
Dalam perjalanan menuju Kafe Madura Fera sibuk dengan catatan resep untuk di kelola tempat kerjanya.
"Chan, menurutmu bagus kalau aku tambahkan menu spesial di kafe ini?" Fera bertanya.
"Memang mau tambah spesial apa? Bukannya kemarin sudah banyak?" giliran Chandra bertanya.
"Iya sih, cuma, kan.. Aku ingin lebih praktis lagi seperti ketika pesanan lama datang tapi kita menunggu terlalu bosan dan cara agar para pelanggan tidak lari dan di cap sistem kafe kita jelek satu-satunya adalah buat suatu permainan, bagaimana?" usul Fera kalau soal begini dia paling pintar coba urus suami merengut mulu.
"Hem... boleh saja, memang itu bisa buat pelanggan semakin cinta dan setia di Kafe Madura?" Chandra balik bertanya bukan tidak percaya.
"Jangan berpikir buruknya dulu dong, belum juga di coba. Kalau mau tau bagaimana permainannya. Kita ke mall dulu yuk!" Fera mengharap suaminya bisa mengabulkan permintaan ini.
"Baiklah, kalau itu maumu, tidak dapat di tolak. Daripada nanti malam tak dapat honor gratis." Seru Chandra datar
"Mesum!"
"Mesum begini, tapi cinta kan sama aku, biar bisa dapat momongan lebih cepat dan tidak buat orang tua kita menunggu lama," balas Chandra buat Fera tidak bisa berkata-kata lagi.
****
Di sebuah mall terbesar Chandra memarkirkan mobilnya kemudian Fera turun dan merangkul lengan suaminya. Untuk jam pagi jelang siang memang belum pada ramai mall ini, namun sebagian sudah membuka toko mereka masing-masing.
Mereka di salah satu toko mainan Fera tengah mencari sesuatu seperti permainan Uno stick. Lalu berbagai macam aneka mainan untuk kalangan anak - anak hingga dewasa.
Chandra berjalan-jalan keliling melihat perlengkapan bayi di kepalanya tengah memikirkan seorang bayi, tidak ada salahnya dia membeli sekarang untuk jaga-jaga apabila istrinya tiba-tiba hamil.
"Chan, ayo sudah nih! Kau beli apa?" Fera mengintip beberapa bungkusan seperti perlengkapan bayi.
"Untuk siapa?" Fera bertanya lagi, "Untuk kita, dong!" jawabnya selalu di elus kepalanya.
__ADS_1
Bagian Kasir pembayaran senyum lihat sikap dua pasangan ini. Chandra menenteng belanjaan istrinya, dan Fera hanya dengan tangan kosong.
"Sini aku juga mengangkatnya masa kau yang angkat semua," ucap Fera
"Tidak apa-apa, aku tidak mau kau itu kelelahan apa lagi..." Chandra membisikkan telinga istrinya.
"Dasar mesum!" Di pukul bahu kanannya, Chandra tertawa lepas tidak peduli orang yang lewat.
Tidak ada lagi yang ingin belanja di mall ini, mereka pun keluar menunggu lift menuju basemen. Fera membantu suaminya memasukkan barang ke belakang jok mobil.
"Kau tunggu di mobil dulu ya, aku ke toilet sebentar." Fera mengangguk, Chandra kembali masuk ke mall menuju toilet umum.
Fera berada di dalam mobil sambil mengirim pesan kepada Hardi memberitahukan sesuatu setelah nanti dirinya sampai di Kafe. Mengadakan sebuah meeting kecil-kecilan.
Sudah hampir satu jam Chandra belum juga kembali dari toilet. Fera melirik jam ponselnya pukul 11.30 hampir menuju siang. Dia pun memilih untuk menyusul suaminya.
Fera pun menghampiri suaminya bukan karena rasa cemburu bisa saja obrolan suaminya dengan rekan bisnis.
"Chan, sudah siang nanti kita keburu macet di jala-- Vivi??" Fera menyebutkan nama seseorang dan orang yang sedang ngobrol dengan Chandra adalah sahabat Fera - Vivi Susanti.
