
Seperti di janjikan oleh Chandra kepada Fera, setelah selesai acara pertemuan dengan para sahabat ternyata harus batal. Di karenakan salah satu sahabatnya tidak bisa hadir. Jadi sementara waktu di batalkan sehingga semua para sahabat tidak memiliki kendala di luar pekerjaan tersebut.
Apalagi Chandra harus berlibur beberapa minggu berada di kampung maka ia tidak bisa janji pasti kapan berkumpul dengan mereka. Sebab istri manja ini sudah tidak sabar untuk melihat kampung halaman kelahirannya.
"Kira-kira di sana ada AC tidak?" Fera bertanya
"Mana ada, namanya juga perdesaan pastinya yang di pakai itu kipas angin. Di kampungku sebagian penghematan listrik, kalau mau mandi di sungai," jawab Chandra usil
"Ah? Masa sih mandi di sungai, tidak jorok itu? Apa tidak malu mandi tanpa penutup?" Fera tidak percaya zaman sekarang mana ada lagi mandi di sungai memang Kristis moneter.
"Tapi sebagaian suka mandi di sungai sampai menangkap ikan, ada tempat memancing juga. Pokoknya sudah sampai aku yakin kau tidak akan pulang ke kota metropolitan," ucap Chandra fokus mengemudi.
Dua jam perjalanan menuju kampung halaman milik Chandra sampai juga. Selama berjam-jam duduk di dalam mobil membuat wanita dua puluh lima tahun ini mengerangkan seluruh tubuhnya yang kaku dan tegang.
Ketika memasukki halaman rumah orang tua Chandra, para tetangga keluar dari rumah memunculkan batang hidung mereka mengintip siapa yang berkunjung ke rumah petak sederhana namun halaman begitu panjang dan luas seperti lapangan bulu tangkis.
"Ini rumah Mama Papa?" Fera bertanya-tanya karena terkagum-kagum dengan tempat ia pijak.
"Iya dong, sayang. Ayo masuk yang lain sudah curi pandang arah kita. Sebentar lagi para tetangga berkumpul di depan rumah ini," jawab Chandra dan berbisik pelan.
Fera pun melirik sekitar rumah yang sama model petak sederhana dan ada juga rumah model Belanda namun unik. Orang-orang yang keluar memandang dirinya, tanpa senyum sedikit pun Fera jadi mengerinding ngeri horor banget.
Pada saat masuk ke dalam rumah tidak perlu di herankan lagi untuk Fera panjang bagaian kereta api tanpa berliku-liku. Kalau kerjakan rumah seperti dirumah mereka sendiri butuh waktu satu jam seperempat.
"Ma, kami pulang!" Chandra menyapa ibunya sedang membuat kue di dapur untuk jual.
"Ya ampun kok tumben pulang? Kenapa tidak bilang ke Mama sih? Mama belum masak apa-apa loh. Kalian sudah makan? Biar Mama masak dulu, kau datang sendirian Fera mana?" Hana mencari menantunya, Fera sedang melihat figuran yang terpajang di dinding tertata rapi.
Foto waktu Chandra masih kecil hingga remaja kemudian Presentasi hingga menuju kelulusan wisudanya. Dan tepat ia berhenti foto seorang wanita cantik begitu mesra apalagi senyuman sangat bahagia sekali.
"Ada di luar, tidak perlu Ma. Biar nanti aku ajak dia makan di luar saja. Sekalian bawa dia jalan-jalan lihat tempat perdesaan ini," ujar Chandra senyum
"Untuk apa makan di luar, tunggu saja Mama masak dulu. Baru sampai dari perjalanan masih mau keluar lagi, Apa tidak kasihan sama istrimu?" Hana kembali mengomeli putranya.
Chandra senyum, "Baiklah kalau Mama mau nya begitu. Aku bawa Fera lihat ternak ayam."
Fera masih bertanya-tanya siapa wanita di samping suaminya. Begitu manis dan senyuman itu buat dia seperti mengenal sekali.
"Apa yang kau lihat serius sekali?" tegur Chandra menghampiri istrinya dari tadi fokus dengan satu foto di meja samping televisi.
