Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 31


__ADS_3

Mobil warna hitam fortuner berhenti di salah satu sebuah Kafe tidak pernah di kunjungi oleh Fera. Chandra sengaja membawa nya untuk melihat dekorasi rumah makan ini. Bisa saja membuat suasana hati wanita ini lebih tenang dan nyaman setelah melihat tempat tersebut.


"Loh kenapa kita di sini?" Fera terheran-heran dengan sikap suaminya ini.


"Kita masuk saja dulu, nanti juga kau tau sendiri," ucap Chandra mengenggam tangan istrinya turut untuk masuk ke dalam Kafe tanpa nama.


"Jangan bilang kau memiliki wanita lain?" di tarik paksa untuk lepas dari genggaman suaminya. Chandra menoleh, menatap intens dua bola mata istrinya itu.


"Mulai lagi, tidak ada selingkuh apa pun. Sudah ikut saja, aku tidak akan meninggalkanmu walau pun ada wanita mencoba mendekatiku. Aku ini jelek jadi tidak perlu di khawatirkan." senyumnya kemudian genggam lagi tangan istrinya untuk masuk ke dalam Kafe tersebut.


Suasana kafe mereka pijak begitu berbeda sekali. Fera merasa seperti berada di dunia masa lalu, karena tempat ini jauh beda dimana ia datangi tersebut. Tempat yang tenang, sejuk, nyaman.


Chandra sudah memesan tempat duduk yang mendekati pemandangan alam kota metropolitan ini. Ia berharap istrinya itu menyukainya. Fera melirik pemandangan di batasi kaca ukuran besar transparan. Di sana bisa ia lihat dengan jelas kota-kota sering ia datangi, Mal juga, apalagi rumah makan dan tempat tongkrongan para sahabatnya.


Terdengar suara iringan musik dan lagu sepanjang rumah makan sederhana di namakan Kafe tanpa nama ini. Sebuah lagu ulang tahun semakin di dengar dan jelas suara mulai mendekati di mana Fera berasa tengah melamun memandang di depannya.


"Happy Birthday to you... Happy Birthday to Fera... Happy Birthday, Happy Birthday, Happy Birthday to Feraaaa..."


Fera bergeming menatap di depannya beberapa teman kuliah, sekolah, Online dan sahabat para grup whatsapp berkumpul. Yang memegang kue ulang tahun itu adalah Vivi. Sahabat yang pernah mencoba merebut suaminya itu.


"Kau?" Nada Fera dingin, Vivi senyum menatapnya.


Senyuman itu mencerminkan bahwa dia membawa kue sebagai hadiah spesial di nantikan setelah apa Fera lakukan di depan kantor permalukan dirinya.


Dan Chandra berdiri tepat di samping sahabatnya merangkul tangannya kemudian mencium pipi wanita pendek tengah memegang kue ulang tahun untuk Fera.


"Chan... Apa maksudnya ini!" Fera bangkit dari duduknya,


"Tentu hadiah spesial untukmu, selamat ulang tahun Fera. Kemungkinan Vivi akan tinggal di rumah kita, jaga dia baik-baik karena calon bayi di perutnya adalah anugerah bagiku," ucap Chandra semakin erat memeluk Vivi di depan mata kepalanya sendiri.


"Tidak, kau sudah janji! Dasar wanita tidak tau diri!" Fera semakin membabi buta menjambak rambut wanita itu.


"Aargh! Sakit sayang, aduh... Fera... bangun... Sakit... Aaaarrgghh!" Teriakan itu seperti suara suaminya bukan suara Vivi.


Di buka lebar - lebar kedua matanya, Chandra mengelus berewok nya sakit tidak tertolong itu. Apalagi wajahnya perih karena cakaran dari istrinya.


Fera melirik sekeliling ruangan kok di rumah? Tadi bukannya di kafe, terus... suamiku yang jelek.


"Mukamu kenapa?" Fera malah bertanya kepada suaminya.


"Masih tanya lagi, di cakar sama kucing betina kalau tidur itu menyeramkan bisa menghancurkan wajahku yang tampan ini!" jawabnya ketus masih sibuk konpres air hangat di wajahnya bekas cakar.

