
Setelah selesai mengantar orang tua Chandra ke stasiun Kereta Api. Fera masih setia membisu sejak kejadian semalam foto ada di galeri ponsel milik suaminya masih di pertanyakan.
Apalagi sikap Chandra juga tiba-tiba berubah dari biasanya. Mungkin Fera akan menanyakan lagi soal foto galeri yang sempat di hapus oleh suaminya. Bukan ikut campur tapi menyangkut hubungan rumah tangga. Meskipun pernikahan baru masuk satu bulan tetap saja firasat Fera mengatakan ada hubungannya dengan masa lalu suaminya walaupun ia tidak tahu.
Chandra kembali masuk ke dalam mobil bersiap ke kantor. Ekspresi Chandra berbeda sedikit tidak bersemangat bukan masalah mereka bertengkar ia juga kepikiran soal foto di galeri yang masih tersimpan beberapa tahun itu.
"Kita sarapan dulu setelah itu aku ingin membawamu ke suatu tempat, semoga kau suka tempat itu." Chandra mulai bersuara dari keheningan beberapa jam itu.
"Hm..." lenguh Fera tidak beri jawaban untuk suaminya. Ia sedang tidak mood untuk hari ini.
"Masih marah soal kemarin? Maaf, aku bukan untuk tidak menceritakan soal foto di galeri ponselku. Yang pastinya orang yang aku sayangi dan ku cintai itu adalah dirimu. Jadi jangan berpikir aneh-aneh di kepalamu," ucap Chandra merasa ia tau isi otak istrinya apa di pikirkan itu.
"Sok tau!" tutur Fera mencebik bibirnya maju ke depan.
Chandra kembali tersenyum hatinya lega bahwa istrinya berikan respon yang membuat hidupnya kembali bersinar. Mungkin ia akan menceritakan semua tentang masa lalu bersama wanita ada di foto galeri ponselnya.
Dalam perjalanan menuju tempat di mana pernah mereka datangi yaitu Kafe khas Madura. Berhenti dan memarkirkan mobil tepat di depan rumah makan itu, Fera mengintip lewat kaca tertutup gelap itu.
"Kok kita di sini lagi! Nanti ketemu sama--"
"Kafe ini milikku, jadi kemarin aku mengajakmu cuma ingin kau mencicipi masakan khas madura," potong Chandra.
"Hah? Milikmu?" kaget Fera tidak yakin Kafe di depannya milik suami sendiri.
"Benar sayang, sudah waktunya aku beritahu kepadamu semua usaha aku kelola dan aku bangun selama ini. Agar kau tidak curiga dan salah pahaman lainnya. Ayo turun sekalian aku perkenalkan dirimu kepada mereka semua." lanjut Chandra menjelaskan kepada istrinya.
Fera turun dari mobil tidak lupa menggandeng tangan suaminya, bukan sombong sudah patut menjadi istri baik. Permasalahan ia takut bertemu dengan para teman-teman dan juga mantan-mantan ada di Kafe ini.
__ADS_1
Bukan karena apa, soalnya Fera ini sering datang ke tempat kafe yang sajian menurutnya enak dan sesuai di lidah apalagi berkelas. Pada saat masuk ke Kafe ini semua orang melirik arah lelaki brewok itu termasuk Fera juga beberapa detik saja sih.
"Selamat siang Pak Chandra, silakan." sapa pelayan itu ramah dan murah senyum kepada suami Fera.
Chandra masuk ke salah satu ruangan khusus seperti kantor untuk para pekerja lainnya. Karena sudah menuju jam istirahat Chandra duduk serta Fera ikut bergabung. Canggung sih menurut Fera soalnya baru pertama kali ia di ajak untuk masuk ruangan khusus.
"Kau ingin makan apa? atau ingin melihat - lihat mereka masak?" tanya Chandra kepada istrinya
"Ehm... tidak usah, nanti mereka nggak fokus kerja." jawab Fera gugup.
"Jangan gugup begitu, di sini semua orang ramah kok, kalau kau ingin merasakan menjadi pelayan mengantar makanan untuk pengunjung juga bisa, biar kau tau bagaimana suasana menjadi karyawan biasa, mencari uang itu butuh usaha kalau kau benar ingin membahagiakan keluarga kita." Kata Chandra beri sedikit motivasi.
