Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 23


__ADS_3

Hari Minggu biasanya kegiatan untuk Fera itu jalan-jalan ke mall. Ini ia malah mengerjakan pekerjaan rumah, tidak biasanya ia melakukan seperti ini.


Ting Tong... Ting Tong...


Bunyian bel pintu depan rumah terdengar oleh Fera. Masalahnya Fera lagi mengepel lantai yang belum kelar itu.


"Chan, tolong bukakan pintunya, aku masih belum selesai pel lantai ini!" teriak Fera meminta tolong suaminya untuk buka pintu siapa yang datang


Ting Tong... Ting Tong...


Chandra  keluar dari dapur sedang menyiapkan makan siang untuk sore serta malam. Tergopoh-gopoh pelan melangkah kaki agar tidak tertempel jejak kaki di lantai yang sudah di pel oleh Fera.


Fera akhirnya selesai juga mengepel satu rumah dari depan hingga ruang tengah. Diseka keringat bercucuran di sekitar wajahnya.


"Siapa Chan yang datang--" Fera memutar badannya kepo tidak tertolong itu dari tadi mengomel seperti ibu-ibu.


"Mama??" Kaget Fera yang datang adalah ibunya sendiri.


Sementara Chandra kembali ke dapur menyiapkan beberapa sajian sudah siap itu. Ia memang menelepon ibu mertuanya untuk datang ke rumah dan memberitahukan kepada mereka bahwa putrinya telah berubah.


"Kok Mama bisa ke sini? Sama siapa?" Fera seperti nenek-nenek rempong cemas tidak tertolong itu.


"Mama sama Papa dong! Tumbenan cemas keadaan Mama? Biasanya boro-boro mau tanya mama kemana sama siapa pergi," ucap Melisa - Ibunya Fera.

__ADS_1


"Sewaktu-waktu sifat bisa berubah, Ma. Masa aku harus seperti dulu lagi, sih?" balasnya sok bijak.


"Baguslah kalau kau sudah sadar dengan sifat burukmu, jadi mama tidak menyesal memilih menantu di keluarga kita." Melisa memuji menantunya yaitu Chandra.


Di dapur Chandra sibuk sendiri di dapur tanpa ada yang membantu. Karena tinggal berdua di rumah sederhana dan luas bagai kereta api panjang berapa meter tersebut. Tidak buat pengantin itu bosan dengan suasana unik ini.


"Jadi Mama ke sini menginap atau cuma mampir saja?" Fera membawa teh hangat untuk orang tuanya


"Menginap dong! Masa mampir ke sini untuk apa? Kau itu tidak pernah ingat rumah lagi sejak menikah? Masih sibuk dengan kesenangan diri sendiri di luar?" Seru Melisa ternyata Ibunya Fera humoris tapi kadang tegas kalau sudah membahas soal sifat buruk putrinya itu.


"Tidak lagi, awalnya sih masih berhura-hura sama teman tapi lama-lama sudah tidak keluar malam lagi, tanya saja sama Chandra, iyakan, sayang!" Fera melirik suaminya apa yang Chandra dengar tadi beberapa detik sebutan kata "Sayang"


"Iya, Ma!" respon Chandra senyum dan ramah.


Fera mencebik melotot jelas-jelas ia tidak mau membahas soal mantan kalau teringat soal mantan suaminya benar bikin rasa cemburu meledak.


"Ma! Please deh jangan bahas soal mantan! Aku itu sudah punya suami, kata mama bilang mantan itu tidak ada gunanya di ingat, yang perlu di ingat itu suami. Bagaimana sih Mama ini!" kadang kesal juga si Fera sama Mamanya suka banget bahas mantan tidak melihat tempat.


"Tidak apa-apa, biar suamimu tau kalau kau itu dulu suka gonta ganti pacar berulang kali sampai mama pusing lihat sikap labil mu pulang ke rumah malam-malam, mabuk-mabukan, terus suka melawan orang tua!" Melisa sengaja berbicara keras-keras biar Chandra mendengar obrolan ibu dan anak diruang tamu.


