
Sampai di sebuah rumah sederhana Vivi turun dari mobil Fera dan Chandra. Fera menurunkan kaca jendela depannya. Sementara Vivi membungkuk setengah untuk mengucapkan Terima kasih kepada sahabatnya.
"Terima kasih ya, Fer, sudah merepotkan kau sampai mengantarkan kerumah," ucap Vivi senyum dan ramah.
"Tidak perlu berterima kasih sudah patutnya saling membantu. Kalau ada apa - apa datang ke Kafe Madura, biar kita bisa berbincang-bincang lebih lama lagi." balas Fera senyum sekaligus menawarkan sahabatnya datang ke Kafe milik suaminya.
"Pasti aku datang. Terima kasih sekali lagi," ucap Vivi dan sekali-kali melirik suaminya Fera. Chandra membalas senyumnya.
"Ya sudah aku balik dulu, ya! Pintunya di kunci. Bye!" Fera menutup kembali kaca jendelanya dan mobil mereka pun meninggalkan di depan rumah Vivi.
Di dalam mobil Fera senyum dan bahagia bisa ketemu lagi sahabat baiknya walau sudah tidak begitu akrab yang pastinya ia bahagia.
"Kau terlihat sangat bahagia sekali?" Chandra bersuara.
"Tentu dong, bagaimana tidak bahagia coba. Bisa ketemu sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tidak ketemu terus tahun kemarin dapat kabar dari teman lain kalau dia sudah menikah dengan kakak kelas di sekolah dulu, soalnya aku kenal banget sifat dia, dia itu sudah pintar, baik, lembut, polos, apalagi penurut banget. Dulu waktu aku sekolah dia yang selalu berikan sontekan untukku bukan karena aku bodoh atau pemalas. Cuma karena aku tidak suka sama gurunya saja sih." Fera menceritakan tentang sahabatnya si Vivi itu.
"Jadi dulu kau suka bolos sekolah?" Chandra mulai memojoki istrinya.
"Enak saja! Bolos cuma sekali dua kali, tapi aku tahu diri juga!" balasnya tidak terima di pojoki.
"Maaf, jangan ngambek dong!"
"Aku shock saat dia bilang sudah cerai sama suaminya terus baru saja keguguran sungguh tragis banget nasibnya," lanjut Fera bercerita.
Sampai di kafe milik Chandra, Fera turun dan membawa beberapa belanjaannya. Ikut di bantu oleh Hardi dan rekan kerja lainnya. Sementara Chandra kembali ke kantornya.
Fera berdiskusi rencana yang sudah beritahukan kepada Hardi. Semua setuju saja asal pelanggan tidak merasa bosan dengan sajian makanan di sini.
Waktu terus berjalan beriringan, Fera masih sibuk dengan pekerjaan melayani pelanggan seperti biasa. Susunan yang dia lakukan membuahkan hasil dan semakin ramai pengunjung datang. Mereka sampai keteteran melayani tambahan makanan.
Tidak terasa sudah pukul sepuluh malam, Fera merasa ini sangat mengasyikan. Seperti halnya Chandra menjemput istrinya. Fera masih sibuk menyusun dan membersihkan sampah - sampah berserakan.
"Bagaimana?" Chandra bertanya.
"Begitulah, sibuk tidak menentu. Untung terkejar waktu. Dan hasilnya memuaskan!" jawab Fera menghela napas.
"Baguslah kalau begitu. Jadi kau sudah makan? Jangan bilang kau belum makan dari tadi," Chandra mulai posesif terhadap istrinya.
"Belum, tapi mama ada masakan?" jawabnya tidak terlalu curiga banget sikap suaminya yang misterius itu.
"Keras kepala ini istriku. Iya mama ada masak kesukaanmu, sup sup obat apa itu katanya untuk kesehatan tubuhmu agar tidak kelelahan dan menjaga kondisi kesuburanmu." kata Chandra.
"Huh! Mama tidak pernah berubah, sudah tidak sabar menanti cucu. Ya sudah kita pulang sudah malam aku mau cepat tidur badanku terasa pegal." omel Fera.
"Aku pijat kan mau? Sambilan..." Fera memukul bahu suaminya tidak tanggung-tanggung.
__ADS_1
"Jangan mulai lagi, deh!" Bikin malu wajah merah si Fera saja.
Soalnya anggota lain belum pada pulang masih nongkrong di depan kafe. Akan tetapi mereka cuek saja karena sudah terbiasa melihat sikap hubungan rumah tangga atasannya.
Perjalanan menuju ke rumah, ponsel Fera bergetar dari tadi tidak ia suarakan karena sibuk dengan pekerjaannya tadi. Sebuah pesan dari para sahabat nya untuk reunian.
"Dari siapa?" tanya Chandra mulai kepo dan posesif terlihat kembali.
"Ini para sahabatku mengadakan reunian di Starbuck. Perkumpulan para ladies cakep, cuma aku mana bisa hadir soalnya kan Kafe nanti..."