"Sudah saling kenal?" Chandra malah bertanya
"Kenallah, dia kan sahabat baikku, cuma sudah lama tidak komunikasi. Apa kabar dirimu, Vi. Maaf ya, tahun lalu aku tidak bisa datang ke acara pernikahanmu." Fera jadi semakin bersalah kan sama sahabatnya.
"Tidak apa-apa, kok, Fer. Aku tau kau itu sibuk di duniamu. Aku maklumi itu, omong - omong dia..." Senyum Vivi dan melirik Chandra sekali lagi dan Fera mengerti maksud tatapan sahabatnya.
"Oh ya, dia suamiku. Sudah kenalan, kan tadi sebelum aku datang. Kau bawa apa?" jawab Fera beritahukan kepada Vivi, yang dia ngobrol tadi adalah suaminya.
"Oh, dia baik ya. Tadi aku belanja bulanan untuk rumah. Terus mungkin berat belanjaanku jadi plastiknya tidak terputus. Untung ada suamimu membantu kalau tidak entah bagaimana nasib belanjaanku." jawabnya pelan
__ADS_1
"Ya ampun, kau itu tidak pernah berubah masih sama cerobohnya. Jadi mana suamimu? Dia tidak ikut?" Mulai kepo Fera mencari suaminya Vivi.
Fera dapat kabar dari teman-teman kalau Vivi sudah menikah dengan kakak kelas di sekolah dulu. Memang sih suaminya sudah cinta banget sama Vivi. Cuma Vivi saja gengsi dan sok jual mahal.
"Aku sudah cerai sama dia," ucapnya pelan
"Hah?" kaget Fera apa yang di ucap sahabatnya.
"Kok bisa? Loh, bukannya dia itu sayang dan cinta banget sama dirimu? Terus anakmu?" Fera tidak percaya dengan pengakuan sahabatnya.
"Aku baru saja keguguran gara - gara dia terus memukulku karena tidak aku berikan uang untuknya. Sejak dia di pecat dari perusahaan terus mabuk-mabukan. Aku terus di siksa sama dia, menyesal aku menikah dengannya ujungnya yang aku dapat bukan kebahagiaan tapi menahan sakit batin," ceritanya dan menangis kalau di ingat lagi.
"Ya ampun, aku tidak tau kalau dia bisa kejahat itu sama kau. Padahal aku melihat dia sangat sayang padamu. Kenapa bisa seperti itu. Mungkin ini bukan jodohmu tidak perlu di tangisi seperti dia. Ada aku di sini, sekarang kau tinggal di mana? Kapan-kapan aku datang ke rumahmu," ucap Fera senyum kepadanya. Vivi menghapus air mata nya.
"Terima kasih, aku lega setelah menceritakan ini kepadamu. Aku tidak tau sampai kapan bisa membenam nya. Aku tinggal tidak jauh dari mall ini. Nanti aku kirim pesan untuk alamat rumahku." katanya terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Chandra dari tadi menunggu di luar mall. Dia paling tidak bisa lama-lama kalau ngobrol dengan sesama wanita. Terkejut seseorang merangkul lengannya ternyata istrinya.
"Sudah lama berdiri ya? Yuk, pulang." manja Fera, sementara di belakang sahabatnya hanya bisa menonton iri.
"Tidak kok, sudah selesai ngobrolnya? Sahabatmu tidak ikut pulang?" Chandra melirik belakang
Vivi senyum kepadanya, Fera menoleh dan melirik suaminya, "Memang dia boleh numpang?" tanya Fera kembali.
"Boleh dong!" jawabnya. Fera senyum sumringah melepas rangkul lengan suaminya kemudian menghampiri sahabatnya.
"Ayo, ikut dengan kami pulang. Nanti kau tunjukkan alamat rumahmu." ujar Fera menawarkan Vivi ikut naik mobil suaminya.
Vivi senyum tipis tentu sangat berat hati tidak dapat menolak dan menuruti kemauan sahabatnya.
__ADS_1