Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 36


__ADS_3

Tetap masih sama tidak ada yang berubah untuk wanita dua puluh lima tahun ini. Bangun tidur bereskan tempat tidur dan sekarang dia sudah berada di depan rumah duduk melihat orang melewati rumahnya, kendaraan keluar masuk dari pekalongan gang satu persatu.


Selain tempat perdesaan banyak pabrik produksi di sini. Pantasan kendaran mobil besar kadang buat suasana tidur siang tidak merasa tenang. Belum lagi pagi begini jam tujuh sudah ada penjual lewat di persimpangan.


Fera memperhatikan si penjual gerobak itu. Semakin di lihat rasa aroma tercium sangat jelas. Ia pun penasaran untuk melihat jual apa sih sampai ramai begitu.


"Ini apa, Bang?" Fera tiba bertanya pada si penjualnya.


"Kue cubit, mbak," jawab si penjual, "satu buah berapa?" tanya Fera lagi


"Lima - seribu, mbak," jawab lagi si penjual.


"Ya sudah, aku beli dua ribu ya, campur rasa ya, bang." Fera mengeluarkan selembar mata  uang Indonesia senilai dua ribu rupiah.


Si penjual kue cubit itu sedang dibuat baru agar lebih enak di nikmati. Fera menunggu penuh sabar sehingga aroma wangi adonannya tercium sangat jelas.


Banyak yang beli sehingga menunggu antrian. Fera melirik sekitar deretan rumah petak itu. Lama juga menunggu dan akhirnya giliran miliknya, ia serahkan uang selembar dua ribu kepada penjualnya.


Kemudian Fera kembali ke rumah dan duduk di kursi bambu panjang sambil menikmati kue cubit yang baru pertama kali ia dengar. Masih panas agak sulit untuk menggigit dan membelah jadi dua bagian.


Chandra baru saja selesai mandi, selanjutnya ia mencari keberadaan istrinya. Di dapur Hana sedang sibuk membuat kue untuk di jual setiap warung ke warung lainnya. Kalau Herman sedang mengurus ternak di belakang rumah.


Fera sudah memakan kue cubit tiga buah. Rasanya lezat di lidahnya masih ada sisa di kantong plastik. Chandra memperhatikan istrinya dan ikut duduk di sampingnya dan mencomot kue dari plastik itu.


Plak!


Chandra terkejut dengan pukulan dari istrinya, bukan hanya itu saja tatapan tajam Fera menyeramkan.

__ADS_1


"Satu ya!" Chandra meminta, Fera malah membuang muka dan membela kue dan bagikan untuk suaminya. Chandra senyum lebar.


"Nih!" senyuman lebar dari Chandra redup yang ia dapat secuil seperempat dari miliknya.


"Kok secuil? Rasanya tidak cukup untuk lidah. Di emut sudah habis." ucap Chandra memprotes.


"Mau atau tidak? Kalau tidak mau, ya sudah!" di tarik kembali langsung di masukan semua kue itu tanpa ada sisa untuk suaminya.


Penuh sangat penuh di mulut Fera sekarang. Pelan-pelan mengunyah, Chandra menggaruk berewok nya tidak rasa gatal itu.


Waktu terus berjalan Chandra masih bingung dengan sikap istrinya berubah - ubah. Membantu Bibi Inem menjemur pakaian di samping rumah. Chandra yang ingin menanyakan sesuatu merasa bahwa Fera sedang menghindar dari nya.


"Fer, aku mau bicara sesuatu..." Chandra terus menguntit istrinya kemana pun pergi. Masih belum berhasil


Fera keluar masuk rumah membantu, mengepel, melipat baju, menyetrika segala pekerjaan rumah ia lakukan. Chandra duduk berdiri, tunggu di kamar mandi.


"Fer, kau ini kenapa sih? Aku lagi bicara, soal pekerjaan biar Bibi Inem yang kerjakan. Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Sikap Fera masih membisu mengganggap ada radio rusak.