__ADS_1


"Kau pasti selingkuh! Makanya di cakar sama kucing betina di luar! Ngaku!" Fera tidak sadar kalau dia lagi mimpi sahabat baiknya bernama Vivi dalam memorinya.


Chandra mendelik lebar-lebar penuduhan tidak maksud akal. "Sembarangan saja kalau omong. Selingkuh di mana? Aku dari tadi di sini menunggu kau sadar dari pingsan! Kata Hardi kau pingsan tiba-tiba saat bekerja, kenapa tidak bilang kau mempunyai anemia? Masih sok jadi wanita kuat?" Omel Chandra panjang lebar.


Fera membisu dan kembali mencoba mengingat sejak kapan dia pingsan, setahu nya dia di kafe bersama suaminya terus merayakan ulang tahun dan bukan bahagia malah menjadi perebutan suami karena ada pelakor datang lagi.


"Bukannya kau ajak aku ke Kafe? Terus rayain ulang tahunku, tapi yang aku dapat malah kau ingin mengajak Vivi ke rumah ini dengan mengaku dia hamil anakmu?" terang Fera menceritakan apa yang ia ingat saat ini.


"Itu hanya mimpi, kau terlalu kelelahan bekerja tadi. Makanya pikiranmu kacau selalu memikirkan masalah dua bulan kemarin kejadian tentang sahabatmu. Dia sudah tidak ada di sini lagi. jangan terlalu pikir hal aneh seperti itu, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sudah berjanji akan menjaga dan melindungi rumah tangga. Jika ada orang ketiga pun datang aku tetap memilih istriku yang lagi butuh di manjain." lanjut Chandra memberikan penerangan kepada Fera.


"Benar, kau tidak akan meninggalkanku? Kalau dia benar datang merebutmu lagi?"


"Aku tetap memilihmu, katanya aku suami jelek," sambungnya senyum menghapus air mata membasahi wajah imut nan judes itu.


"Memang kau jelek, kenapa sih berewokmu tidak di cukur habis, lebih fresh kalau lihat wajahmu bersih tanpa bulu, jadi aku tidak perlu merasakan ganggu sama bulu kurang ajar itu." tutur Fera merengut manja.


"Eit, jangan salah. Berewok begini rezeki kalau di cukur semua malah nanti banyak yang nempel bahaya bisa-bisa bagianku melayang sama singa betina." ujarnya menggombali.


"Apaan sih! Memang aku singa betina yang buas ya?" tanya Fera, "iya dong, buktinya waktu minta aku pecat Vivi apa tidak buas itu?" jawabnya


"Mulai lagi sebutin dia!" Chandra tertawa, "iya tidak sebutin lagi, biar sebut nama istriku Fera sayang, mandi yuk!"


Chandra mengacak rambut depannya itu, Fera merengut malu. Menyentuh wajah suaminya yang tergores ulah kuku Fera melukainya.


*****


Malam hari seperti hal biasa tidak ada perubahan sama sekali untuk suami istri ini. Duduk di meja makan menikmati masakan dari suami tercinta selama beberapa bulan tidak merasa kelezatan buatan seorang pengusaha kaya raya memiliki beberapa usaha kuliner di kota metropolitan tersebut.


"Chan, sepertinya aku butuh piknik beberapa hari deh." Fera memulai bersuara memecahkan keheningan di malam hari


"Kenapa? Apa sudah bosan di tempat ini?" Chandra bertanya


"Mungkin, ya, pasti tidak lah. Aku ingin ke rumah mama dan Papa mu. Ingin mencari suasana baru dan mengenal kampung halaman mu," jawabnya menatap suami yang sedang lahap dengan makanan nya.


"Kau yakin? Soalnya di sana tidak ada tempat hiburan apa pun, semua perdesaan penuh sawah, padi, kebun sayur tidak ada Plaza atau pun minimarket, ehm.. kalau minimarket sepertinya ada cuma jauh sekitar dua ratus meter dari rumah mama papaku," ucap Chandra beri penjelasan kepada Fera


"Tidak apa-apa, aku kan memang ingin cari suasana baru, bukan hanya karena aku orang kota tidak boleh menginjak perdesaan? Aku cuma ingin mencari suasana yang baru soal betah atau tidaknya itu tergantung adaptasi aku bagaimana merasakannya," kata Fera sudah membayangkan bagaimana suasana di perdesaan kampung suaminya.


