
Telah pukul 23.30 malam Fera masih terjaga oleh kedua matanya belum kunjung untuk pergi ke alam mimpinya. Ia masih kesal dengan sikap ibunya sendiri terus memojoki dirinya dari sifat buruk tersebut.
Chandra menyusul masuk ke kamar setelah lama berbincang-bincang dengan Ayah mertuanya. Di posisi terbaring menyamping Fera asyik melihat video youtube di ponselnya. Chandra mendekati istrinya yang masih merajuk itu.
"Masalah soal kata Mama jangan di masukkan ke hati. Mama katakan seperti itu demi kebaikkan dirimu juga," ucap Chandra bersuara.
Fera masih sibuk dengan ponselnya mencueki ucapan suaminya yang beri nasehat kepadanya. Menyadari bahwa istrinya tengah mendiami nya. Chandra pun memeluk istrinya dan membalik tubuhnya mengarah untuk menatapnya.
"Ngambek? Kok aku di cuekin sih sama istri manja ku?" Chandra mencoba merayu dengan cara jenggotnya yang cepat tumbuh panjang mengenai wajah Fera.
"Iih jauh - jauh sana dari wajahku, geli tau nggak!" ketus Fera mendorong wajah suaminya dari wajahnya.
Chandra masih tetap melakukannya sampai istrinya menyerah sendiri. Semakin jengkel dengan sikap suaminya itu Fera pun bangun dari tidurnya dan turun dari ranjang tersebut.
"Menjauh nggak! Aku lagi tak mau main sama kau!" sikutnya mengambil bantal dan guling kemudian tidur di bawah lantai dingin itu.
Chandra perhatikan sebentar dengan sikap istrinya tengah merajuk, ia pun ikut tidur di bawah tidak peduli istrinya menghindar.
"Kau kenapa sih! Jangan dekat - dekat!" ketusnya lagi.
Chandra masih diam dan menatap punggung rapuh istrinya kalau sudah marahan begini enaknya di apain gitu pikirnya si Chandra.
Fera merasa tubuhnya melayang dan terkejut bukan main, suaminya tengah mengangkat dirinya untuk berpindah keatas ranjang.
"Turunin!" rengek Fera meronta-ronta, Chandra masih tidak merespon dan malah mengunci tubuhnya agar tidak kabur lagi.
"Minggir Chan! Aku mau ti--mppghftt"
Chandra membungkam mulut Fera dengan ciuman. Fera yang meronta-ronta terus untuk lepas dari ciuman itu akhirnya kelelahan dan pasrah, karena ia tidak bisa lepas oleh serangan hangat dari suaminya.
"Jangan marah lagi, maaf kalau buat kau semakin terpojok karena sikap Mama," ucap Chandra pelan setelah melepaskan ciuman maut itu.
Fera terdiam bukan karena tidak bisa memaafkan ibunya sendiri, suaminya menjauh dan memilih tidur di bawah sementara ia tidak tidur di atas ranjang.
"Kenapa kau tidur di bawah? Kau tidak sayang sama aku lagi?" Fera bertanya kepada Chandra.
"Sayang kok. Tapi istriku lagi ngambek nanti aku di tidur di tendang sama dia sakit di pantatku!" jawab Chandra humoris
"Ejek ini ceritanya, ya sudah besok-besok tidur di luar saja. Awas minta jatah ini itu, nggak aku kasih!" ancam Fera entah sejak kapan ia berani mengatakan seperti itu kepada suaminya.
Baru akan untuk tidur tiba-tiba guncangan ranjangnya membuat dirinya menoleh sebuah tangan panjang melingkar pinggangnya dan memeluk erat.
"Katanya aku ini tukang tendang kenapa tidur di sini?" Fera mulai bertanya
"Sudah tidur, besok kita harus kerja," jawab Chandra mengalihkan topik lain.
"Jawab dulu, kenapa tidur disini?" Fera masih ingin tau jawaban dari suaminya.