"Pergi sana! Nanti aku minta karyawan ku ada di Kafe sweet Steak bantu di sana," potong Chandra mengizinkan istrinya untuk menghadirkan reunian terus.
"Yakin?" Fera masih ragu.
"Iya, yakin. Tapi ingat pulang rumah, pesan mama apa?"
"Jangan di ulangi lagi sifat buruknya, dan jaga sikap serta pentingan rumah tangga dalam pernikahan." sambung Fera menjelaskan.
"Begitu dong!"
***
Acara reunian di salah satu tempat tongkrongan yaitu Starbucks, siapa tidak pernah ke tempat ini Starbucks yang sudah di kenal seluruh mancanegara penuh dengan minuman coffee dan suka kuliner super mahal kalau tidak ingin menyesal mengunjunginya siapkan kartu dan kebutuhan yang bisa di nikmati kalangan beragam mewah.
Fera datang tidak menggunakan mobil, dia sengaja hadir dengan menggunakan kendaraan online dengan sebutan GrabCar. Karena dia tidak ingin di cap sebagai sombong dan songong. Dia harus berubah walau hidup pribadinya dikubur.
"Hai! Sudah lama kalian menunggu?" Fera menyapa mereka ada di tongkrongan Starbucks ini.
Beberapa sahabat-sahabatnya menoleh dan menyapa Fera dengan ramah penuh senyuman tanda tanya. Sebagian lagi sibuk dengan dunia ponsel online shop mencari diskon besar-besaran.
"Hai, Fer. Tidak kok, aku juga baru sampai. Sini-sini duduk, aku kira kau tidak akan hadir acara reunian ini," sambut sahabatnya wanita murah senyum dan anggun sebut saja namanya Felda.
Felda Riantika, wanita anggun dan penuh bisnis soal kecantikan serta dia menikah dengan seorang pria di kalangan sederhana, namun sifatnya jauh lebih elegan tanpa memilih teman, dia mudah bergaul satu sama lain.
Felda mengadakan pertemuan sebagai Reunian adalah untuk saling silaturahmi sekaligus merayakan kesuksesan dari cabang yang baru dia buka di kota metropolitan ini.
"Ah iya, aku mengundang salah satu sahabatku di sini. Tidak apa-apa, kan kalau aku mengajaknya ikut bergabung. Aku yakin kalian masih mengenal dirinya." ucap Fera beritahukan kepada yang lain.
Awal mula sibuk masing-masing ketika Fera mengatakan mengundang seseorang tanpa tertulis di grup mereka. Mereka pun melirik Fera, yang lebih di herankan kembali adalah kenapa sikap wanita yang dulu sombong tidak peduli orang lain malah kembali berhati lemah lembut.
"Siapa yang kau ajak? Ada gerangan apa ini tiba-tiba kau mengundang orang lain selain di grup whatsapp?" salah satu dari meja lingkaran besar itu bersuara namanya Diana. Wanita yang cantik dan tomboi.
"Iya sih, mungkin kalian kaget dengan sikapku tiba-tiba berubah, semua berkat suamiku juga. Tapi tidak ada salahnya mengundang satu orang lain dari grup whatsapp kita? Kalian pasti tidak lupa dengannya, sebentar lagi dia sampai di sini. Aku tadi minta suamiku menjemputnya kebetulan dia menuju Mal ketemu klien di sana sekalian saja satu arah menuju ke kantor," jawab Fera sopan dan ramah membuat suasana di Starbucks ini menjadi tenang.
Ada delapan orang terbengong dengan jawaban wanita berusia dua puluh lima tahun ini. Mereka tertekun saja sikap lembut dari Fera.
__ADS_1
"Kenapa? Kok kalian lihat seperti itu memang ada salah dengan jawabanku?" Fera semakin bingung dengan para sahabatnya bergeming.
"Tentu kami kaget dengan cara sikap. bicaramu jauh berbeda dari biasanya. Dulu kau tidak berbicara selembut ini selalu membawa emosi, apalagi peduli orang lain. Sekarang kami tidak percaya dengan caramu, kau ini tidak sedang kesurupan sesuatu kan?" ucap wanita pendek namanya Rui,
Rui Hermansyah Tanaka, wanita keturunan Jepang - Indonesia. Salah satu keluarganya memiliki keturunan Jepang yaitu Ayahnya sendiri. Lahirnya tetap di Indonesia, memiliki segala usaha pagan makanan ayam.
"Itu kan dulu sekarang sudah waktunya berubah masa aku harus bersikap arogan. Malahan nanti bubar para sahabat seperti kalian. Kalian juga menyadarkanku dan pastinya hal lebih penting itu Karma selalu berlaku." kata Fera bijaksana.
"Syukurlah kalau kau menyadari segala sifat - sifat egoismu. Terus siapa yang kau undang?" sambung Sahabatnya lagi bersuara.
