Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 37


__ADS_3

Rumah petak sederhana suasana di dalam begitu menegangkan, sunyi, sepi, hening pokoknya cukup terdengar suara ayam, Bebek, angsa, burung-burung, angin, gemercik pohon, dan terakhir detak jarum jam dinding.


Chandra, Hana, Herman berada ruang tamu duduk merenung sibuk dengan pikiran masing-masing. Hana tidak tahu penyebab menantunya marah kepada putranya sebaliknya Herman juga. Chandra masih memegang selembar foto menatap gambar itu. Bibi Inem datang membawa minuman untuk mereka bertiga.


Fera di kamar memijit pelipisnya yang sakit luar biasa. Hidung sakit terlalu banyak menangis, mata perih ke asyik mengeluarkan air mata, tenggorokan sakit kebanyakan teriak. Ia tidak ingin keluar dari kamar ini, lebih menyenangkan di kamar menyendiri terlalu banyak menguras tenaga untuk suami jelek itu.


Masih hening ruang tengah tidak ada satu pun membuka mulut, Hana mengembuskan napas yang panjang. Chandra masih memikirkan kata-kata dari istrinya maksud arti kebohongan.


"Sebenarnya apa yang terjadi antar kamu dan Fera? Permasalahan kalian berdua itu apa? Apa setiap hari kalian bertengkar seperti ini?" Hana memulai buka suara pecahkan keheningan.


"Aku juga tidak tahu, ma. Permasalahan nya saja aku bingung, tiba-tiba dia teriak marah karena pecahkan foto figura tadi," jawab Chandra lesu.


"Terus? Kenapa dia bisa semarah itu? Kamu memarahi nya?" Hana bertanya


"Tidak, aku tidak memarahinya. Aku hanya bilang cukup Bibi Inem saja bersihkan serpihan kaca foto figura itu. Tiba-tiba dia bilang apa foto ini cinta pertamaku?" jawab Chandra masih nada pelan


"Sekarang Mama minta kamu segera selesaikan masalah rumah tanggamu itu. Jelaskan semua yang tidak dia ketahui. Mama tidak mau dengar ada gosip menyebar karena hal sepele ini. Mama sudah ingatkan padamu, kami mencari istri untukmu agar kamu berubah dan lupakan wanita ada di foto figura itu. Kamu itu sudah menikah, pasti istrimu marah menyembunyikan kenangan masa lalu mu untuk apa di tutupi lagi? Sampai masalah semakin bertambah panjang terus semakin rumit dan bercerai? Mama tidak mau dengar itu, jadi selesaikan dengan kepala dingin. Bicara baik-baik, wanita jika sedang marah itu lebih bahaya jika sampai terlambat, LAKUKAN!" Terakhir kata itu membuat Chandra masuk ke kamarnya.


Kalau sesama wanita itu tidak bisa di tolak. Chandra pun menuruti perintah ibunya. Ada benar ia menceritakan semua, baru sadar kesalahannya fatal. Apakah istrinya sudah mengetahui soal foto figura itu.


Fera melemparkan tisu ke sembarang tempat, tidak peduli seberapa kotor kamar sekarang. Yang ia butuhkan itu tenangkan diri kepala semakin denyut - denyut efek terlalu menahan tangisan.


"Yang," Chandra menyentuh bahu istrinya.


Fera menyingkirkan tangan jahanam itu dari bahunya, "tidak perlu kau sentuh - sentuh tangan brengsek mu itu!" parau suara ketus dari Fera.


Masih belum stabil amarahnya, Fera paling anti segala kebohongan, kemunafikan. Walau pun di mana teman-teman baik padanya karena ia punya segalanya. Ia sudah sering di khianati oleh para mantannya yang berselingkuh. Memang dulu ia labil tidak peduli dengan cemoohan orang. Sekarang ia merasakan mencintai suami sendiri dalam kebohongan setiap saat. Apa ia masih mau percaya lagi, mantan, sahabat, persetan dengan hukum sebab akibatnya.


Ia tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar kesabarannya telah habis, sudah ketiga kali ia di bohongi oleh suami sendiri.


