
Rumah makan padang Minang, Fera tengah menunggu seseorang di sana. Hari ini dirinya tidak bekerja karena dia sudah berjanji dengan sahabatnya untuk makan siang bersama di tempat ini. Sebagai permintaan maaf atas kejadian reunian di Starbucks tersebut.
"Maaf, sudah lama menunggu ya?" suara lembut tidak asing bagi Fera tentunya yang datang adalah Vivi.
"Tidak, baru sampai. Mau makan apa? Biar langsung saja." lanjut Fera membuka menu makanan di meja dari tadi sebelum dia datang.
"Terserah saja, aku lagi tidak ingin makan berminyak, takut gemuk." ucapnya ikut membuka menu makanan di depannya
"Hem... diet, ya? Jangan terlalu diet. Kau itu sudah kurus begini. Sudah pesan saja aku yang traktir sebagai permintaan maaf dariku kemarin di reunian," balasnya mulai memanggil pelayan rumah makan ini.
Vivi mau tak mau memesan sesuai selera di lidahnya makanan berat bersantan padahal dia ingin menjaga tubuhnya agar tidak makan berlemak.
"Jadi, bagaimana interview nya? Lancar?" Fera mulai berbasa-basi setelah menu makanan yang mereka pesan datang.
"Aku takut tidak di Terima, kau tau pekerjaan perusahaan besar PT pasti memilih pengalaman dan berpendidikan tinggi sedangkan aku hanya tamatan SMA."
"Eit, jangan salah, tamatan SMA lebih mengunggulkan kepintaran dari pada pendidikan tinggi. Aku yakin kau pasti di Terima apalagi di perusahaan suamiku itu banyak lowongan pekerjaan. Jadi jangan takut tidak di Terima. Aku pun sudah meminta suamiku segera menerima dirimu sebagai karyawannya yang layak," sambung Fera senyum
"Aku malu jadi diriku sendiri, kau sudah banyak membantuku, apalagi setelah kita lama tidak berkomunikasi dan ketemu tiba-tiba di Mal. Aku sudah banyak berhutang budi padamu, Fera," ucap Vivi pelan
"Hei! Sudah aku katakan tidak perlu malu. Kita sudah lama bersahabat. Justru aku yang berhutang budi kepadamu. Kalau saja dulu sekolah kau tidak berikan contekan untukku di ujian nasional, aku pasti tidak akan lulus dan bisa kuliah di penguruan tinggi. Apalagi saat perpisahaan kita, aku sangat bersalah tidak memberitahu kepadamu bahwa aku akan pindah ke kota tetangga. Bahkan kau menikah aku tidak bisa hadir dan malah senang di luar duniaku, itu benar sangat fatal bagiku. Sekarang kita sudah bertemu dan apa pun yang kau inginkan katakan saja padaku. Aku akan wujudkan untukmu. Sebagai tanda terima kasih dan permohonan maaf kemarin." sambung Fera berbicara panjang lebar membuat hari Vivi terdiam tanpa bisa berkata-kata.
"Tapi, apa pantas aku terima pemberianmu? Baju, tas, sepatu, sampai berikan pekerjaan untukku di perusahaan suamimu?" Vivi bertanya dan melirik sahabatnya
"Vivi, Vivi... Kau ini benar wanita polos atau lugu sih. Aku lakukan ini secara ikhlas. Kau tenang saja, di perusahaan suamiku ini pekerjaan ringan saja. Jika kau tidak mengerti aku akan minta suamiku membantumu atau karyawan lain. Kau ini sudah aku anggap saudara sendiri. Jadi kebaikanku ini tulus dan ikhlas agar kau tidak terpuruk lagi, sekaligus cari jodoh di sana," ucap Fera senyum dan mengelus tangannya.
__ADS_1
I'm sorry but... Don't wanna talk...
Lagu ring tone ponsel milik Fera berbunyi, dia segera mencari ponsel di dalam tasnya.
I need a moment before I go ... It's nothing personal ....
"Ya, Chan! Kenapa?" Fera langsung mengangkat tanpa mengucapkan kata Halo terlebih dahulu.
