
Khanza dan vian pun melajukan mobilnya untuk mengantarkan khanza pulang, khanza bisa saja pergi sendiri, tetapi vian memaksa untuk mengantarnya pulang.
“Za aku boleh tanya gak ?” Ucap vian dengan sangat hati-hati.
“Hmm” khanza hanya berdehem.
“Sebenarnya kamu tuh masih dendam sama keluarga kamu sendiri ? Mending kamu lupakan ajah, kamu fokus nyari bukti kematian nyokap kamu” ucap vian melihat wajah khanza yang datar.
“Dibilang dendam tidak, tapi gue mau minta keadilan sama keluarga gue, biar mereka rasain apa yang gue rasain sekarang ataupun dulu” ucap khanza masih menatap jalanan.
“Lo gak perlu ikut campur masalah ini, karena ini masalah gue” ucap khanza lagi dan menutup matanya, tanda ingin menghentikan percakapan.
“Tapi za, aku juga calon kamu, aku berhak tau masalah kamu, aku juga bisa bantu kamu” ucap vian yang sudah dibuat kesal oleh khanza.
“Berhenti” ucap khanza masih menutup matanya, vian pun bingung dengan perkataan khanza, jadi vian mengabaikan saja.
“BERHENTIIIIII VIAN” bentak khanza dengan suara lantangnya, vian pun kaget mendengar teriakan khanza dan vian pun menepikan mobilnya di tepi jalan.
“Kenapa ?” Ucap vian dengan nada setenang mungkin.
“Gue kan udah bilang sama elo, lo gak perlu ikut campur urusan gue, tapi lo masih saja ikut campur. Mending kita udahan saja” ucap khanza mencopot cincin nya dan memberikan nya pada vian.
“Za maafin aku za, aku pengen tau karena aku khawatir sama kamu za, aku gak mau kamu kenapa-kenapa, udah itu doang” ucap vian frustasi.
“Lo terlalu cerewet vian, gue gak mau jika urusan gue lo ikut campur” ucap khanza keluar dari mobilnya dan berjalan tanpa memperdulikan vian yang sedari tadi memanggil namanya.
“Brengsekkkkk” ucap vian mengacak rambutnya frustasi. Vian pun mengikut khanza dari belakang, dia tidak memakai mobilnya, dia berjalan mengikuti khanza.
“Kamu mau kemana sebenarnya za ?” Ucap vian penasaran.
Vian pun mengikuti khanza secara diam-diam, khanza memasuki gang terpencil, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, tanda sudah tidak ada orang yang melewati jalan sekecil itu.
“Hay manis” ucap seseorang yang bersandar di tembok. Khanza hanya mengabaikan saja.
“Sombong amat nih anak gadis, kamu mau main sama om tidak ?” Ucap seseorang itu menghadang khanza yang hendak melanjutkan jalan nya.
Vian yang melihat itu langsung mempercepat langkahnya. Tetapi saat vian hendak menuju ke khanza, vian menghentikan jalan nya, vian melihat seseorang yang vian kenal. Vian menyipitkan matanya untuk memastikan apakah benar orang itu yang dia kenal atau bukan. Dan benar saja vian mengenalnya.
“Angelo ?” Ucap vian membulatkan matanya.
“Mau apa lo ?” Ucap khanza dengan tatapan tajam, seseorang yang melihatnya merasa takut melihat tatapan khanza.
__ADS_1
“Widih santai ajah manis, saya gak gigit kok” ucap orang tersebut menetralisirkan ketakutan nya. Khanza melihat seseorang yang bersembunyi di balik tembok, dia melihat orang itu sedang menatap dirinya.
“Dasar bodoh” ucap khanza tersenyum smirk melihat orang yang sedari tadi mengawasinya.
“Lo mau apa ? Biar gue kasih” ucap khanza dengan nada tenang. Preman tersebut pun merasa senang saat khanza melontarkan pertanyaan itu.
“Saya mau kamu manis” ucap preman itu dengan nada menggoda, khanza menghela nafasnya dengan kasar.
“Baiklah, kalo lo mau gue, kita mau pergi kemana ?” Ucap khanza dengan tenang.
“Kita kesana ajah yuk manis” ucap preman itu mendekati khanza. Khanza pun hanya diam.
“Tundukan kepala lo, gue mau bisikin sesuatu” ucap khanza dengan nada manja. Preman itu pun langsung menundukkan kepalanya. Dan tidak pikir panjang khanza langsung menusuk mata preman itu dengan brutal, setelah preman itu jatuh, khanza menusukan pisaunya di pipi preman itu.
“Shittttt” ucap vian yang sedari tadi menonton khanza.
“What ? Kenapa khanza jadi begitu ?” Ucap angelo melihat khanza yang sedang mengukir seni di pipi preman itu.
“Psikopat” ucap vian dengan tersenyum senang melihat khanza yang sedang asik mengukir.
“Ahhhhhh sa-kittt” rintih preman itu dengan susah payah ingin melawan khanza, khanza sudah semakin kesetanan, dia pun menusukan pisaunya di dada sebelah kanan, lebih tepatnya menusukan pisau di jantung nya, seketika preman tersebut langsung mati di tempat.
