Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 13


__ADS_3

"Jadi kapan kalian beri cucu untuk Mama sama Papa?" Pertanyaan pertama dari Mamanya Chandra - Hana.


Baru sampai rumah pembahasan membuat kedua pengantin ini terdiam dan bengong menatap seling berganti.


"Eh, itu--" Fera harus jawab bagaimana, "do'ain saja, Ma," jawab Chandra membantu masuk tas milik orang tuanya.


"Ya, kapan? Kalian menikah sudah berapa minggu masa belum ada tanda persiapan untuk beri cucu untuk Mama? Mama kan pengin gendong cucu menantu sendiri," seru Hana mengharap ada mereka mengerti bagaimana menjadi nenek.


Fera jadi bingung sendiri ia saja ragu untuk beri cucu, soalnya sejak pernikahan mendadak hubungan dengan suami sendiri belum juga di lakukan. Gigit jari deh, ia ingin jawab takut salah tersinggung mertuanya.


"Ma, itu--"


"Tidak secepat itu, Ma. Punya anak prosesnya lama, kalau Tuhan di berikan secepatnya, puji syukur dan Terima kasih. Kalau belum di berikan kesempatan untuk kami berdua tinggal tunggu sabar saja, yang lebih di pentingkan itu kesehatan Mama sama Papa," potong Chandra mewakili menjawab dari istrinya.


Fera lega tidak menjawab ia seperti mengerti kalau suaminya bahwa ia sulit menjawab, malu sendiri jadi istri tidak menghargai.

__ADS_1


"Ini pasti kamu terlalu sibuk sama pekerjaan kantor sama perusahaan, jadinya istrimu di terlantarkan. Cuti beberapa bawa istrimu jalan-jalan, Mama sudah ingatin kepadamu setelah menikah bulan madu dan beri kabar bahagia untuk kita berdua. Kebiasaanmu itu tidak pernah mau mendengar nasehat orang tua. Harus pentingkan diri sendiri! Mama cari istri baik - baik untukmu malah di terlantarkan. Mama tidak mau terjadi untuk kedua kali, cepat beri cucu untuk Mama," panjang lebar Hana menceramahi Chandra.


Fera yang di dalam kamar sangat jelas mendengar ceramah dari ibu mertuanya. Chandra hanya menyimak dan duduk diam tidak melawan sepatah kata pun dari ibunya.


Fera menyadari jika dia di posisi suaminya dan yang di ceramahi itu adalah ibu sendiri. Pasti ia akan membantah setiap perkataan dari ibunya. Ia tidak bersyukur telah di jodohkan dengan pilihan orang tua sendiri agar mengerti dan menyadari pernikahan sesungguhnya itu seperti apa.


Sekarang ia merasa bersalah terhadap suaminya, malu pastinya ada. Cuma rasa gengsi itulah buat ia sulit mengungkap kata maaf kepada suaminya.


Pintu kamar milik mereka berdua terbuka oleh Chandra. Di samping pintu kamar itu Fera berdiri menyepi karena dari tadi ia menguping percakapan antara putra dan ibu.


Fera menatap suaminya tidak bersuara kembali menutup pintu kamar tersebut. Hening tidak ada kata-kata terlontar kan dari mulut pengantin baru ini.


"Jangan di paksain kalau kau belum siap untuk mencoba," potong Chandra bersuara nadanya pelan dan lembut.


"Tapi, Mama--"

__ADS_1


"Tidak perlu di serius kan, aku sabar kok menunggu dirimu siap. Aku tidak akan memaksa kalau memang belum waktu untuk lakukan," ucap Chandra senyum tipis dan mengusap pucuk kepala istrinya.


Fera makin serba salah  jadinya kenapa ia mempunyai suami begitu sabar dalam situasi tidak menguntungkan. Ia mengira selama menikah ibu mertua benar sayang dan selalu berikan mulia kepada putranya. Nasib sama seperti hidupnya.


"Aku siap kok." Fera berani mengucapkan kepada suaminya. Tidak ada salah melakukan karena sudah resmi menjadi suami istri.


Chandra menoleh dan menatap istrinya lekat-lekat. Bukan ia tidak ingin, malahan ingin kalau bisa beribu kali dia akan lakukan. Tapi dalam keadaan memaksa pun tidak akan cukup untuk bisa bahagia dalam tulus atau pun iklas.


"Jangan terlalu di paksakan, aku tidak ingin buat hidupmu tergantung karena ucapan Mama. Orang tua memang selalu begitu apa yang mereka inginkan tetap harus di lakukan, tapi aku tidak akan pernah memaksa sampai kau benar yakin dengan perasaanmu. Masih panjang hubungan perkenalan kita. Jadi, jangan terlalu banyak di pikirkan besok-besok Mama pasti sudah melupakan semuanya, sudah mandi sana setelah ini kita makan malam," ucap Chandra panjang lebar berikan terbaik untuk istrinya. Ia memang tidak ingin memaksakan situasi yang belum tepat dalam berhubungan.


"Tapi,"


"Keras kepala sekali istriku ini, sudah mandi saja, apa perlu aku mandikan?" Gemas lama-lama kalau Chandra lihat sifat istrinya.


"I-iya aku mandi, tapi, nanti malam kau tidur disini kan?" tanyanya mengingatkan kembali soalnya mertuanya di sini jadi tidak mungkin Chandra tidur ruang tengah bisa-bisa dapat ceramah lagi seperti beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


"Iya," jawabnya mengacak rambutnya lagi.


Fera sudah tidak melarang suami terus mengacak rambutnya malah dia suka dan kalau bisa pun selamanya. Ia akan mencoba mencintai suaminya dengan cara mengenal dari sifat penyabar nya.


__ADS_2