"Dia adalah--"
"Maaf, Fera! Aku terlambat tadi di jalan mendadak kecelakaan kecil, tapi suamimu baik-baik saja kok." tiba suara menggantungkan percakapan Fera dan lainnya. Vivi sampai dengan pakaian yang begitu seksi dan membuat kedua mata mereka semua terbelalak.
Bukan maksud membuat mata mereka sakit, permasalahan pakaian terlalu terbuka itu bagian depan. Fera sebaliknya tidak terlalu permasalahkan pakaiannya. Memang semua datang begitu karena ia juga bilang ke sahabatnya untuk memakai lebih cantik dan elegan.
Wajah para sahabat di Starbucks ini terdiam, sinis, muka datar dan sibuk dengan kegiatan yang tertunda tadi. Apalagi Felda merasakan suasana di reunian akan menjadi dunia tidak menyenangkan.
"Ini dia yang mau aku katakan, kalian masih kenalkan. Dia adalah Vivi Susanti, teman satu angkatan di sekolah Nusantara di IPS dulu. Masih ingat tidak waktu ujian kita terus hujat dia untuk minta contekan?" Fera kembali memecahkan suasana yang tadi terdiam beberapa menit itu, menjadi suasana hangat dingin.
"Pasti ingat dong! Masa lupa sih! Makin cantik saja ya, Vivi. Ayo duduk dulu, karena sudah berkumpul kita pesan makanan dulu ya!" ucap Felda kemudian memanggil pelayan itu.
****
Hari sudah malam acara reunian telah selesai tiga jam yang lalu. Fera kembali murung dan melamun dengan perkataan beberapa temannya pada saat akan pulang kerumah masing-masing.
Tapi dia tetap mengambil penilaian positif tidak mungkin sahabat baiknya melakukan kejahatan dan merusak rumah tangga seseorang. Kalau pun terjadi tentu dia akan menanyakan langsung. Mungkin saja Fera beranggapan dia kesepian maka dia butuh kehidupan yang layak.
"Ada apa? pulang dari acara reunian malah melamun begini?" Chandra duduk di sebelahnya dan menanyakan sikap aneh istrinya
"Tidak apa - apa, tapi aku mau tanya sesuatu kepadamu!" Fera tidak bisa diam karena pikirannya penuh dengan pertanyaan dari para sahabatnya tadi.
"Tanya apa? Soal anak? Bisa kita lakukan lagi, kalau kau mau?" Chandra tidak pernah serius kalau pertanyaan istrinya sedang dalam ambang bimbang.
"Sshhh... Otakmu itu bisa di cuci pakai kaporit tidak sih! Aku sedang tanya serius! Ini menyangkut keharmonisan rumah tangga dan pernikahan kita." ucap Fera menegaskan.
Chandra yang muka jail kembali terdiam dan sekarang ekspresi serius siap mendengar pertanyaan dari istrinya.
"Apa itu?"
"Percaya tidak sahabat makan sahabat sendiri? Seperti pagar memakan tanaman? Contohnya Aku punya sahabat kenal dekat terus bertemu tanpa sengaja. Aku baik kepadanya dan berikan segala yang dia tidak punya namun tanpa sepengetahuanku dia menusuk dari belakang dengan cara merebut apa yang sudah aku miliki itu yaitu kebahagiaan. Dan ada pula dia melakukan hal sama dengan mengkambing hitamkan kebohongan agar hubungan keluarga seseorang itu hancur. Ibarat merebut suami orang. Jadi bagaimana pendapatmu?" Fera mulai menceritakan setiap inti dari para sahabatnya. Dia tidak menyebutkan siapa orang untuk mencoba merebut kebahagiaan itu.
Chandra terdiam dan berubah seketika dengan pertanyaan dari istrinya. Dari larut wajah Fera lihat ia yakin suaminya ada hubungan dengan sahabatnya yaitu Vivi. Tetapi Fera masih mengambil positif tidak ingin menuduh sembarangan kalau pun sahabatnya mencoba untuk mengambil kebahagiaan yang dia jalani, bisa jadi itu bukan jodohnya.
"Pastinya yang salah sahabatmu, karena dia tidak pantas merebutkan apa yang mereka miliki. Berarti dia iri hati dengan seseorang. Kalau hubungan rumah tangga hancur karena orang ketiga yang salah adalah kedua tidak saling terbuka. Jika pun hubungan rumah tangga kita di datangi orang ketiga tetap harus memikirkan kepala dingin tidak mengambil tindakan emosi. Aku tentu tidak akan meninggalkan istri semanja ini apalagi sudah ku nanti kan kehadiran suara tangisan bayi di rumah ini." jawab Chandra panjang lebar dan memeluk istrinya ke dunia alam mimpi.
__ADS_1
Fera percaya suaminya tidak akan meninggalkannya walau pun ada seseorang mencoba untuk memisahkannya kalau sampai hal itu terjadi.
Mungkin kau bisa katakan itu tidak akan meninggalkanku, tetap aku tidak akan lepaskan dirimu. Karena ini kebahagiaanku bukan kebahagiaan nya.