Ugly Husband

Ugly Husband
EPILOG ( TAMAT)


__ADS_3

"Paaapppiii...!" teriakan dari seorang anak kecil berlari kecil ketika seorang pria baru saja pulang dari tempat kerja. Berjongkok kemudian memeluk tubuh kecil yang manis dan mungil itu. Rambutnya benar sangat mirip dengannya ikal, bulu mata yang lentik seperti wanita yang saat ini tengah menyiapkan makan malam untuk keluarga kecil yang bahagia ini.


Wanita itu tidak pernah berubah selalu memasangkan wajah galaknya namun pria itu sangat mencintainya. Pria itu adalah Chandra Hermawan Libra yang sekarang telah berusia 33 tahun sedangkan wanita yang sibuk di dapur adalah Ferawati Christian Sugiono telah memasuki 30 tahun. Putri kecil Claudia Cristiana Libra tumbuh sehat dan imut di sayangi oleh kedua pasangan suami istri. Claudia telah berumur 5 tahun.


Sejak kelahiran putri pertama sifat Fera semakin jauh berbeda cerewet, galak, dan mudah cemburu karena putri kecilnya lebih dekat dengan Chandra daripada Fera. Entah apa yang merasuki putrinya ini selalu saja membuat Fera menahan amarah dan kesal setiap sifatnya turun menurun seperti Chandra yang menyebalkan itu.


Chandra menurunkan Claudia di tempat duduk meja makan, kemudian ia menghampiri istrinya yang dari tadi sibuk dengan masakan makan malam itu. Chandra melingkar kedua tangannya di pinggang istrinya itu. Fera menunduk kebiasaan suaminya tidak pernah berubah selalu berikan kehangatan dan perhatian kepadanya.


"Kau sudah pulang? Segera mandi dan makanan malam sebentar lagi matang dan kita makan bersama," ucap Fera mematikan kompor gasnya. Chandra belum juga untuk beranjak pergi tempat posisinya ia menyandarkan dagunya di atas bahu istrinya ras geli di bagian lehernya mengenai bulu kecil milik Chandra itu.


"Sebentar lagi, sudah lama aku merindukan masa kita berdua seperti ini. Sepertinya istriku semakin berbeda mulai pintar memasak," puji Chandra


"Benarkah? Terima kasih kalau begitu. Sudah cepat mandi sana, kau tidak kasihan putri kita sudah menunggu dirimu. Bisa-bisa aku diomelin oleh putri kecilmu sikapnya tidak jauh beda dengannmu semakin menyebalkan!" sergah Fera memerintahkan Chandra segera untuk segera mandi kemudian makan malam keluarga.


****


Dimeja makan Claudia duduk di pangkuan Chandra sedangkan Fera sendirian tanpa yang mendampinginya kemesraan kembali dilanjutkan membuat wajah wanita tiga puluh tahun ini menahan kesal dan jengkel. Kapan dirinya bisa bermanja seperti putrinya ini, yang melahirkan dirinya terus kenapa sifat dan wajahnya selalu tercetak suaminya.


"Papi, nanti malam tidur sama Laudia ya!" ucap Claudia mendongak kepalanya.


"Hm..." Chandra melirik istrinya sejenak, seharusnya jadwal itu tidak untuk membagi dua.


"Malam ini tidur bersama dengan Mami ya, kasihan Mami sendirian masa Papi tinggalkan dia sendiri sih?" Chandra membela istrinya.


Tetapi Claudia malah merengut menatap tajam arah Fera, "Mami tidak pernah sendirian kok,Papi. Setiap malam Mami selalu di temani sama ponsel ganteng terus ketawa-tawa sendiri kayak orang gila. Laudia sampai kesal sama Mami. Apalagi Papi waktu tidak ada di rumah, Mami terus sibuk sama ponsel ganteng." Celoteh Claudia panjang lebar


Chandra yang mendengar pun bingung ponsel ganteng Fera malah biasa saja tidak menunjukkan rasa kaget atau bagaimana. Chandra sih tidak terlalu mencurigakan kelakuan istrinya itu mungkin saja dia butuh hiburan jadi melihat selebgram di ponselnya. Bagi Chandra tidak ada larangan apa pun jika istrinya mencoba untuk selingkuh ia yakin putrinya mengatakan ini agar Chandra memarahi istrinya.


