Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 16


__ADS_3

Fera keluar dari kamar seharian penuh berada di kamar rasanya membosankan, apalagi mertuanya ada di rumah ini masa ia tidak tau diri sih sudah menikah masih sembunyi di kolong selimut tebal.


Ibu mertuanya sedang di dapur memasak sesuatu mungkin untuk makan siang. Sedangkan ayah mertuanya nonton televisi berita politik. Ia pun mencoba menghampiri ibu mertua itu. Soalnya ia pun tidak pernah ke dapur, karena yang sering ke dapur itu suaminya.


"Siang, Ma?" sapa Fera jarang-jarang ia menyapa orang lebih tua apalagi ibu sendiri.


Hana menoleh sedang mengadu kuah gulai di kompor gas. "Sudah bangun? Nyenyak tidurmu hari ini?" sambut Hana ramah kepada menantunya.


"Ehm... lumayan, Mama sedang buat apa? Sepertinya lezat." Fera berbasa-basi menanyakan apa yang di masak oleh ibu mertuanya.


Mengambil hati ibu mertua yang diutamakan adalah bertanya baik-baik kalau misalkan  Hana mengomel harus siap menerima resiko sebagai menantu. Mungkin dengan cara ini ia bisa menjadi istri yang baik.


"Mama lagi masak gulai ikan, Chandra sangat suka dengan makanan bersantan. Tadi waktu Mama ke pasar ada ikan mas besar dan segar, jadi masak untuk dia daripada makan di luar tidak berhigenis. Tolong kamu aduk dulu jangan sampai gosong di bawahnya." jawab Hana meminta Fera mengadu kuah itu.


Fera menuruti memulai mengaduk, aromanya wangi dan bikin perutnya langsung lapar. Ia melirik sebentar arah ibu mertuanya sedang mengiris sayuran sehat.


Begini ya aktivitas menjadi istri baik, memasak di dapur buat sarapan, makan siang dan makan malam untuk suami. Ternyata menyenangkan.

__ADS_1


Kata dirinya sendiri memperhatikan ibu mertua mengiris dan memotong sayuran begitu cepat dan cekatan. Ia merasa iri banget kira-kira bisa menjadi seperti ibu mertuanya tidak ya. Ia mulai terbayang belum menikah ibunya juga sering di dapur menyiapkan makanan untuk satu keluarga.


"Ya ampun, Fera, kenapa tidak bilang ke Mama. Airnya hampir habis untung tidak gosong, kamu kocok saja telur yang sudah Mama masukkan semua bahan-bahan di dalam," tegur Hana kepada menantunya.


Fera kembali mematuhi apa yang di perintahkan oleh ibu mertua. Kalau soal kocok telur ia paling suka karena waktu kecil ia sering memasak telur di rumah kalau lapar.


Ternyata memakan waktu lama juga memasak sudah pukul dua siang menjelang sore jam makan siang suaminya pun sudah terlewatkan. Hana menyusun semua sayuran dirantang merek 555 aluminium ada empat tingkat.


Fera baru saja selesai makan siang, karena ia benar lapar belum sempat sarapan pagi karena membayangkan suaminya berbeda.


"Setelah kamu selesai makan siang, bawa makanan ini ke kantor suamimu. Mulai sekarang belajar menjadi istri yang baik. Tidak ada untungnya keluyuran rumah berfoya-foya cuma menghabiskan uang suami. Chandra bekerja keras demi masa depan kamu dan juga dirinya. Mama bukan mengomelimu, Mama cuma ingin kamu lebih belajar syukur bahwa suamimu sangat sayang dan sabar mencintaimu. Soal perkataan Mama semalam jangan kamu masuk ke dalam hati. Makhlum orang tua kalau melihat anak sudah menikah tidak sabar menggendong cucu. Ya sudah Mama terlalu banyak bicara cepat bawa ke kantor," ucap Hana menasehati menantunya panjang lebar


"Kalau begitu aku pergi dulu, ya,"  pamit Fera kepada Ibu Mertuanya.


Di nyalakan mobilnya kemudian ia letakkan tempat makan di samping jok pengemudinya. Ia ingin mengabarkan kepada suaminya kalau ia membawa makan siang tapi ia pikir kedua kali mengurungkan untuk tidak beri kabar kepadanya anggap sebagai kejutan.


****

__ADS_1


Perusahaan Sportbag Industri kantor Chandra berada di lantai enam. Saat ini ia sedang kedatangan tamu yaitu Kesya Aurora Ginawati,  dari perusahaan Mega Friedrich Food dua hari kemarin menawarkan produk makanan kepada Chandra.


Chandra tertarik karena kafe yang ia dirikan butuh bahan lain agar pengunjung tidak merasa bosan dengan sajian kuliner dan cemilan tersebut. Kesya menerangkan setiap produk makanan dari A sampai Z. Chandra menyimak sekaligus mengerti maksud penjelasan darinya.


Tidak berapa lama kemudian, Fera pun sampai di kantor suaminya. Ia turun dan membawa rantangan  itu. Wajahnya berseri jauh berbeda dari biasanya. Terlihat ceria baginya saat ini. Masuk ke dalam lobi langsung masuk ke lift tekan tombol lantai enam.


Walau pun ia tidak pernah ke kantor suaminya tetap ia merasa tau kalau ruangan kantor suaminya itu tentu di lantai enam. Karena tertera di setiap tempat. Pintu lift terbuka lebar tanda ia sampai tempat tujuan dengan aman.


Para karyawan ada di sana hanya melirik sekilas lalu kembali bekerja. Fera melangkah kaki semakin dekat dan dekat lalu membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Prak!


Suara rantangan yang ia pegang terjatuh sangat keras membuat seisi tempat yang bekerja juga menoleh arah suara tersebut. Sebaliknya Chandra juga terkejut menoleh di posisi mana Kesya berdiri di samping karena sesuatu sangkut pada kancing bajunya.


"Fera..." Chandra menyebut namanya.


Fera terdiam masih nanar menatap adegan yang benar buat dirinya sangat kesal, benci, sakit, segalanya tercampur. Ia mundur tersenggol rantangan itu dengan cepat putar badannya berlari untuk tidak menoleh lagi.

__ADS_1


Chandra mencoba mengejar istrinya rambut panjang milik Kesya terlepas juga setelah beberapa menit tersangkut di sana. Fera masuk ke dalam mobil dengan mengebut keluar dari area parkiran. Ia tidak tau bahwa suaminya mengejar dari belakang.


Merasa sudah jauh dari tempat terkutuk itu, tiba-tiba pandangannya terasa kabur semakin kabur sesuatu jatuh dari kantong matanya. Fera menangis di dalam mobil baru kali ini ia merasa sakit di perlakukan seperti itu.


__ADS_2