"Memang boleh?" tanya Fera tidak yakin malah nanti ia di jelekin sama teman-teman nya.
"Boleh dong, uangku juga adalah uangmu tapi ingat tidak untuk berfoya-foya. Mulai sekarang jadi dirimu yang sebenarnya. Kita harus tau sifat seseorang dari sisi dalam, bukan sisi luarnya. Aku memang terlihat jelek matamu tapi jiwaku lebih tampan tanpa kau percayai. Seperti dirimu memiliki teman yang benar baik kepadamu karena kau memiliki segalanya, coba kau tidak memiliki apapun lagi apakah mereka akan mendekatimu? Atau hanya memandang sebelah mata?" lanjut Chandra memberi pencerahan kepada istrinya.
"Jika kau tidak percaya, kau bisa mulai belajar dari sekarang. Mulai mencoba menerima segala kekuranganmu," lanjut lagi Chandra beri tambahan nasehat kepadanya.
"Baiklah aku akan mencobanya, Terima kasih suamiku yang jelek, muach!" Fera tidak menyadari apa yang ia lakukan di tempat umum.
Chandra terpaku dalam diam merasakan sesuatu aneh pada istrinya. Ia mencium pipi tepat bulu kecil di rahangnya.
"Eh-- maaf," jadi malu sendiri Fera, apalagi pelayan ada di samping Chandra hanya bisa tersenyum-senyum.
"Hardi, aku minta kau bimbing dia. Mulai hari ini dia akan bekerja membantu Kafe ini. Jika ada yang salah atau segala tidak dia ketahui perlahan-lahan mengajarinya. Dia memang sedikit manja, berikan sedikit penegasan padanya, kau mengerti!" Chandra memerintah pelayannya yang bernama Hardi itu sebagai bimbingan istrinya.
Dengan senang hati Hardi mematuhi perintah dari atasannya. Chandra bangun dari duduknya dan sekali berikan kecupan sayang untuk istrinya tanpa rasa malu.
__ADS_1
Hardi mengerti maksud semua itu bahagia pasti memiliki istri manja seperti Fera. Fera menatap punggung suaminya mulai menjauh dari tempat Kafe tersebut.
"Mari, Bu," sambut Hardi mempersilahkan Fera mengikuti pelayan lelaki itu.
"Jangan panggil aku Ibu, aku belum menjadi ibumu, panggil saja Mbak. Atau Kakak, sepertinya usia kita beda tipis," protes Fera ternyata cepat berakrab-akrab dengan pekerja di Kafe ini.
Hardi mulai menerangkan semua pekerjaan di kafe tersebut, ada juga yang membimbing Fera jika para pengunjung datang untuk menikmati sajian makanan juga di jelaskan, dan mencatat menu pesanan makanan lainnya.
Fera menyimak dan sekaligus menyalin agar tidak lupa apa saja di bimbing oleh para Kru Hardi. Kadang mereka suka bercanda setelah jam istirahat.
"Jadi, mbak Fera bagaimana sih bisa menikah dengan Pak Chandra?" sebuah pertanyaan dari salah satu pelayan Kafe ini dia adalah Lisa bagian pembuat minuman Jus.
"Itu perjodohan mendadak," jawab Fera lesu.
"Oh, ya sudah tidak perlu di lanjutkan. Bisa saja perjodohan mendadak itu bisa menjalin kasih hingga bahagia loh. Tapi Mbak Fera beruntung loh bisa menikah dengan Pak Chandra," ucap Lisa memuji suami Fera
"Beruntung?"
"Ya beruntung saja sih, Pak Chandra memang jelek, tapi jangan salah menilai. Sebenarnya ia mencari cinta sejati hanya untuk seorang yaitu istrinya sendiri," lanjut Lisa berbicara.
"Oh..."
"Aku mau tanya, kau kerja di sini sudah berapa lama?" tanya Fera mungkin dengan cara ini ia bisa mengetahui masa lalu suaminya.
"Sudah lama sih, sejak Pak Chandra lajang, kenapa?" jawabnya, Lisa melanjutkan pekerjaannya.
"Oh tidak, aku cuma pengin tau sebelumnya Pak Chandra punya kekasih?"
__ADS_1