Ugly Husband

Ugly Husband
Bab 47


__ADS_3

Di kantor Chandra telah rapi dengan pakaian kantor. Lelaki yang mendapat tamparan dari seseorang itu tertunduk diam. Semua orang yang ada di kantor Chandra tengah tertunduk berdiri tidak berani menatap sosok seorang wanita duduk mengamati satu persatu mendapat sidang meja hijau tiga kali.


"Kalian mau tahu kenapa aku meminta suamiku berpenampilan seperti gembel? Tentu aku ingin lihat sikap kalian selama bekerja di tempat suamiku. Dari awal dia memang tidak terurus penampilan karena berewok nya. Kalian bekerja sesuai dengan kinerja prosedur di perusahaan ini. Tentu kalian tahu sifat Pak Chandra bukan?" suara pertama terlontarkan itu dari Fera tentunya.


Fera datang tiba ke kantor suaminya karena ingin mengantar makan siang untuk suaminya dari Kafe Madura. Tetapi ketika tiba di gedung milik Chandra terdengar kericuhan yang begitu heboh.


Pada awalnya Fera hanya diam mendengar cacian dari seorang pengusaha restoran chienes food tapi laga nya itu benar sangat muak untuk Fera tentunya. Tidak terima mengatai suaminya itu pengemis dan malah menyalahkan suaminya menyamar namanya sendiri demi di takuti suasana.


Fera tipe wanita tidak tahu malu, tidak peduli seberapa orang melihat tindakannya yang ceroboh itu datang menampar lelaki tidak ia kenal.


Sekarang lelaki itu berdiri tepat di depan kantor suaminya sendiri. Semua karyawan yang bekerja dapat membisu mendengar ceramah dari istri Pak Bos itu.


"Serem istrinya Pak Chandra, tapi aku kadang salut sama istrinya. Awal mereka dijodohkan tidak saling mengenal satu sama lain. Kemudian saling menyatu dan saling jatuh cinta. Pak Chandra benar hebat bisa sabar hadapi istri yang keras dan penuh emosional apalagi dalam keadaan hamil," bisik gosip dari divisi bagian stock bahan baku.


"Benar banget, apalagi soal kejadian beberapa bulan itu. Sahabat sendiri coba rayu Pak Chandra. Memang gila istrinya langsung To The Poin tidak perlu berbasa-basi lagi pakai menusuk jantung itu bagaimana nasib sahabatnya ya?" balas gosip kedua dari divisi lain.


"Ya harus begitu dong jadi istri kalau aku di posisi seperti istri Pak Chandra pasti aku juga lakukan hal sama. Jelek begitu pun susah dapatkan jiwa baik dan penyabar seperti Pak Chandra." sambung gosip ketiga dari divisi lain juga.


"Pasti dong punya istri seperti Pak Chandra yang memiliki jiwa tegas, galak, kasar, dan tidak peduli siapa harga diri turun atau martabat seseorang jatuh tetap ada kesalahan yang harus di beri hukuman setimpal, makanya istri Pak Chandra itu beruntung dapat wanita seperti Ibu Fera, benarkan?" lanjut gosip ke. empat


Namun ketiga divisi ini mengangguk dan bersamaan menjawab hal yang sama "benar sekali!"


Mereka pun terdiam saling menatap satu sama lain kemudian menoleh di mana seseorang berdiri perut membulat kedepan tengah melipat tangan di depan senyum tipis panjang menatap karyawan tengah berkumpul gosip..


"Eh, Ibu Fera..." sambut divisi gosip Pertama.


"Sudah selesai gosipnya? Lanjutkan lagi, mungkin ada pertanyaan yang belum bisa di lontarkan dari mulut kalian bertiga. Begini ya cara kerjanya itu menggosip dulu baru kerja? Setiap bulan gajinya jalan terus ya lancar tanpa dosa. Coba kerja di tempat lain seperti tadi jam kerja sambil gosip tapi gaji dapat full tidak? Pasti tidak dong malahan potongan setengah hari. Sedangkan di sini sudah tanpa potongan, dapat gosip gratis terus..." Fera mengomel panjang lebar sehingga yang lain kembali bekerja.


"Maaf, Bu... Di panggil sama Pak Chandra ke kantor." suara dari Office Boy memotong pembicaraan dari Fera.


"Oh... baiklah kalau begitu. Kau sudah makan siang?" sahut Fera lalu bertanya kepada Office boy itu.


"Belum, bu. Nanti jam istirahat baru makan." jawab Office boy tersebut.


"Oh... begitu, kau ikut aku ke kantor.. Ada yang ingin  aku minta bantuan kepadamu." pinta Fera melangkah kaki ke ruangan suaminya.


Chandra duduk sofa dan membuka makan siang yang di bawa oleh istri tercintanya. Kemudian Fera mengeluarkan beberapa lembar uang warna merah kepada Office Boy itu. Lalu Fera berikan juga selembar kertas berikan kepadanya lagi.


