Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 44


__ADS_3

Fera dan wanita itu terkejut di saat yang tidak tepat dan sementara suaminya biasa saja tidak merasa ada hal aneh ketika Fera bertemu orang yang benar tidak ingin di temui harus berjumpa kembali.


Dia itu adalah Vivi Susanti sahabat baik sekaligus yang buat hubungan pernikahan hampir retak itu. Pantasan suaminya santai tidak menunjukkan ekspresi apa pun.


Sekarang mereka berada di salah satu ruangan tertutup ya. Rega datang membawa beberapa camilan beraneka macam serta minuman dingin bersoda untuk Fera.


"Maaf, ini minumannya bisa ditukar dengan minuman lain? Soalnya istri saya tidak diperbolehkan untuk minum yang bersoda. Mungkin ada minuman lain seperti jus tapi tidak bersoda," ucap Chandra menegur pada Rega.


Rega awalnya terheran saat memintanya menukar minuman lain kemudian ketika dijelaskan bahwa teman lamanya sekaligus mantan tak terindah itu sedang hamil ia pun mematuhinya.


"Oh, maaf, saya tidak tahu. Baiklah akan saya tukar dengan minuman lain. Kalau begitu saya tinggal dulu," ujar Rega berpamit meninggalkan tempat berAc itu.


Fera dan Vivi masih dalam keadaan membisu. Mereka sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk pembahasan nanti.


"Kau!" Vivi dan Fera bersamaan membuka suara. Kemudian mereka terdiam lagi beberapa detik.


Setelah itu mereka kembali membuka suara bersamaan sehingga membuat suasana sedikit canggung, "Aku!"


Fera kembali terdiam cukup lama tidak ingin melanjutkan percakapannya. Rega kemudian masuk membawa minuman yang di minta oleh Chandra tadi. Minuman dingin spesial jus buah.


"Silakan ini spesial untuk nona cantik yang ayu, manis dan superjudes. Sudah hamil berapa bulan?" Rega bertanya dan duduk di sebelah Vivi.


Fera menatap wajah pria bertato yang tidak pernah lepas dari tindihan telinga itu dan juga hidung. Wajahnya boleh di bilang oke, dan ganteng tapi sayangnya Fera ilfil sama sikap Rega dulu.


"Sudah hampir menuju dua bulan," jawab Fera datar.


"Baguslah semoga sehat selalu dan mudah-mudahan aku juga segera mendapat momongan dari istriku," ucap Rega senyum lirik Vivi.


Vivi senyum tipis bukan karena ia ingin pamerkan untuk Fera bahwa dirinya sudah menikah ketika di pecat dari perusahaan Chandra setelah itu ia menghilang beberapa minggu tidak sengaja bertemu dengan Rega di sini pada saat mencari pekerjaannya. Tidak berapa lama Rega suka kinerja Vivi entah karena sudah ketemu jodoh atau bagaimana, Rega dengan berani melamar Vivi untuk menikahinya. Masa pernikahan mereka baru saja belum genap sebulan walau secara tertutup itu permintaan Vivi kepada Rega.


"Kalian sudah menikah? Kapan? Kok tidak bilang?" Fera lebih kaget lagi bukan apa-apa.


Ia sendiri tidak tahu kalau Rega si pelaku cemen preman di kampus UTI itu telah menikah dengan seorang janda sekaligus sahabat yang mencoba merebut suami orang.


"Iya, kenapa? Tenang saja Vivi tidak akan berbuat hal buruk seperti dulu lagi. Dia juga sudah menceritakan semua tentangmu. Katanya kau dan dia itu sahabat baik dan selalu membantunya. Karena suatu hal membuat hubunganmu dan dia harus putus. Aku mengerti kau benci sama istriku, dia memang banyak salah sebuah kesalahan itu bisa di maafkan tidak. menggunakan kebencian," kata Rega meluruskan permasalahan.

__ADS_1


Fera terkatup diam, menatap tajam arah Vivi. Vivi menunduk ia masih takut jika sahabatnya mencoba permalukan dirinya. Tetapi Fera masih punya harga diri tidak mungkin ia akan setega begitu lakukan di sini. Memang ia sangat benci dengan kejadian sebulan yang lalu.


"Terus kenapa kau diam-diam menikah tanpa beritahu padaku? Apa kau tidak menganggap aku ini sahabatku? Apa kau tidak menganggap aku ini saudaramu lagi? Ya memang setelah kejadian itu aku sangat benci padamu. Benci pun percuma karena manusia juga memiliki kesalahan, aku harap hubunganmu dengan Rega selalu bahagia jangan pernah lagi kau sia-siakan kepercayaan dan kehormatannya. Karena lelaki juga memiliki batas kesabaran. Jangan hanya lihat tampang muka cakep tapi lihat sisi gelapnya, kalau begitu aku pulang dulu. Jika ada waktu mampir kerumah ku kita ngobrol lagi." celoteh Fera panjang lebar membuat Vivi terharu mendengarnya.


"Kau benar tidak marah?" Vivi bersuara.


Fera tiba-tiba tertawa sangat keras membuat Chandra terperanjat kaget karena istrinya mencubit pahanya itu.


