
Starbucks Chandra dan Fera tengah duduk di salah tempat yang paling adem tanpa rokok. Udara dingin dan sejuk mereka sedang menunggu seseorang.
Daripada menunggu terlalu lama mereka memesan makanan dulu untuk ganjalan perut. Chandra sih hanya memesan minuman sementara Fera tentu harus mengisi perut untuk kandungannya tidak peduli dia bergengsi atau rakus.
"Kau tidak ingin memesan?" Fera bertanya kepada suaminya.
"Tidak, kau makan saja dulu aku belum lapar," jawab Chandra ketus.
"Kenapa? Menunggu mantan terindahmu?" sindir Fera memojokan suaminya terus menerus.
"Mantan terindah apa maksudmu? Aku ke sini ingin bertemu dengan klien bukan mantan," balas Chandra mulai habis kesabarannya
"Jika begitu kenapa tidak pesan? Apa begitu pentingnya klien mu itu sehingga kau menunggu dia datang baru memesannya? Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku, ingat pesanku tadi siang jangan sampai aku buat dirimu malu di depan umum!" tegaskan sekali lagi oleh Fera.
Chandra menelan liur sekali lagi bukan karena ia meremehkan ancaman itu. Jangan sampai saja, karena rugi jika sampai terjadi sama kandungannya.
"Baiklah, aku pesan makanan juga," ujungnya ia pun memesan dengan terpaksa.
Waktu terus berjalan hampir satu jam tidak kunjung juga datang orang yang ingin ia jumpai oleh Chandra. Makanan ada di meja mereka berdua kosong. Semua yang di makan adalah Chandra sendiri.
Fera tidak bisa menelan makanan yang ia pesan itu serasa mual untuk indera penciuman nya. Chandra akan semakin khawatir dengan keadaan istrinya. Terpaksa ia menunda kembali pertemuan itu.
Dalam perjalanan menuju pulang kembali macet total jalan raya. Chandra mengelus rambut kepala istrinya yang lemas itu.
"Kalau tidak kita ke dokter? Cek kondisimu," usul Chandra
Fera tidak menyahut Chandra pun menghela napas mengerti mungkin lebih lain hari saja membujuknya kembali. Setengah jam kemudian mereka pun sampai di rumah. Chandra turun kemudian membuka pintu posisi di mana istrinya tempati.
Perlahan ia menggendong Fera keluar dari mobil tersebut. Fera ketiduran efek kepalanya yang sakit itu. Chandra pun menurunkan istrinya perlahan dan baringkan dirinya di atas ranjang.
Sedangkan dia meluruskan pinggangnya itu. Tak berapa ia melangkah kaki meninggalkan kamarnya membiarkan istrinya beristirahat dulu. Sementara pekerjaannya ia kerjakan di rumah.
***
Langit sudah gelap Chandra mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak terasa telah pukul delapan. Dia pun mencoba mengecek keadaan istrinya, Fera baru saja bangun dari tidur lelapnya. Ia mulai merasa lapar sekali.
"Kau sudah bangun? Bagaimana sudah lebih baik?" Chandra bertanya dan berjongkok menatap wajah istrinya.
"Aku mau kue cubit." jawabnya pelan
"Hah? Kau bilang apa? Roti cane?" ulang Chandra menanyakan sekali lagi takut salah menyimak
Fera mengangguk kepala "Aku mau kue cubit campur beberapa rasa, lapar." jawab Fera memegang perutnya.
Mengharapkan suaminya membelikan untuknya. Fera pernah memakan kue itu di tempat kampung suaminya rasanya benar lezat apalagi rasanya banyak bisa di cicipi. Chandra terbengong mencari kue cubit itu dimana apalagi pada malam hari begini apa masih ada yang jual kue itu setahunya kue itu hanya di jual pagi hari.
"Tapi, kau yakin ingin makan kue cubit? Ganti martabak saja bagaimana?" Chandra malah meminta yang lain.
__ADS_1
"Aku mau kue cubit," ulangnya kembali merengek manja.
"Iya aku tahu, aku harus cari di mana, sayang? Kue cubit cuma jualnya di pagi hari. Sekarang sudah malam belum ada yang jual." jelas Chandra berikan penerangan sedikit.