"Wanita ini siapa? Kok dekat banget sama kau? Apa dia itu Shena--mantan kekasihmu?" Fera bertanya dan melirik nya sebentar.
Chandra mengambil foto itu di sana dan perhatikan kembali foto dan wajah di depan istrinya. Senyuman panjang semakin buat Fera curiga dengan senyuman suami nya ini.
__ADS_1
"Kenapa kau senyum? Memang benar dia mantan kekasihmu?" Fera bertanya lagi,
Chandra meletakkan kembali foto figuran itu di tempat semula. Kemudian merangkul bahu istrinya membawa dia ke lokasi perternakan.
"Kok tidak di jawab, memang dia itu mantan kekasihmu kan?" Fera bertanya lagi makin curiga.
"Pokoknya dia buat mantan kekasihku yang dulu. Dia itu berharga dan penting dalam kehidupanku selamanya, meskipun dia sudah lupa siapa aku tetap saja buat aku itu berharga untukku sampai sekarang." jawab Chandra datar
Fera menyimak masih tidak mengerti dengan jawaban suaminya. Sekarang ia berada di tempat paling bau tidak pernah ada. Perternakan ayam, ****, Bebek, angsa. Semua berkumpul menjadi satu.
"Tempat apa ini! Bau Chandra! Ya ampun... Kakiku...!" Jeritan Fera membuat yang bekerja di sana melirik nya
"Dasar orang kota, terinjak kotoran ayam saja sudah berteriak kesetanan! Bagaimana kotoran kuda?" sindir dari pekerja ternak tersebut.
Chandra membantu istrinya mencuci telapak kakinya yang tertempel kotoran ayam dan Bebek. Chandra tertawa terus tidak dapat berhenti dengan sikap istrinya yang parno tiba-tiba. Sudah dia duga pasti akan heboh jika datang ke kampung halamannya.
Fera terus mengomeli suaminya tapi buat Chandra menggeleng kepala, merasa jorok tapi penasaran dengan perternakan. Untung yang lain sudah mengenal baik dengan Chandra jadi mereka bisa memaklumi dengan istrinya seorang kota metropolitan.
****
Puas melihat perternakan penuh geli, jijik, tapi seru hanya aroma baunya itu benar buat Fera ingin muntah. Tiga kali menginjak kotoran ayam, Bebek, angsa.
Sekarang mereka telah berada di meja makan menikmati masakan mertua. Kerinduan bagi Fera tidak boleh di lewatkan karena ia menyukai masakan ibu mertuanya.
Menu hari ini sederhana tidak seperti masakan suaminya selalu ayam, telur, ayam, telur lama kelamaan Fera berkotek betina.
"Ini Cap chai, kalau ini sambal tempe di campur udang, terus ini kau sudah tau sup bakso ikan," jawab Chandra beri penjelasan semua daripada di tanya terus.
"Baru kali ini aku lihat sayur Cap chai, kenapa kau tidak pernah masak seperti ini? Setiap hari telur, ayam, Lama-lama aku jadi ayam betina," celetuk Fera membeo
"Orang kau tidak request mana aku tahu kau suka sama sayur beginian. Biasanya kau suka makanan khas barat seperti PizA, burger, Spageti," Chandra membalas
Hana menggeleng kepala melihat tingkah laku pengantin ini. "Kalian ini suruh makan bukan mulut berkotek terus!" sambung Hana menegur mereka.
Mereka berdua terdiam dan melanjutkan makanan sore tersebut. Hanya suara garpu dan sendok di meja makan. Tidak berapa kemudian mereka selesai makan sore tersebut. Fera mencuci piring sedangkan Chandra membantu membilas piring tersebut.
"Setelah ini kau ingin kemana? Mau lihat matahari terbenam tidak?" ajak Chandra
"Memang disini ada pantai?" Fera balik bertanya
"Tidak ada, tapi di belakang rumah sekitar dua ratus puluh lima meter tapi menggunakan sepeda. Kau bisa naik sepeda, kan?" jawab Chandra
"Sepeda? Tidak bisa?" ucapnya lesu, "ya sudah nanti aku bonceng biar lebih romantis," kata Chandra.
