Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 22


__ADS_3

Langit petang telah menjadi warna gelap Fera masih belum untuk pulang ke rumah. Pekerjaannya banyak beres di selesaikan. Kafe ini akan tutup jam sepuluh malam. Pengunjung semakin malam semakin ramai para pekerja sibuk tidak menentu dengan pesanan semakin banyak.


Chandra memarkir mobilnya kemudian masuk ke kafe tersebut memantau sikap istrinya cara bekerja, penampilan Chandra berbeda dari biasanya pakaian kaus biasa dengan celana panjang tetap tidak buat yang lain mencurigai bahwa dirinya adalah seorang pemilik Kafe ini.


"Jus semangka, Coffee Cappucino, teh pahit masing-masing satu gelas meja delapan!" teriak Fera kepada pekerja bagian minuman.


Fera menusukkan kertas di depannya, sementara di sampingnya terhidang makanan untuk di antar. Ia tidak menyadari kalau suaminya sedang memperhatikan dirinya yang sibuk dengan pekerjaan sebagai pelayan Kafe.


"Biar aku saja yang antar, kau tolong ke meja sana mungkin ada yang mau tambah pesanannya," pinta Fera kepada rekan kerjanya.


Ketika berpindah tangan nampan itu, pelayan lain menyadari atasanya dari tadi berdiri perhatikan kesibukan di tempat ini.


"Pak Chandra..." salah satu pelayan sebut saja namanya Heri, baru masuk kerja seperti Fera. Namun Fera begitu cekatan melakukan pekerjaan pertama kali.


"Sstt... Lakukan saja, aku di dalam dulu." Chandra meminta yang lain untuk menutup mulut bahwa dirinya datang untuk mengawasi istrinya sedang bekerja.


Waktu terus berjalan akhirnya pukul sepuluh malam telah usai, para pelanggan yang datang menikmati makanan Madura pun telah bubar. Fera masih sibuk membersihkan meja dan menyapu sisa sampah yang berjatuhan di lantai, keringat bercucuran di sekitar wajahnya tidak merasakan betapa lelah.


Ternyata ia tidak sadar sekarang sudah malam, benar pekerjaan tanpa mengenal waktu. Rasanya beban yang terus ia pendam hilang perlahan-lahan dengan cara kesibukannya.


"Bagaimana pekerjaannya?" Chandra memberikan minuman hangat untuk istrinya.


Fera terkejut segelas teh di depannya dan mendongak menatap suaminya, "Kau? Sejak kapan ke sini?" pertanyaan dari Fera menerima segelas tehnya.


"Sejak kesibukan istriku dalam pekerjaannya melayani para pelanggan di tempat," jawab Chandra duduk di sebelahnya mengelus rambut Fera.


Fera tidak menanyakan apa- apa lagi, ia sedang menikmati minuman hangat dari suaminya. Baru terasa tubuhnya lelah seharian penuh bekerja belum lagi bertemu dengan sahabat lamanya yang penuh sindiran terus menerus.

__ADS_1


"Sebelum pulang, kita makan malam dulu, ya?" ucap Chandra memakaikan jaket untuk istrinya.


"Mau makan di mana?" tanyanya lirik.


"Makan Pizza," jawab Chandra.


"Makan di rumah saja ya, aku ingin makan nasi goreng buatanmu. Kalau makan di luar rasanya sayang untuk hamburkan uang," ucap Fera menatap suaminya.


Chandra mendeling tidak percaya dengan ucapan dari istrinya. Bangga punya istri cepat berubah, senyuman panjang berikan kepadanya..


"Ya sudah, ayo kita pulang, kenapa tidak mau makan pizza? Bukannya kau sudah dengan makanan khas barat?" Chandra mulai berbasa-basi menanyakan kebiasaan buruk istrinya.


"Aku memang rindu masakan suamiku yang jelek!" Serunya senyum merangkul lengan suaminya masuk kedalam mobil.


Dalam perjalanan menuju rumah Fera masih terngiang dengan pertemuan dengan sahabat lamanya itu. Chandra memperhatikan sisi samping istrinya dalam keadaan melamun.


"Apa yang kau melamunkan?" Chandra bersuara mengelus tangan istrinya.


Sampai di rumah, Fera masuk dengan keadaan tidak bersemangat ia benar sangat lelah untuk hari ini. Padahal ia sudah katakan bahwa ia rindu masakan suaminya.


