Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 10


__ADS_3

Berhenti di salah satu tempat makan yang katanya tempat ini paling enak di santap, makanan khas Madura itu.


"Yuk, turun!" seru Chandra, "Kok kita di sini sih? Aku maunya makan di starbuck!" rengut Fera melipat kedua tangan di depan dada masih dengan sabuk pengaman belum ia lepas.


"Tapi di sini tidak kalah enak kok dari pada Starbucks. Aku yakin kau suka dengan makanan ini, yuk!"


Klik.


Di buka sabuk pengamannya, jarak mereka sangat dekat, Fera dapat mencium maskulin tubuh suaminya wangi lavender paling dia suka aroma itu. Lagi-lagi berdebar jantungnya.


Pintu samping mobil telah terbuka lebar Fera masih diam di tempat duduknya, diulurkan telapak tangan lebar kasar dan kuat di depan wanita manja ini. Chandra masih setia menunggu ragu-ragu Fera membalas tangan suaminya.


Plak!


"Apaan sih! Aku bisa turun kok! Oke aku turuti maumu makan disini. Tapi lain kali makan di mana aku inginkan!" sengitnya kemudian, sakit sih pukulan dari Fera menepis tangannya Chandra.

__ADS_1


"Iya, Fera sayang!" balas Chandra kembali mengacak rambut istrinya.


"Apaan sih! Jangan acak rambutku! Kau pikir aku ini anak kecil!" Fera merapikan poni depannya, Chandra tidak peduli membuat rambut istrinya berantakan suka saja.


"Sudah dong!" Fera makin kesal sama suaminya, ia mencoba mengacak rambut suaminya.


"Fera! kau Fera kan?" suara asing menyebutkan namanya


Fera yang tengah mengacak rambut depan suaminya terhenti menoleh arah suara tidak asing baginya.


"Eh, Hen," sambutnya lembut bersikap lebih sopan siapa yang dia temui sekarang.


"Dia-- suamiku," jawab Fera bangga, padahal dia tidak ingin mengakui.


"What? Suamimu? Apa aku tidak salah dengar? kau menikah dengan pria jelek ini? Bukannya kau paling anti dengan lelaki jelek, apa ini hukum karmamu menjatuhkan martabat seorang pria ganteng sepertiku tapi kau malah--Ha ha ha..." Hendra menertawakan Fera, dia menyesal mengakui bahwa Chandra adalah suaminya.

__ADS_1


Harga dirinya turun karena mantan sialan kalau saja ada sandal jepit ingin sekali masuki mulut bau itu.


"Ops! Sorry, bukan maksud jelek-jelek'an. Tapi katamu kau punya suami yang kaya raya. Tidak mungkin dia, kan?" Hendra kembali tertawa, tangan kanan Fera sudah menahan rasa jengkel dia ingin memukul wajah sok ganteng itu.


Chandra memegang tangan istrinya, Fera menunduk menatap tangannya dimana suaminya. Hendra beranjak meninggalkan tempat restoran Madura masih tertawa, kecewa sih ada untuk Fera tapi yang menyesal sudah mengakui bahwa Chandra suami paling jelek.


"Ini semua gara gara dirimu! Aku sudah bilang makan di Starbucks. Tapi kau--" Fera menghentak'an kakinya kesal memilih masuk ke mobil dengan muka merengut rasa jengkel. Rasa lapar pun menghilang.


Chandra bisanya menghela napas panjang ikut masuk ke mobil dan melirik istrinya masih merengut kesal kepadanya.


"Maaf, kalau kau merasa kesal aku membawamu ke tempat ini. Tapi aku bahagia kalau kau mengakui aku ini suamimu yang paling jelek. Aku tidak merasa tersinggung kalau kau tidak ingin perkenalkan kepada teman-temanmu atas kehadiran disampingmu. Sebagai suami tentu melindungi istri dan meyakinkan dan percayakan hubungan rumah tangga. Jika kau belum siap menerima ini, tidak apa-apa. Nanti aku bicarakan kepada Mama sama Papa datang kapan-kapan saja. Mungkin kau butuh hiburan," ucap Chandra panjang lebar Fera yang diam seakan tuli dengan mantra dari suaminya.


Mobil mereka meninggalkan tempat restoran Madura itu. Di dalam mobil suasana hening tanpa ada satu pun suara keluar dari mulut mereka berdua.


Dua puluh menit kemudian sampai dirumah, Fera masuk  langsung ke kamarnya memilih untuk tidur rasa kesal belum juga hilang. Chandra memasukkan sayuran ke dalam kulkas sedangkan barang peralatan istrinya di masukan ke lemari khusus miliknya.

__ADS_1


Dia (Chandra) membuka pintu kamar di mana istrinya tengah tertidur pulas tanpa selimut di tubuhnya. Chandra memakaikan padanya, di singkirkan rambut istrinya itu, senyuman tercetak di wajah lelaki berewok ini.


Dasar istri manja...


__ADS_2