__ADS_1
Chandra keluar menuju tempat gudang tersimpan beberapa barang yang tidak di pakai dan ia mengeluarkan sepeda janda kuno milik ayahnya. Masih bagus belum terlihat kusam.
Sedangkan Fera duduk di kursi bambu panjang. Para tetangga melirik dan mencuri pandangan arah di mana Fera berada. Chandra mendayung sepeda membuat Fera tertawa lepas.
"Ayo!" suruhnya.
Fera menurut ia menghampiri suaminya, "Kau seperti jaman orang Belanda, Oke sudah!" seru Fera melingkarkan tangannya di perut rata suaminya.
Fera duduk menyamping dan Chandra mulai mendayung tempat yang dia katakan tadi. Orang-orang yang di rumah masing-masing memandang dua isan pasangan itu.
Fera malah melirik arah tempat lain, ada pula menyapa suaminya dengan ramah. Fera tidak kenal sama sekali dengan orang-orang ada di perdesaan. Angin sore membuat wajah Fera tersentuh menyejukan walau cuaca panas tidak terlalu membakar kulitnya.
Tiga puluh menit kemudian Chandra berhenti sebagai kaki panjang menahan posisi istrinya duduk menyamping. Fera menoleh belakang mendelik kagum dengan penglihatannya itu.
"Indah banget! Ini sawah mu?" sorak Fera turun dari tempat duduknya.
"Bukan, milik orang lain, bagaimana? Suka?" ucap Chandra merangkul bahu istrinya.
"Suka malahan, ini benar indah banget, terus katanya lihat matahari terbenam mana?" Fera melirik kiri kanan tidak ada apa - apa..
"Sebentar lagi, kau lihat atas langit cantik kan? Seperti wajah istriku sekarang ini merona jingga kebiruan." Chandra mulai gombal lagi
Fera bermuka masam mencubit pinggang suaminya tidak memiliki lemak itu. Chandra menghindar ia tau kalau istrinya akan mencubit nya.
"Aku mau tanya, foto di figuran tadi siapa?" Fera kembali membahas soal tadi siang.
"Sudah aku jawab, orangnya yang aku cintai sampai sekarang," jawab Chandra memandang atas langit yang bersinar warna pelangi
"Ya siapa? Memang orangnya di mana?" tanya Fera lagi kepo
"Ada di sini sedang menemaniku melihat matahari terbenam." jawab Chandra santai dan datar
Fera masih menyimak dan mendengar sangat baik. Masih belum mengerti maksud jawaban suaminya itu. Tapi yang buat ia tangkap adalah posisi dirinya sedang menanti matahari terbenam.
"Eh... maksud kau, foto wanita peluk sama kau itu... aku?" tebaknya lirik
Chandra menoleh dan senyum kemudian mengangguk pelan. Fera melebar kedua matanya tidak percaya.
"Memang sebelumnya aku dan kau itu sudah---"
"Iya, sebelum menikah dan perjodohan itu kita sudah saling kenal, tapi kau saja yang sok cuek dan sombong sama aku. Jadinya waktu acara wisuda itu kau masih sekolah menengah. Itu wajahmu masih lugu dan pada polos. Bukannya kau lupa Mamaku dan Mamamu itu sahabat dekat dan paling akrab,. cinta pertamaku itu sebenarnya istriku sekarang ini. Kalau Shena hanya sebagai pelarian ku tapi malah aku jatuh cinta padanya sehingga kenangan tentang kau, aku lupakan." jelas Chandra menceritakan sebenarnya
"Masa sih? Kau benar pria sangat kejam!" sikut Fera menyudutkan suaminya.
__ADS_1
"Kejam begini, cinta mati sama istriku loh. Apalagi bertemu kembali," ucapnya datar.
Fera menyikut pinggang suaminya membuat Chandra refleks karena terkejut. Matahari telah terbenam sebagai saksi mata mereka di sore yang indah.