Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 38


__ADS_3

Kembali hari biasa kali ini lebih beda lagi Fera bangun sangat pagi-paginya. Berkemas semua barang miliknya dari lemari baju. Sedangkan dirinya lengkap dengan pakaiannya.


Masih pukul 05.30 pagi keadaannya sudah lebih baik namun jiwanya masih belum membaik saat ini. Chandra masih tertidur ketika terdengar suara kresek-kresek. Ia pun bangun mendapatkan sosok seseorang melakukan sesuatu.


"Kau sudah bangun----kau mau kemana?" Suara serak dari Chandra tidak buat Fera terkejut.


"Aku mau pulang," jawabnya dingin


"Pulang? Tapi ini masih pagi, nanti saja kita pulang," ucap Chandra melihat jam ponselnya.


"Aku ingin sekarang pulang, kalau kau tidak bisa mengantarku. Aku bisa pulang sendiri," sergahnya berdiri dari tempat duduknya dan mengangkat tas besarnya. Pandangannya mulai kabur serasa putar-putar tetap ia bersih keras untuk tidak lemah saat ini.


"Oke, oke, kita pulang. Tunggu lima menit." Dengan cepat Chandra bangun seperti seluruh para roh terkumpul semua.


Ketika Chandra masuk ke kamar mandi dengan terulai lemas duduk Fera memijit kembali pelipisnya yang sakit dan pusing itu.


Lima menit kemudian sesuai janji Chandra selesai dengan pakaian santai keluar dari kamar mandi. Fera memijit dan membuang ingus semalam seharian menangis.


"Kau yakin hari ini pulang? Wajahmu pucat," Chandra berjongkok menyentuh pipi nya hangat sedangkan Fera dapat merasakan tangan suaminya itu dingin ketika menyentuh pipinya itu.


Fera bangun dari duduknya sekuat tenaga yang ia bisa. Hanya marah saja sudah lemah bisa-bisa suaminya makin besar kepala. Chandra melihat punggung rapuh istrinya keluar dari kamar itu.


"Loh, nak Fera mau pulang?" Bibi Inem sedang menyapu rumah


"Iya, Bi." sahut Fera pelan di ekori Chandra.


Hana baru saja pulang dari pasar walau masih pagi, menemukan menantunya mengangkat tas besar dan Chandra mengekorinya.


"Loh, sudah mau pulang? Chan, sudah kamu katakan?" Hana mengingatkan kembali pada putranya


"Belum ma, mungkin nanti." jawab Chandra


"Cepat selesaikan, awas sampai buat anak orang kabur dari rumah. Mama jadikan kamu sate manusia!" sinis Hana mengancamnya.


"Iya, Ma."


Fera masih diam malah tidak memedulikan ibu mertuanya sedang berbicara dengan putranya. Hana bisa melihat kalau menantunya masih belum memaafkan suaminya. Tetap saja etika tidak di hargai sama sekali.


"Ya sudah, kami pulang dulu ya. Mari, Bi, lain kali aku datang lagi." ucap Chandra menyusul keluar yang telah di tunggu oleh istrinya.

__ADS_1


"Semangat nak Chandra! Kalau bisa cepat. selesaikan, ya!" teriak Bibi Inem..


Chandra cuma ajukan jempol saja lalu masuk ke mobil dan menyalakan mesinnya Fera tidak pamitan sama sekali, raganya masih kosong cuma satu yang di pikirannya pulang kerumah orang tuanya.


Dalam perjalanan menuju kota metropolitan. Fera menyandarkan kepala di jok duduknya sambil memandang jalanan raya di dekat jendela tertutup itu. Chandra ingin menceritakan semua mungkin sudah tepat.


"Kita sarapan dulu, setelah itu lanjut perjalanan---"


"Aku sarapan di rumah mama saja, kalau kau mau sarapan, sarapan saja sendiri!" potong Fera bersuara dengan nada yang datar dan sinis


"Ya sudah sarapan di rumah, kita tidak beli oleh-oleh untuk Mama?"


"Oleh-oleh dari pembohong seperti mu? Tidak perlu, aku tidak ingin mama dan papaku terbuai oleh kebohongan mu itu!" jawab Fera sinis.


"Aku bukan maksud berbohong, soal foto figura itu sebenarnya sudah lama. Bukan maksud untuk buat kau cemburu karena foto kenangan. Wanita yang peluk sama aku itu sahabat baikku, tapi hanya sekedar friendzone saja. Sekedar teman tidak lebih..."


"Sekedar teman tapi cinta sama dia, kan? Sudahlah percuma juga kau ceritakan semua. Tidak ada gunanya aku sudah tidak percaya padamu lagi," sambung Fera, Chandra terdiam tepat banget sekedar teman tapi cinta.


Cinta sih, tapi lebih tepatnya cinta sama istri manja ku. Dia hanya masa laluku bukan sekarang. - lanjutnya berkata dalam dirinya sendiri.


"Tapi dia itu hanya----"


****


Dua setengah jam akhirnya mereka berdua sampai di rumah bertingkat dua. Rumah yang besar namun tidak pernah di huni oleh siapa pun hanya dua orang dewasa.


