Transmigrasi Mafia

Transmigrasi Mafia
Penjelasan


__ADS_3

Khanza masih memandang ke depan, khanza banyak yang sedang di pikirkan dalam otaknya, vian yang melihat khanza terdiam pun merasa bersalah karena sudah berbicara yang seharusnya tidak di bicarakan.


“Za ?” Panggil vian pada khanza, tetapi khanza tidak mendengarnya.


“Khanzaaaa” ucap vian lagi dan langsung menepikan mobilnya di tepi jalan.


“Kenapa berhenti ?” Ucap khanza menatap vian.


“Kenapa kamu melamun ? Apa yang sedang kamu pikirkan ?” Ucap vian pada khanza.


“Vian ? Apa gue terlalu hina sampai-sampai keluarga gue ajah menjual gue” ucap khanza pada vian.


“Kamu bukan anaknya Abraham, kamu anak Alexander” ucap vian pad khanza.


“Kamu hanya menempati tubuh anak Abraham yang sedang terkena sial itu” ucap vian lagi.


“Apa yang harus gue lakuin sekarang ? Gue udah buntu” ucap khanza langsung melihat ke arah lain.


“Bisa anterin gue ke rumah sakit ?” Ucap khanza pada vian, vian pun mengangguk.


———————————————————-


Vian dan khanza pun sampai di rumah sakit, khanza langsung menanyakan dimana ruang inap anak dari Abraham.


“Sus pasien atas nama roman Abraham dimana yah ?” Ucap khanza pada perawat jaga.


“Oh ada di kamar vvip nomor 2 non” ucap suster tersebut pada khanza.


“Terimakasih” ucap khanza dan langsung berjalan untuk mencari ruangan roman.


Khanza pun akhirnya sampai di depan ruangan vvip yang di tempati oleh roman, khanza langsung masuk kedalam.


“Lo disini dulu” ucap khanza menyuruh vian untuk di luar.


“Ternyata masih belum bangun” ucap khanza pada roman yang masih setia menutup matanya.


“Asal anda tau yah tuan roman yang terhormat, saya tidak membunuh orang tuamu” ucap khanza yang langsung duduk di kursi pinggir ranjang pasien.


“Tapi kenapa kalian menuduh gue kalo gue membunuh orang tuamu ?” Ucap khanza lagi.


“Apa anda ingat waktu bunda masih hidup ? Dia pernah bilang padamu, tolong jaga khanza, sayangi khanza seperti kamu menyayangi bunda, hahaha apa kamu ingat ?” Ucap khanza meneteskan air matanya.


“Tapi sekarang, kalian jahat kepada khanza, sampai-sampai khanza meninggal pun kalian tidak perduli” Ucap khanza dengan nafas memburu.

__ADS_1


“CEPAT BANGUNNNNN” teriak khanza pada roman yang masih tertidur. Tiba-tiba kelopak mata roman mengeluarkan air mata.


“Ahh ternyata kamu masih bisa dengerin gue” ucap khanza mengusap air matanya.


Vian yang mendengar teriakan dari dalam pun langsung masuk kedalam kamar, vian melihat khanza sedang menatap roman yang sedang tertidur.


“Za kamu kenapa ?” Ucap vian langsung menghampiri khanza.


“Ayo bangun ? Tunjukan pada orang tua lo, kalo gue tidak bersalah” ucap khanza menggoyangkan tubuh roman.


“Za udah za, dia sedang koma” ucap vian menarik tubuh khanza dan langsung memeluknya. Vian tau jika khanza sedang membutuhkan dukungan, bahkan butuh kehangatan dari seseorang.


“Sudah cukup kamu menderita za, aku gak mau lagi liat kamu menderita, akan aku bunuh siapapun yang sudah menyakiti kamu” ucap vian mengelus rambut panjang milik khanza.


“Hiks hiks hiks” khanza menangis di pelukan vian, tangan khanza merengkuh tubuh vian dengan sangat kencang, hingga kuku panjang milik khanza tidak sengaja melukai punggung vian. Vian meringis kesakitan, tetapi masih bisa di tahan.


“Sorry” ucap khanza langsung menghempaskan tubuh vian, vian yang tidak siap pun langsung terpental ke belakang, punggung vian terkena sisi ranjang pasien, akibatnya luka yang terkena kuku khanza kini menjadi luka besar.