"Aku tahu kau pasti marah karena foto figura ini kan, aku akui salah tidak mengatakan sesungguhnya kepadamu. Tapi, kau bisa kan dengar ceritaku, aku akan jujur dan jelaskan semuanya." Chandra mulai berbicara Fera tidak menjawab masih sibuk dengan ingusnya yang keluar masuk.


"Tidak perlu di jelaskan lagi, cukup tahu saja. Kebohongan tetaplah kebohongan berapa kali pun kau jelaskan kepadaku, aku sudah tidak percaya lagi padamu. Mencintai atau di cintai pun tetap tidak akan terobati lagi, sudah berapa kali kau bohongi aku? Aku bersabar percayai, tapi ini tidak perlu lagi kau jelaskan! Sementara waktu jangan temui aku, aku ingin pulang ke rumah mama." sambung Fera mengungkapkan semua rasa kesal di dalam dirinya. Suara parau disertai tangisannya dapat Chandra dengar.


"Jadi kau tidak cinta aku lagi?" Chandra bertanya melirik punggung yang baik turun karena isak tangis istrinya.


"Cinta? Untuk apa cinta kalau kebohongan mu selalu tersimpan di wajah sandiwara mu," jawab Fera tawa kecil ia merasa itu adalah lelucon yang pernah ia temui.

__ADS_1


"Jadi kau tidak ingin mendengar penjelasan ku?" Chandra kembali bertanya dan membujuk.


"Sudah aku katakan tidak perlu lagi di jelaskan! Keluarlah aku butuh istirahat, malam ini kau tidur di bawah. Aku tidak ingin di sentuh oleh mu." jawab Fera kembali membaringkan tubuhnya di atas bantal posisi menyamping membiarkan tisu bertebaran dimana-mana.


Chandra mengembus napas yang panjang. Ia pun bangkit dari duduknya dan memungut tisu itu di lantai, kemudian ia melirik telapak kaki istrinya berdarah. Tapi darah itu telah kering akibat kelamaan di biarkan. Ia pun mencari kotak P3K.


Fera tidak merasakan apa-apa, rasa kantuk di dua matanya telah menjemput di tambah lagi denyutan kepala nya menjadi - jadi. Ia tidak sadar bahwa suaminya tengah mengobati telapak kaki mengenai serpihan kaca itu. Setelah selesai di obati, Chandra berjongkok memandang wajah istri yang merah di sisi pinggir kantong matanya, hidung dan bibir. Elus-elus pipinya yang memucat itu.


"Maaf buat mu marah karena aku, mungkin sekarang belum bisa aku ceritakan, suatu saat ini kau mengerti aku tidak akan pernah meninggalkanmu atau pun kau mencoba menghindar, cinta pertamaku itu tetap kau seorang." gumam Chandra berdiri dari jongkok nya dan meninggalkan kamar biarkan Fera tidur di dunia mimpinya.


****


Pada malam telah tiba Fera tidak ikut makan bersama dengan mereka. Keadaannya masih belum membaik setelah kejadian siang hari. Hana dan Herman tidak mengungkit masalah itu selain makan. Bibi Inem menuangkan minuman untuk mereka.


"Bi, tolong bawa makanan ini ke kamar sama minuman hangat ya," ucap Chandra meminta bantuan kepada Bibi Inem..


"Baik, Nak Chandra." patuh Bibi Inem membawa nampan berisi nasi yang sudah di taruh lauk yang sehat.


Ketukan pintu kamar tiga kali oleh Bibi Inem, ia pun mencoba buka pintu perlahan dan masuk kedalam kembali menutup pintu kamar tersebut. Fera masih posisi berbaring tempat tidur kepalanya merasa sangat sakit terus berdenyut-denyut.


"Nak Fera, ini Bibi bawa makan malam untuk kamu," seru Bibi Inem meletakkan nampan di samping meja tempat tidurnya.


Bibi Inem terkejut tapi langsung senyum, berikan kepada Fera nasi itu. "Tentu tidak dong! Di makan yang banyak, jangan marahan sama Nak Chandra, kasihan sama dia. Kalau ada masalah jangan sampai ribut begini. Nak Fera tidak malu di gosipin sama tetangga sebelah gara-gara ribut tadi siang. Bisa-bisa bumbu dapur malah makin runyam sampai di dengar. Mudah-mudahan kamu sama Nak Chandra baikkan lagi." ucap Bibi Inem panjang lebar.


