
Terik matahari sudah meninggi ke atas kesibukan masing-masing untuk rumah sederhana. Fera masih nyenyak dalam alam mimpinya. Dia membuka kedua matanya menatap langit kamar dan meraba-raba samping ia merasa empuk dan nyaman banget oleh badannya tidak ada rasa sakit apa pun.
Bangun bingung sendiri ia berada di atas ranjang, perasaan semalam tidur berdua dengan suami di bawah lantai tipis keras itu.
Pintu kamar mandi terbuka seseorang muncul dengan menggosok-gosok rambut yang basah habis keramas terus ada yang berbeda bagian rahang biasa di tumbuh banyak bulu tebal sekarang menipis, Chandra mencukur sedikit karena sudah lembab.
Fera bergeming melihat sosok lebih berbeda dari biasanya. Chandra menuturkan handuk dari kepala kemudian membalas mendapat istrinya terbengong cukup lama.
"Ada apa? Apa yang kau lamunkan? Apa ada yang sakit di badanmu?" Pertanyaan Chandra bertubi-tubi untuk istrinya masih belum sadar dari penglihatan dua matanya itu.
"Aku sedang dalam keadaan bermimpi, kan?" gumam Fera bersuara pelan
Chandra mendekati istrinya masih terbengong-bengong apa yang di pikirkan nya. Memang ada yang salah di mana penampilan lelaki ini.
"Bermimpi apa?" Chandra ingin tahu kenapa istrinya bisa suka berubah-ubah.
"Lihat wajahmu! Beda dari biasanya, kemanai bulu tebal jelek itu! Kau ini benar suamiku atau hanya mimpi agar aku terpukau ketampananmu!" Di tunjukkan wajahnya ke depan cermin.
Chandra menatap wajahnya sendiri di cermin itu adalah dirinya. Ia pun ketawa hanya karena mencukur sedikit saja istrinya sudah terkejut tak menentu.
__ADS_1
"Apa yang kau ketawakan! Kok makin aneh sih dirimu, ini pasti mimpi!" Fera mencoba mencubit dirinya sendiri namun di hentikan oleh Chandra.
"Ini bukan mimpi, sayang. Jangan lukai dirimu sendiri, aku benar suamimu apa aku terlihat tampan di matamu?" Pertanyaan Chandra membuat Fera tertegun dan masih menatap setiap inci wajah suaminya
"Tidak, kau tetap jelek!" elaknya padahal dalam hati berkata 'tentu kau sangat tampan jauh lebih tampan dari pria aku kenal'
"Benarkah? Tidak masalah aku jelek, tapi aku telah berhasil membuatmu terpana oleh bulu kecil wajahku ini," ucapnya mendekati wajah istrinya untuk berikan sedikit perkenalan.
"Iih... apaan sih! Sudah! Geli..." Fera tidak tahan dengan bulu kecil yang baru saja di cukur oleh suaminya sendiri.
Entah mengapa ia mulai menyukai bulu-bulu di rahang suaminya itu. Fera mencoba menghindar dari serangan suaminya terus membuat kulit - kulit menyentuh bulu kecil di tubuhnya.
Chandra semakin yakin dengan ini ia bisa berikan cinta untuk istrinya. Sekarang posisi ia berada atas tubuh istrinya. Napas milik Fera memburu karena kehabisan suara dari tadi tertawa akan geli brewok suaminya.
"Bagaimana apa kau masih ragu aku ini bukan suamimu? Apa mau aku buktikan lagi?" Chandra bertanya sekali lagi kepada istrinya
Dua bola mata berwarna hitam cokelat yang indah bagaikan elang membuat isian tatapan memancarkan bahwa Fera percaya lelaki sedang menatap nanar adalah suaminya yang berbeda.
"Iya, aku percaya..." jawabnya pelan mengganggukan kepala.
__ADS_1
Chandra menjauhkan tubuhnya dari tindihan itu, ia bersiap untuk berangkat mungkin hari ini ia bakal lebih sibuk karena akan ada pertemuan di mana pernah ia tertarik dengan produk dari seorang wanita yang bernama kesya di mall kemarin.
"Kenapa waktu menikah tidak cukur brewokmu seperti itu? Kenapa sekarang--"
"Karena aku ingin tahu seberapa kau menerima dan menjelekan sifat burukku. Aku lakukan ini juga karena tidak ada yang bisa menarik perhatian bahwa seseorang mulai cinta suaminya sendiri," lanjut Chandra selesai dengan baju kantor rapi dan terlihat tampan di depan cerminnya.
"Jangan geer, aku tidak bilang cinta kepadamu!" elak Fera dusta
"Benarkah? Tidak apa-apa kalau kau masih belum mencintaiku, tapi aku tetap menunggu sampai kau benar mengatakan dengan bibir nakalmu ini. Hari ini aku akan terlambat pulang ke rumah, jika kau merasa bosan di rumah. Ajak temanmu atau terserah kau ingin kemana saja. Tapi ingat pulang ke rumah karena Mama dan Papa tidak suka menantu keluyuran bermalam-malam," ucap Chandra mencubit hidung mungil istrinya, kecupan hangat untuk selamat pagi.
Fera tidak berkata apa pun setelah suaminya keluar dari kamar ini, hanya tatapan punggung lebar menghilang di balik daun pintu tersebut.
"Kemana Fera? Dia tidak mengantarmu ke depan?" tanya Hana kepada putranya
"Tidak usah, semalaman ia tidak bisa tidur jadi biarkan ia beristirahat lebih banyak lagi. Aku pergi dulu, Ma." jawab Chandra berpamitan kepada ibunya.
Hana mendecik kenapa putranya begitu manjakan istri tidak tau diri itu. Hana juga tidak bisa berbuat apa pun, asal keluarga baru untuk putranya baik - baik saja dan bisa berikan keturunan sudah bersyukur.
__ADS_1