“Selamat jalan, semoga masuk neraka” ucap khanza mencabut pisaunya, dan membersihkan pisaunya menggunakan baju milik preman tersebut.
Dorrrr
Khanza kaget mendengar suara tembakan yang berasal dari arah belakang, dan kagetnya lagi khanza melihat angelo yang sudah terduduk, kaki nya berdarah akibat tembakan tersebut.
“Waw pas” ucap vian langsung memasukan pistolnya kembali. Khanza melihat ke arah belakang tiang listrik ternyata ada vian yang sedang bersembunyi.
“BAGUS SAYANG” teriak khanza dengan sangat lantang, vian yang mendengar itu pun langsung terbujur kaku.
“Dia bilang sama gue ?” Ucap vian melihat kanan kirinya, hanya ada vian sendiri di tempat itu, vian merasa senang.
“Dasar bodoh” ucap khanza tersenyum tipis, khanza pun langsung melihat angelo yang masih terduduk karena tembakan itu mengenai kaki kanan nya.
“Angelo ? Lo ngapain disini ? Ya ampun kaki lo berdarah” ucap khanza berpura-pura.
“Pembunuh” ucap angelo dengan meringis, khanza pun tersenyum sinis.
“Lah siapa yang nembak lo ? Padahal gue diem ajah disini, gue gak ngapa-ngapain lo kan ?” Ucap khanza jongkok di hadapan angelo.
__ADS_1
“Lo udah membunuh preman itu” ucap angelo dengan sinis. Khanza pun tersenyum tipis.
“Lo ada buktinya kalo gue ngebunuh preman itu ?” Ucap khanza memainkan alisnya.
“Ada” ucap angelo tersenyum sinis, khanza pun langsung memasang wajah datarnya.
Vian mencari sesuatu di lorong, dia mencari apakah ada cctv di sekitar jalan atau lorong, dan benar saja ada satu cctv di pojok lorong yang di tempati angelo untuk bersembunyi. Vian pun berjalan mendekati khanza dan angelo.
“Vian ?” Ucap angelo kaget melihat vian yang sudah berada di belakang khanza, khanza pun langsung menoleh ke belakang.
“Bangun za” ucap vian menyuruh khanza bangun dari jongkoknya. Angelo pun sudah mengerti.
“Wah hebat ternyata dia sudah tau cctv nya” ucap angelo tersenyum senang, khanza pun memutar bola matanya malas.
Dorrrrr
“Selesai” ucap vian menembak cctv tersebut untuk menghilangkan bukti pembunuhan yang di lakukan oleh khanza. Khanza pun tersenyum.
Khanza kembali lagi menghadap angelo yang masih melongo, angelo tidak habis fikir melihat kejadian tersebut.
“Lihat lah, cctv nya sudah rusak gimana dong ?” Ucap khanza meledek angelo, angelo merasa kalah telak.
“Gue menjadi saksi pembunuhan ini” ucap angelo dengan percaya diri.
“Baiklah silakan angelo ayo kita ke kantor polisi” ucap khanza dengan tenang, vian pun kaget mendengar pernyataan khanza.
Khanza mendekati angelo, sangat dekat, hanya ada jarak 2 inci saja dari muka angelo, khanza langsung mengarahkan wajahnya ke telinga angelo untuk membiakkan sesuatu.
“Ingatlah angelo, lo ada hubungan dengan pembunuhan berencana nyokap gue” bisik khanza pada angelo. Angelo yang mendengar itu pun langsung menegang, dia seperti tersengat listrik, tubuhnya sangat kaku dan jantung yang berdegup sangat kencang.
Vian merasa aneh melihat perubahan sikap angelo setelah khanza membisikkan sesuatu pada angelo, vian penasaran apa yang di bisikan khanza pada angelo.
“Lo gak perlu tau vian” ucap khanza yang sudah tau jika nanti vian akan menanyakan itu. Vian pun mengurungkan niatnya untuk bertanya karena khanza sudah menebak niat vian.
“Lo mau ke polisi pun tidak akan bisa, karena bukti sudah tidak ada, tunggu waktunya untuk membongkar masalah itu angelo” ucap khanza bangun dan mundur beberapa langkah untuk menyetarakan posisi vian.
“Dan lo tau ? Siapa yang nembak kaki lo ?” Ucap khanza dengan nada tegas.
“Yah benar, dia vian” ucap khanza yang melihat angelo menatap vian dengan tatapan amarahnya.
“Jangan harap lo menang dari gue angelo, oh iyah jangan lupa buat ke rumah sakit, obatin kaki lo, Ohh iya kalo lo mau ke rumah sakit malam ini pasti lo ketemu sama keisha” ucap khanza memberi tahu angelo.
__ADS_1
“Bye parasit” ucap khanza melambaikan tangan nya pada angelo, angelo hanya melihat khanza pergi yang semakin jauh dari pandangan nya. Vian pun mengikuti khanza dari belakang.
“Anterin gue pulang” ucap khanza langsung masuk ke dalam mobil vian. Vian hanya tersenyum manis pada khanza, dan tanpa basa-basi vian langsung menancapkan gas nya.