"Tidak mau tahu, aku mau kue cubit! Cari, kalau tidak tidur di luar!" ancam nya itu tidak pernah berubah - ubah.
"Jangan dong, masa kau tega suruh aku tidur di luar? Tidak mau di sayang - sayang lagi nanti malam?" Malah Chandra merengut.
"Makanya beli, cari! Mau anakmu ngiler karena tidak dapat makan kue itu?" sengit Fera tetap memaksa suaminya bersedia mencari kue itu.
"Ya sudah aku pergi cari, kau di sini tidak apa-apa, kan? kalau ada apa-apa telepon saja ya!" Kecupan hangat untuk istrinya.
Fera tidak menanggapi setelah bayangan sosok. tinggi punggung lebar itu menghilang dari penglihatannya. Chandra pun keluar dari parkiran mobil dari halaman rumahnya mulai mencari kue itu.
Cari di mana kue itu, malam begini apa ada yang jual, mudah-mudahan sih ada kalau tidak ada apa pulang kampung tidak mungkin kan?
Menggomeli diri sendiri. Chandra mencari sehingga penjuru kota metropolitan itu. Fera duduk di ruang tengah menunggu suaminya pulang membawa kue cubit yang dia inginkan. Entah kenapa menyukai camilan itu diwaktu tidak ada yang menjual.
Jarum jam masih berputar Fera masih setia menunggu sehingga kedua matanya tidak dapat terbuka lagi akhirnya ia pun di jemput oleh alam mimpinya. Berselang lama kemudian suara pintu utama seperti seseorang membuka.
Ceklek.
Chandra pulang dengan bungkusan plastik warna putih di tangannya masih terasa panas dan harum. Ia pun segera bawa ke kamar pasti istrinya telah lama menunggu, baru saja menuju kamar nya. Terdapat sosok wanita tertidur di atas sofa dengan televisi menyala.
"Ya ampun dia sampai begini menungguku, dan tertidur di sini?" gumam Chandra senang ia berjongkok menatap wanita. Fera mengernyit dan membuka kedua matanya.
"Maaf ya, membuatmu menunggu. Ya sudah besok saja di makan kuenya, lanjut tidur lagi." sambung Chandra mengelus - elus pipinya
Fera pun menurut dan memilih masuk ke kamar, sedangkan Chandra menyimpan di lemari untuk besok pagi ketika istrinya lapar.
****
Masih masa-masa kehamilan Fera yang belum berakhir pagi hari sudah mengganggu tidur suaminya. Fera mengguncangkan tubuh Chandra untuk segera sadar. Kepala pria berewok itu bergoyang-goyang.
"Eum... kenapa?" tanya Chandra suara paraunya.
"Aku mau putu mayung sama serabi kuah," jawab Fera pagi-pagi sudah mengindam aneh.
Chandra melebar kedua matanya dan bangun menatap istrinya lekat-lekat. Masih jam lima pagi sudah lapar, "Ada kue cubit semalam saja belum di makan. Makan itu saja dulu ya, nanti jam 7 atau 8 baru kita cari sama-sama," ucap Chandra
"Tapi aku mau sekarang, bagaimana? Seharusnya jam begini sudah ada yang mangkal kok," kata Fera meniru ekspresi manjanya.
"Harus sekarang, jadi kue cubit nya tidak mau lagi?" Chandra bertanya sekali lagi.
Fera menggeleng tandanya tidak minat kue itu lagi. Dia mau yang baru panas dan enak di lidah serta perutnya.
"Ya sudah aku mandi dulu, kita pergi sama-sama ya?" ujar Chandra turun dari ranjang tidurnya.
__ADS_1
Fera mengangguk kecil dan ikut turun, tetapi permasalahannya adalah Fera itu mengekori suaminya. Chandra yang masuk ke kamar mandi terkejut hampir menabrak pintu.