Chandra mulai memasak di dapur sedangkan Fera malah terdampar atas ranjang. Benar sangat lelah dan sangat pusing di kepalanya. Apa dirinya seharian tidak makan atau terlalu banyak pikiran sehingga membuat tubuhnya lemah seketika.


Tidak perlu lama kemudian Chandra selesai menyiapkan nasi goreng untuk istrinya, ia pun menyusul ke kamar dan mengintip ternyata istrinya tertidur karena kecapaian.


"Dasar keras kepala, aku sudah tau kau itu lelah masih bersih keras minta buatkan nasi goreng," tutur Chandra melepaskan kaus kaki istrinya dan membantu posisi tidurnya dengan benar.


****

__ADS_1


Esok Paginya Fera merasa tubuhnya sangat ringan sekali tiba-tiba perutnya keroncongan dari semalam tidak makan. Ia bangun tercium sesuatu aroma yang sedap dan lezat buat perutnya berdemo terus.


Ternyata nasi goreng bistik ayam sudah terhidang di samping ranjang tidurnya. Chandra baru saja kembali dari olahraganya. Hari Minggu adalah kegiatannya untuk kesehatan badan, pagi-pagi ia buatkan nasi goreng sebagai sarapan untuk istrinya.


Fera tanpa rasa malu di lahap hingga habis nasi goreng itu kemudian di cuci piring tersebut. Chandra baru saja pulang dari olahraganya dan keringat bercucuran di mana-mana.


"Kau sudah bangun, bagaimana sudah sehat?" Chandra bertanya dan mencemaskan keadaan Fera.


Fera mengelap tangannya yang basah di bajunya sendiri. Mengernyit dengan pertanyaan dari suaminya itu.


"Maksudnya? Sehat?" ulangnya bertanya.


"Kau lupa semalaman kau mengigau dan menangis dalam keadaan tertidur," jawab Chandra mencoba mengingat kembali kejadian tengah malam.


"Memang aku mengigau apa?" tanyanya duduk di samping Chandra.


"Kau mengigau minta maaf terus. Memang semalam ada masalah apa?" Chandra mencoba menanyakan dan ingin tau permasalahan semalam.


"Tidak ada masalah apa-apa, mungkin semalam aku kecapean, jadinya mengigau sembarangan," celanya mencomot buah apel dari piring yang baru di potong oleh suaminya.


"Benarkah? Apa karena sahabatmu datang menyindirmu?" Tebak Chandra


Fera terdiam memilih untuk menggigit potongan apel di mulutnya. Chandra mengerti tanpa menjawab dariĀ  istrinya.


"Semalam mereka datang ke Kafe Madura, awalnya aku cuma ingin menyapa mereka dan meminta pendapat dari mereka semua. Tapi yang aku dapat itu sindiran mematikan banget. Padahal aku ingin merobek mulut mereka tapi mendengar cerita darimu aku mencoba untuk bersabar mungkin itu sudah karmaku, terus waktu beli bahan bumbu masakan tidak sengaja ketemu lagi dengan sahabat lamaku yang sudah bertahun tidak ketemu. Sama juga halnya mereka menyindir dengan mengatakan kalau barang yang mereka miliki itu tidak akan sanggup dengan gaji sebulanku. Sungguh kejam mulut laknat mereka, walau pun aku mencoba untuk menjadi apa yang aku bisa tapi mereka..."


"Tidak perlu di balas dengan ke dendaman dan kebencian. Biarkan mereka berkoar-koar dengan mulut mereka sendiri. Asal dirimu tidak mengikuti cara mereka. Mungkin mereka belum menyadari apa yang mereka katakan itu menyindir diri sendiri. Mereka tidak bisa menjadi dirimu yang sekarang. Terima saja semua cemoohan mereka asal jiwa kita tidak mencemooh kan orang lain," potong Chandra berbijak berikan nasehat untuk istrinya.

__ADS_1


Fera tidak dapat berkata-kata hidupnya benar sangat tenang dan ingin menangis setelah apa yang di katakan oleh suaminya benar buat hidupnya tersentuh.


"Terima kasih, aku akan mencoba untuk bersabar lagi," ujarnya lembut kembali melanjutkan potongan apel nya.


__ADS_2