Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 35


__ADS_3

Berkumpul makan rujak bersama di bawah pohon jambu. Lily yang sibuk mengurus anak kucing sedang memakan sisa buah mereka makan.


Fera memilih buah-buahan di cari yang paling asam dulu. "Kenapa, Neng? Kok di obrak-abrik buahnya?" Di tanya sama Bibi Inem.


"Mau cari yang asam, Bi," jawab Fera datar.


"Asam? Aduuh kayaknya ini buah di beli sama Nak Chandra semua manis, Neng!" tutur Bibi Inem.


"Begitu ya, ya sudah tidak apa-apa? Omong - omong Bibi Inem sudah berapa lama kerja di sini?" Fera mulai berbasa-basi.


Chandra lagi terima panggilan dari kantornya menanyakan muatan barang dan produk yang masuk ke gudang tersebut.


"Lama, neng. Dari Nak Chandra umur dua belas tahun," jawab Bibi Inem.


"Waah... lama juga ya, berarti sudah dua puluh tahun dong kerja di sini? Menurut Bibi, Chandra itu seperti apa sih? Terus yang di foto figura dekat televisi itu siapa? Apa wanita ini?" Pertanyaan Fera membuat Bibi Inem senyum kecil apalagi Lily yang sibuk mengoceh sama kucingnya.


"Mbak salah paham, foto figura itu bukan aku, mbak!" seru Lily menyambungkan pembicaraan.


"Terus foto figura itu siapa dong?" tanya Fera lagi


Di bawah pohon jambu hanya tinggal tiga wanita di sini. Hana dan Herman kembali mengerjakan pekerjaan di rumah. Chandra masih sibuk menelepon belum juga berakhir, sambil curi pandangan jarak beberapa meter dapat ia lihat istrinya sedang bercakap-cakap dengan  Bibi Inem dan Lily.


"Bi Inem jelasi saja, deh. Takut nanti si Mbak nya salah paham lagi!" jawab Lily mengoper langsung kepada Bibi Inem.


Fera makin penasaran dan curiga banget, pertanyaannya seperti bola di oper sana kemari.


"Sebenarnya siapa foto figura itu sih? Kok makin aneh saja! Memang Chandra sama wanita di foto itu ada kaitan apa sih? Sampai aku bertanya mencurigakan banget. Okay aku janji tidak akan marah atau pun cemburu." Fera janji kepada mereka berdua.


Bibi Inem menghela napas dan menarik napas kembali dalam-dalam. Mulai menceritakan sesungguhnya figura ada di foto bersama Chandra pelukan yang mesra dan senyuman manis itu.


"Foto figura itu sahabat baiknya Nak Chandra sama-sama kuliah di Jakarta. Saling dukung mendukung ketika membuat kegiatan perkuliahan. Suka main di sini sahabatnya, dia itu manis, cantik, imut, murah senyum. Hubungan mereka baik sampai Bibi, Ibu Hana dan Bapak Herman mengira nak Chandra itu pacaran dengan sahabatnya,"

__ADS_1


Fera masih mendengar cerita dari Bibi Inem. Fera mengambil inti cerita kalau foto figura itu adalah sahabat baik sekaligus cinta pertama di masa mudanya.


"Bentar, bi, aku potong dulu. Jadi cinta pertama Chandra itu yang benar mana sih? Shena atau sahabat ada di foto figura itu?" Fera mulai bingung dengan cerita ini. Ia merasa di bohongi sama suami dan juga satu keluarga. Fera seperti wanita bodoh mudah banget mempercayai karangan cerita dari mereka semua.


"Shena? Siapa itu Shena? Setahu Bibi cinta pertama nak Chandra itu sahabat yang neng tanya foto figura itu," jawab Bibi Inem.


Fera melebar bulat-bulat matanya, sudah bisa ia tebak sendiri kebohongan demi kebohongan sudah terungkap olehnya. Chandra telah membohongi nya selama ini, namun Fera masih dengan wajah biasa akan tetapi di dalam tubuhnya telah mendidih.


"Benarkah? Bibi jangan bohong loh, bohong itu dosa bisa masuk ke akhirat!" Fera mengancam namun membawa bercanda.


"Mbak, Bibi Inem tidak pernah berbohong. Kak Chandra masih punya perasaan sama sahabatnya sampai sekarang. Aku saja kaget kalau Kak Chandra sudah menikah dengan mbak. Aku mengira mbak ini temannya kak Chandra," sambung Lily bersuara dari tadi ia menyimak percakapan antara Bibi Inem dan Fera.


"Terus kau dan Chandra ada hubungan apa? Kok kau begitu dekat sama dia?" Nada Fera mulai rendah emosinya.


"Aku Lily, mbak. Mantan muridnya les privat setahun yang lalu berimpian ingin menjadi suami kak Chandra. Tapi aku tau diri kok, tidak mungkin Kak Chandra mau sama aku yang rada geser ini." Cengengesan Lily perkenalkan diri kepada Fera.


"Ya sudah, neng. Bibi masuk ke dalam dulu ya. Jangan ceritakan ke nak Chandra kalau Bibi menceritakan kepada neng," ucap Bibi Inem mengangkat piring kosong yang telah habis itu.