"Daripada aku tidur di luar selamanya sementara istriku dengan enak tidur di atas ranjang yang seharusnya di bagi dua," jawab Chandra dengan menutup kedua matanya. Tapi jari-jari kasarnya menyentuh bagian agresif milik istrinya.
"Chan... jangan mulai deh!" bisik Fera sudah menghadap depan suaminya.
"Kenapa? mereka sudah tidur," balasnya membisik.
"Tanganmu kenapa semakin nakal?" tanyanya menjauhkan dari perut rata tersebut.
"Memang kenapa dengan tanganku? Kita sudah melakukannya tidak perlu malu-malu lagi!" senyum jail di wajah Chandra menginginkan malam ini lebih dalam lagi.
__ADS_1
"Tapi..."
Fera memilih menenggelamkan wajahnya di leher suaminya. Tubuhnya semakin rapat, membuat jari-jari kasar milik Chandra bebas melakukannya.
"Hhhh..." embusan napas dari Chandra dan juga Fera berderung panas.
Sentuhan lembut dari lelaki brewok tidak kuasa menahan hasrat untuk kembali melakukan hubungan suami istri tersebut.
"Chan..."
"hmm..."
"Eung..." erang Fera merasa sesuatu bagian bawahnya menusuk dalam.
Takut terdengar suara desahan dikamar sebelah di mana ibu dan ayahnya tidur. Fera memilih menahan suara yang nikmat dari reaksi suaminya terus memacu jari tersebut.
Pemanasan untuk mereka berdua baru saja di mulai, sekarang Chandra berada di atas Fera, dan Fera berada di bawah dengan kedua mata sayup lelah.
Chandra akan pelan memainkan ringan, pelan, kerutan kedua alis Fera berlipat merasa sesuatu menonjol untuk masuk walaupun masih sakit tapi tetap rasa itu sebentar saja.
Setelah masuk setengah milik suaminya di dalam sensitif milik Fera. Chandra membungkuk setengah dan menahan dengan kedua tangan untuk memacu dan memompa panggulnya.
"Aah... Chan... Mmm...." Fera mengerang desah.
"Tahan, sayang.. aaahh... Masih sakit?" Chandra bertanya meskipun tubuhnya bergerak maju mundur.
Fera menggeleng kepalanya pelan - pelan.
Semakin surut tubuhnya Chandra ia mengisap ** susu istrinya. Fera mencengkram pundak suaminya dan satu tangannya lagi menjambak rambut nya.
"Ahhhh...." Fera merasa kenikmatan apalagi kejantanan milik suaminya masih menancap bagian bawahnya.
Chandra kembali menggerakan dengan pelan dan semakin lama, semakin semangat dan suara raungan kedua pasangan di kamar itu pun beradu nyanyian dengan irama mereka masing-masing.
****
Pagi-pagi sekali Fera bangun apa gerangan dirinya cepat begini biasanya ia selalu bangun di jam waktu tertentu. Apakah efek semalam hubungan cinta dengan suaminya membuat dirinya semakin bersemangat.
Di dapur Fera memperhatikan sosok wanita yang usianya sudah tidak muda lagi punggung yang selalu menampung beban beratnya di masa kecil dulu kini semakin rapuh. Perasaan yang semalam membuatnya mengakui adalah kesalahan yang sangat fatal.
"Ma..." Fera memanggil ibunya yang sedang menyiapkan sarapan untuk ada di rumah ini.
Tidak ada sahutan apa pun dari ibunya, dia masih sibuk dengan pekerjaan dapur. Fera menghela napas pendek, ia membantu ibunya mengerjakan pekerjaan dapur.
"Kamu mau ngapain?" tegur Melisa (Ibunya Fera) nada ketus itu masih belum hilang.
"Mau bantu letakkan sarapan ke meja makan," jawab Fera pura-pura bloon.