Setelah selesai makan malam Claudia langsung ke depan televisi membuka film kesukaannya dan tentu akan di temani oleh Chandra. Tapi sebelum itu Chandra membantu istrinya mencuci piring dari sikap pendiam Fera dapat di tebak kalau dirinya sedang kesal dengan putrinya sendiri.


"Besok kita kerumah Mamamu tadi sore mereka telepon katanya rindu dengan Claudia. Sekalian kita liburan, dan malamnya bisa mesraan berdua denganmu. Jangan merengut seperti itu, semakin terus bibirmu ke depan itu ingin di minta cium." Gombal Chandra, Fera senyum malu..


"Benar ya, awas kalau kau mengingkari nya." Fera memastikan lagi,


"Iya pasti. Untuk istri manja ku," ciuman hangat untuk Fera.


****


Sesuai janji Chandra membawa Claudia kerumah Nenek Melisa, mereka pergi ke kampung halaman kelahiran Fera. Melisa sibuk menyiapkan makanan kesukaan cucu satu-satunya, sedangkan Roy malah sibuk membeli pelengkapan mainan untuk Claudia. Perjalanan tidak memakan waktu yang lama, hanya satu jam saja telah sampai tujuan. Claudia turun dari mobil kemudian berlari kecil di sana telah disambuti kehangatan oleh kedua orang tua yang sudah lanjut usia.


"Nenek ... Kakek ..." Claudia melentangkan kedua tangannya dan Roy mengangkat tubuh mungil itu. Pelukan erat dari Claudia sungguh melepaskan kerinduan mereka berdua.


Fera dan Chandra membawa tas Claudia, mereka akan menginap di rumah selama dua minggu dan rumah ini tidak akan merasa sepi lagi akan ramai dengan suara ceria dari Claudia. Orang tua Chandra mungkin akan menyusul ke sini dan berkumpul bersama.


Waktu telah berlalu langit pun telah menjadi gelap Claudia masih sibuk bermain dengan Kakeknya sedangkan Fera tengah membantu menyiapkan makan malam. Melisa tengah memasak dan Fera menata piring ke meja masing-masing.


"Jadi kau tidak ingin menambah satu lagi untuk Claudia?" Melisa tiba-tiba menanyakan hal tidak terpikirkan oleh Fera sebelumnya.


"Belum, Ma," jawab Fera.


"Usia mu masih muda tambah satu lagi dan Claudia tidak merasa sepi, untuk sekarang dia masih belum meminta untuk adik tapi suatu hari dia akan menanyakan ketika bertemu dengan teman sebayanya." kata Melisa


Fera tidak membalas perkataan dari ibunya, makan malam berkumpul satu keluarga besar. Hanya suara sendok dan garpu di atas piring berirama. Fera masih memikirkan perkataan ibunya sementara Chandra membersihkan mulut putrinya. Beberapa menit kemudian malam telah semakin larut Fera masuk ke kamar setelah menidurkan Claudia di kamar masa kecilnya.

__ADS_1


Sedangkan Chandra di kamar menunggu istri tercintanya, sudah waktunya Chandra menagih utang kepada istrinya. Fera menutup pintu lalu masuk ke kamarnya di sana tanpa permisi Chandra menarik pinggang istrinya.


"Sabar kenapa sih!" Ketus Fera.


"Kita buat adik untuk Claudia," bisik Chandra, "Kau yakin?" balas Fera.


"Tentu, kita sudah sepakat sebelumnya usia Claudia sudah lima tahun sudah waktunya dia butuh teman untuk bermain yaitu adik," jawab Chandra.


Fera merasa bimbang tapi benar sih Claudia merasa kesepian dia pasti bosan sendirian terus di rumah. Malam ini Fera dan Chandra tentu akan membagikan kembali kebahagiaan untuk putri tunggalnya. Dan Fera tidak akan merasa kesepian dan cemburu jika memiliki anak keduanya.