Fera turun dari mobil sedangkan Chandra mengambil tas besarnya. Tepat pintu utama terbuka oleh sosok wanita paruh baya tak lain adalah ibunya Fera ( Melisa) terkejut kedatangan tamu tak di undang itu.


"Loh, tumbenan datang ke sini tidak kabari dulu? terus kamu---Fera, kok pucat?" Melisa bertanya-tanya pada putrinya.


"Ma, buatkan aku bubur ayam pakai bawang putih." jawab Fera tidak beri kesempatan untuk Ibunya melanjutkan pertanyaan terbengong-bengong sendiri.


Chandra cuma bisa mengangkat bahu, dan senyum. Melisa cuma bisa menuruti kemauan  putrinya. Anehnya tumben saja mereka datang tanpa beri kabar dulu.


Roy masih di taman sedang olahraga penenang pikiran dan jiwa. Chandra menghampiri ayah mertua nanti di kira tidak sopan berkunjung tidak menyapa.


"Selamat pagi, Pa. Maaf ganggu senam pagi ya?" sapa Chandra buat Roy menoleh.


"Eh menantu yang jelek tumbenan datang. Ada gerangan apa ini mana putri keras kepalaku?" Roy mencari keberadaan Fera.

__ADS_1


Fera sudah di kamar baring di atas kasur empuk miliknya. Ia butuh istirahat meringankan kepalanya dulu.


"Ada di kamar lagi istirahat," jawab Chandra


"Oh... aku mengira dia tidak ikut kemari. Jadi bagaimana perkembangan mu dengan putriku? Apa sudah berhasil untuk ..."


Roy malah menanyakan hal yang tidak sesuai keadaan. Akan tetapi Chandra menjawab santai, "Mudah-mudahan jadi, Pa."


"Oh... baguslah, tidak perlu di paksain kalau memang belum waktunya." ujar Roy duduk menghirup alam pagi hari.


Beberapa menit kemudian Fera turun dari kamarnya dan menuju ke dapur tempat meja makan. Bubur buatan ibunya baru saja selesai sesuai keinginan putrinya.


"Kamu kenapa? Pucat begini? Mau diet? tidak perlu diet segala sudah punya suami jangan macam-macam cari mantan-mantan kurang ajar itu ya!" Melisa pagi-pagi sudah mengomeli Fera.


"Memang kenapa kalau aku mau nyari mantanku? Punya suami juga tidak ada gunanya kalau cuma bisa berbohong!" ucap Fera sinis melanjutkan bubur nya.


"Apa? Coba sekali lagi apa yang kamu katakan tadi?" Melisa sudah di buat emosi oleh putrinya sendiri.


Di belakang taman Chandra dan Roy mendengar keributan di dapur mereka pun segera menyusul mengecek nya.


"Aku ke sini memang ingin mencari mantan-mantan ku! Percuma punya suami tapi cuma bisanya berbohong! Apa kurang jelas lagi? Aku pulang seharus nya Mama ini bersikaplah baik padaku, aku terus yang mama hujat! Membahas mantanku? Membahas semua keburukanku! Peduli mama itu kesiapa? Suami jelek tukang pembohong? Mama tau perasaan aku sekarang bagaimana? Mama memilih menantu yang tipe pembohong aku yang menjadi korban sandiwaranya?" Kini Fera semakin emosi, Melisa yang mendengar ceramah putrinya makin tidak memahami.


"Kamu ini sedang kerasukan setan apa? Pagi-pagi jangan  bicara yang aneh-aneh! Mama tidak suka!"


"Aku kerasukan setan kebencian, kedendaman, tidak di sini di rumah mertua semua hanya pentingkan diri sendiri! Sampai kapan kalian mengerti keadaanku! Aku lelah, aku capek kalian terus bohongi aku! Tidak teman, mantan, pacar, suami! Begini cara kalian perlakukan aku, begini cara kalian menghukum aku? Jawab kenapa kalian diam hah!" Fera meludak semua amarahnya.


Chandra, Roy, Melisa diam diri membiarkan Fera mengeluarkan semua rasa amarahnya. Kedua mata Fera buram karena air mata terus mengalir di usap dengan kasar sehingga kedua matanya sakit dan perih. Chandra mencoba mendekati istrinya yang tidak stabil itu.


"Jangan mendekat! Aku tidak butuh pelukanmu! Kau pembohong, aku benci dirimu!" Teriak nya parau.


Masih terdengar suara isak tangisan Fera melangkah kaki arah tanpa tujuan kepalany semakin sakit dan menyerang begitu hebat. Pandangannya kembali kabur dan merasa fisiknya semakin ringan dan gelap seketika.


Bruk!


Fera pingsan tak sadarkan diri, Chandra segera mengangkat tubuhnya membaringkan atas tempat tidur tersebut di dalam rumah malah cemas dengan keadaan Fera memburuk.


Melisa sibuk di dapur sedangkan Chandra mencoba memanggil dokter datang kerumah. Roy sibuk entah buat obat apa dirumah.


Mereka mengharap tidak buruk untuk Fera dalam kondisinya. Baru pertama kali Fera mendapat serangan yang hebat seperti ini. Melisa akan bertanya kepada menantu soal permasalahan tadi beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2