"Itu belum selesai, kamu ingin bunuh suamimu sendiri? Sayurnya masih belum matang! Ini bantu mama kupas udang dulu!" pinta Melisa meminta Fera mengupas udang yang sebagian di dalam kaloh ( keranjang sayur) .
Fera menuruti kembali meletakkan piring yang mau ia bawa ke meja makan, kemudian melanjutkan kupas udang itu. Menunggu sarapan pagi selesai.
Chandra baru saja bangun dari posisi tengkurap tidurnya. Menepuk-nepuk samping ranjang tidurnya tidak ada siapa pun. Ia mengangkat kepalanya menatap jam ponsel telah pukul 07.15 pagi.
Biasanya dia yang lebih cepat bangun kenapa sebaliknya si istrinya lebih cepat dari perkiraan tersebut. Dia pun turun untuk bersihkan diri. Tidak berapa lama kemudian dia pun keluar dengan pakaian lengkap yaitu baju kantor tanpa berdasi. Rambut masih basah habis keramas, di usap-usap dagunya yang penuh lembab bulu hitam masih cakep menurutnya walau pun tidak semua dia mencukur nya.
Ketika keluar dari kamarnya terdengar suara goseng-gosengan di dapur. Suara dia wanita antara ibu dan putri tersebut tengah berargumen soal masak memasak. Sementara ayah mertua sedang membaca surat kabar di ruang tamu dan secangkir kopi hitam pahit di depan meja kecil tersebut.
__ADS_1
"Kau sudah bangun? Sudah lapar? Sebentar lagi, ya! Aku sedang masak makanan kesukaanmu, walau rasanya tidak seenak Mama mertua." ucap Fera menunjukkan ilmu masak memasak dari ibunya sendiri.
Ibunya Fera mengangkat sayuran bersantan itu ada beberapa juga ayam goreng dan sayur tumis. Berasa kembali ke masa kecil penuh aneka hidangan makanan lezat di depan mata.
Fera mengambil nasi untuk suaminya dan sayuran nya juga. Chandra memulai untuk menyuap masakan gulai dari istrinya, sedangkan Fera ikut bergabung makan bersama ada juga ayah dan ibunya.
Chandra diam mencoba merasakan masakan istrinya yang masih di dalam mulutnya itu. Fera menanti jawaban dari suaminya tersebut dari larut wajah yang Fera lihat pasti rasanya aneh.
"Asin, ya?" tanya Fera ikut mencoba mencicipi kuah gulai nya. Soalnya ketika di ajari oleh ibunya segala bahan rempah-rempah di dalam rasanya sudah pas untuk lidah.
"Aku belum menjawab asin atau tidaknya, sudah menyimpulkan sendiri." jawab Chandra datar
"Ya bisa jadi aku masak rasanya benar tidak sesuai dengan lidahmu. Soalnya ini pertama kali aku buat dapat ilmu juga dari Mama sendiri, walau rasanya beda dengan masakan Mama mertua. Kalau rasanya memang belum sesuai dengan lidah, berarti aku gagal untuk membuat resep baru untuk Kafe Madura," ucap Fera lesu, Chandra senyum ciut di usap rambut kepala istrinya
"Kalau aku tidak menjawab berarti tandanya gulai nya enak, terkecuali tiba-tiba aku terbatuk-batuk tandanya itu rasa benar tidak enak," kata Chandra berikan jawaban kepada istrinya.
Wajah yang lesu dan sedih tadi kembali membuat ekspresi Fera berbinar-binar. Dan menatap ayah, ibunya sebentar. Melisa dan Roy tentu senyum berikan jempol untuk putrinya.
"Jadi? Gulai yang aku buat benar rasanya Mantap?" Fera mengulang kembali antara senang atau bangga sendiri pun ia tidak bisa membagikannya.
Chandra mengangguk kepala bahwa gulai yang dia buat itu benar enak dan sesuai dengan lidahnya.