"Lagi apa?" suara seberang dari Chandra
"Aku lagi makan sama Vivi, kenapa?" jawab Fera senyum kepada Vivi
"Oh... Nanti bilang ke Vivi, mulai besok sudah boleh masuk kerja, posisinya biar besok di beritahukan sama bagian HRD-nya."
"Oh, baiklah. Kau sudah makan?"
"Iya, suamiku yang jelek, Love you too..."
Setelah selesai menelepon dari suaminya, Vivi bisa melihat keharmonisan rumah tangga sahabatnya. Dia merasa iri andai suaminya seperti Fera dan Chandra mungkin dia juga tidak akan berada sekarang ini.
"Kau dan suamimu selalu begitu? Aku iri sekali. Kapan aku punya suami seperti suamimu, begitu pengertian, perhatian dan sayang padamu." ucap Vivi
"Akan ada waktunya kau mempunyai suami seperti suamiku. Tapi tidak serupa mungkin bisa lebih jauh dari suamiku. Ah ya, suamiku bilang mulai besok kau sudah boleh bekerja di tempat nya. Selamat ya kau di terima apa aku bilang tidak selamanya pengguruan tinggi menjadi formalitas nomor satu. Pendidikan SMA juga bisa, jadi setelah satu bulan nanti gaji pertama jangan lupa traktir aku ya!" seru Fera mulai kumat dengan namanya gratisan.
Fera tertawa bukan karena mengejek sahabatnya tapi dia senang akhirnya Vivi mendapatkan pekerjaan yang layak baginya. Dan dia juga sudah merencanakan sesuatu ya mungkin susunan ini bagus untuk kedepannya bagaimana perkembangan ketika sahabatnya kerja di perusahaan suaminya nanti.
__ADS_1
***
Malam telah tiba Fera baru saja selesai memasak untuk suaminya yang sebentar lagi pulang dari kantor. Masakan sederhana sup ayam obat dan sayur tumis serta ayam goreng
Ceklek.
Suara pintu depan utama terbuka Chandra sudah pulang. Fera membuka celemek nya dan menghampiri suaminya yang muka letih itu.
"Bagaimana pekerjaannya?" Fera membawa tas kantor suaminya dan bertanya tentang pekerjaan tersebut.
"Begitulah, lumayan sibuk. Mungkin besok aku akan lembur kerja. Apalagi temanmu pertama kali kerja untuk besok. Jadi jangan tunggu aku pulang kalau sudah mengantuk tidur saja, hem..." jawab Chandra membuka dasinya yang menyesakan di leher tersebut.
"Jam berapa pulang? biar nanti aku menyusul ke kantor saja. Kau tau aku tidak berani tidur sendirian. Apalagi akhir - akhir ini sering mati lampu." Fera bertanya lagi dan menuangkan sup untuk suaminya.
Duduk bersama di meja makan, perubahan Fera benar berubah delapan puluh persen. Walau pun dirinya jarang ke kafe Madura lebih sibuk mengurus pekerjaan rumah dan membuat sarapan serta makan malam untuk suami. Siang dia berangkat ke Kafe hanya untuk melihat kadang membantu jika tidak ada janji dengan teman-teman atau sahabat nya.
"Belum pasti, karena besok akan ada barang masuk dari Spanyol lalu barang pesanan dari luar negeri. Belum lagi akan pemuatan barang untuk ekspor USA dan Vietnam," jawab Chandra mencicipi masakan istrinya benar sangat lezat dan enak.
Fera terdiam bukan karena maksud berpikiran negatif cuma ia merasa ganjal dan firasat tidak nyaman di dalam dirinya sendiri. Tetapi dia percaya suami bekerja juga demi keluarga dan rumah tangga nya tidak mungkin suaminya berselingkuh.
"Kenapa? Kau takut aku akan selingkuh?" tebak Chandra
"Hah? Tidak," respons nya kembali melanjutkan makan malam nya.
"Tenang saja, aku tidak akan selingkuh. Apalagi sahabatmu, hatiku hanya untukmu seorang, untuk istri manja. Jadi kapan hasilnya positif, ya!" Chandra mengelus rambut istrinya dan mulai menggombali Fera.
__ADS_1
Fera langsung melototi suaminya di saat lagi makan malam malah membahas soal mesum. Chandra tertawa bahak-bahak dia suka sekali menjahili istrinya seperti ini. Benar dia makin cinta sama Fera.