****


Dua bulan telah berlalu dengan doa yang dipanjatkan oleh dua pasang suami istri ini pun akhirnya diberi kesempatan untuk hamil lagi dari keluarga kecilnya. Claudia akan mendapat adik baru dikandungan seorang wanita


berusia tiga puluh tahun itu. Dengan harapan dinanti pun membawa dunia semakin


berwarna.


Chandra baru saja pulang dari kantor kesibukan baginya tidak membuat dua perempuan ada di rumah petak sederhana menunggu suara tawa dan canda itu. Fera tidak merengek atau manja seperti pertama kali hamil anak


pertamanya.


Claudia lebih mengutamakan menjaga kondisi ibunya yang masih sedang hamil muda masa proses tumbuhan pada perutnya. Bukan itu saja di rumah sederhana ini kedua orang Fera dan Chandra pun ikut menginap untuk keramaian agar Fera tidak mudah bosan.


"Aku pulang!" teriak Chandra sejak memiliki anak sikap pria berewok itu semakin gemas berteriak seperti anak kecil.


Fera merasa syukur bahwa suaminya sangat menyayangi anak-anak tidak pungkiri bahwa Claudia sangat dekat sekali dengannya. Walaupun dirinya selalu dicueki dan diacuhkan oleh mereka berdua.


Chandra selalu membagi kasih untuk istri dan  anak. Fera pun mendatangi suaminya dan meraih tas kantor dari tangannya, sementara Chandra menggendong putri kecil yang menggemaskan itu.


"Bagaimana keadaanmu, masih mual?" Sebaliknya Chandra bertanya kesehatan istrinya.


"Sedikit, apa kamu sudah merasa lapar? Biar aku masak sebentar," ucap Fera kemudian bertanya kepada Chandra.


”Tidak perlu, hari ini aku ingin mengajak Claudia dan kamu makan di luar." Menolaknya dan sebaliknya dia mengajak keluarga kecil tersebut.


Fera menoleh dan mengernyit kedua alisnya walau wajah yang di miliki nya masih tidak berubah masih cantik dan keras kepala, tetap tidak bisa lepas adalah pria berewok itu.


"Kenapa tidak makan di rumah? Memang ada acara apa diluar?" Fera mulai memikirkan hal negatif.


"Jangan prasangka buruk, kita sudah lama tidak makan diluar sejak kehamilan Claudia. Dan aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu sekian lama aku menahan agar semua tidak ada lagi salah paham di dalam keluarga kecil kita nanti," ucap Chandra mengelus wajah istrinya.


"Asyikk makan diluar! Nenek, Kakek, Papa ajak Claudia makan di luar," teriak Claudia turun dari gendongan Chandra.


Chandra mendekati istrinya, sebenarnya wanita tiga puluh tahun itu sudah melupakan kejadian lima tahun yang lalu tersebut tapi bagi Chandra itu harus di selesaikan tidak ada lagi salah pahaman di antara mereka berdua.


"Tidak perlu diceritakan aku mengerti, anggap itu masa  lalumu. Kalau kamu ceritakan malah nanti luka itu semakin melebar," cicit Fera pelan.


"Tapi aku sudah berjanji akan menceritakan kepadamu. Aku tidak ingin karena hal ini kamu tertekan seperti kehamilan Claudia, dan setelah itu pun ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu. Aku harap kamu menyukainya, jadi jangan tunjukkan wajah sedih seperti itu kasihan adik di perut," terang Chandra memegang wajah istrinya dan menatap lekat kedua mata hitam cokelat itu.


****


Pada akhirnya Chandra membawa Fera dan Claudia tempat pantai. Pantai lestari adalah lokasi yang sejuk. Sekaligus makanan yang lezat diminati oleh manusia lokal.

__ADS_1


Fera senyum melihat putrinya mempunyai teman sebaya bermain dengannya di sana sementara Chandra membawa minuman segar dan cemilan untuk istrinya. Dibawah pohon sertai terik yang panas tidak membuat wanita hamil itu mengeyel.