Fera tidak menanggapi dengan lahap nasi di piringnya. Ia masih belum bisa memaafkan suaminya yang sudah keterlaluan berbohong.


"Tapi dia sudah berbohong sama aku, Bi. Coba Bibi jadi diriku bagaimana di bohongi terus - terusan. Aku sudah percaya dia, menuruti perkataannya, belajar sabar, mendengar nasihatnya. Tapi dia selalu buatku kecewa, pertama foto di galeri ponselnya, katanya itu mantan kekasih dan cinta pertamanya, kedua sahabatku sendiri selingkuh dengannya, ketiga sekarang foto figura itu, Bibi bilang wanita itu cinta pertama adalah sahabatnya sendiri semasa kuliah. Aku harus percaya siapa lagi? Aku capek di bola-bolain sama dia, aku benci keadaan seperti ini selalu salah tidak beretika! Aku benci pernikahan seperti ini, aku ingin cerai saja, Bi. Aku tidak kuat lagi... hiks..." Fera mengeluarkan semua unek-unek amarahnya yang di pendamnya, dan ujung-ujungnya ia menangis mengungkap untuk cerai dengan suaminya.


"Sssttt... Jangan katakan cerai! Cerai tidak akan menyelesaikan masalah. Bibi tahu kamu terluka, bibi juga merasakan itu. Tapi kamu harus pikir baik-baik pernikahan itu hanya sekali seumur hidup. Bahagia atau tidaknya tergantung kalian membangunnya. Kebahagiaan itu sederhana, adakala pernikahan itu tidak merasa harmonis tapi memiliki kebahagiaan yang suci, mereka terbuka satu sama lain. Saling percaya, saling memahami. Segala masalah datang bicara baik-baik dengan  pikiran dan hati yang tenang tidak menggunakan emosi. Emosi akan membuat rumah tangga hancur, jadi pikir sekali lagi, Bibi dapat merasakan nak Chandra sayang dan cinta sama nak Fera." Nasihat Bibi Inem cukup sangatlah panjang


Tetap tidak membuat Fera untuk mendengar ia masih dalam keadaan emosional yang sangat labil. Ia menangis kembali, Bibi Inem membawa piring kosong itu dari pangkuannya. Sesenggukan dalam idak tangisan meluap kembali.


Bibi Inem keluar sementara Chandra berdiri di depan pintu mereka baru saja selesai makan malam tadi. Bibi Inem menepuk lengan Chandra.


"Yang sabar ya, nak Fera lagi tidak ingin di ganggu. Jangan buat dia tambah emosi." Itu pesan dari Bibi Inem.


Chandra mengerti maksud Bibi Inem katakan ia tidak akan mengganggu istrinya, mungkin belum waktu mengatakan yang sebenarnya emosi seorang wanita benar buat dirinya lelah.

__ADS_1


Hana dan Herman tengah menonton film televisi channel Daaitv tentang kisah nyata dalam dunia kehidupan. Versi Taiwan bukan suatu hal tidak boleh di contohi namun patut di contoh dan pelajaran untuk orang yang menikah.


"Bagaimana? Sudah kamu katakan kepadanya?" Hana bertanya kepada putranya.


"Belum, ia masih emosi untuk saat ini," jawab Chandra kembali mengupas kulit kacang yang belum kelar-kelar itu.


"Kenapa tidak langsung katakan saja! Sampai kapan masalahmu selesai??" Hana jadi emosi melihat sikap putranya terlalu santai berlebihan tidak ada bedanya dengan suaminya itu - Herman.


"Aku pasti akan katakan sebenarnya, tapi sekarang dia lagi tidak stabil.. Kalau aku sampai paksa mengatakan dan dia semakin marah aku lagi di salahkan!" ucap Chandra meninggi.