"Terima kasih, suamiku yang jelek, makin cinta deh, muach!" Fera tiba-tiba memeluk suaminya yang masih menikmati sarapan
Sementara ada dua orang dewasa menyaksikan sikap putrinya tidak melihat situasi berada di mana sekarang.
"Eh--hem!" Melisa mendehem seperti sesuatu tersangkut.
Fera kelupaan kalau sekarang masih di rumah terus ada ayah dan ibunya di sini.
"Maaf, aku terlalu senang bukan maksud untuk--" Fera malu jadinya kembali ke tempat duduk dan melanjutkan sarapannya.
Chandra senyam senyum lucu sebenarnya lihat sikap ceroboh dan sifat kanak-kanakan istrinya tadi. Tapi dia bahagia banget kalau kelakuannya mulai berubah sedikit demi sedikit berarti ada kemajuan.
"Fera kenapa kamu menyebut Chandra, suami jelek?" Melisa bertanya pada putrinya.
Sekian detik hening di dapur karena kejadian tidak sengaja oleh Fera mencium bibir suaminya di depan mata kedua orang tuanya.
"Eh itu-- karena-- suka saja, dia memang jelek kok," jawabnya asal padahal kenyataan memang jelek banget tapi sekarang sudah beda sih lirihnya
"Kalau dia jelek, kenapa kamu bisa cium suamimu? Bukannya kamu itu lebih tertarik sama pria tampan?" tanya Melisa
"Itu kan, mulai lagi bahas masa lalu aku. Mama sengaja bertanya seperti ini biar Chandra bertanya lagi ke aku, soal mantan - mantan brengsek?" jawab Fera menyimpulkan sendiri
"Bagus dong kalau mama bahas masa lalu kamu. Berarti ada kemajuan hubungan rumah tangga kalian. Jadi tidak ada selisih pahaman nantinya kalau tiba-tiba mantanmu muncul dan minta balikkan sama kamu, terus ribut, bertengkar sama suami tidak di kasih ini itu. Terus cerai, yang salah siapa? pasti di kamu." ucap Melisa panjang lebar
Chandra hanya bisa menyimak dan mendengar dengan baik melirik istrinya yang diam menunduk melanjutkan sarapan yang belum selesai.
"Itu tidak akan terjadi, kalau pun mereka muncul tanpa di undang kayak jelangkung. Tetap aku milihnya itu suamiku, kan permasalahan semua tergantung perasaan sendiri. Anggap saja dulu aku melunasi utang-utang di masa lampau. Dan sekarang aku sudah bahagia dengan orang yang datang tanpa mengenal lebih dulu tapi buat hatiku jauh lebih berarti lagi," ungkap Fera panjang lebar dan penuh bijak mempercayai serta yakin dengan apa yang ia jalankan sekarang.
"Bagus kalau kamu berpikiran seperti itu. Tetap seperti ini jangan pernah lagi mengulang kesalahan yang membuat hidupmu terpuruk. Omong - omong kalian berdua sudah mengenal satu sama lain. Jadi kapan berikan cucu untuk Mama dan Papa? Jangan lama-lama usia kami berdua sudah tidak akan lama menanti seorang suara bayi di rumah ini!" terang Melisa tiba-tiba menanyakan tentang cucu.
Fera dan Chandra seling berganti menatap dan terdiam sesaat membuat orang tua di meja makan menunggu jawab pengantin ini.
"Secepatnya," ucap Chandra
"Nanti saja!" ucap Fera
__ADS_1
Keduanya memilih jawaban berbeda tapi tidak membuat kedua orang tua ini memilih ke dua-- duanya. Mereka hanya senyum. "Tidak perlu buru-buru berikan cucu untuk kami berdua. Asal kalian sehat dan selalu rukun selamanya sampai usia kalian tidak muda lagi." sambung Roy bersuara.
"Terima kasih, Pa!" Serentak pasangan pengantin ini mengucapkan.