
Sampai di rumah mertua Fera langsung masuk rumah menuju kamar dengan muka masam. Roy dan Melisa menoleh dan memperhatikan putrinya sementara Chandra baru masuk wajah orang tua lega.
"Bagaimana? Apa dia buat macam-macam?" Melisa bertanya kepada Chandra.
"Tidak, Ma. Sudah tadi kecelakaan kecil. Mobil Papa lecet di belakang cuma masalahnya sudah selesai kok," jawab Chandra menyerahkan kunci mobil ayah mertua.
"Ya ampun, kenapa bisa? untung kamu tidak kenapa-kenapa. Ya. sudah mandi lah Mama buatkan teh hangat dulu." Kehebohan ibu mertua membuat Chandra senyum kecil.
Fera baru saja selesai mandi memakai baju tidur bermodel bentuk gambar pigiun. Chandra membuka pintu kamar istrinya, maksudnya ingin ambil baju miliknya untuk di ganti.
Chandra memperhatikan gerak-gerik istrinya kalau lagi ambek begitu makin gemas saja. Sayangnya tidak boleh dekat atau pun sentuh nasib jadi suami kalau sudah rindu berat banget sama istri manjanya.
"Apa lihat-lihat?" ketus Fera tiba-tiba bersuara.
"Tidak ada apa - apa, ya sudah tidurlah. Sudah malam, I miss you." sahut Chandra meninggalkan kamar istrinya.
I miss you too... balasnya dalam hati. Fera begini marah karena sayang juga sama suami.
Udara semakin dingin mencengkeram, Fera tidak bisa tidur efek posisi tidur tidak nyaman itu. Sedangkan Chandra tengah bersanding di tempat tidur sambil membaca buku bisnisnya.
Terdengar suara merengek mengadu, dan mengeluh. Dia pun segera mengecek kamar sebelahnya secara otomatis terbuka. Menemukan tingkah istrinya memegang perut uring-uringan.
"Kau kenapa? Mana yang sakit?" Chandra kembali bersimpati kepada istrinya.
"Sakit!" rengeknya manja
"Sakit di mana? Sini aku lihat." Chandra mencoba buka bajunya posisi Fera memegang bagian tepat di perut.
"Mau ngapain?" Nada Fera tiba menegas "mau periksa," jawab Chandra tanpa berdosa.
"Siapa suruh kau datang ke sini? Keluar?" sergahnya langsung meminta Chandra keluar dari kamarnya.
Chandra bingung antara keluar sedangkan istrinya mengeluh kesakitan. Dalam hitungan tiga ia pun menuruti permintaan istrinya yaitu keluar dari kamarnya.
Baru tiga langkah untuk menuju gagang pintu, "Kau mau kemana?" Fera bersuara kali ini nadanya lembut.
"Tapi suruh aku keluar?" kata Chandra lebih lembut lagi takut istrinya marah kalau di jawab ketus.
"Ikut!" cicitnya, "ikut? aku cuma dia sebelah kamar," terang Chandra
"IKUT!"
__ADS_1
Tanpa babibu lagi Chandra menuruti dan menggendong istrinya ke kamar sebelah. Untung dia sabar jadi apa pun lakukan untuk istrinya.
Fera tengah tertidur sambil memeluk suaminya. Badannya sedikit kram dan kaku butuh ganti posisi biar nyaman. Sayangnya itu tidak bisa, tangan Fera melingkar sangat erat dan kuat. Dia benar sangat tersiksa terduduk berjam-jam dan membiarkan istrinya memeluk.
Digeser rambut tertutup wajahnya, bahagia kalau melihat istrinya manja lagi kadang menyebalkan menurut Chandra. Tiba-tiba marah tidak jelas, mudah cemburu, mudah-mudahan untuk hari esok dia tidak marah soal masalah kemarin.
"Jangan marah-marah lagi, aku itu rindu sama manjamu. Maaf kalau membuatmu tertekan karena ini semua. Akan aku ceritakan soal foto figur itu. Aku tidak sabar ingin melihat kau itu mengidam apa, apalagi mendengar suara mereka. Tetap seperti ini terus ya, sayang. Cintaku itu hanya kau seorang tidak ada yang lain." ucap Channdra mencium kepala rambutnya sangat lama dan ikut memejamkan matanya juga.
****
Esok paginya Fera bangun merasa aneh melirik sekitar kamar itu bukanlah miliknya melainkan kamar masa kecilnya. Sementara di sampingnya sesuatu yang panjang berada dibelakang lehernya.
Seseorang tengah tertidur tanpa alas bantal sebagai penggantinya pembatasan ranjangnya keras - datar - kokoh. Rasa sakit di lehernya pun sebentar lagi akan terasa kram baginya.
Chandra tidak dapat bergerak lagi karena lengan kirinya seharian di jadikan bantal istrinya mulai ringan, ia mengerang kesemutan, Fera bangun menjadi posisi terduduk menatap wajah suaminya itu.
"Kau sudah bangun, apa masih sakit? Kita ke dokter saja ya?" Chandra bertanya bukan mencemaskan keadaannya dulu malah istrinya.
"Aku kenapa bisa di sini?" Fera malah sebaliknya bertanya kepada Chandra.