"Memang pantas kamu di salahkan! Kenapa juga foto figura itu masih kamu pajangkan di sana! Mama sudah berapa kali bilang padamu setelah menikah dengan Fera. Jangan pernah pajang foto figura itu di rumah! Kamu masih mengeyel. Begitu bangganya kah sama fotomu di perlihatkan  oleh Fera tak lain istrimu itu yang penuh emosional, keras kepala mudah tersinggung itu. Sekarang kamu bisa apa? Menunggu sampai dia mengatakan cerai? Kalau pun sampai kalian cerai, Mama tidak menganggap kamu sebagai putraku!" Panjang lebar Hana mengomeli Chandra dan memojokkan dirinya sekaligus mengancam nya.


"Ma, jangan emosi. Kenapa malah kamu marah-marah putramu sendiri. Biarkan Chandra memikirkan dengan tenang cara menyelesaikan masalah. Kita cuma mendukung bukan bertambah panas." Sambung Herman bersuara daritadi membisu.


"Kamu diam! Cukup jadi pendengar baik saja di sini. Bapak sama anak tidak jauh bedanya sifat kalian. Dulu kamu juga begitu selalu bohongi Mama! Sekarang ini hukum karma untuk putramu sendiri. Masalah sekarang rumit. Menantu mu sedang marah dan putramu tidak mengakui sampai sekarang apa perlu Mama turun tangan lagi mengumpulkan satu keluarga membahas ini semua! Mendukung tidak ada gunanya kalau menantumu sedang terluka!" Hana malah mengomeli Herman - suaminya sendiri.


Bapak dan anak tidak ada bedanya mendapat omelan dari wanita berusia lima puluh tahun ini. Chandra dan Herman hanya bisa diam membiarkan Hana mengoceh terus.


 


 


Tidak terasa waktu telah berlalu setelah apa yang di omelin oleh ibunya sendiri akhirnya jam sebelas malam. Chandra masih belum mengantuk masih terjaga oleh malam hari yang dingin. Duduk di kursi bambu panjang menghirup angin malam.


Ia masih memikirkan cara untuk mengatakan sebenarnya kepada Fera, kondisi saat ini tidak memungkinkan apalagi sifatnya sedang labil. Belum lagi Fera meminta dirinya membawa dia pulang kerumah mertuanya.


Kalau bawa dirinya pulang kerumah orang tuanya, pasti ibu mertua bertanya. Apa tidak bertambah rumit lagi, hembusan napas yang sangat berat baginya.


"Belum tidur nak Chandra?" suara paruh baya terdengar oleh Chandra dari lamunannya.


"Oh, Bi. Iya belum mengantuk. Bibi kenapa belum tidur?" sahutnya dengan wajah biasa tidak terjadi apa-apa.


"Ini mau tidur cuma bibi lihat lampu depan kenapa masih menyala. Tak cek ternyata nak Chandra di sini. Masih pikir nak Fera ya?" ucap Bibi Inem ikut duduk di kursi bambu menemani Chandra.


"Iya, Bi. Menurut Bibi bagusnya bagaimana? Sepertinya dia sulit maafkan aku." sambung Chandra bertanya kepada Bibi Inem.


"Menurut Bibi, apa yang di katakan Ibu Hana sebaiknya katakan langsung saja. Ini kan masalah rumah tangga dan pernikahan kalian. Lebih cepat di jelaskan lebih baik masalah selesai. Kalau semakin lama di diamkan malah nanti makin panjang dan rumit. Bibi harap jangan sampai cerai ya, soalnya tadi nak Fera bilang mau cerai sama kamu. Bibi harap jangan sampai itu terjadi. Nak Chandra harus mengerti perasaan wanita, nak Fera bukan wanita kuat dia hanya butuh di perhatikan olehmu. Jangan sering buat dia sakit hati terus. Segera di selesaikan baik-baik, bahagia itu sederhana walau rumah tangga tidak mewah atau pun harmonis." kata Bibi Inem berikan nasihat dan berikan pencerahan kepada Chandra.

__ADS_1


"Bibi tenang saja, aku dan Fera tidak akan cerai. Mungkin besok aku akan katakan langsung kepadanya. Terima kasih ya, Bibi benar terbaik, ya sudah tidur, bi. Sudah malam." Chandra kembali semangat dan masuk ke rumah menuju kamarnya.


__ADS_2