"Marah kenapa? Untuk apa aku marah lupakan kejadian itu aku tidak ingin mengungkitnya apalagi sekarang aku sedang hamil kasihan bayiku kalau aku terus-terusan marah tidak jelas apalagi suamiku sepertinya tidak sehat. Iyakan, sayang?" jawab Fera mengelus pipi penuh brewok itu.


"Iya," sahut Chandra mengelus pahanya.


Kampret istri sialan! Sakit nih, mami... maki Chandra dalam hati.


****


Malam telah tiba Chandra baru saja selesai mandi kebiasaanya selalu pamer kotak-kotak di perutnya itu ada bulu-bulu sejajar di atas pusarnya. Fera sudah tidak heran lagi sama bentuk begituan.


Ketika Chandra melepaskan handuk dari pinggangnya hanya menangkal celana pendek mencari lapisannya.


"Ini kenapa kok biru-biru pahamu?" Fera bertanya


"Loh, aku kan cuma bertanya, jawabnya biasa saja kali! Memang aku kapan cubit? Perasaan tadi kita ketemu sama Vivi dan Rega aku duduk manis deh?" ucap Fera kembali lupa lagi.


Padahal ia tidak lupa cuma ingin tahu ekspresi suaminya itu. Senang sih bisa siksa suami seperti tadi. Soalnya gemas, apalagi itu berewok nya Fera sudah mengancang - ancang untuk cukur habis. Otak gila Fera sudah penuh dengan mengejutkan untuk suami tercinta.


Chandra yang sudah memakai baju tidur melirik istrinya senyum-senyum sendiri. Buat dirinya menggelinding seram.


"Kenapa senyum-senyum? Jangan buat hal aneh-aneh, ya!" Chandra mulai waswas sikap wanita hamil semakin aneh saja.


"Ah? Senyum apanya! Sudah, kita cari makan. Aku lapar pengin makan mie pangsit ayam!" seru meninggalkan kamar tapi wajahnya kembali tersenyum liar.


Chandra merasa curiga dengan sikap aneh istrinya sejak hamil. Tapi ia ambil positif saja, asal tidak marah-marah tak jelas itu.


Pukul 20.15 malam di jalanan kota masih banyak yang nangkring dari makanan ringan hingga berat pun ada, Fera sedang ingin makan mie pangsit ayam. Sambil mencari tempat yang nyaman Chandra pun memarkir mobil telah tersedia.

__ADS_1


Fera turun sedangkan Chandra mengambil jaket dulu dari mobil untuk istrinya. Fera meninggalkan suaminya di sana semantara dia sibuk mencari makanan.


"Sayang, pakai dulu jaketnya nanti--- loh, kemana itu istri hamil?" Chandra celingak celinguk kanan kiri mencari istrinya.


Fera sudah diseberang berdiri antrian penjualan mie pangsit ayam. Chandra pun menyusul untung belum ramai, kalau tidak kehilangan sejak di pasar malam.


"Kau ini jadi wanita tidak pernah sabar, selalu saja jalan lebih dulu!" Omel Chandra memakaikan jaket di pundak istrinya.


"Chan, kau ngapain di sana?" suara Fera menendang telinga Chandra.


Chandra yang masih memakaikan dan menoleh belakang sosok wanita cantik putih rambut panjang berdiri menatap dirinya lekat-lekat.


Chandra melirik sampingnya dan depan. Ternyata yang ia pakaikan itu baju nya beda Chandra salah orang.


"Maaf-Maaf." Chandra melepaskan lagi saking malu itu muka.


Dia kira istrinya ternyata orang lain tengah soalnya dari belakang benar mirip sosok istrinya - Fera. Yang di sana cekikikan lihat sikap pria berewok itu.


"Mau coba selingkuh lagi? Aku tinggal sebentar saja sudah mau main belakang lagi? Sudah siap kau mau ku permalukan dirimu di sini?" Fera mulai menggamuk. Chandra malah diam bukan karena tidak ingin mendengar.


"Kau dengar aku bicara tidak sih?!" Kesal Fera melepas jaket dari bahunya.


Chandra memungutnya dan memakaikan lagi, "jangan marah-marah, kau lagi hamil. Yuk cari makanan, kau mau makan apa?"


Fera antara mau marah tapi lihat wajah suaminya sudah merah kayak tomat saking malu di sana tadi, buat kebahagiaan Fera terobati.


Berada di salah satu rumah makan mie pangsit ayam. Fera sudah tidak tahan ketawa nya terlepas. Chandra semakin bingung lihat sikap istrinya apalagi yang lain di tempat memperhatikan wanita hamil itu.


"Kenapa sih kau itu makin hari bloon banget sih, suami jelek!" Di tarik kedua pipi Chandra.


Chandra tidak berkutik sama sekali, Fera lupa sekarang ada di mana. "Sayang, sakit!"


"Kenapa, kau itu makin hari bikin  suasana ku bertambah bahagia. Kok bisa tidak tanda istrimu sendiri?" Fera masih bertanya.


"Iya mungkin karena efek mataku sudah minus," jawab Chandra pelan.

__ADS_1


"Tapi, aku suka dan suka sikap mu seperti, gemas!" serunya mencium pipinya tanpa lihat keadaan di tempat.


Anggap saja tempat itu adalah milik Fera dan Chandra. Chandra betapa malu di buat sikap istrinya ini selalu melakukan tanpa kenal situasi sekitar.


__ADS_2