Chandra mengangkat satu alisnya sambil menggerakkan leher segalanya itu kaku semalaman menjadi penjaga tidur akibat istrinya mengeluh karena sakit di bagian perut.
"Benarkah? Atau kau memang sengaja menggendong ku sampai di sini?"
"Kau tidak mengingat sama sekali? Sudahlah, aku mau bersiap dulu untuk ke kantor," ucap Chandra turun dari ranjang giliran dirinya tidak ingin banyak bicara.
Fera masih memperhatikan tingkah laku suaminya itu menghilang dari pandangannya.
Beberapa menit kemudian Chandra keluar dari kamar lengkap dengan pakaian kerjanya. Pagi ini ia akan kembali bekerja selama beberapa hari cuti dan tugas kerja di kantor pasti sudah menumpuk di atas mejanya.
Fera juga selesai dengan perlengkapan pakaiannya yang sopan dan cantik, rambut panjangnya doa sanggul ke atas membiarkan sisa rambut kecil berjajar bebas di wajahnya.
"Kau ingin kerja? Di rumah saja." ucap Chandra.
Chandra mengecup kening istrinya kemudian ia pun meninggalkan kamar itu, tetapi Fera malah membuntuti suaminya dari belakang. Merasa aneh untuk Chandra sendiri ia pun menoleh istrinya menatap dan senyum padanya.
"Kenapa? Jangan takut aku tidak macam-macam kok di kantor. Baik-baik ya dirumah, hari ini jangan kerja dulu," ucap. Chandra kembali mengacak rambut istrinya.
Fera masih diam suaminya melanjutkan langkahnya, Chandra harus menarik napas panjang lagi belum juga mengangkat kaki untuk injak lantai bekeramik itu.
Chandra tidak mengerti dengan kebisuan istrinya. Tanpa rasa bersalah pun ia menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Nanti di kantor jangan cari masalah ya, hari ini aku ada meeting beberapa klien. Kalau ada apa-apa minta sama orang kantor ya." lanjut Chandra memesan kepada istrinya bersiap untuk berangkat kerja.
"Pulang ke rumah," gumam Fera pelan.
Chandra yang baru keluar dari parkiran rumah mertuanya berhenti mendadak. Fera terhantam ke depan, Chandra melirik samping bukan karena apa - apa tepat di depan ada kucing lewat.
"Maaf, aku tidak sengaja. Kau tidak apa-apa, kan?" Chandra malah bertanya tanpa dosa.
Chandra memastikan lagi takut istrinya marah berhenti mendadak. Bisa-bisa hari ini nasib untuk kedua kalinya.
"Chan,"
"Ya!"
"Tadi kau dengar aku omong tidak?" Fera bertanya sinis
"Pulang ke rumah kan? tapi setelah jam kerja," jawab Chandra.
****
Sampai di rumah sederhana Chandra bagaikan tikus tertangkap basah oleh majikannya. Ponselnya berdering kembali Fera telah turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Maaf ya, saya tidak bisa hadir. Di lain waktu kita bertemu lagi. Permasalahan istri saya sedang---"
Panggilan terputus Chandra mendapat masalah besar. Rasanya ia ingin melampiaskan sesuatu yang berguna. Fera sedang di dapur mengerjakan sesuatu, Chandra menyusul dengan wajah yang sangat masam banget. Pertemuan dengan klien di batal, semua produk pun batal. Tapi untungnya masih ada beberapa mengerti keadaannya sekarang.
"Sayang, setelah ini aku tinggal kau di sini, bisa?" Chandra mulai bersuara meminum teh hangat buatan istrinya.
"Mau kemana? Aku ikut!" Fera bertanya dan langsung menjawab tanpa beri kesempatan untuk suaminya.
"Aku ada janji dengan klien, kalau kau ikut nanti malah tidak enak hati sama---"
"Sama mantan terindahmu?" sambung Fera dingin tidak beri ekspresi apa pun.
Chandra menelan air liurnya, tertangkap basah lagi. Memang sih Chandra ingin berjumpa dengan sahabat baiknya.
"Tidak perlu di sembunyikan dariku. Aku tidak akan marah, kalau aku ikut juga. Bukankah katamu kau itu hanya cinta padaku? Jadi, aku berhak mengetahuinya seberapa hubunganmu dengan mantan terindahmu itu. Sebagai istri harus melindungi martabat hubungan rumah tangga dan juga pernikahan. Sudah aku katakan berulang kali jangan coba kau ulangi perbuatan mu. Kau boleh saja membohongi seribu cara, tetap tidak ada yang bisa mengambil yang sudah menjadi hak milik istri!" terang Fera meceramahi suaminya.
Kali ini bukan Chandra berikan pencerahan melainkan istrinya sendiri. Ini sebuah ancaman tidak main-main untuk Fera seorang wanita dua puluh lima tahun itu.
"Aku ingatkan sekali lagi padamu, ancamanku kali ini tidak main-main. Jangan sampai kau juga aku permalukan di depan umum meskipun aku dalam keadaan hamil muda!" lanjut Fera berdiri dari duduknya dan melewati Chandra yang masih duduk di meja makan dalam keadaan membisu.
__ADS_1