“Astaga tenaga mu Gede juga za” ucap vian langsung mensejajarkan dirinya dengan khanza.


“Cihhh” khanza berdecih.


“Ayo pulang” ucap khanza langsung pergi meninggalkan ruangan, di lorong tali sepatu khanza terlepas, akhirnya vian mendahului khanza kharena tidak tahu jika khanza yang di sampingnya sedang berjongkok.


“Lah kenapa punggung vian ? Apa gara-gara tadi di nendang ranjang ?” Ucap khanza yang melihat baju seragam vian ada rembesan darah.


“Kamu ngapain disitu, ayo balik” ucap vian menghampiri khanza.


“Kita ke IGD dulu buat perban luka lo” ucap khanza pada vian.


“Hah ? Luka ?” Ucap vian bingung. khanza pun langsung menekan punggung vian dengan keras.


“Awsssss khanzaaaa” ucap vian merintih.


“Aduh darahnya jadi keluar banyak yan” ucap khanza panik, vian hanya tersenyum melihat kepanikan khanza.


“Kenapa lo senyum-senyum” ucap khanza dengan wajah kembali tegas.


“Udah mending kita pergi ajah dari sini, aku mau obatin di rumah ajah, oh iyah za, bunda pengen ketemu kamu” ucap vian pada khanza.


“Ah yaudah ayok ketemu bunda” ucap khanza langsung meninggalkan vian, vian hanya menggelengkan kepalanya.


Butuh waktu 20 menit untuk sampai di rumah Axelino, vian sangat senang ketika khanza nurut padanya.

__ADS_1


“Pas dirumah, obatin luka lo” ucap khanza menatap lurus ke depan.


“Kan ada kamu, kamu yang ngobatin” ucap vian masih fokus menyetir.


“Masih ada bunda yang bisa ngobatin” ucap khanza lagi tidak mau kalah.


“Terserah” ucap vian dengan tenang, khanza pun langsung berpaling melihat vian yang sedang fokus menyetir.


“Apa gue terlalu kejam sama dia ? Padahal luka itu gara-gara gue” batin khanza melihat darah yang ada di seragam vian dan mulai mengering.


“Anterin gue beli kue dulu” ucap khanza pada vian.


“Kue buat apa ?” Ucap vian langsung menatap khanza.


“Buat bunda” ucap khanza, vian pun langsung tersenyum.


Khanza dan vian pun memilih kue di toko, saat sedang mau membayar, khanza bertemu dengan Laura dan Gibran.


“Ehh khanza, mau beli kue ?” Ucap Laura dengan tersenyum. khanza melihat Gibran yang sedang memainkan ponselnya.


“Widih ada yang lagi kencan nih” ucap khanza mengabaikan pertanyaan Laura. Gibran pun langsung menoleh ke arah sumber suara.


“Lo ngapain disini ?” Ucap Gibran kaget.


“Nyari kutu, ya beli kue lah, pertanyaan nya konyol banget dah” ucap khanza sinis, Laura yang mendengar percakapan khanza dan Gibran pun merasa cemburu.


“Yuk udah selesai nih gib, kita langsung makan ajah” ucap Laura menarik tangan Gibran, Gibran pun menghempaskan tangan Laura, khanza yang melihat itu merasa ingin tertawa.


“Za, biar aku bayar dulu” ucap vian pada khanza, khanza pun langsung mencekal tangan vian.


“Lo gimana sih, kue ini kan buat bunda yakali elo yang bayar” ucap khanza langsung mengambil uang dari dompetnya.


“Ayo gib kita pergi” ucap Laura lagi, Gibran langsung membisikkan sesuatu pada khanza.


“Malam ini ketemu di markas, ada hal penting yang harus kita selesai in, ajak vian juga” bisik Gibran langsung pergi meninggalkan khanza.


“Kamu bisikin apa ke khanza ?” Ucap Laura penasaran.


“Lo gak perlu tau” ucap Gibran kembali.


“Sepertinya ada yang masalah di geng nya” batin Laura langsung berjalan mengikuti Gibran dari belakang.


“Dasar benalu” ucap khanza melihat Laura.

__ADS_1


“Aku tau, nanti malam kita ke markas kan ? Kamu ajah yang gak baca grup” ucap vian memberikan kue nya.


“Males buka grup” ucap khanza langsung pergi keluar toko.


__ADS_2