"Mau tanya apa lagi?" akhirnya Fera bersuara tapi cara bicaranya seperti tidak bahagia sekarang.


"Aku cuma mau tanya, semalam kenapa kau menangis? Apa kau mimpi buruk?" Pertanyaan semalam dari Chandra.


Fera diam sejenak, kemudian menatap lagi wajah suami jeleknya, "memang semalam aku menangis? Aku rasa tidak deh! Mungkin matamu perlu di periksa, sudah minggir sana aku mau kerja!"


PRAK!


Fera mendorong bahu suaminya tapi ia tidak sengaja menjatuhkan foto figura dekat televisi itu. Chandra menunduk dan ekspresi yang tadi penasaran ingin tahu sikap aneh istrinya. Sekarang yang buat ia berubah foto itu sekarang pecah.

__ADS_1


"Ups! aku tidak sengaja, biar sini aku bantu." Fera pura-pura tidak terjadi apa-apa menganggap ini adalah kecelakaan tanpa sengaja.


plak!


Chandra menepis tangan istrinya untuk tidak menyentuh serpihan kaca dan juga foto itu. Chandra mengambil foto figura itu wajahnya berubah masam.


"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Fera semakin bersalah.


"Untuk apa kau minta maaf, asal kau tidak terluka. Biarkan Bibi Inem bersihkan," kata Chandra datar dan dingin.


Dapat Fera rasakan di balik sisi wajah suaminya berubah. Menatap foto figura itu sangat serius. Dirinya juga merasa sakit jika sikap suaminya berubah karena menatap foto itu sangat lekat.


"Apa dia cinta pertama mu?" gumam Fera lirik untuk menahan panas di matanya.


Bukan waktunya ia menangis di saat seperti ini. Ia hanya ingin mengetahui dengan jelas bahwa foto itu lebih penting darinya atau hanya sekedar cinta dalam kebohongan.


"Maksudmu? Cinta pertamaku tetap dirimu," jawab Chandra menatapnya.


"BOHONG! Kau itu bukan cinta pertamaku! Kau itu pembohong!" teriak Fera membludak membuat orang yang ada dirumah menonton peributan itu.


Hana dan Herman baru saja pulang dari kondangan pesta pernikahan dari anak pak lurah. Saat masuk rumah sudah di kejutkan teriakan Fera tersebut.


Chandra diam sejenak dan menatap dua mata istrinya berkaca-kaca. Fera tidak tahan dengan dunia sandiwara dari suaminya sendiri. Ia ingin menyelesaikan semua walau kepalanya kembali meradang sakit luar biasa.


"Bohong apa lagi? Cinta pertamaku itu memang dirimu, istriku sendiri! Kau kenapa?" Chandra masih belum sadar dengan apa ia katakan.


"Aku tidak percaya, kau itu benar suami pembohong, jelek, munafik! Sampai kapan kau menyembunyikan semua kebohongan kepadaku! Kau mencoba untuk menguji kesabaranku lagi, aku muak dengan sandiwaramu, cukup untuk sekarang aku percaya kata-kata manismu itu! Tidak ada lagi yang namanya istri baik, ramah. Aku benci padamu, kau tak ada bedanya dengan lelaki lain sama - sama brengsek!" Fera murka semua kekesalan ia keluarkan tidak peduli para tetangga mendengar teriakan dan ucapannya..

__ADS_1


Chandra masih belum sadar dengan kata-kata dari istrinya ia masih bingung. Ia memilih diam membiarkan istrinya mengeluarkan semua amarah tersebut. Hana dan Herman terbengong menyasikan pertengkaran pengantin itu. Bibi Inem yang di dapur cuma sebagai penonton gratis.


Fera masuk ke kamar membiarkan darah yang keluar dari telapak kakinya mengenai serpihan kaca yang jatuh tadi. Bisikan mulai mericuh membuat Hana membubarkan mereka semua yang heboh tidak baik itu.


__ADS_2