
" Jangan kesini." batin Laura dengan gelisah.
Sedangkan Mia sudah mengeluarkan air matanya karena ia kira hari ini merupakan hari terakhirnya. Langkah seseorang semakin mendekat sampai..
" RATU." ucap seseorang yang memanggil orang itu.
Membuat orang itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
" Ada apa Sia memanggil ku dengan panik seperti itu?" tanya Ratu Valerie sambil tersenyum lembut.
Sia yang baru mengatur nafasnya karena kelelahan berlari langsung menjawab.
" Maaf, Yang Mulia. Ini gawat kediaman Duke Salvaka sedang di serang." ucap Sia kepada Ratu Valerie.
Ratu Valerie yang mendengarnya langsung syok dan seketika tubuhnya lemas untung saja Sia sigap menangkap tubuh Ratu Valerie supaya tidak jatuh.
" Ayahanda hiks...sia...Ayahanda...hiks" ucap Ratu Valerie sambil terisak memikirkan nasib Ayahandanya.
Sia yang merasa kasihan terhadap Ratu Valerie langsung membantunya berdiri tegap.
" Tenang saja Ratu saya yakin bahwa Duke Salvaka akan baik-baik saja, Bukannya dia orang yang kuat." ucap Sia yang berusaha menenangkan Ratu Valerie.
__ADS_1
Ratu Valerie langsung menghentikan tangisannya. Benar yang dikatakan Sia bahwa Ayahandanya merupakan orang kuat. Pasti dia akan baik-baik saja.
" Kau benar Sia, aku yakin Ayahanda akan baik-baik saja." ucap Ratu Valerie sambil tersenyum.
Sia yang mendengarnya bernafas lega karena setidaknya Ratu Valerie tidak terlalu khawatir lagi dengan Duke Salvaka. Karena takut membahayakan janin yang berada di perut Ratu Valerie.
" Lebih baik anda segera kembali ke kamar, karena udara malam sangat tidak baik wanita hamil, Ratu." ucap Sia yang menyarankan Ratu Valerie untuk kembali ke dalam kamarnya.
Ratu Valerie hanya menjawab dengan anggukan kepala. Setelah itu mereka kembali ke dalam kamar dengan Sia menuntun Ratu Valerie.
Setelah melihat kepergian mereka berdua akhirnya Laura sejak tadi bersembunyi di balik pilar bisa bernafas lega begitu juga dengan Mia.
" Anda benar Selir, saya pikir hari ini merupakan hari terakhir. Saya hidup hehehe..." ucap Mia sambil cengengesan.
Membuat Laura yang mendengarnya sampai memutar bola matanya malas. Menghadapi sikap Mia yang terlalu cemas.
" Baiklah ayo kita pergi lagi, sekarang tujuan kita adalah pelabuhan." ucap Laura yang berdiri sambil membersihkan gaunnya dari debu yang menempel.
Mia menjawab dengan anggukan kepala karena sampai sekarang tubuhnya masih sedikit lemas.
Setelah itu mereka berjalan keluar menuju taman karena di sana Laura sudah membuat lubang untuk keluar langsung dari istana tanpa melewati pintu gerbang utama.
__ADS_1
Ketika sampai taman Laura segera membersihkan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Tapi sepertinya Mia salah paham terhadap Laura karena ia kira Majikannya sedang bermain tanah.
" Anda tidak boleh bermain tanah,Selir itu bukan mencerminkan sikap bangsawan." ucap Mia yang memarahi Laura.
Laura yang mendengarnya merasa kesal, Mia kira memangnya dia anak-anak apa yang suka bermain tanah.
" Diam." ucap Laura dengan dingin dan jangan tatapan tajamnya.
Membuat Mia yang melihatnya langsung terdiam sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Tuannya. Sampai dimana dia dibuat terkejut melihat sebuah lubang lumayan besar menuju keluar dari istana.
Laura yang melihat bahwa sekarang sudah menemukan lubang itu hanya tersenyum puas.
Setelah itu Laura keluar dengan Mia menuju pelabuhan mumpung saat ini istana sedang sepi. Karena tidak ada keberadaan Kaisar di istana.
Ketika Laura memasuki kapal ia melihat sekali lagi istana yang sudah seperti rumahnya sendiri. Tapi ia harus keluar demi keselamatannya dan juga calon anaknya. Ia tidak ingin memiliki nasib yang sama dengan kisah Laura yang asli tidak bisa melindungi anaknya yang masih bayi.
Laura akan berjanji membesarkan anaknya sampai dewasa. Laura refleks mengelus perutnya dengan pandangannya menuju ke arah lautan yang akan membawanya ke kerajaan lain.
" Kehidupan baru aku mulai." ucap Laura sambil tersenyum
Continue...
__ADS_1