"Ini aku ada tulis beberapa menu makanan di sini beli sesuai dengan tulisan tertera di kertas ini, oke. Serta cemilan kue di jalan perjuangan," ucap Fera memerintahkan kepada Office boy itu.


"Baik, Bu."


Setelah Office boy itu pergi meninggalkan kantor atasannya. Fera bergabung duduk menemani suaminya makan siang.

__ADS_1


"Kau minta apa sama Dimas (Office boy)?" Chandra bertanya.


"Oh tidak, aku dapat voucher gratis dari teman di Perjuangan terus sekalian saja traktir karyawan mu makan gratis. Sebagai hari syukuran, Tinggal dua bulan lagi lahir anak pertama kita." jawab Fera senyum manja.


"Ohh... aku kira kau mau hukum mereka. Semakin  hari kau semakin galak jadi kalau hamil," ucap Chandra.


"Galak juga karena melindungi hubungan kita dong. Soalnya suamiku yang jelek ini bahaya kalau banyak ular betina mulai menempel racun di tubuhmu," cicit Fera


Chandra mengelus rambut istrinya sekaligus mencubit pipinya itu. Semakin gemuk. Tidak terasa pernikahan mereka berdua telah masuki satu tahun. Selama rintangan  datang tiba-tiba membuat hubungan mereka semakin erat dan rukun.


****


Masa kehamilan Fera telah menuju sembilan tidak terasa baginya sebentar lagi akan melahirkan si kecil. Chandra sebaliknya tidak sabar lagi. Perut semakin membesar tapi fisiknya masih kuat berjalan normal bagi Fera.


Tidak merasa beban berat baginya, masih lincah berjalan ke mal, pasar dan bekerja di Kafe Madura. Keunikannya itu buat orang waswas kadang membuat yang lain terkagum karena strong tanpa khawatir.


Fera sedang menghitung hasil penjualan makanan di kafe, uang yang akan di setor nanti membuat terus sisanya akan di sumbangkan ke orang tidak mampu.


Hardi dan kawan-kawan sedang beristirahat sebentar lagi. Karena masih pagi belum ada yang datang. Tidak berapa lama datang seorang wanita paruh baya di dampingi seorang anak kecil. Pakaian mereka terlihat kusam dan bau. Fera sedang menghitung kemudian mendengar ribut di depan.


"Maaf, bu. Kami tidak menerima sumbangan." ucap karyawan itu


"Aku bukan datang untuk sumbang, aku hanya ke sini cuma ingin  minta sedikit makanan untuk putri saya. Kasihani putriku dua hari belum makan, makanan sisa juga apa-apa," kata ibu tua itu memohon kepada karyawan itu.


Plak!


Pukulan maut dari Fera membuat karyawan baru ini terperanjat kaget apalagi ibu dan putrinya masih kecil juga terkejut.


"Kau tidak dengar ibu ini minta makanan seharusnya kau kasih bukan meminta mereka pergi! Aku pekerjakan dirimu untuk saling mengasihi dan memberi pertolongan. Kau tidak lihat anak ini menggigil karena kelaparan, coba kau di posisi mereka bagaimana rasanya menahan lapar selama dua hari? Walau pun kafe kita belum buka tetap selalu terbuka untuk siapa saja tidak ada peraturan merendahkan seseorang. Sekarang aku minta kau minta maaf kepada ibu dan putrinya, setelah itu kedapur bawa makanan yang sudah tersedia," omel Fera menceramahi karyawan baru itu, karyawan itu menunduk dan mematuhi perintah atasannya.


"Silakan masuk tidak perlu sungkan, kafe ini terbuka untuk siapa saja. Maafkan karyawan ku tidak sopan itu," ucap Fera melayani pengemis itu.


"Tidak perlu, kami hanya pengemis tidak meminta lebih. Saya hanya minta nasi untuk putriku," tolak ibu itu tetap tidak ingin menginjak lantai bersih itu.


Fera tidak merasa tersinggung walau ibu ini terus menolak, "Lantai ini sebagus apa pun  tetap saja akan kotor kembali karena setiap orang datang duduk bersantai menikmati suasana sejuk di dalam ruangan ini. Tidak ada larangan apa pun, meskipun di bersihkan berapa kali tetap akan kembali kotor karena kami menyambut dengan suka rela seperti kalian berdua. Aku menerima ibu dan adik seperti seorang keluarga. Aku ikhlas dengan tulus bukan karena kasihan, karena semua telah ku lalui belajar dari dasar hingga sekarang karena berkat umat welas asih dan penerangan yang sempurna di depan mata." ucap Fera berpidato panjang lebar memberi sedikit penerangan kepada ibu dan anak kecil itu.


Senyuman dari ibu tua itu sulit diartikan bagi Fera tapi dia merasa nyaman. Setelah makanan yang di perintahkan tadi telah terhidang di meja.. Fera menemani mereka berdua dan ikut makan bersama. Bukan itu saja karyawan juga ikut makan bersama tanpa perkecualian sedikit pun.