"Kenapa?" Chandra bertanya, "Tidak apa-apa," jawab Fera manis
"Terus kenapa buntuti terus? Aku tidak macam-macam, sayang. Tunggu diluar, ya, tidak lama kok mandi nya." ucap Chandra
Percuma istrinya ikut masuk ke kamar mandi, Chandra yang tidak bisa apa-apa'in karena istrinya juga di dalam. Cukup lama di kamar mandi mereka berdua, Chandra yang menahan hasrat sementara istrinya tangan halus terus menyelusuri kulit tubuhnya. Ia benar menggeliat hebat dengan apa di lakukan istrinya sekarang.
"Fera, kau tidak apa-apa, kan? Kau sedang hamil jangan lakukan aneh-aneh, kapan aku selesai mandi kalau kau terus---"
Oh Tuhan kuatkan hambamu ini...
Chandra membalas ciuman istrinya, tentu cara yang lembut tidak ingin menyakiti kandungannya. Pagi hari benar bikin dunianya terbalik.
****
Pasar tradisional Fera turun dari mobil sedangkan Chandra merasa aneh di sekitar pasar itu semua menatapnya. Karena merasa bingung ia pun mundur dan melihat lewat kaca mobil memarkir di sana. Tidak ada yang aneh menurutnya, tapi sesuatu buat dia shock berat ada kissmark di mana-mana sekitar lehernya.
Ya Tuhan.... istriku terlalu ganas apa bagaimana ini. Batinnya dalam hati.
Tetap ia pura-pura tidak tahu menahu keadaan. Fera berdiri di salah penjual putu mayung yang di idamkan. Ketika Chandra berdiri di samping istrinya seseorang memperhatikan jenjang lehernya itu.
"Maaf, Pak. Saya boleh tanya sesuatu?" seseorang disebelah nya berbicara kepada Chandra.
"Iya? Anda bicara sama saya?" Chandra balik bertanya.
"Tidak, Pak sama anak ayam, pasti bapak lah siapa lagi sih, Pak." jawabnya orang itu
Fera yang di samping suaminya hanya mendengar percakapan dua orang itu. Dia lagi menunggu buatan dari penjual nya.
"Mau tanya apa?" tanya Chandra sekali lagi. "Tidak Pak, cuma mau tanya itu leher di ***** sama siapa? sepertinya istri bapak ganas ya? Sampai merah-merah segar begitu," jawab orang itu suaranya tidak bisa dikecilkan lagi.
Fera yang berdiri dari tadi malah membisu pura-pura tidak mendengar padahal itu telinganya sudah terbuka lebar setiap kata-kata yang dilontarkan oleh orang-orang setempat pasar itu.
"Ini Mbak pesanannya beli banyak untuk siapa?" si penjualnya berikan kepada Fera, lalu ia menyerahkan lembaran warna biru tua kepada penjual itu.
"Makan sendiri, Bang," jawab Fera santai di buka bungkusan yang masih panas sampai berembun di plastik transparan itu.
Setelah penjual itu berikan kembalian uangnya kepada Fera, mereka pun kembali ke parkiran mobil. Chandra yang dari tadi mengekori istrinya merasa buyar tidak fokus dengan pertanyaan dari orang pasar itu. Masuk ke mobil Fera malah asyik dengan camilan ngidamnya.
"Yang, nanti siang mama sama papa datang ke sini, jadi kalau aku kerja kau ada ada mereka menemanimu," ucap Chandra mobilnya keluar dari parkir dan berikan ongkos kepada tukang parkir itu.
"Kenapa harus mama dan papa? bosan ah, nanti cuma dapat ceramah mulu sama mama," protes Fera masih sibuk dengan camilannya
"Terus kau mau bagaimana? Mama dan papa di rumah bisa sambil jaga dan masak untuk dirimu dan juga kandungan atau kau mau ke Kafe Madura? Tapi tidak melakukan pekerjaan yang berat aku tidak mau kau terlalu lelah soalnya kondisi kehamilanmu masih belum genap satu bulan," kata Chandra beri nasihat dan ke khawatirannya ia meminta orang tuanya datang kerumah mereka untuk menemani istrinya agar tidak bosan.
"Aku ikut kau ke kantor saja tidak akan macam-macam seperti kemarin," ucapnya
__ADS_1
"Baiklah," ujarnya kemudian.