"Tidak janji, Bi. Tergantung mood aku bagaimana. Tapi Bibi tenang saja aku tidak akan menyalahkan Bibi kok, sekali lagi Terima kasih ya. Dan kau, lily pulang sana bawa anak kucing-kucing mu juga." Fera mengusir Lily dari rumah Chandra.


"Sudah habis buah rujak nya?" Chandra mencari buah yang baru saja ingin makan.


"Habis di gerodong sama kucing betina!" jawab Fera ketus langsung masuk tak peduli suaminya terbengong di sana.


****


Langit telah mulai gelap pukul 18.45 sebentar lagi menuju pukul tujuh malam. Azan magrib telah terdengar di seluruh penjuru gang perdesaan ini.


Di meja makan Fera memilih untuk membisu setelah apa yang ia dapat cerita dari Bibi Inem. Sambil mengunyah ia mencuri arah samping suaminya tengah lahap menyantap masakan ibunya. Tidak hanya itu saja ibu dan ayah mertua juga sama hal berada di rumah ini tanpa percakapan seperti pertama kali mereka datang ke rumah mereka berdua.


"Bagaimana pekerjaan di Kafe Madura nya? Apa lancar?" suara berat dan tegas memecahkan keheningan di meja makan beberapa menit kemudian. Herman bertanya kepada menantunya.

__ADS_1


"Lancar, Pa. Beberapa kemarin omset pelanggan meningkat, kalau sekarang belum ada laporan dari mereka," jawab Fera datar tanpa ada rasa senyum di wajahnya ia kembali melanjutkan makannya.


"Bagus lah kalau begitu, jika bisa tetap seperti itu terus, Papa yakin akan semakin pesat kafe itu. Tidak seperti dulu selalu menurut dan menyusahkan orang lain. Lihat itu Chandra seperti inilah Papa mencari istri untukmu. Walau sifatnya keras kepala dia ingin mencoba hal yang baru." Herman memuji Fera dan memojokkan Chandra.


Percakapan di meja makan semakin tegang. Fera bersikap biasa saja sementara Chandra memilih untuk diam membiarkan orang tuanya memojok dirinya di depan istrinya.


"Sudahlah, Pa. Namanya juga lelaki. Tidak semua pekerjaan di lakukan sendiri, sudah untung menantu kita membantu daripada tidak sama sekali, sudah ayo makan lagi. Soal masalah kantor nanti baru di bicarakan," sambung Hana bersuara.


Setelah selesai makan malam seperti biasa Fera masuk ke kamarnya. Dia memilih untuk tidur, kepalanya sakit tiba-tiba terlalu banyak memikirkan sahabat baik suaminya itu.


Di ruang tamu Chandra duduk ikut bergabung dengan kedua orang tua nonton televisi. "Bagaimana hubunganmu dengan Fera? Sudah lebih baik? Terus kapan beri mama cucu?" pertanyaan dari Hana membahas cucu.


"Sudah lebih baik, Ma. Sabar dulu ya, Tuhan belum memberi terbaik. Akhir -  akhir ini Fera sering meledak emosi, mungkin terlalu agresif." jawab Chandra membantu mengupas kulit kacang.


"Sudah cek ke dokter belum? mana tau Fera begitu hamil, iya kan, Pa!" seru Hana menanda bahwa istri Chandra hamil.


"Masa sih, Ma." Chandra tidak percaya bisa saja omongan orang tua meleset.


Percakapan di ruang tamu masih serius penuh canda tawa, tidak buat Fera terganggu oleh tidurnya. Ia memang butuh istrahat menenangkan pikiran terus mengingat setiap kata dari Bibi Inem.


Sudah menuju pukul sepuluh malam rasa kantuk di mata Chandra mulai menjemputnya. Ia pun masuk melihat posisi tidur istrinya membelakangi. Setelah cuci kaki, ia pun bergabung tidur dan memeluk istrinya.


Tapi sebelum itu, Chandra mendengar suara isak dari istrinya. Ia pun membalikkan badan Fera, kedua mata nya merah namun tertutup. Fera menangis tanpa sadar ketika tertidur.


"Sayang, ada apa?" Chandra menghapus sisa air mata yang mengalir itu.


Fera membuka kedua matanya dan merasa perih di bagian kantong nya itu. Di sana ia menemukan suaminya perhatikan dirinya saksama.


"Kenapa? Kok menangis? Mimpi buruk lagi?" Chandra bertanya lagi tidak ada jawaban dari istrinya.


"Tidak apa-apa, cuma alergi debu saja," jawab Fera parau kembali menyamping tidur menutup selimut sendiri.

__ADS_1


"Alergi?"


Fera kembali menutup kedua matanya. Cukup menangis saja ia sudah merasa lega, ia juga tidak tau kenapa dirinya selemah ini. Merasa semua hampa tak berarti kalau memang suaminya masih  menyimpan perasaan untuk sahabatnya. Ia bisa menerima semua kebohongan dari suaminya. Mencintai dalam kebohongan benar tidak seindah yang ia harapkan sekarang.


__ADS_2