"Saya sangat berterima kasih menemukan seorang wanita sebaik anda. Selama perjalanan bersama putriku hanya beberapa orang yang saya temui tidak sebaik anda. Saya berdoa semoga rezeki dan pahala yang anda berikan semakin jaya dan keluarga selalu rukun dan damai tentram.. Kebaikan ini tidak boleh di sia-siakan. Dengan makanan selezat ini tidak akan terpuaskan oleh nafsu seseorang. Yakinlah keberkahan akan datang memberi dunia penuh warna." kata ibu tua itu memberi nasihat dan doa baik kepada Fera.


"Amin, sering-sering lah datang ke sini. Bawah teman-teman atau saudara ke sini juga boleh. Kami terbuka untuk siapa saja." Lanjut Fera bersuara.


Setelah jamuan makan bersama ibu tua dan anak kecil itu. Mereka berpamitan untuk melanjutkan perjalanan mereka.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ada sesuatu yang ingin ku berikan." Fera kembali masuk ke dalam dan membuat beberapa makanan untuk ibu tua dan anaknya tidak lupa dengan beberapa lembar mata uang di plastik itu.


Fera kembali malahan tidak menemukan siapa pun di sana, dia merasa aneh perasaan meminta ibu itu menunggu sebentar. Hardi baru saja kembali dari tempat buang sampah.


"Mbak Fera mau ke kantor Pak Chandra sekarang?" tanya Hardi


"Tidak, kau tadi melihat ibu tua sama seorang anak perempuan?" Fera sebaliknya bertanya kepada Hardi.


Hardi mengernyit bingung dengan  pertanyaan  dari istri Pak Chandra.


"Ibu dan anak perempuan? Dari tadi kita tidak di datangi oleh siapa pun kok, Mbak," jawab Hardi.


Fera tidak percaya, "masa sih? tadi ada pengunjung datang dan si jojo malah mencoba mengusirnya kemudian...."


Fera teringat sesuatu wajah ibu tua itu, ia merasa pernah bertemu dengan wanita itu. Pertama kali ketika kereta api menjemput orang tua suaminya juga hal yang sama..


"Akhh...!" Tiba-tiba Fera melengking kesakitan pada perutnya.


Hardi yang panik memegang tubuh Fera yang mulai membungkuk kesakitan itu.


"Mbak Fera tidak apa-apa? Mana yang sakit? Lisa! Melisa!" Hardi berteriak memanggil teman kerjanya.


"Ada apa? Mbak, mbak tidak apa-apa?" Lisa juga ikut panik melihat Fera kesakitan memegang perutnya.


"Aduuh... sakit..." Fera tidak tahan dengan perutnya semakin mulas dan kontraksi hebat.


"Cepat telepon ambulan, jo, kau telepon Pak Chandra minta dia segera ke rumah sakit sepertinya mbak Fera mau melahirkan!" Pinta Hardi meminta mereka melaksanakan tugas dari nya.


Tidak berapa lama kemudian ambulan datang dan segera membawa Fera kerumah sakit, keringat mulai keluar satu persatu Hardi dan Lisa menemani Fera. Rasanya ini sangat sakit luar biasa.


Chandra menyusul kerumah sakit setelah mendapat telepon dari anggota kafe Madura bahwa istrinya kesakitan pada perutnya. Tentu Chandra panik luar biasa.


Sampai di rumah sakit mereka semua sibuk datang mengurus wanita hamil itu kesakitan luar biasa, ketuban sudah pecah dan ini yang di takutkan oleh Fera tidak dapat melahirkan secara normal. Ia ingin lahir anaknya dari hasil rahimnya sendiri.


Dokter sedang menanganinya Chandra baru tiba di rumah sakit berlari dan menemukan Hardi dan Lisa berdiri di luar menunggu. Teriakan Fera menahan rasa sakit luar biasa itu kembali lagi.


Chandra merasa cemas teriakan demi teriakan dari dalam membuat debaran jantung pria berewok itu semakin khawatir. Ini teriakan begitu keras dan kuat menekanan suara tangisan bayi pun terdengar sangat kuat dan keras.


Chandra bisa mendengarnya beberapa menit kemudian pintu itu terbuka seorang dokter berhasil membantu persalinan wanita yang kuat dengan  kekuatan melahirkan bayi mungil yang manis dan cantik itu selamat.


Fera mengatur napasnya menetes air mata ia berhasil melahirkan anaknya dengan cara keluar dari rahimnya sendiri. Chandra tentu bahagia dan salut dengan istrinya kuat melahirkan seorang diri tanpa menunggu suaminya.


"Selamat datang Claudia Cristian Libra. telah lahir di dunia." ucap Fera dan Chandra.

__ADS_1


Chandra mencium kening istrinya dan juga putrinya. Kebahagiaan ini tidak pernah di rasakan oleh Chandra ia bangga memiliki istri yang kuat. Menahan rasa sakit dan telah menjadi seorang ibu. Kelak dengan kelahiran putri pertama memberikan penerangan yang indah dan penuh keceriaan.


__ADS_2