
"Hmm... itu..."
Chandra masih mencari jawaban yang tepat dulu soalnya kalau asal menjawab makin di curigai. Fera menunggu suaminya menjawab pertanyaan ia berikan tadi.
"Ayo, cepat jawab! Lama banget sih! Siapa? Cantik kah? Cantik mana aku atau dia? Seberapa dekatnya kau dengannya?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontar oleh Fera.
"Dia itu adalah---"
"Kak Chandra!" Seseorang tiba memanggil nama suami Fera. Kedua isan suami istri itu pun mencari sosok suara itu.
Seorang wanita cantik berlari kecil menghampiri dan tersenyum memamerkan lesung pipi dalam dan lebar deretan gigi putih itu. Fera memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki berulang kali.
"Kapan kak Chandra ke sini? Lily kangen banget loh!" Tanpa rasa malu wanita itu merangkul lengan suami Fera tepat di depan matanya sendiri.
Fera memicing kedua mata serta melirik suaminya Chandra menelan air liurnya bukan apa-apa, dengan perlahan ia menarik pelukan dari wanita mengaku namanya Lily itu.
"Loh, kok di lepas? Kak Chandra tidak sayang aku lagi?" wanita itu masih berbicara dengan Chandra. Chandra sudah waspada banget sorot kedua mata singa betina mulai mengamuk.
Kedua telinga Fera memerah menahan amarah, ia sadar sekarang berada di luar rumah.
"Ehm... Lily tidak kerja?" Chandra mulai mengalihkan pembicaraan.
"Kerja? Lily sekarang jaga anak! Mereka pintar tidak nakal apalagi penurut. Mereka juga kangen Kak Chandra, aku bilang nanti Papa Chandra pulang kita kumpul lagi, begitu!" jawab si wanita itu dengan tenang tanpa berdosa.
Fera bagai di sambar petir siang bolong. Apa? Papa Chandra? Anak? Mereka? What the hell?? Dasar suami jelek aku sumpahi makin jelek! - Kesal Fera membatin dan menghentakan kaki kirinya memilih untuk jalan sendiri.
"Fera... Fera...!" Chandra mengejar malah di tahan sama wanita itu.
"Kak Chandra mau kemana? Mereka sudah menunggu loh!" cicit wanita itu.
Chandra jadi bingung kalau tinggalkan istrinya malah nanti tambah parah ngambeknya apalagi Fera tidak tau lingkungan sini. Sedangkan wanita ini pusing banget untuk dirinya sendiri sekarang.
****
Pada akhirnya wanita itu bernama Lily Melati purnama terus menempel Chandra kemana pun pergi. Fera berjalan melihat - lihat buah-buahan untuk di santap dia butuh pelampiasan saat ini.
Dari tadi wanita itu terus mengoceh tanpa lelah. Chandra sudah terbiasa dengan ocehan nya makanya kenapa dulu ia memilih merantau dan sibuk bekerja, terus kalau pulang ke kampung pun tiga bulan sekali itu pun dengan alasan mengambil barang yang di perlukan demi menghindar wanita ini.
"Bu, ini Nenas Satu buah berapa?" Fera bertanya kepada penjual buah.
__ADS_1
"Lima belas ribu saja, Neng! Manis loh, Neng!" jawab Ibu itu.
"Ada yang asam tidak, Buk?" Fera bertanya lagi.
"Aduh, Neng kalau asam sulit cari! Memang kenapa? Eneng ngidam, ya?" jawab ibu itu dan Balik bertanya.
"Begitu, Buk! Pengin makan yang asam soalnya daripada buang tenaga melampiaskan orang jelek di belakangku mubazir! Kalau tidak itu mangga muda, berapa satu kilo?" jawab Fera sengaja nyinyir suaminya. Chandra dapat mendengar kalau istrinya sedang kesal
"Mangga satu kilo dua puluh lima ribu, Neng, mau?"
"Kuranglah, Buk! Dua puluh ribu ya!" Fera mulai menawar
"Aduh Neng tidak bisa, aku saja ambil tidak dapat untung." Si Ibu penjual buah itu tetap tidak mau mengurangi harga buah.
Fera terus bersih keras untuk kurangi tetap tidak mau juga pada akhirnya ia memilih pergi mencari yang lain mungkin lebih murah. Chandra dari tadi diam pun mendekati penjual buah itu.
"Mana bisa dua puluh ribu awak ambil sudah tidak dapat untung. Dasar orang kota mentang-mentang muka cakap tapi beli mau yang super murah!" nyinyir si ibu penjual buah itu.
Chandra mendengar sindiran dari ibu itu tetap tidak ia tanggapi. "Ibu mangga yang tadi berapa?" tanya Chandra.
"Eh, Nak Chandra kapan pulangnya? Mau mangga ini? Untuk Nak Chandra tak diskonlah, lima belas ribu saja!" jawab Ibu itu langsung berubah tadi muka masam sekarang ceria.
"Aduh kok jadi bahas mbak kota sih, Nak Chandra! Memang situ kenal mbak kota?" Ibu penjual buah ini malah bertanya
"Kenallah, Buk, dia kan istri ku." jawab Chandra datar "ini buk kebalikan nya untuk rokok saja," lanjut Chandra mengambil buah mangga itu. Ibu penjual buah langsung mematung tak dapat berkata-kata.