Dari dulu dia ingin menginjak tempat itu karena tidak ada yang bisa di ajak kesana dan tidak tau jalan lokasi penduduk jadinya tak di kabulkan. Chandra malah was-was jika istrinya ke kampung orang tuanya. Permasalahan di sana banyak betina-betina berkoar ayam berkotek.


"Kenapa? Apa yang kau pikirkan? Apa di sana ada para mantanmu? Kalau ada pun siap cakaran singa betina buas," ucap Fera asal menebak.

__ADS_1


"Iya di sana banyak para mantan maksudnya mantan anak ayam berkotek, cuma aku tidak yakin kau bisa bertahan dengan penjuru tetangga jika sudah bergosip, kalau tidak kerumah mama papa mu saja. Mereka pasti kangen sama kau." elak Chandra malah mengusulkan kerumah mertuanya.


"Loh, memang kenapa? Jangan-jangan memang benar ya, di kampung mu ada beberapa mantan? Siapa? Shena? Tuti? Inem?" Fera menyebutkan nama siapa saja.


"Mana ada mantan ku seperti embok-embok? Ada saja, jadi kapan mau ke sana?" Chandra mengalihkan pembicaraan.


"Besok!" langsung di jawab oleh Fera


"Besok? Lusa saja ya!" Hampir tersedak bakso ayam


"Memang kenapa besok? Aku itu mau besok ya besok! Tidak ada penundaan lusa! Memang kau ada meeting sama siapa? Bukannya muatan barang sudah kelar tinggal tunggu pembayaran mereka saja, kan? Oh... Jangan-jangan ada sesuatu yang kau sembunyikan? Coba saja kau macam-macam anu mu melayang di gigit sama anjing buas!"


Tanpa beri kesempatan untuk Chandra menjelaskan Fera pakai omel panjang lebar bukan itu saja anu nya melayang Oh my god istrinya mulai kumat emosi lagi.


"Bukan begitu! Besok para sahabat dari Singapore minta berkumpul sebagai silaturahmi. Kalau di batalkan sayang dong kerja sama dengan mereka untuk maju perusahaan tas dan kuliner ku." terang Chandra menjelaskan kepada istrinya


"Memang kau punya sahabat? Kok aku baru tau? Mencurigakan ini, sejak menikah denganmu. Kau semakin pintar memanipulasi keadaan sih? Ingat peribahasa Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga. Sebagaimana pun kau menutupi rahasiamu akan tercium juga olehku. Kau kira aku tidak tau akal yang di sembunyikan di otakmu! Bukan aku tidak percaya suamiku sendiri, karena mimpi ku bakal jadi nyata kalau kau-- sudahlah aku kenyang. Cuci piring nya, hari ini kau tidur di luar!" Panjang lebar untuk Fera membuat Chandra mendengus kasar


Kumat agresif istrinya, begitu posesif nya dia melarang untuk ketemu dengan sahabatnya. Sudah di beritahu dia tetap akan di sisinya. Masih juga memikirkan aneh-aneh.


****


Di kamar Chandra masuk dan naik di atas ranjang mencium pipi istrinya yang lagi ngambek itu.


"Jangan ngambek, besok setelah selesai berkumpul kita langsung kerumah mama papa," ucap Chandra janji


"Benar, janji?" Chandra mengangguk menempelkan wajahnya ke wajah istrinya


"Janji," senyumnya "jam berapa acaranya selesai? Aku boleh ikut?" tanyanya


"Mungkin jam empat sore, ikut? Boleh dong. Daripada nanti di kira aku selingkuh." jawabnya


"Oke, terus sahabatmu ada yang masih jomlo?" Pertanyaan Fera mulai aneh lagi buat Chandra mengernyit kedua alisnya


"Kenapa? Jangan katakan kau ingin..."


"Iya, aku ingin berdua dengan sahabatmu, bolehkan?"


"Hem... jangan mulai lagi, ini mau pancing aku cemburu atau benar-benar aku geli?"


Fera menghindar dari serangan jari mulai memgelitik bagian sensitif nya. Chandra tidak akan beri ampun. Kadang kala saat sedih menjadi dunia bahagia, entah sampai kapan hubungan suami istri ini bisa selamanya.

__ADS_1


__ADS_2