Fera memilih diam saja deh, percuma kalau balas ucapan ibunya tidak akan menang karena apa. Nanti juga bakal di nasehati sama suami kalau sudah mencoba melawan orang yang lebih tua. Malu nya itu kalau ketahuan semua keburukan dirinya sendiri.


****

__ADS_1


Makan malam bersama sekeluarga Fera masih diam tanpa bersuara karena kesal sikap mamanya suka menyindir dan menjelekan keburukan putrinya. Percuma bahagia mamanya datang kesini bukan memuji dirinya telah berubah malah membongkar segala kekurangannya.


"Semua sajian makan malam ini Chandra yang buat? Terus kau, Fera? Pekerjaanmu apa saja? Seharusnya kau itu sudah menjadi istri seharusnya melayani suami, bukan suami melayani istri. Sarapan pun suami yang siapkan? jadi makan siang, suami beli diluar?" Pertanyaan bertubi-tubi dari Melisa berikan kepada Fera.


"Bukan tidak mau belajar, percuma kalau aku masak apa ada yang mau makan! Palingan juga keasinan, hambar, kepedasan! Masa suamiku yang jadi kelinci percobaan? Kalau dia sakit perut karena masakanku tidak matang siapa yang salahkan? Aku juga! Aku sudah kenyang, maaf hari ini tidak selera kalian saja lanjutkan!" Fera menjawab semua pertanyaan dari ibunya sendiri.


Tiba-tiba Fera tidak mood untuk malam ini, padahal ia sudah sabar mendengar ceramah dari ibunya. Tapi semakin di sudutkan semakin jengkel. Menahan amarah bukan karena benci dengan ibunya. Dia benci pada dirinya sendiri mudah tersinggung. Kemarin saja orang tua Chandra mendapat ceramah dari ibunya, dia bisa menahan amarah kekesalan kenapa dirinya tidak bisa.


"Lihat itu, baru juga di bilangi sudah merengut dan sifat kanak-kanaknya keluar lagi, terlalu sering kau manjakan dia. Apanya berubah? Masih belum bisa menerima sindiran Mama!" Melisa kembali mengomeli Chandra.


Chandra hanya bisa diam tidak bisa berkata apa-apa. Mungkin istrinya kelelahan saja butuh istirahat seharian ia bekerja di rumah.


"Percuma Mama datang ke sini hanya lihat sikap putriku yang sedikit-sedikit tersinggung. Tidak suka orang bilangi dirinya, apa apa melawan setiap ucapanku! Itu yang kau ajari putriku! Besok kita pulang saja, bukan semakin membaik tapi memburuk!" Melisa emosi dan berdiri meninggalkan tempat meja makan.


Suasana di rumah memanas, Chandra menarik napas panjang sifat egois dan keras kepala antara ibu dan putri tidak beda jauh.


"Jangan masukan ke hati, Mama mertuamu hanya sedang ambang emosi sesaat saja. Dia lakukan begitu demi kebaikan putrinya juga. Kadang Papa juga sering di marahi sama mama mertuamu," ucap Roy - ayahnya Fera.


"Iya, Pa. Terima kasih. Aku paham kok, Maaf kalau aku masih kurang sempurna mendidik putri Papa." Chandra semakin bersalah jadinya.


"Tidak perlu minta maaf, semua juga memiliki rasa kesal dan emosi, biarkan saja mereka menenangkan diri dulu. Omong - omong kau bilang Fera sudah bekerja di Kafe tempat kau kelola? Bagaimana kinerjanya? Apakah dia membuat keributan atau bagaimana?" Roy membahas soal pekerjaan putrinya.


"Baik, Pa. Malahan dia bisa mengatasi seorang diri dan mudah akrab dengan karyawan lain." jawab Chandra jujur.

__ADS_1


Percakapan antara menantu dan ayah mertua memang cocok sekali memiliki kesabaran menghadapi seorang wanita yang sedang dalam dunia emosi masing-masing.


__ADS_2