Lily mengekori Chandra dari belakang, ikut bertanya soal tadi pembicaraan dari ibu jual buah.
"Kak Chandra, mbak yang di depan itu, benar istri Kak Chandra?" Lily bertanya
"Iya, kenapa? dia baik kok! Cuma lagi agresif, di maklumi kalau wanita biasanya lagi sensitif suka berubah - ubah." jawab Chandra lembut.
"Ohh... jadi mbak itu salah paham dong soal tadi aku sebut mereka anak kita? Aduh pasti mbaknya cemburu ya!" Lily semakin bersalah deh sama Fera.
Fera sudah menawar berbagai tempat tidak ada satu pun untuk berikan harga yang ia tawarkan. Ujungnya ia kesal dan memilih untuk kembali kerumah saja.
****
Perjalanan menuju rumah mertua muka Fera masih berkerut masam tawar menawar tak ada yang mau kurang. Chandra masih mengekor istrinya lagi ngambek itu. Orang-orang yang ada di depan rumah satu deretan gang itu melirik dan memperhatikan Fera.
__ADS_1
Lily mengupas jeruk yang baru saja di beli sama Chandra, kemudian berikan kepada pria berewok itu. Malahan Chandra berikan untuk Fera. Fera menatap buah jeruk yang sudah di kupas bersih.
"Makan, daritadi merengut saja! Manis kok," bujuk Chandra membuang biji jeruknya dari mulut.
"Aku mau yang asem bukan manis! Aku itu sudah manis buat apa makan yang manis!" tuturnya makin cepat langkah kakinya menuju rumah.
"Yang sabar ya, Kak. Mungkin lagi Pe-Em-Es. Biasanya wanita kalau lagi haid banyak sensitif, cukup pilih tangan kanan atau tangan kiri. Kalau tangan kanan masuk ke tukang pijat, tangan kiri masuk rumah sakit," cerocos Lily malah ngelawak.
Sampai di rumah Fera malah duduk di sebelah pohon jambu yang tidak berbuah selama bertahun-tahun lamanya. Chandra membawa buah ke dapur meminta Bibi Inem mengupas dan juga buatkan bumbu rujak.
Chandra kembali keluar, sedangkan Lily malah ke belakang melihat ternak ayam. Chandra mencari istrinya padahal jelas melihat bahwa istrinya tadi di pohon jambu itu.
Di cek apakah Fera sedang panjat pohon jambu itu tapi tidak mungkin istrinya pasti tidak bisa memanjat, sibuk mencari istrinya dan terdengar suara mengoceh tidak jelas.
"Dasar suami jelek! Kau juga sama semakin jelek, makan yang banyak jangan kayak si jelek sudah punya istri masih juga gatalan! Pakai acara bohongi aku lagi, di tanya foto figura itu siapa muncul wanita mana lagi. Memang pria sama saja cuma gombalan bau tahu pisang sosis doang!" merepet entah apa saja Fera sambil memegang ranting kayu
"Kalau kau sudah besar nanti jadi betina yang baik dan jahat, cari jantan itu cakepan jangan kayak aku sudah nikah sama si jantan jelek, pembohong, busuk lama-lama. Sekarang wanita mana lagi muncul, sudah punya anak, Papa, mereka, pengin banget itu muka si jel---"
"Ngomel apa sih?" Suara tidak asing bagi Fera muncul.
"Ngapain di sini! Sudah pergi sana sama istri cantikmu itu, Jeguk sana anak-anak mu yang sudah menanti Papa nya pulang!" cicit Fera membeo
Chandra malah cekikikan melihat sikap istrinya lagi cemburu, apalagi kalau sudah marah tidak jelas itu.
"Anak darimana? Dia itu memang rada sinting nya, karena sering di tinggal pacar jadinya itu otak sedikit tergeser." jongkok Chandra mengelus rambut kepala istrinya.
"Apanya otak tergeser wanita cantik seperti itu mana mungkin sinting! Bilang saja kau simpati sama dia, dari tadi di pasar minggu asik tempel mulu aku di cuekin sama mu!" cemberut nya membuang ranting kayu itu.
Chandra malah senyum gemas kalau istrinya marah lucu, "uluh uluh, istriku minta di manja nih kayaknya. Itu bibir maju sedikit lagi memang minta dicium," gombal Chandra
Suara dari depan rumah tengah memanggil Chandra. Chandra pun menoleh belakang sosok wanita tengah mencari sosoknya.
"Sudah dong merengut nya, kita makan rujak ya. Tadi aku minta Bibi Inem buatkan rujak, yuk!" Chandra kembali membujuk.
Fera melirik dan Chandra mengangguk kecil, "Gendong!" ia merentangkan kedua tangannya melebar.
Chandra menurut saja, kalau istri lagi manja tidak boleh menolak bisa-bisa jatah malam di puasakan. Di bawah pohon jambu sudah pada berkumpul ada Ibu dan Ayah mertua, Bibi Inem, Lily, beberapa kucing peliharaannya.
"Kak Chandra kemana saja! Ya ampunn, mesra banget sih!" jadi salah tingkah si Lily nya.
__ADS_1
"Mesra juga karena pengantin sudah biasa lah, Lily. Makanya kau juga cepat nikah jangan tunggu Chandra yang sudah ada yang punya." sambung Hana ternyata bisa humoris juga.