"Jadi apa yang mau kamu ceritakan?" Fera mulai berbicara.


"Aku ingin menceritakan soal figur foto lima tahun yang lalu permasalahan soal pertengkaran kita sebelumnya," lanjut Chandra mengupas jeruk untuk istrinya.


"Terus?”


"Wanita yang ada di foto ketika masa kuliahku itu adalah sahabat baikku, dia bernama angelica. Dia sama seperti kamu, memiliki sifat yang keras dan baik namun manja hanya beda dari sifat itu adalah kemandirian," Cerita Chandra


"Lalu,"


"Lalu, dia itu sudah pergi jauh, tidak akan kembali lagi. Ketika  hari  kelulusan wisuda adalah foto terakhir sebagai


perpisahan darinya. Kejadian itu lebih kurang dia pergi selamanya membuat semua orang shock akan dirinya. Dia meninggal saat untuk melanjutkan study di Jerman. Dia mengalami kecelakaan tepat dimana mengatakan kepadaku "Terima kasih," Padahal aku tidak tahu menahu walau pun ada luka ketika dia cepat pergi meninggalkan kami semua," lanjut Chandra menceritakan di balik wajahnya teringat wajah sahabatnya.


"Jadi kamu sayang sama dia?" Fera bertanya tidak merasa ada tergores dihatinya karena setiap luka masa lalu pasti akan kembali berbekas.


"Ya, sayang. Tapi aku lebih sayang kamu. Karena kamu istriku bukan dia. Maaf, kalau aku menyimpan semua darimu. Awalnya aku mengira kamu itu angelica, tapi aku salah kamu bukan Angelica tapi Fera seorang wanita tanggung, emosional, keras, dan manja," lirik Chandra sayup menatap wajah istrinya yang berbeda.


"Benarkah? Jadi selama menikah kamu anggap aku itu Angelica? Sahabat baik yang telah pergi itu?" Fera kembali mengulang pertanyaan itu.


Chandra mengangguk kepala tanpa sadar,  "baiklah kalau begitu, CLAUDIA! AYO KITA PULANG!" teriak Fera memanggil putrinya.


"Kamu mau kemana?" Chandra menahan istrinya angin pantai mulai mengundang para pengunjung.


"Pulang! Katamu aku ini hanya bayangan Angelica! jadi untuk apa aku disini, bukannya Fera itu nggak berarti  untukmu?" jawabnya ketus.


"Bukan begitu, itu masa lalu sayang, kamu itu Fera yang aku sayangi, cintai, kasihku, manjaku, kamu bukan bayangan Angelica, duduk dulu jangan pulang.. Masih ada sesuatu yang lebih mengejutkan!" Chandra menahan


istrinya bersih kekeh untuk pulang dari tempat pantai itu.


Tapi Fera di kejutkan sesuatu dari seseorang, suaminya menunjukkan sebuah kotak besar ya mungkin itu bukan kejadian seperti mimpi masa lalu.


"Maksudnya ini?"


"Hari ulang tahun pernikahan kita, dan putri kecil kita, bagaimana kamu suka?" Chandra berikan tiket jalan-jalan ke Singapura.


"Yang benar?" Fera masih kurang yakin


"Benar," seru Chandra


"Berarti aku bisa bawa mantanku kan?" sorak Fera mulai lagi


"Iya, boleh—eh bentar mantan? Maksud kamu?" Chandra kembali sadar


"Iya mantan, aku boleh bawa mantanku ke Singapore kan?" ulangnya lagi


Wajah Chandra berubah, "tidak boleh,"


"Kenapa? Adik mau ketemu mantan!"


Moment hubungan pernikahan mereka di dasarkan keharmonisan berwarna Chandra menolak atas permintaan istrinya mengajak para mantan walau kandungan dalam perut meminta untuk menemui mantan terindahnya tetap bagi Chandra itu tidak efesien.

__ADS_1


****


TAMAT


__ADS_2