap gibran langsung meninggalkan Laura yang masih terpaku.